Kamulah Mendung dan Matahariku (Bagian 6)
Mereka berdiri. Berdua. Berhadap-hadapan. Gemericik air sungai seperti
menjadi saksi pertemuan mereka.
Gadis kecil itu masih mengenakan seragamnya. Laki-laki bertubuh tegap
itu masih mengenakan topi caping di kepalanya.
“Mau kemana?” Jhon melepas capingnya. Entah kenapa dadanya bergemuruh
melihat Srintil.
Srintil tertunduk malu. Ia tadi sengaja melewati sawah di dekat sungai
tempat Mas Jhon biasanya bekerja. Wanti yang kasih informasi kalau Mas
Jhon menggarap sawah orang di dekat sungai.
“Mau kemana?”
Srintil merasakan wajahnya memanas. Bukan karena sinar matahari tapi
karena tatapan Mas Jhon yang tidak berkedip memandangnya.
“Kamu mau…”
Srintil mendekat. Matanya memandangi kaki Mas Jhon yang dipenuhi lumpur.
“Kenapa?” Jhon ikutan mendekat. Mata Srintil yang berbinar ketika
memandangnya mengingatkannya pada Srintil kecil yang selalu meleletkan
lidah bila berpapasan dengannya.
“Mas Jhon lucu…”
Jhon semakin mendekat. Entah kenapa tiba-tiba saja tangannya terulur dan
meraih jemari Srintil.
Srintil terkejut. Tapi kemudian ia tersenyum. Memandang Mas Jhon nyaris
tanpa kedip.
“Oalah Par, Par…, suamimu itu bagaimana, toh?”
Parni menghentikan kegiatannya menampi beras. Seseorang tergopoh-gopoh
berjalan ke arahnya. Kepalanya bergeleng-geleng. Satu tangannya
mengangkat kain yang dikenakannya agar memudahkannya melangkah.
“Sinting. Sinting….”
“Kenapa, Bu De?”
Wanita yang dipanggil Bu De menghentikan langkahnya. Memandangi Parni
lalu satu telunjuknya digerakkan mengenai kepala Parni. “Goblok. Suamimu
itu memang sinting. Goblok kenapa kamu mau kawin dengannya.”
“Ssst…., ada apa sebenarnya, Bu De?” Parni meletakkan telunjuk di
bibirnya. Sudah sore. Suara Bu De terlalu keras. Septi bahkan sempat
terlongo, berhenti dari permainannya. “Masuk ke dalam…”
“Goblok. Suamimu itu pacaran sama anak kecil.” Suara melengking itu
meluncur begitu saja. Septi, mungkin karena terkejut langsung menangis
keras-keras. Memeluk tubuh Parni.
Wajah Parni memerah. Tapi ia berusaha untuk tidak terbawa emosi. Matanya
memandangi wanita bertubuh kecil yang kali ini berkacak pinggang di
hadapannya.
Bu De dapat cerita dari mana?”
“Sinting. Aku lihat dengan mataku sendiri. Dia gandeng anak kecil itu.
Ngelus pipinya trus nyium pipi anak itu. Bocah edan, dipikirnya tidak
ada orang. Dua-duanya sama-sama edan.”
Parni diam. Tak bisa berpikir.
“Tapi Mas Jhon…”
"Oalah…, Jhon gemblungmu itu pacaran sama Srintil. Anak bawang edan.
Kecil-kecil sudah mau merusak rumah tangga orang. Mirip sama ibunya.”
Parni kembali diam. Kali ini wajahnya memerah dan air matanya mulai
mengembang. Terlebih ketika beberapa orang yang melewati rumahnya
berhenti dan bertanya ada kejadian apa?
“Biar aku ke rumah anak bawang itu…”
Septi menangis semakin keras dalam gendongan Parni. Parni membawanya
masuk ke dalam rumah. Kali ini sambil menangis.
Di luar halaman, orang kampung semakin banyak yang berkerumun.
“Mas Jhon….”
Sudah malam. Lewat tengah malam. Parni duduk di sisi tempat tidur.
Memandangi Septi.
Jhon menggeliat. Masih memejamkan mata.
Di luar hujan. Suara tetesannya airnya terdengar sampai ke dalam rumah.
“Mas Jhon…,” kali ini tangan Parni menyentuh tubuh Jhon.
Menggoyang-goyangkannya.
Jhon menggeliat lagi. Sekilas memandang. Bersiap memejamkan mata kembali
tapi tangan Parni lebih sigap menyentuh kakinya. Menggoyang-goyangkannya.
“Saya mau bicara…,” suara Parni dibuat serendah mungkin. Septi mudah
sekali terbangun dari tidurnya bila mendengar suara orang bicara atau
benda jatuh. “Soal Bu De Wiro….”
Jhon lagi lagi menggeliat. Tapi kali ini mulai bangun dari rebahannya.
Duduk di tempat tidur.
“Mas…,” kali ini ia bangkit. Berjalan ke luar kamar.
Jhon mengikuti.
Di ruang tamu, di mana suara rintik hujan semakin deras kedengarannya,
Parni duduk memandangi Jhon.
“Kenapa?”
“Bu De Wiro bilang…”
Jhon mengendenguskan napasnya. Ia sudah mendengar cerita itu. Terkejut
luar biasa. Tapi tidak mungkin menunjukkan kepada orang lain.
“Mas dan Srintil….”
“Edan. Srintil sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Dia juga pantas
jadi anakku. Pantas jadi kakaknya Septi. Tukang gosip begitu selalu saja
kamu percayai,” suara Jhon meninggi.
Parni diam. Menahan napasnya. Baru pertama kali ini ia melihat amarah di
wajah Jhon yang biasanya tenang.
Hening.
Hanya suara hujan.
“Tapi Mas masih mencintai saya, kan?” Parni menunduk. Ia jadi malu
dengan pertanyaannya itu.
“Kamu aneh-aneh saja.” Jhon malah berdiri dari duduknya. Berjalan masuk
kembali ke dalam kamar.
"Kamu sableng.”
Srintil memandangi Wanti. Menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak
mengerti,” sahutnya.
“Jadi kamu sudah dicium sama Mas Jhon?”
Srintil mengangguk.
“Trus?”
“Trus kenapa?”
Wanti terkikik. “Nanti kalau kamu diajak nikah jadi istrinya yang kedua
bagaimana?”
Srintil diam. Di langit awan putih membentuk bayangan raksasa.
“Mau?”
Srintil mengangguk. “Seperti Mbok,” ujarnya pelan tapi pasti.
"Kamu bodoh!”
“Biar.”
“Katanya cinta. Tapi kamu bodoh begitu.”
“Biar. Srintil tidak suka tidak usah dipaksa. Kalau dipaksa tidak baik.
Nanti kalau sudah besar dia pasti sadar.”
Wanti meleletkan lidahnya ke arah Rustam. “Tapi kamu tahu kan kalau
Srintil sedang sedih?”
Rustam mengangguk. Terus mengayuh sepedanya.
“Srintil jadi omongan orang kampung. Kamu dong tolong dia.”
“Aku masih kecil.”
“Tapi kamu kan laki-laki.”
“Tapi badan Mas Jhon besar. Srintil cuma bilang aku temannya. Dia tidak
suka saja aku. Kemarin belimbingku tidak dimakannya tapi dibuangnya di
selokan.”
Wanti terkikik. “Srintil edan….”
Rustam diam.
“Nanti kamu mau main ke rumahnya?”
Rustam menggeleng. “Nanti kalau Srintil sudah naksir aku?”
“Kapan?”
“Aku nunggu sampai aku dan Srintil besar?”
“Kalau dia jadi istrinya Mas Jhon?”
“Aku sama kamu.”
Wanti terkikik lagi. Mengayuh sepedanya dengan bersemangat.
Sepi di luar. Sama sepinya seperti di dalam rumah.
Mbok mengawasi Srintil. Mengenduskan napas berkali-kali.
“Pak De Warno ingin mengambil kamu menjadi anaknya. Mbok pikir tidak
apa-apa. Toh pakde-mu itu guru. Siapa tahu kalau ikut dengannya kamu
bisa jadi orang yang berhasil.”
Tak ada sahutan. Tas besar yang berisi pakaian Srintil yang sudah
dirapikan Mbok hanya dipandangi oleh Srintil.
“Kamu tidak apa-apa, kan?”
Srintil menggeleng.
Rumah Pak De Warno jauh. Enam jam perjalanan dari tempatnya. Tempat Pak
De Warno yang adiknya ibu itu tidak enak. Anak-anaknya nakal. Bu De
Warno orangnya suka ngomel. Srintil pernah disuruh menginap di sana oleh
Mbok sewaktu liburan selama sebulan. Dua minggu Srintil jadi sering
memimpikan Mbok. Untungnya Mbok punya feelingdan menjemputnya. Di depan
Mbok, Bu De tidak cerewet. Padahal Srintil sering disuruh kerja
macam-macam. Anak-anaknya sendiri kerjanya cuma belajar saja.
“Kamu tidak marah sama Mbok, Nduk?” Mbok mengelus kepala Srintil.
Srintil diam.
“Nduk…,” hampir menangis Mbok waktu mengucapkan kalimat itu. Ia takut
kehilangan Srintil. Tapi ia tidak mau Srintil bernasib malang seperti
dirinya. Orang-orang kampung sudah ribut. Ada yang bilang melihat
Srintil masuk kamar Jhon. Ada yang bilang Srintil dicium Jhon. Ada yang
bilang Srintil tidur sama Jhon di pinggiran sawah. Semuanya bikin Mbok
pusing dan malu sama orang kampung.
“Kalau saya tidak kerasan tinggal di sana….”
“Kamu pasti kerasan.”
“Nanti Mbok sendirian.”
“Mbok sudah terbiasa sendirian.”
“Nanti saya kangen sama Mbok…,” Srintil menyentuh tangan Mbok.
Melingkarkan tangannya di tubuh kurus Mbok.
Tak ada sahutan. Mbok tidak bisa menjawab. Ia hanya menangis sesunggukan.
Kangen….
Langit sore berwarna jingga. Jhon berdiri mematung di muka rumah. Septi
tengah bermain dengan anak-anak tetangga yang lain di halaman. Setiap
kali melihat ke arahnya setiap itu pula mulut Septi berteriak memanggilnya.
Di dalam rumah terdengar suara lambang jawa. Parni yang memutarnya.
Sejak hamil beberapa bulan yang lalu, Parni senang menghabiskan waktu
mendengarkan langgam Jawa.
Jhon memandang ke langit. Tersenyum sendiri. Suara anak-anak kecil
sebaya Septi semakin keras. Saling berteriak. Tertawa. Mengingatkannya
kepada Srintil.
Jhon mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Menghitung dalam hati.
Sebulan, dua bulan…, dua tahun. Hampir dua tahun dia tidak bertemu
dengan gadis kecil itu. Dua tahun penuh kehampaan.
“Melamun, Mas….” Parni muncul tiba-tiba. Di belakangnya. Mengelus
perutnya yang sudah kelihatan membuncit.
Jhon menggeleng cepat. “Lihat Septi lagi main.”
“Sudah besar dia. Adiknya yang ini semoga laki-laki ya, Mas?”
Jhon mengangguk.
Sungguh, tiba-tiba ia terbayang-bayang Srintil. Tiba-tiba ia ingin
sekali bertemu dengan anak itu.
Bersambung
Penulis: Nurhayati Pujiastuti
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber femina 2002
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.
Subscription settings: http://groups.google.com/group/aga-madjid/subscribe?hl=en