Saat Perempuan Datang Bulan
Oleh ika maya susanti
Kategori: Cerita Wanita
Baru saja membuka mata, batinku langsung memaki, “I hate Friday!” Karena
Jumat berarti penghujung minggu. Itu artinya hari kerja keras buatku
untuk menyelesaikan semua tugas terbitan edisi mingguan yang harus naik
cetak pada hari Sabtu. Dengan gerak menghentak dan suara kasar, tubuhku
beranjak dari tempat tidur.
Mela, teman sekamarku terkejut mendengarnya. Ia akhirnya ikut terbangun
karena suara gaduh yang telah aku buat. “Pagi-pagi begini mau kemana,
Ra?” suara malas Mela entah kenapa justru membuatku jengkel. Enak sekali
ya kerja seperti Mela yang bisa hidup santai jadi wartawati hiburan.
“Ck, kayak nggak tahu saja sih kerjaanku dua minggu terakhir ini! Biasa,
menyelesaikan terbitan tabloid edisi minggu nih. Kalau nggak dikebut
ngetik hari ini, fuih, ntar malam alamat ada orang yang ngomel-ngomel,”
gerutuku.
Mata Mela menyipit memandang ke arahku. Kemudian diliriknya jam dinding
yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “Lho, bukannya semalam kamu
sudah kerja berat sampai jam tiga dinihari. Dipakai istirahat dulu lah,”
saran Mela.
“Ya ampun Mel, semalam saja bisa kerja sampai jam segitu karena barusan
diomelin. Kata Mbak Reni, tugas mingguanku baru sedikit yang kusetor.
Heran, kok nggak mau tahu banget ya, orang udah kerja kayak gimana.
Maunya beres saja!”
Mela akhirnya cuma menanggapi dengan senyuman. Aku pun segera berlalu
menuju kamar mandi. Air dingin dan wangi sabun beraroma terapi masih
belum bisa meredam emosiku. Hingga aku keluar kamar mandi, Mela
sepertinya mengerti ketidakberesan yang sedang aku alami.
“Kamu tuh mau datang bulan ya?” tebak Mela.
Aku cuma mengerutkan alis tak mengerti.
“Iya, bawaannya dari tadi kok marah melulu. Mana ini kan masih pagi
lagi, awalnya hari,” sambung Mela.
“Iya Mel, kamu nggak tahu gimana rasanya jadi aku. Enak kalau kayak kamu
sama teman-teman yang lain yang setor berita cuma beberapa dalam sehari.
Lha aku, satu harinya saja ditarget berapa halaman dan yang berarti
berapa berita. Belum lagi Mbak Reni yang suka marah-marah. Kayaknya
semua kerjaku nggak ada yang beres di matanya.”
Mela terdiam sejenak. “Iya sih, banyak anak-anak yang kasihan juga
melihat kamu bisa kerja keras seperti itu untuk edisi minggu yang
banyaknya 12 halaman itu. Aku juga sudah ngomong sih ke Mas Toni kalau
kerjamu itu berat banget,” Mela menyebut nama redaktur senior tempatku
bekerja. Yah, sedikitnya aku merasa terhibur dengan ucapan Mela barusan.
Tapi…
“Nggak tahu deh. Kayaknya hari ini jadi hari berat. Pikiranku lagi kacau
banget Mel. Kemarin Sihar juga buat masalah lagi. Nggak tahu deh apa
maunya tuh anak tahu-tahu kok ngambek.”
Mela menatapku sambil tersenyum kecil. “Iya kayaknya, Ra. Kamu tuh lagi
mau datang bulan, ya? Biasanya sih, bukan hanya kita jadi lebih sensitif
sih. Nggak tahu kenapa, orang-orang di sekitar kita juga kayaknya unwell
deh kalau bersikap ke kita. Yah, yang sabar saja.”
Aku menggeleng tidak setuju. “Nggak ah. Aku nggak percaya sama yang
kayak begituan. Memang dasar orang-orang lagi pada ngeselin saja,” aku
langsung bangkit meraih tas ranselku untuk berangkat ke kantor.
