-
Alfin arifin 








Nasehat Bagi Jama’ah Haji

 
Sebuah Sisi Jama’ah Haji Kita. 
Suatu fenomena telah terjadi di kalangan jamaah haji, khususnya dari 
negara kita, ketika telah selesai bertahalul, maka ada sedikit perubahan 
dalam panggilan nama mereka yakni penambahan sebutan Haji di depannya dan 
Hajjah bagi para wanita. Demikian pula setelah kepulangan mereka ke tanah 
air, sebutan kehormatan tersebut masih terus melekat pada namanya, 
sehingga rasanya tidak afdhal jika kita memanggilnya tanpa mendahului 
dengan sebutan itu. Hal ini dikarenakan mulianya perjalanan ibadah 
tersebut yang merupakan paripurnanya rukun Islam yang lima, di samping 
memang membutuhkan pengorbanan yang besar baik tenaga, biaya maupun waktu, 
sehingga tidak semua orang Islam mampu menunaikannya. Panggilan itu boleh 
jadi adalah sebagai penghormatan karena telah sukses melakukan acara 
ritual yang agung, atau mungkin juga bermula dari panggilan yang biasa 
digunakan oleh penduduk asli Arab ketika memanggil jamaah haji dengan “Ya 
Hajj” karena memang tidak tahu siapa namanya. 
Bagi mereka yang memiliki latar belakang ilmu syar’i, insya Allah, 
panggilan haji tersebut bukanlah masalah besar yang harus dipersoalkan. 
Artinya, dia tidak akan peduli apakah orang lain nantinya akan 
memanggilnya dengan pak haji, bu haji atau tetap sebagaimana panggilan 
semula sebelum ia menunaikan ibadah haji. Toh tujuan dan niatnya adalah 
semata-mata beribadah menuju keridhaan Allah Ta’ala. Dan memang 
demikianlah hendaknya setiap jamaah haji berniat dalam perjalanan hajinya, 
sebab jika niatnya lain, misalnya agar disebut sebagai bapak atau ibu 
haji, maka ia tidak akan memperoleh apa-apa, kecuali panggilan tersebut, 
sedang di sisi Allah Ta’ala ia tak memperoleh bagian apa-apa. Hal ini 
dikarenakan Allah Ta’ala tidak akan menerima amalan, kecuali yang 
dilakukan secara ikhlash semata-mata karenaNya di samping dilakukan 
menurut tuntunan yang disyari’atkan Allah Ta’ala dan diajarkan oleh 
NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam. (Fikih Nasehat, Fariq Gasim Anuz, 
Pustakan Azam, h. 61) 
Firman Allah Ta’ala dalam surat al-Bayyinah ayat 5, artinya, “Padahal 
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan 
keta’atan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya 
mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah 
agama yang lurus.”. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa 
melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan 
tersebut tertolak.”(HR. Muslim) 
Dalam hadits lain, khusus berkenaan dengan haji, beliau shallallahu 
‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kalian mengambil dariku manasik 
(cara-cara) kalian dalam berhaji.” (HR. Muslim). 
Namun jika kita berbicara soal realita dan kenyataan, maka teori di atas 
tidak sepenuhnya terpraktekkan, sebab sudah barang tentu tidak semua orang 
faham dan mengetahui apa tujuan haji yang sebenarnya. Bahkan orang yang 
sebenarnya sudah tahu pun terkadang masih terkalahkan oleh hawa nafsunya, 
sehingga ketika ada orang lain menyebut namanya tanpa menambahkan sebutan 
haji di depannya, maka dadanya agak terasa sempit dan telinga sedikit 
merah karena kurang suka, lebih-lebih jika itu di depan khalayak ramai. 
Bahkan mungkin di antara mereka ada yang ketika dipanggil namanya atau 
disapa tidak menjawab sebagaimana mestinya, justru berujar, “Saya sudah 
dua kali pergi haji lho!” Yakni menghendaki agar orang lain memanggilnya 
dengan sebutan haji. 
Dalam kasus ini perlu digaris bawahi, bahwa kita bukannya bermaksud 
melarang orang menghormati orang lain dengan memberi sebutan haji. Yang 
perlu diluruskan adalah bahwa perjalanan haji adalah perjalanan ibadah 
untuk menuju Allah Ta’ala dan mengharap keridhaanNya, bukan untuk 
mendapatkan embel-embel tersebut. Adapun setelah itu ada orang yang 
memanggil dengan bapak atau ibu haji, maka itu adalah persoalan lain dan 
bukannya tujuan, hanya saja jika kebiasaan tersebut (harus memanggil haji) 
tidak dibudayakan, maka bisa jadi hal itu akan memperbaiki niat orang yang 
akan melakukan rukun Islam ke lima ini. 
Makna haji yang sebenarnya. 
al-Allamah Abu Abdillah Muhammad bin Abdir Rahman al-Bukhari al-Hanafi 
menjelaskan bahwa haji (al hajj) maknanya adalah bermaksud atau menuju 
(al-qashdu). Niat dan maksud adalah pekerjaan yang paling utama sebab ia 
hanya dilakukan oleh anggota badan termulia yaitu hati. Karena ibadah haji 
ini merupakan ibadah yang besar dan sangat utama, juga memuat ketaatan 
yang sangat berat, maka disebutlah ia al-hajj yang berarti al-qashdu 
(dinisbatkan kepada amalan hati karena keutamaannya, red). Dan mengenai 
pentingnya niat dalam haji dan umrah, Allahl telah berfirman, “Dan 
sempurnakanlah haji dan umrah itu karena Allah.” (al-Baqarah: 196). 
Oleh karena itu seseorang yang akan pergi haji meskipun pergi menuju 
baitullah (ka’bah), namun sebenarnya yang jadi tujuan adalah Rabbul Ka’bah 
Allah Ta’ala Rabb seru sekalian alam. Maka ketika seorang berhaji tiba di 
Ka’bah, dan sebelumnya ia tahu bahwa pemilik rumah tersebut tidak ada di 
sana, berputar-putarlah ia mengelilingi rumah itu yakni thawaf, dan ini 
merupakan isyarat bahwa ka’bah bukanlah maksud dan tujuan, namun Allah 
Ta’ala pemilik Ka’bahlah tujuannya. 
Begitu pula ketika mencium Hajar Aswad, bukanlah berarti dan bertujuan 
untuk mengagungkan atau menyembah batu, tapi semata-mata karena mengikuti 
sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan inilah yang membedakan 
antara seorang muslim dan musyrik. Dulu kaum musyrikin menciumnya karena 
benar-benar menyembahnya, sedang seorang muslim melakukan itu adalah 
karena mengikuti sunnah. (Khutbah Jum’at Setahun, Yayasan Al-Sofwa, h. 
238). 
Ibnu Abbas radhiallahu ‘nahuma mengibaratkan bahwa menyentuh atau mencium 
Hajar Aswad seolah-olah ia menjabat atau mencium tangan kanan Allah 
Ta’ala, sehingga ketika seorang haji menyentuhnya hendaknya tertanam dalam 
benak bahwa ia sedang berbai’at kepada Allah Ta’ala, pencipta dan pemilik 
Hajar Aswad yang telah memerintahkan untuk melakukan itu. Berbai’at di 
sini maknanya berjanji untuk selalu taat dan tunduk kepada Allah Ta’ala, 
kemudian selalu ingat, bahwa jika mengkhianati bai’at tersebut akan 
berhadapan dengan murka dan adzabNya. 
Dari sini para ulama menganjurkan, bahwa kewajiban pertama bagi calon haji 
adalah bertaubat, memperbaiki ketakwaan dan inilah sebaik-baik bekal. 
Allah Ta’ala telah berfirman, artinya, “Berbekallah, dan sesungguhnya 
sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqarah: 197). 
Dan tak mungkin seseorang akan membawa bekal takwa ini jika tidak 
bertaubat dan meninggalkan segala jenis kemaksiatan. 
Jika orang yang berhaji telah memahami apa makna dan tujuannya dalam 
berhaji, maka ketika melantunkan talbiyah akan meresap dalam jiwa, bahwa 
seolah-olah ia sedang meninggalkan segala atribut keduniaan dan menuju 
Allah Ta’ala seraya mengatakan, “Ya Allah aku datang, aku datang memenuhi 
panggilanMu, aku berdiri di pintuMu, aku singgah di sisiMu. Aku pegang 
erat kitabMu, aku junjung tinggi aturanMu, maka selamatkan aku dari 
adzabMu, kini aku siap menghamba kepadaMu, merendahkan diri dan berkiblat 
kepadaMu. MilikMu segala ciptaan, bagimu segala aturan dan 
perundang-undangan, bagiMu seluruh hukum dan hukuman, tiada sekutu bagiMu. 
Tak peduli aku berpisah dengan sanak keluarga, kutinggalkan profesi dan 
pekerjaan, kulepas segala atribut dan jabatan karena tujuanku hanyalah 
wajah dan keridhaanMu, bukan dunia yang fana bukan nafsu yang serakah maka 
amankan aku dari adzabMu. ” (Ibid, h. 239). 
Setelah Para Haji Pulang. 
Banyak oleh-oleh yang dibawa pulang oleh para jama’ah haji, namun ada satu 
oleh-oleh yang sangat besar dan berharga, dan hanya bisa disimpan dalam 
hati dan dada. Oleh-oleh yang tak akan habis jika dibagi-bagikan kepada 
orang lain justru kian bertambah dan semua orang pasti suka untuk 
menerimanya. Tak lain adalah kebersihan jiwa dan akhlak. Inilah hal 
termahal yang selayaknya dibawa pulang oleh mereka yang menunaikan haji. 
Alangkah indahnya jika sepulang haji yang dulu kikir menjadi dermawan, 
penjahat menjadi penebar salam, bandar judi menjadi ketua majlis ta’lim, 
dan ribuan bahkan jutaan orang mengubah jalan hidupnya bersama-sama satu 
tujuan menuju Allah Ta’ala. Tak ada lagi pejabat penerima sogok, hakim 
berat sebelah, pengusaha ataupun pedagang licik, curang dan lain-lain. 
Apalah artinya pergi haji jika hanya sekedar untuk menambah sebutan, namun 
yang korup tetap korup, yang lintah darat tetap lintah darat, yang bakhil 
malah makin menjadi-jadi. Padahal perbuatan jahat dan fasik itu harus 
ditinggalkan kapan saja bukan hanya ketika melakukan haji. Jika seseorang 
masih sama buruk dan jahatnya antara sebelum dan sesudah haji, bahkan 
malah lebih parah, maka suatu pertanda bahwa kepergiannya ke tanah suci 
hanyalah sia-sia, sebab ia tak mampu mengambil sesuatu yang paling 
berharga dari perjalanan tersebut. 
Sebagai khatimah hendaknya setiap orang yang akan melakukan ibadah haji 
sadar dan mengetahui bahwa perjalanan yang akan ia tempuh adalah 
perjalanan ibadah yang agung dan mulia sehingga harta yang digunakan untuk 
itu adalah dari penghasilan yang baik dan halal. Di samping itu ia harus 
mempelajari tata cara manasik yang benar, sesuai dengan tuntunan yang 
diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian 
diharapkan haji yang ia lakukan akan menjadi haji yang mabrur yang 
diterima di sisi Allah Ta’ala bukannya maghrur (tertipu) atau mabur (bhs 
Jawa) yang hanya sekedar terbang naik pesawat saja. 
Janganlah sekali-kali kita punya niat hanya agar mendapat sebutan pak haji 
dan bu haji saja, lalu bangga jika orang memanggil dengan sebutan itu, 
sekali-kali jangan. Kalau seandainya orang satu kampung tidak ada yang 
memanggil kita dengan sebutan itu maka sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Tahu 
bahwa kita telah menunaikannya dan Allah Ta’ala akan memberi balasan 
sesuai dengan niat dan usaha kita. Wallahu a’lam. 
Oleh : Ibnu Djawari 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[email protected]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[email protected]
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke