- Nursinah/
----- Forwarded by Nursinah/ACC/STS on 11/21/2008 07:11 AM ----- Yessy Tan <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [EMAIL PROTECTED] 11/20/2008 10:12 PM Please respond to [EMAIL PROTECTED] To aina <[EMAIL PROTECTED]>, Aifi Chunggara <[EMAIL PROTECTED]>, sehat group <[EMAIL PROTECTED]>, mery hutagalung <[EMAIL PROTECTED]>, A t h i n k <[EMAIL PROTECTED]>, meli <[EMAIL PROTECTED]>, BeingMoM Moderator <[EMAIL PROTECTED]>, cik susy <[EMAIL PROTECTED]>, vivi tjhai <[EMAIL PROTECTED]> cc Subject [sehat] EMPATI By Andy F Noya > EMPATI > By: Andy F Noya > > Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran > cepat saji > di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua > pelayan sudah > berkemas. > Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya > yang memelas > karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba > untuk tetap > melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. > > Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan > restoran. Ada > yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel > lantai dan ada > pula > yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. > > Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu > dari hari ke > hari. > Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur > saja, jika > menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti > ini, saya tidak > terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara > ada dan tiada. > Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa > tiada jika > saya terlalu asyik menyantap makanan. > > Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini > seakan tak > terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu > membersihkan > sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya > biasa-biasa > saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang > melihat, > pemandangan tersebut menjadi istimewa. > > Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang > sedang > dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa > sebenarnya yang baru > saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa > makanan yang > berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi > yang menarik > perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan > sampah bekas > makanan. > > Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam > berserakan di > atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa > dijadikan tempat > sampah. > Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga > kotor oleh > tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa > anak-anak. > > Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang > berserakan. > Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega > meninggalkan sampah > berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa > sisa-sisa > makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh > seseorang, walau dia > seorang > pelayan sekalipun. > > Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang > sendiri sisa > makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga > meminta > anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. > Sebelum ini saya > juga > pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru > menjadi bahan > tertawaan > teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok > menunjukkan pernah > ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa > dan Amerika, > sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong > sampah. > Pelayan > terbatas karena tenaga kerja mahal. > > Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa > makanan kita. > Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma > butuh beberapa > menit. > Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang > melakukannya, artinya > akan besar sekali bagi para pelayan restoran. > > Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil > yang punya arti > besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya > untuk > membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks > rumah mereka. > Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan > anaknya > membersihkan > sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang > sampah di situ. > > Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti > jejak sang > bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi > bersih dan > sehat. > Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak > ada slogan, > umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya > memberikan > keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar. > > Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. > Jika saja > setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu > orang yang > dijumpainya > hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang > mendapat senyum akan > merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain > yang dijumpainya. > Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada > banyak orang. > Padahal > asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum. > > Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken > Soup", saya kerap > membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak > perduli siapa di > belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang > saya pasti > akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. > Jika hari itu > dia > bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia > menyebarkan virus > kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari > itu. Saya > berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. > > Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal > satu orang > setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika > orang yang > Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan > tersebut kepada > orang-orang di sekitarnya. > > Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa > mengucapkan kata > "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan > karcis dan uang > kembalian. > Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan > "magic words" yang akan > membuat orang lain senang. Begitu juga kata > "tolong" ketika kita meminta > bantuan > orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita. > > Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya > bus, mikrolet, > bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai > suatu hari > istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada > mereka. Para > supir > kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. > "Sementara > kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu > diperoleh istri saya dari > sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, > jika ada > kendaraan > umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat > nasihat istri > tersebut. > > Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita > dapat membuat > orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa > berempati > pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita > menyadari dengan > membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita > sudah meringankan > pekerjaan pelayan restoran. > > Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja > setelah > membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. > Dengan tidak > membuang > permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari > perasaan > kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen > karet. > > Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi > berapa banyak di > antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, > ketika membuka > pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk > berjaga-jaga > apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering > melihat orang > yang > membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli > orang di > belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. > > Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang > tidak > memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. > Mulailah dari > hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. > Mulailah > sekarang juga. > > [Non-text portions of this message have been removed] __._,_.___ _,_._,___ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