Mela, teman sekamarku di rumah susun sekaligus teman sekantorku itu
memang suka sekali menghubungkan sesuatu dengan hal-hal yang berbau
irasional. Sebetulnya bukan pertama kali tadi saja sih dia berkata kalau
perempuan mau datang bulan itu pasti banyak cobaannya. Tapi itu hal yang
nggak masuk akal ah! Kalau orang lain mengalami seperti yang aku alami,
aku pikir siapa saja juga pasti akan berbuat hal yang sama. Sudah
mengerjakan tabloid edisi minggu 12 halaman sendirian, menghadapi
redaktur yang cerewetnya bukan main, pacar lagi nggak bisa ketebak
maunya apa. Tuh kan, siapa yang nggak kesal melewati hari seperti itu.
“Tiiinnn! Woi, kalau jalan jangan seenaknya dong!” maki seorang bapak
dengan mata mendelik menyalip motorku.
Aku melongo keheranan. Bukannya aku sudah memberi lampu tanda akan
membelok ke arah kanan? Dasar, di Batam ini memang susah sekali mencari
orang sopan. Yah, diingat-ingat saja pepatahnya. Batam, bila Anda tabah,
Anda menang. Tabah… tabah…, gumamku sendirian.
Sampai di kantor terutama ruang redaksi, akulah orang pertama yang
menjejakkan kaki di lantai dua. Sudah pulang paling belakang, datang
paling dulu. Nasib… nasib… Kunyalakan komputer sembari mengeluarkan
jadwal tugas mingguanku. Ternyata masih ada tiga halaman lagi yang masih
belum kukerjakan. “Hoaahh!” aku menahan kantuk. Yang penting malam ini
harus selesai semua. Jadi besok Sabtu bisa jalan-jalan, tekadku. Sudah
terbayang wajah cemberut Sihar pacarku. Semoga besok aku benar-benar
bisa menemaninya.
Tiba-tiba perutku merasa tak enak. Rasa kurang nyaman tiba-tiba berdesir
di bagian bawah tubuhku. Aduh, masa iya sudah datang bulan. Bukannya
masih beberapa hari lagi. Sialnya, setelah kucek ternyata dugaan itu benar.
Segera saja aku panik mencari pembalut yang biasanya berada di dalam
tasku. Hari sial, rutukku, barang yang kucari itu ternyata tidak ada.
Kulirik Desi, sekretaris redaksi yang baru saja melenggang masuk ruangan.
“Ada pembalut Des?”
Desi mencoba mengingat. “Ada,” katanya sembari membuka kunci laci mejanya.
Setelah disibukkan dengan urusan kewanitaan, kembali kulanjutkan tugasku.
Tidak terasa hingga pukul tiga sore, masih ada satu halaman lagi yang
belum kuselesaikan. Sementara itu langkah kaki Mbak Reni dengan sepatu
berhak-nya sudah mulai terdengar menapaki tangga.
“Gimana Ra tugas mingguannya, sudah selesai?” tanyanya sewaktu melewati
mejaku yang kebetulan dekat dengan pintu masuk ruang redaksi.
“Iya Mbak, kurang halaman Pretty saja.”
“Foto-fotonya sama nama fotonya jangan lupa lho. Kayak semalam, aku
harus kebingungan buat ngatur foto yang mau naik.”
Aku cuma tersenyum kecil. Lha, itu kan tugas fotografer, kenapa aku juga
yang ikutan kena. Tapi daripada debat, mending diiyakan saja.
“Raraaaa, pinjam headphonenya dong,” Lili tahu-tahu sudah mengangkat
headphone yang mengapit dua telingaku.
“Ck, apaan sih!” protesku.
“Ayolah Ra, ada lagu enak nih yang barusan aku download. Yah?” pinta
Lili sambil tetap memegang headphone ku.
“Aduh Li, aku juga lagi butuh buat refreshing sambil ngedengerin musik.
Lagian, dari dulu kenapa nggak pernah mau beli sendiri sih!”
“Huh dasar pelit!” Lili malah mendorong tubuhku dan kemudian kembali ke
mejanya.
Aku cuma bisa menahan kesal. Lho, yang seenaknya siapa, yang seharusnya
kesal siapa?! Lagi-lagi nyeri di perutku meminta perhatian. Tapi
sepertinya perhatianku tak lama ketika handphoneku memberitahu ada pesan
masuk. Kulirik tulisan ‘my sugar’ julukanku untuk Sihar meminta untuk
dibaca. Sewaktu ku klik, serentetan pesan dari Sihar keluar. “Ra, nanti
malam temani ke rumah tante ya. Adik sepupuku sakit.”
Aku malah kembali menekuni tulisan di komputerku. Selain sedang tidak
ada pulsa, aku juga nggak janji untuk bisa menemaninya.
Ternyata tidak hanya sampai di situ. Dering miscall dari Danang justru
terus menerus menggangguku. Apa sih maunya nih anak! Langkah yang
kemudian terlintas dalam benakku adalah mematikan handphone yang tiada
kunjung usai mengusik.
“Raaa!!! Fotonya Pak Susilo dimana???” teriak Mbak Reni yang duduk di
ujung ruangan lain, berjauhan dengan mejaku.
Aku mendengus kesal. Terpaksa berdiri beranjak menghampiri meja Mbak
Reni. Rasanya memalukan jika harus ikut-ikutan berteriak. Selesai untuk
Mbak Reni, ganti Lili yang membuat masalah. Headphoneku tiba-tiba sudah
nampak bertengger di kepalanya dengan manis. Demi melihat wajahku yang
terang-terangan sangat tidak menyukai sikapnya, Lili malah melirik
sekilas dan menganggap tidak menyadari kehadiranku.
Langsung saja kutarik harddisk komputernya, mencabut kabel headphone
dari belakang harddisk, dan kemudian mengangkat speakar dari kepalanya.
“Tolong ya, hargai hak milik orang!” pintaku sengit.
“Hehe, Rara pelit… Rara pelit…” ejek Lili.
Aku pura-pura tidak mendengar. Sepertinya bego sekali jika harus
meladeni sikap Lili.
Sampai di meja aku mengomel kesal sendiri. “Bagaimana bisa cepat selesai
kalau selalu ada saja yang usil. Ah, yang penting cepat ngetik, cepat
selesai, dan bisa pulang tidur,” doaku. Dan aduh, perutku makin sulit
untuk diajak kompromi. Secangkir air hangat kuambil dari dispenser demi
mengurangi rasa sakit itu.
Dan sepertinya doaku sedikit terkabul. Pukul delapan malam, akhirnya
semua tanggung jawab halaman edisi mingguku selesai kukerjakan. Rasanya,
fiuh, lega! Artinya, aku bisa membuktikan kalau aku, seorang wartawati
yang bisa dipercaya memegang sisipan tabloid edisi minggu ini sendirian.
Bagaimana tidak, tugas untuk mengerjakan terbitan 12 halaman itu awalnya
dikerjakan ramai-ramai oleh seluruh wartawan koran tempatku bekerja.
Karena banyak wartawan yang mengeluh tugas hariannya jadi berantakan,
maka dibuatlah kebijakan jika tugas minggu ini dikerjakan oleh satu
wartawan dan satu redaktur saja. Dengan catatan, wartawan mingguan tidak
lagi dibebankan dengan tugas liputan harian.
Belum sempat aku mengemasi barang-barangku di atas meja, sebuah dering
di line telepon dekat mejaku meminta perhatian. Sebuah suara yang khas
langsung membuat telingaku merinding.
“Maaf, bisa bicara dengan Rara,” suara Sihar di seberang.
“Iya Har, ini Rara,” jawabku pasrah mencoba menebak apa yang akan ia
tumpahkan demi kekesalan yang barusan telah kulakukan.
Benar saja, nada suara Sihar langsung cepat berubah. “Bah, ternyata
masih hidup betulan orang ini. Sudah selesai Ra? Kalau sudah cepatlah
turun ke bawah,” suara Sihar lebih bernada perintah daripada meminta.
Secepat mungkin, kulanjutkan kesibukanku mengemasi kertas-kertas yang
berserakan di atas meja dan segera turun. Wajah Sihar sudah
berlipat-lipat demi melihat kehadiranku yang menghampirinya dengan
tergopoh-gopoh.
“Kenapa pakai acara mematikan handphone?” tajam suara Sihar langsung
menyerangku.
“Sori, tadi low battery karena semalam nggak sempat ngecharge,”
tiba-tiba sebuah alasan tepat muncul di kepalaku.
“Macam mana pula! Cepat ikut aku ke rumah Tante!” lagi-lagi logat Medan
Sihar memerintahku untuk melakukan seperti apa yang diinginkannya.
“Lho, terus motorku gimana?”
“Sudah tinggal saja. Besok kan bisa diambil.”
“Tapi…” aku melirik ragu jika harus meninggalkan motorku di kantor.
Bagaimana jika besok aku membutuhkannya untuk pergi keluar rumah.
“Kamu nih kebayakan buat masalah dari tadi. Nggak tahu, kalau sepupuku
sakitnya sudah dari kemarin. Jangan buat masalah baru lah!” kata-kata
Sihar justru membuatku kebingungan. Dimana yang salah?
Dan habis sudah kesabaranku. “Har sori, aku juga capek. Semalam, eh
salah, tadi pagi lebih tepatnya, aku harus pulang jam tiga dan tadi
harus berangkat jam sembilan. Kamu pikir aku nggak butuh istirahat?
Kalau tidak percaya, tanya sama Pak Ace” protesku sambil memintanya
menanyakan kebenaran ucapanku pada seorang satpam yang duduk di dekat
gerbang masuk. Ku gigit bawah bibirku menahan rasa sakit yang makin
menjadi di perutku serta pening yang menyergap bagian belakang kepalaku.
“Siapa yang suruh kamu jadi wartawan. Aku kan sudah bilang dari dulu
untuk keluar saja. Toh kalau kita nikah, aku bisa membahagiakan kamu
dengan materi yang berkecukupan. Gaji wartawanmu itu berapa sih?!”
kata-kata Sihar cukup menyinggung perasaanku.
Seakan-akan tidak merasakan kehadirannya, aku langsung berjalan saja ke
arah motorku dan bertekad kuat, pulang dan tidur. Cukup, aku sudah cukup
lelah!
“Hey, maumu apa!” suara keras Sihar membuat Pak Ace memandang ke arah
kami berdua.
“Mauku pulang dan tidur,” jawabku santai.
“Kamu ini macam perempuan tak punya aturan saja. Kalau begini caranya,
kita putus saja. Dasar perempuan tak jelas!” Sihar merutuk.
Aku malah melirik ke arah Pak Ace. Duh malunya, apa yang dia pikirkan ya?
“Hey!” ternyata Sihar masih belum terima akan sikapku. Diraihnya motorku
secara paksa dan memintaku turun. Sebuah tangan seketika melayang ke
arah wajahku jika tidak ada tangan lain mencegahnya.
“Abang, tolonglah. Nak ingin buat kacau, pergi saje!” hardik satpam.
“Eh, apa kau mau ikut campur urusan kami?!” mata Sihar melotot marah.
Entah apa yang telah merasuki tubuhnya.
“Urusan saye mengamankan lingkungan di kantor ini. Nak awak ingin buat
hal macam-macam apalagi main tampar ke Mbak Rara, itu juga jadi
tanggungjawab saye,” logat melayu Pak Ace membelaku.
Karena melihat satpam lainnya datang menghampiri kami, nyali Sihar ciut.
Ia akhirnya memilih pergi dengan masih terlebih dulu menatap nanar ke
arahku. “Awas kau perempuan sialan!”
Sepeninggal Sihar, aku tak kuasa menggugurkan air mata.
“Mbak Rara masih kuat pulang sendiri?” tanya Pak Ace.
Aku mengangguk kuat. “Masih kok, Pak,” jawabku sembari memandang orang
yang telah menyelamatkanku. “Terimakasih Pak.”
Sesampainya di rumah aku meneruskan tangisku. Watak kasar Sihar
sebetulnya sudah kuketahui sejak awal. Namun dengan kejadian barusan aku
makin yakin bahwa Tuhan telah menyelamatkan masa depanku. Ia telah
memberi tahuku.
“Lho Ra, kenapa?” Mela terkejut sewaktu mendapatiku menangis di atas kasur.
Aku mendongak menatap Mela dan teringat ucapannya pagi tadi. “Mel, aku
tetap nggak percaya tentang ucapanmu tadi pagi,” sahutku yang membuat
Mela menatap kebingungan. Mencoba mengingat-ingat apa yang telah
diucapkannya padaku.
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Catatan:
Nak: kalau
Awak: anda
Saye: saya
Saje: saja
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.