Ekonomi
 09/06/2009 - 10:32
RI Kok Fasilitasi Cairns Group?
 Ahmad Munjin

(*inilah.com/ Wirasatria*)

*INILAH.COM, Jakarta - Pertemuan ke-33 eksportir komoditas pertanian (Cairns
Group) di Bali, 7-9 Juni 2009, dipertanyakan. Indonesia justru memfasilitasi
pertemuan dan seakan-akan mendukung skema negara maju memaksakan
liberalisasi pertanian di pasar domestik. *

Ikhsan Modjo, Direktur Institute of Development of Economics and Finance
(Indef) menyayangkan mengapa Indonesia mau menjadi tuan rumah pertemuan itu.
Modjo menengarai pertemuan itu merupakan upaya untuk menghidupkan Putaran
Doha yang mandek karena perundingan di sektor pertanian.

Dalam putaran Doha ada yang disebut dengan Non-Agricultural Market Access
(NAMA). Intinya, negara-negara maju meminta negara-negara berkembang membuka
pasar manufakturnya dan mereka mengurangi proteksi pertaniannya.

“Ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan antara negara-negara maju dan
berkembang,” katanya kepada *INILAH.COM*, di Jakarta, Senin (8/6). China dan
India, lanjut Modjo, menentang keras skema ini.

Tapi Indonesia bukannya memproteksi petaninya melainkan seperti orang
bimbang dalam perundingan dan tidak berpihak. “Dengan pertemuan Cairns Group
di Bali, Indonesia semakin blunder, maju kena mundur kena,” ujarnya.

Dengan memfasilitasi pertemuan, Indonesia seakan-akan malah mendukung skema
itu. Padahal menurut Modjo, skema itu ditentang keras oleh China dan India
karena sangat merugikan.

Kalau misalnya, pasar manufaktur dibuka bebas, akan banyak sekali
barang-barang impor yang masuk dan bersaing di industri dalam negeri.
”Industri di dalam negeri menjadi mati,” imbuhnya.

Apalagi, kalau tarif bea masuk sudah nol, semua barang bisa masuk ke
Indonesia. Bukan hanya dengan negara-neara yang memiliki perjanjian dengan
Indonesia, tapi semua negara yang tidak memiliki perjanjian pun akan masuk.
Apalagi tarif shipping saat ini sangat murah.

”Kalau misalnya proteksi manufaktur sepenuhnya dibuka, dan barang pertanian
dari negara-negara maju bebas masuk ke sini, sangat mengkhawatirkan bagi
petani Indonesia,” tuturnya.

Bisa jadi, karena mereka adalah negara maju, barang-barang mereka bisa lebih
murah karena pertanian disubsidi pemerintahnya. Ini menjadi tantangan bagi
Indonesia untuk bisa bersikap tegas dengan pertemuan yang sangat tidak
mendukung petani kecil itu. ”Namun di sisi lain, sikap protektif sama sekali
juga tidak mungkin,” imbuhnya.

Indonesia, lanjut Modjo, harus melakukan negosiasi per item. Seringkali
menurutnya, Indonesia tertipu. Modjo mencontohkan perdagangan bebas dengan
China, Australia, dan New Zealand.

“Karena Indonesia hanya melihat skema besarnya tapi ketika masuk barang per
barang, Indonesia tidak bisa melihat karena kekuarangan tenaga ahli,”
ucapnya.

Akibatnya, dalam banyak kasus Indonesia sering dirugikan. Banyak sekali
barang-barang yang bukan hanya industri, tapi makanan, minuman, dan tekstil
dari China masuk ke Indonesia. “Semua itu sangat menekan produsen domestik,”
paparnya.

Yang merugikan bukan hanya persoalan harga, tapi juga soal kualitas barang
seperti produk yang penuh melamin dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya,
Indonesia hanya menjadi tempat buang sampah. “Saya takut ke depan,
barang-barang pertanian yang afkir yang jauh di bawah rata-rata, justru
dikirim ke Indonesia semua,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Advocacy Center for Indonesian Farmers (Pusat Advokasi
Petani Indonesia) Sutrisno Iwantono meminta pemerintah tidak terperangkap ke
dalam agenda terselubung negara-negara yang tergabung dalam Cairns Group
itu. "Bila tidak waspada, justru akan berpotensi merugikan petani kita,"
kata Iwantono.

Cairns Group beranggotakan 19 negara dimotori Australia, Selandia Baru, dan
Kanada. Kelompok ini sangat berpengaruh dalam memberikan tekanan pada
perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kepentingan utama kelompok
ini hanya memasarkan produksi pertanian sehingga selalu memaksa negara lain
membuka akses pasar.

"Di ASEAN, Indonesia dan Filipina menjadi anggota, walaupun sebenarnya
kepentingan Indonesia belum nyata,” paparnya. Pasalnya, Indonesia belum
banyak mengekspor komoditas pertanian, kecuali kelapa sawit yang merupakan
milik pengusaha besar, bahkan asing.

Menurut dia, justru menjadi berbahaya jika Indonesia terbawa irama Cairns
Group dan kemudian membuka pasar untuk komoditas pertanian. "Kalau ini
terjadi, sungguh yang dirugikan adalah petani kecil. Filipina sendiri pada
dasarnya sangat gerah menjadi anggota Cairns Group," tutur Ketua Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia itu.

Negara-negara yang tergabung dalam Cairns Group dikenal sebagai dedengkot
pengusung liberalisasi perdagangan. Mereka meminta seluruh negara di dunia
menghapus proteksi dan membuka pasar komoditas pertanian di negara-negara
berkembang. [E1]


-- 
*********************************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
**********************************************
Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
reportermilist, bayangkan peluang  murah dengan prospect yang
besar, Berminat Hubungi [email protected]
=============================
(Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com
=============================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
=============================
revolusi produk skuter matik Suzuki "Skydrive"
hubungi Dieler Suzuki terdekat
http://suzuki.co.id/
============================
Space Iklan
=============================

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke