Subject: e-bulletin : Koalisi



KOALISI


Eileen Rachman & Sylvina Savitri


EXPERD


ASESSMENT CENTER


Ditayangkan di KOMPAS, 23 Mei 2009



Teman saya, single mother dengan seorang anak, tengah sibuk mencari
jodoh. Saat teman-temannya berniat memperkenalkannya pada seorang
'duren' (duda keren) yang punya dua orang anak, serta-merta ia
menolak. "Saya bawa satu anak, dia bawa dua anak, waaah ribet", begitu
komentarnya. Loh, baru 'koalisi' antara 5 orang begitu saja sudah
merasa ribet. Sementara, sekarang ini kita lihat partai-partai
politik, bisa dengan mudahnya menyeberangi visi, misi, bahkan
dikhawatirkan mengingkari  ideologinya sendiri, untuk memenangkan
'jumlah kursi'.

Menyaksikan koalisi partai-partai Indonesia, mungkin rasanya sama
seperti melihat produsen mobil Fiat, Italia, yang berencana
mengakuisisi Chrysler dan Operasional General Motor (GM) di Eropa,
sementara GM dan Chrysler juga tengah dalam pembicaraan untuk
mengawinkan dua nama besar dalam industri otomotif Amerika yang tengah
mengalami kesulitan keuangan itu. Sulit rasanya membayangkan Fiat,
manajemen perusahaan yang yang berorientasi efisiensi dengan produksi
terpopuler Fiat Cinque Cento, mobil keluarga mungil berkekuatan
'hanya' 500cc, mengelola perusahaan yang memproduksi mobil 'tangguh'
dan 'boros', seperti Impala, Cadillac dan
<http://en.wikipedia.org/wiki/Chevrolet_Nova> Chevrolet Nova. Tentunya
'koalisi' ini perlu betul-betul dicermati, dianalisa, dibuatkan action
plan dengan sangat cerdas dan teliti, agar saling menguntungkan dan
saling melengkapi. Pihak yang tadinya berprinsip 'either-or' menjadi
'both-and'. Pastilah kedua belah pihak sudah mempertimbangkan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan: Apakah mereka akan berkooperasi atau
bersaing? Apakah akan berhemat atau melakukan diferensiasi? Apakah
akan membunuh beberapa produk? Produk mana yang akan
'dikalahkan"?Apakah kuat melakukan "management without tradeoffs"?

Membangun Kekuatan Baru

Situasi koalisi atau bahasa sederhananya berkawan dengan lawan, terasa
baru di dunia politik kita, namun sebetulnya sudah biasa kita lihat
dalam dunia bisnis. Mega merger di Indonesia antara bank-bank milik
pemerintah yang remuk, menjadi Bank Mandiri yang gagah perkasa sudah
membuktikan bagaimana sebuah koalisi bisa menghimpun kekuatan,
membuang kelemahan, bahkan menyatukan sumberdaya sehingga menjadi
kekuatan baru yang begitu indah.

Tengok juga bagaimana aliansi marketing antara United, Lufthansa,
Singapore Airlines dan berbagai maskapai penerbangan lainnya bisa
mengalahkan bahkan mematikan beberapa maskapai lainnya. Strategi
aliansi ini sering begitu tidak diduga-duga, proaktif dan 'smart',
sehingga sudah mempertimbangkan bagaimana ideologi masing-masing
perusahaan, saling berpengaruh pada industri masing-masing, tetapi
menguntungkan setiap perusahaan. Berlandaskan 'platform' IT yang sama,
perusahaan-perusahaan raksasa berideologi beda ini kemudian berhasil
merangkul pelanggan bahkan memberi servis yang 'wow' kepada pelanggan
agar tidak 'lari'. Dalam dunia bisnis, tidak ada 'magic' yang bisa
membuat perusahaan bertahan bila pelanggan lari. Cara-cara curang
semacam 'kartel' pun sudah dibuktikan tidak akan bisa mempertahankan
bisnis.

Tidak ada salahnya bila partai politik yang saat ini sedang
giat-giatnya melakukan koalisi, belajar dari pemain-pemain dunia
bisnis yang berhasil  menyatukan dan memerangi keberbedaan, melakukan
diferensiasi dan memanfaatkan 'bargaining power' dari setiap pihak,
menanggulangi ancaman-ancaman persaingan dan permusuhan satu sama
lain, bahkan menyambut kebutuhan masa depan, menciptakan kebutuhan
baru secara proaktif, sehingga bukan saja perusahaan ataupun partai
politik yang diuntungkan, tapi juga pelanggan, negara dan rakyat bisa
ikut merasa 'menang'.

Setia pada Tujuan

Dari literatur ilmu perang kuno Sun Tzu (500 BC), kita belajar bahwa
'lesson no.1" untuk memenangkan sebuah peperangan adalah: "Know the
situation, know the circumstances", yaitu "kenali dirimu, kenali
musuhmu, kenali situasi". Kita hanya bisa menyusun strategi dan
menang, saat kita jelas betul apa yang kita perjuangkan, tahu
luar-dalam kekuatan sekaligus kelemahan yang kita miliki. Sebaliknya,
bagaimana kita bisa menang jika kita tidak paham apa kesamaan dan
perbedaan kita dengan lawan, serta kelemahan dan kekuatannya?

Dengan menjual sebagian sahamnya kepada Fiat, Chrysler mendapatkan
teknologi atau 'resep dapur' Fiat untuk memproduksi mobil keluarga
yang lebih hemat energi, sekaligus memanfaatkan jalur distribusi
penjualan Fiat untuk mobil-mobil yang diproduksinya. Perusahaan
untung, begitu pula pelanggan. Dalam politik maupun bisnis, kesemua
unsur yang bisa digabungkan atau menyebabkan konflik perlu
dipertimbangkan masak-masak, apakah itu senjata, 'shared goals'
keterlibatan, ekspertis, positioning psikologis dari kekuatan
masing-masing, logistik, serta iklim yang mempengaruhi semua operasi,
perlu cermat dihitung dan dikembalikan kepada moral yang seragam dan
harus disetujui bersama, yaitu kemanusiaan

Filosofi Sun Tzu juga telah menyebutkan, "The supreme art of war is to
subdue the enemy without fighting". Kemenangan terbesar bukanlah
keberhasilan menaklukkan, tapi mengelola konflik untuk menciptakan
suasana yang lebih baik bagi keseluruhan humanitas. Kalau hitungan
tidak pas atau landasan tak jelas, maka yang ada kelak hanyalah
disharmoni yang menyebabkan tidak berkinerjanya sebuah koalisi.
Kegiatan-kegiatan bermain "  <http://en.wikipedia.org/wiki/Kingmaker>
kingmaker" pun wajar dalam kegiatan koalisi maupun beroposisi ini.
Tarik menarik kekuatan, negosiasi, diskusi keras, debat, bahkan
pemaksaan pendapat memang perlu dilakukan untuk menemukan kata
sepakat. Dalam bisnis, pihak yang bernegosiasi pun akan secara keras
mempertanyakan 'Apa untungnya bagi saya?' Dan, "Apa untungnya bagi
Anda?"

Hal yang justru mengkhawatirkan adalah bahwa kegiatan negosiasi
menjadi  terlalu sederhana dan hanya berfokus pada pembagian kekuasaan
atau lebih kongkrit lagi pembagian kursi, sementara hal-hal yang
penting demi kelangsungan ideologi partai apalagi kepentingan negara
tidak terpikirkan. Kesetiaan pada ideologi, yang diterjemahkan dalam
bentuk kesetiaan pada partai, sangat dihormati oleh siapa pun.
Bukankah kita sendiri menyaksikan bahwa orang yang setia pada
ideologinya akan dikenang sebagai pahlawan? Bukankah pada akhirnya
ideologinya pun bermuara pada panggilan untuk setia pada kemanusiaan,
bangsa dan Negara: What's in in for the nation?



EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
http://www.experd.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke