Refleksi: *Neolib? Bagaimana dengan Freeport, Eksplorasi Kontrak Karya
Migas, Badan Hukum Universitas, Komersialiasai Rumah Sakit Adakah yang
tersisa untuk ekonomi kerakyataan? adakah kepedulian untuk rakyat bukan
sekadar basa-basi?*
**
Pandji R Hadinoto / www.pkpi.co.cc


06/06/09 18:59
Neoliberalisme, Makhluk Apa Itu?
Ahluwalia
 Sri-Edi Swasono
[*ist*]

*INILAH.COM <http://inilah.com/>, Jakarta – Apakah itu Neoliberalisme? Untuk
mengenal makna Neoliberalisme versus ekonomi rakyat yang sedang marak
dijadikan topik kampanye para capres, masyarakat perlu memahami lebih dulu
gagasan dan visi-misi di dalamnya. Apa dan bagaimana?*

Sri-Edi Swasono, guru besar FEUI, mencatat Neoliberalisme memuat sedikitnya,
sembilan butir pemikiran yang relevan. Kesemuanya menerjang ekonomi
kerakyatan kita, tanpa kepalang tanggung lagi.

Pertama, Neoliberalisme di Indonesia adalah kelanjutan dari Liberalisme
jaman penjajahan yang ditentang oleh Soekarno dan Hatta. Liberalisme adalah
sukma Kapitalisme; dan Neoliberalisme adalah sukma Neokapitalisme
(kapitalisme baru). Sebenarnya kita tak perlu repot-repot tentang definisi
Neoliberalisme, karena Neoliberalisme adalah mekanisme penjajahan ekonomi
baru.

Kedua, Indonesia menolak Liberalisme/Neoliberalisme dengan doktrin Demokrasi
Ekonomi (Pasal33 UUD 1945). UUD 1945 menegaskan doktrin kebangsaan
(Nasionalisme) dan doktrin kerakyatan (kedaulatan rakyat) yang di dalam
politik ekonomi tercermin dalam Pasal 33 UUD 45. Ekonomi Indonesia
berdimensi nasionalisme.

Tentu kita tidak antiasing. Investasi asing tetap kita terima, tapi tidak
untuk mendominasi (tidak *overheersen,* menjajah, menyingkirkan, atau
bersifat predatorik). Ekonomi Indonesia juga berdimensi kerakyatan, artinya
rakyat diutamakan. Posisi rakyat adalah sentral-substansial. Kesejahteraan
bagi rakyat adalah hak sosial rakyat, bukan caritas-filantropis.

Ketiga, Neoliberalisme mengutamakan kepentingan pemodal (kapitalis). Posisi
rakyat dan kepentingan nasional dalam paham Neoliberalisme diletakkan pada
posisi “marginal-residual” (pinggiran). Sebaliknya, kepentingan ekonomi,
pertumbuhan, kepentingan pemodal justru diangkat pada posisi yang
“sentral-substansial”.

Neoliberalisme mendorong mekanisme pasar-bebas, menekan campur-tangan negara
seminimal mungkin. Di sinilah Neoliberalisme mengakibatkan gugurnya “daulat
rakyat” dan berkuasanya “daulat pasar” itu. Neoliberalisme percaya bahwa
“tangan ajaib”-nya pasar *(the invisible hand)* bisa mengatur ekonomi
sendiri *(self-regulating).*

Ini kuno dan keliru. Ketimpangan struktural harus diatasi dengan *the
visible hand* (Negara aktif mengatur dan merombak). Kalau tidak, maka yang
kuat selalu menggusur yang lemah. Pasar Neoliberal itu kejam, tanpa emosi
dan tanpa moralitas-etika. Yang ada moralitas *the winner-take-all.*

Keempat, telah terjadi penjajahan kurikulum (hegemoni akademis) terhadap
fakultas-fakultas ekonomi kita di seluruh universitas di Indonesia.
Pengajaran Ilmu Ekonomi sebatas neoklasikal yang mengemban sepenuhnya paham
Liberalisme/Neoliberalisme dengan pasar-bebas yang menyertainya, tidak *
projob,* tidak *propoor,* tidak pula *pro-economic nationalism. *

Maka “daulat pasar” (daulat pemodal) menggusur “daulat rakyat”. Pasar-pasar
rakyat/pasar-pasar tradisional digusur oleh *supermarkets, mal,* dan *
hypermarkets,* sehingga terjadi eksklusivisme dan marjinalisasi terhadap
mereka yang miskin dan lemah.

Rakyat miskin tergusur, pembangunan rakyat tidak inherent dengan pembangunan
ekonomi. Pengajaran Ilmu Ekonomi di ruang kelas bisa mengalahkan pesan
konstitusi (Pasal 27 ayat 2, Pasal 33 dst diabaikan).

Kelima, biarpun seorang ekonom bilang ia projob dan propoor, tidak otomatis
ia bisa dikatakan pro-ekonomi rakyat, selama ia tidak menempatkan rakyat
pada posisi sentral-substansial.

Keenam, ujud Neoliberalisme adalah pelaksanaan kebijakannya Washington
Consensus (deregulasi, liberalisasi, privatisasi). Sayangnya meskipun kita
tidak terikat oleh Washington Consensus, kita melaksanakannya dengan giat.

Ketujuh, bersikap projob dan propoor karena disuruh (kagum kepada)
pesan-pesan ILO dan MDGs, dan bukan karena tunduk pada tuntutan konstitusi
(Pasal 27 ayat 2 UUD 45) adalah Neoliberalisme, Inlander yang minder.

Kedelapan, dalam setiap kemajuan, rakyat harus secara emansipatif terbawa
serta *(otomatically carried along)* untuk ikut maju. Pembangunan bukan
menggusur orang miskin, tapi menggusur kemiskinan.

Rakyat adalah *the people* (jamak/*plural,* bukan *singular).* Demokrasi
Indonesia berdasar paham kebersamaan dan asas kekeluargaan (*mutualism dan
brotherhood*/jemaah dan ukhuwah), bukan berdasar asas perorangan
(Liberalisme/Individualisme).

Oleh karena itu untuk Indonesia (Pasal 27 ayat 2, Pasal 33, Pasal 34 UUD
1945) yang kita kejar bukan sekadar “kesejahteraan” bagi rakyat, tetapi
adalah “kesejahteraan sosial”, yaitu kesejahteraan bersama bagi rakyat.

Kesembilan, ita tidak boleh terjajah, kita harus menjadi Tuan di Negeri
Sendiri, jangan jadi jongos globalisasi. Dengan demikian, bangsa kita harus
paham apa itu Neoliberalisme, agar rakyat tidak dicengkeram Kapitalisme
Neoliberal yang merupakan penghisapan dan penindasan struktural. [P1]


-- 
*********************************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
**********************************************
Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
reportermilist, bayangkan peluang  murah dengan prospect yang
besar, Berminat Hubungi [email protected]
=============================
(Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com
=============================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
=============================
revolusi produk skuter matik Suzuki "Skydrive"
hubungi Dieler Suzuki terdekat
http://suzuki.co.id/
============================
Space Iklan
=============================

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke