*SERIBU INDERA* *Eileen Rachman & Sylvina Savitri*

EXPERD CONSULTANT
*One-day Assessment Centre*

Ditayangkan di Kompas, 12 September 09



Saya cukup *surprise* dengan paparan seorang pimpinan lembaga tinggi negara
yang ketika ditanyai mengenai kepemimpinan justru menekankan pentingnya 'rasa'
dalam memimpin. Ya, selama ini, sadar tidak sadar, kita memang terkadang
mengabaikan dan mengesampingkan penajaman 'rasa' atau *'sensing'* dan
memandang rendah kontribusi 'rasa' terhadap keberhasilan seseorang dalam
karir dan pekerjaan. Kita tahu, seseorang yang diproyeksikan untuk naik
jabatan, biasanya akan menerima pembekalan dan pelatihan intensif terkait
prosedur, manajemen,  analisa dan *problem solving*, namun umumnya hanya
sedkit menyentiuh 'rasa'. Padahal, bisa kita bayangkan betapa sulitnya
seseorang untuk bisa berhasil memimpin bila ia tidak ahli mengelola 'rasa'.
Bukankah kita lihat para anggota DPR pun terkadang dikritik karena
mengeluarkan kebijakan yang tidak tepat sasaran, mengeluarkan pernyataan
yang kurang sensitif dan diniliai kurang punya 'rasa' dalam melihat dan
menyikapi permasalahan yang ada?



Saya jadi terpikir, betapa ruginya, kalau rasa atau '*sensing' *yang kita
fungsikan baru sebatas 'panca indera' saja: cium, dengar , kecap, lihat,
raba? Bagaimana dengan intuisi, firasat, simpati, empati, rasa percaya dan
tidak percaya, yang kesemuanya melibatkan 'rasa'? Bisakah ini semua kita
golongkan sebagai indera keenam? Bukankah 'rasa' ini, seperti halnya panca
indera kita, berfungsi sebagai antena atau radar, modal kita mengambil
tindakan? Tepat sekali bila dalam lembaga-lembaga yang berkegiatan 'putar
otak' intensif, senantiasa diingatkan untuk menggalakkan penggunaan perasaan
 ini untuk 'mengelola manusia' dan berpikir kreatif.



*Menajamkan Kesadaran (Awareness)*

Perlu kita ingat bahwa menginderai dan kemudian mengetahui, sangat berbeda
dengan menyadari *(awareness). *Sebagai contoh sederhana, semua orang tahu
bahwa ini adalah minggu kedua bulan September, tetapi belum tentu semua
orang menyadari bahwa akhir tahun tinggal 3 bulan lagi. Kita yang bisa
memanfaatkan panca indera tanpa upaya keras, ternyata sering lupa untuk
mengasahnya. Sementara, seseorang yang buta sejak lahir, masih bisa
me-'rasa'-kan warna-warninya dunia, tanpa membayangkannya.

Kita lihat, justru orang-orang yang sukses, baik dalam kepemimpinan maupun
dalam berwirausaha mempunyai keahlian memelihara kesadaran-kesadaran ini.
Dari kesadaran seperti inilah orang bisa melakukan antisipasi, membuat
asumsi, memprediksi dan mengelola banyak kegiatan pikir lainnya yang tidak
bisa dikuasai melalui latihan saja, melainkan perlu diasah secara
individual.



*Mengapa Kita Sering Kebal?*

Seorang ahli mengatakan bahwa kekebalan *'awareness'* kita berasal dari
ketidakmampuan kita me-'rasa'-kan wanginya sekuntum mawar ketika kita
merabanya. Bahkan ahli tersebut mengatakan bahwa kemampuan me-'rasa'-kan itu
adalah kemampuan mengenal realitas yang sebenarnya. Kita bisa tidak
mengembangkan kemampuan me-'rasa' ini karena tidak menyadarinya. Seringkali
hal tersebut kita samakan dengan pengetahuan. Padahal, kemampuan
merasa *('sensing')
*ini merupakan penajaman radar, sensor  atau antena untuk mengoptimalkan daya
tangkap yang jauh lebih kompleks daripada sekedar menangkap perabaan,
penglihatan, pendengaran dan penciuman. Kompleksitas penangkapan ini banyak
melibatkan penghayatan sosial, religius dan emosi sehingga bisa menghasilkan
penyimpulan yang kaya.



Lalu, mengapa individu sering tidak menajamkan bahkan secara tidak langsung
 menumpulkannya? Banyak orang tidak mau tahu sampai akhirnya tidak 'ngeh'
bahwa dalam dirinya ada kemampuan itu.  Seorang *teller *bank,misalnya,
 mempunyai prosedur standar yang harus dijalankan bila mencurigai seseorang.
Bila prosedur ini sudah dilakukan  ratusan kali, maka sebenarnya
*"sensing"*atau kita sering menyebutnya dengan
*feeling, *harus lebih bekerja. Ia pun mestinya mampu mencerap situasi
dengan 'radar'-nya, sebelum  melakukan cek-ricek dengan inderanya lagi.



Nah, bila kita sadar bahwa kita dipersenjatai dengan '*awareness'* seperti
ini, bukankah kita akan bisa lebih tajam 'melihat' apa yang selama ini
'tidak kita lihat'? Bukankah kita bisa menemukan hal-hal yang terlewat,
seperti mengenal potensi anak buah secara mendalam, meramalkan kesuksesan
anak buah, memilih anak buah yang bisa kita percaya atau menilai apakah
seorang pelanggan prospek atau tidak. Hanya dengan kesadaran ini jugalah
kita bisa menciptakan  dan kemudian menikmati suasana saling menghargai,
saling percaya dan kerjasama.


*Berdansa *dalam Penghayatan

Siapa yang tidak pernah mendengar ungkapan *maxim: "Think with your head,
not with your heart"?* Hal ini, lalu telak-telak dibantah oleh para ahli
neurologi yang meyakini betapa kompleksnya penginderaan  dan  betapa
hebatnya hasil dari timbal balik kerja otak, daya pikir, rasa dan indera.
Lihat saja bahwa orang yang dihadapkan pada situasi yang sama, bisa
mempunyai konteks dan ketajaman penghayatan yang berbeda dengan orang
lainnya. Ternyata, kita dibekali dengan seribu indera yang bisa diaktifkan
untuk berkolaborasi satu dengan lainnya. Mungkin inilah sebabnya banyak
ungkapan lintas-indera yang digunakan untuk pemahaman dan penangkapan
mendalam tetang sesuatu hal, misalnya: *"having a nose for the job..."*
atau *"Breathe through your feet".*



Tampaknya inilah gunanya jendela-jendela luas untuk menikmati cakrawala yang
jauh dan indah untuk para eksekutif, agar senantiasa meng-elevasi
*'senses'*-nya,
sehingga ia punya daya untuk menggerakkan korporasi dan membuat suasana
interaksi yang kian kondusif. Kita pelajari bahwa pencerapan  dan
'awareness' manusia ternyata jauh dan dalam. Tidak hanya fungsional, tapi
juga mendesain. Tidak cuma sekadar tanya-jawab tetapi juga berceritera. Tidak
saja fokus, tetapi juga ber-simfoni. Tidak saja logika, tetapi juga empati.
Tidak saja keseriusan tetapi juga 'bermain'. Bukan hanya akumulasi tetapi
juga *'meaning'*. Di sinilah letak misteri ditumbuhkannya *'sense of self",
"sense of direction", "sense of action", sense of organizing"," sense of
moral direction", "sense of environment" , sense of belonging"**. D*an, wah,
masih banyak sekali, bahkan tidak berbatas.





EXPERD CONSULTANT

*Adding value to business results*

Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2

Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310

Telp. 021-7590 6448

Fax.  021-7590 6442

http://www.experd.com

*
*

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke