Semoga bermanfaat, mohon maaf jika tidak berkenan dengan email ini
Sikap Hidup Seorang Muslim
oleh : Abu Ubaidillah
Manusia hidup di dunia ini pasti mendapatkan berbagai kesulitan. Ini
adalah ketetapan dari Allah SWT. Dia telah berfirman: “Sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia berada dalam susah payah “ ( QS.Al-Balad:4 )
Akan tetapi, kita harus ingat bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha
Bijaksana, menetapkan segala sesuatu dengan hikmah yang sangat agung.
Oleh karena itulah, Allah juga membekali manusia dengan berbagai sarana
dan kemampuan untuk bisa menghadapi kesulitan tersebut.
HIDUP ADALAH UJIAN
Ketetapan Allah ini menunjukkan bahwa kehidupan adalah ujian bagi
manusia. Dengan adanya berbagai kesulitan ini, manusia akan
terklasifikasi berdasarkan sikap mereka dalam menghadapinya dan akibat
dari sikap tersebut. DI antara mereka ada yang mendapatkan kecintaan
Allah, sedangkan yang lain mendapatkan kemurkaan-Nya.
Allah SWT berfirman: “ Yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya
Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. ( QS.al-Mulk:2 )
SIKAP MANUSIA
Dalam ujian hidup ini, setiap manusia pasti memiliki harapan untuk
mendapatkan manfaat atau menolah bahaya. Akan tetapi dalam mewujudkan
harapan ini manusia memiliki sikap dan jalan yang berbeda-beda, sesuai
dengan keyakinan dan akidah mereka. Disinilah kita harus memperhatikan
apakah sikap kita berdasarkan akidah yang benar atau yang keliru? Jika
berdasarkan akidah yang benar, maka benarlah sikap kita dan jalan yang
kita tempuh. Jika sebaliknya, bersegeralah mencari jalan kebenaran itu.
Secara global, manusia terbagi dalam tiga kelompok:
Pertama:Orang yang meyakini bahwa manusia tidak memiliki usaha. Dia
menganggap bahwa manusia hanyalah bagaikan kapas tertiup angin, tidak
memiliki kehendak dan usaha. Orang ini bermalas-malasan dalam berusaha
menggapai maslahat ( kebaikan ) dan menolak bahaya. Sikap ini jelas
bertentangan dengan firman Allah SWT: “ Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka
sendiri”. ( QS.ar-Rad:11 )
Kedua:Orang yang bersandar penuh kepada usaha dan kemampuan dirinya. Dia
menyangka bahwa datangnya kebaikan dan tertolaknya bahaya tergantung
mutlak kepada usaha yang dilakukannya. Orang seperti ini berarti telah
meniadakan kemampuan Allah dalam menetapkan takdir. Alangkah sombongnya
orang semacam ini, padahal jika Allah menimpakan bencana kepadanya, dia
tidak akan bisa mengelak.
Ketiga:Orang yang berada dipertengahan antara dua golongan diatas. Dia
meyakini bahwa manusia memiliki kehendak dan kemampuan untuk berusaha
mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, bersamaan dengan ini dia
menyadari bahwa usaha yang dilakukannya tetap bergantung kepada kehendak
Allah. Dengan demikian, dalam melakukan usahanya, dia senantiasa
bergantung kepada Allah. Jika usaha yang dilakukannya berhasil, dia akan
memuji Allah. Jika gagal, dia akan berintrospeksi diri dan tidak merasa
putus asa. Ini sangat sesuai dengan firman Allah SWT:” Sesungguhnya
( ayat-ayat ) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki
( kebaikan bagi dirinya ) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya.
Dan kamu tidak mampu ( menempuh jalan itu ), kecuali bila Allah
menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana” ( QS.al-Insaan:29-30 )
PERHATIKAN USAHAMU!!!
Setelah kita memahami sikap yang benar dalam menghadapi kehidupan, yaitu
berusaha mendapatkan kebaikan dan menolak bahaya dengan tetap bergantung
dan menyandarkan hasilnya hanya kepada Allah, maka ada satu hal lain
yang harus kita pahami dan perhatikan. Hendaknya, usaha yang kita
lakukan benar-benar sesuai dengan kecintaan dan keridhaan Allah. Dengan
kata lain, usaha kita tidak bertentangan dengan syariat Allah. Tentunya
cita-cita tertinggi seorang muslim adalah menggapai kecintaan dan
keridhaan Allah.
Untuk itulah, jangan sampai usaha kita tercampur dengan kesyirikan,
kebid'ahan ( perkara baru dalam agama ), atau kemaksiatan kepada Allah
SWT dan Rasul-Nya.
Barangkali dengan contoh akan lebih mudah bagi kita untuk memahaminya.
Seorang pedagang, misalnya, agar dagangannya laris dia membuat jimat-
jimat penglaris. Sama halnya dengan seorang mujahid yang berperang
membela agama, tetapi dia menggunakan ilmu kekebalan, misalnya. Usaha
ini adalah usaha yang bercampur dengan kesyirikan.
Contoh lain, seorang ahli ibadah ingin mendapatkan pahala yang banyak
dari Allah, tetapi dia melakukan berbagai bentuk ibadah baru yang tidak
pernah disyari'atkan oleh Rasulullah saw. Ini merupakan usaha yang
bercampur dengan kebid'ahan.
Contoh berikutnya, seorang pedagang menjual barang dagangannya dengan
berdusta dan mentupi cela barangnya, maka ini adalah usaha yang
bercampur dengan kemaksiatan.
Akhirnya, kita senantiasa memohon kepada Allah agar melapangkan hati
kita untuk menerima kebenaran dan mengikutinya. Wallahul Muwaffiq.
Sumber : Majalah Nikah Vol.7, No.12, Maret-April 2009, Rubrik: Landasan
Utama, hal.34-35
CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---