Hanya meneruskan...dari Kompas.com 

KEPUTUSAN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menempatkan empat perempuan di 
kabinet yang diberinya nama Kabinet Indonesia Bersatu benar-benar memberi warna 
pada pemerintahannya.

Pilihan SBY, dengan bantuan pertimbangan Jusuf Kalla tentunya, menunjuk empat 
perempuan di empat posisi yang strategis saat ini terbukti membawa hasil yang 
lumayan baik. Dalam catatan saya, ini adalah untuk pertama kalinya dalam 
sejarah ada empat menteri perempuan dalam kabinet. Jumlah terbesar.

Jumlah itu bertambah menjadi lima dalam setahun ke depan setelah jabatan 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang ditinggalkan Boediono diserahkan 
kepada salah satu dari empat menteri perempuan kabinet SBY. Boediono yang 
bersahaja meninggalkan jabatan yang semula tidak ingin dimasukinya lantaran 
diajukan, dipilih, dan dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia, 17 mei 2008.

Empat perempuan hebat di kabinet itu adalah Sri Mulyani atau biasa dipanggil 
Mbak Ani untuk membedakannya dengan Ani Yudhoyono, istri SBY. Dalam kariernya 
di kabinet, Mbak Ani boleh dibilang paling melejit prestasi dan 
capaian-capaiannya. Setahun menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan 
Pembangunan Nasional, Mbak Ani diberi tugas lebih besar menjadi menteri 
keuangan. Dua tahun menjadi Menteri Keuangan, Mbak Ani kemudian diberi tugas 
tambahan. Jabatan Menko Perekonomian yang kosong diminta SBY agar dirinya yang 
melaksanakan.

Tiga jabatan Mbak Ani selama di kabinet adalah tiga jabatan yang untuk pertama 
kalinya dipegang oleh perempuan. Di jalan-jalan Ibu kota yang makin macet saja, 
kesibukan Mbak Ani dalam empat tahun terakhir ini bisa dikenali dari sedan 
Toyota Camry yang ditumpanginya dengan nomor polisi RI 12 (Menko Perekonomian), 
RI 20 (Menteri Keuangan), dan RI 41(Menteri Negara Perencanaan Pembangunan 
Nasional).

Perempuan hebat kedua adalah Marie Elka Pangestu. Marie, begitu biasa 
dipanggil, merintis dari bawah untuk membangun Departemen Perdagangan. 
Sebelumnya, perdagangan masuk dalam Departemen Perindustrian dengan nama 
Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Cita-cita SBY untuk meningkatkan 
nilai perdagangan Indonesia membuat departemen ini kemudian dipecah.

Hasilnya cukup lumayan. Meskipun krisis mengharuskan Marie mencari pasar-pasar 
baru nontradisional Indonesia di luar Amerika Serikat dan Eropa. Peningkatan 
volume perdangangan Indonesia dengan China adalah salah satu contoh suksesnya. 
Menjadikan dirinya dan barang-barang yang dikenakannya sebagai ajang promosi, 
Marie selalu mengenakan kain-kain tradisional Indonesia yang ribuan jenisnya ke 
mana dan di mana pun berada. Di antara anggota kebinet, koleksi kain 
tradisional Marie mungkin yang terbanyak.

Perempuan hebat ketiga adalah Siti Fadilah Supari. Selama menjabat sebagai 
Menteri Kesehatan, Siti menggebrak lewat keengganannya untuk tunduk pada 
hegemoni negara maju. Kasus sampel virus flu burung  (H5N1) Indonesia yang 
”dicolong” melejitkan namanya. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia 
internasional. Siti yang senang sekali dengan tas jinjing merek Louis Vuitton 
ini menuntut keadilan. Keberaniannya mendapat apresiasi dunia internasional 
setidaknya di majalah The Economist, 2006.

Sebelum menjadi menteri, Siti memang jarang terdengar dan terlihat kiprahnya di 
mata publik. Karena itu, ketika pada tengah malam 20 Oktober 2004 namanya 
disebutkan sebagai Menteri Kesehatan, mencari foto profilnya adalah pekerjaan 
yang melelahkan. Meskipun demikian, Siti yang senang disanggul ini ternyata 
mempunyai kiprah yang mencengangkan dan membanggakan saat diberi kepercayaan.

Perempuan hebat keempat adalah Meutia Farida Hatta Swasono. Pos yang diisinya 
adalah pos yang memang selalu diisi perempuan dan sudah seperti keharusan. 
Namun, di pos yang biasa di Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan itu, 
Meutia tampil luar biasa. Meutia berbicara lantang menentang ketika muncul 
heboh poligami yang dilakukan dai kondang langganan istana. Suara yang sama 
lantangnya diserukan ketika ia ingin melindungi perempuan dan anak-anak dari 
pornografi. Kesantunannya dalam bertutur kata tidak mengurangi kelantangan 
sikapnya.

Di tengah padatnya kegiatan kabinet, Meutia masih berpartai. Salah satu partai 
pendukung SBY, yaitu Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia kini dipimpinnya. 
Di partai yang didirikan Jenderal (Purn) Edi Soedrajat ini, Meutia yang dididik 
di sekolah menengah homogen, Santa Ursula, Jakarta, memberi prioritas kepada 
calon anggota legislatif perempuan. Dari semua partai politik, PKPI paling 
banyak persentase caleg perempuannya.

Selain hebat dalam tugas dan tangung jawab yang diembannya di kabinet, empat 
perempuan itu pasti juga hebat sebagai ibu rumah tangga. Laki-laki hebat sudah 
biasa karena pasti disokong perempuan tangguh di belakangnya. Akan tetapi, 
kalau perempuan hebat? Menurut saya itu karena memang perempuan itu sudah pasti 
hebat dari asalnya.

Karena itu, menurut saya, mungkin akan lebih baik kalau kita beri kesempatan 
lebih banyak perempuan-perempuan hebat untuk mengurus negara yang masih 
maskulin tampak dan rasanya. Mbak Ani, Bu Marie, Bu Siti, dan Bu Meutia adalah 
salah empatnya. Bagaimana pendapat Anda?
. 
__,_._,___ 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke