thanks ya bro arifin, artikelnya bagus sekali...really good for food of
though..
Arifin Efendi wrote:
*ALLAH MASIH SAYANG ...
*
Hujan kian deras mengguyur bumi. Sesekali aku harus memeluk Dafa yang
masih bayi ketika suara guruh menggedor-gedor pintu langit dengan
kerasnya. Aku memandang sayu ke arah anak-anakku yang tertidur di atas
tikar pandan. Duhai.. alangkah indah dan sucinya wajah mereka.
Kutatapi wajah mereka satu persatu dengan nikmatnya. Demikiankah wajah
bidadari kecil dari syurga Allah?
Sejenak aku terlupa betapa seperempat jam yang lalu ketiga bidadariku
itu menangis karena lapar yang tidak tertahankan. Zakia yang paling
besar menangis dengan keras sekali sambil menghentak-hentakka n kaki.
"Zakia lapar, Umi. Lapaar..mana nasinya?" Sementara Yamin yang masih
tiga tahun hanya bisa merengek-rengek panjang dengan kosa kata yang
terbatas, "Umi, mo mamam, Umi."
Kutatapi segenggam beras yang masih tersisa. Subhanallah. .teringat
aku kepada Mas Darman, Abinya anak-anak. Tadi pagi ia berangkat tanpa
sarapan apapun kecuali segelas air sumur yang kumasak dengan kayu api.
Bagaimana kalau hari ini Abi tidak berhasil membawa seliter beraspun
seperti kemarin.
Abi cuma kuli upahan yang membawa cangkul ke mana-mana. Syukur sekali
jika ada truk yang menawarkan kerjaan menurunkan pasir atau mengisi
tanah merah. Dari kerja ikut truk biasanya Abi bisa dapat uang delapan
ribu rupiah. Alhamdulillah cukup untuk beli beras dua tiga liter.
Kemarin Abi juga hanya sarapan segelas air sumur. Kuselipkan di saku
celananya yang lusuh uang seribu rupiah. Malam harinya Abi pulang
dengan seulas senyum kepasrahan.
"Dapat kerjaan tadi, Bi?"
"Alhamdulillah, belum, Mi."
"Tadi siang sempat makan, nggak?"
"Umi kan ngasih uang seribu rupiah. Abi belikan roti tujuh ratus
rupiah. Nih sisanya masih tiga ratus."
"Memang masih ada roti harga tujuh ratus?"
"Ada, tapi kayaknya harga aslinya seribuan deh. Mungkin Mas Budi
ngasih diskon ke Abi.".
Abi tersenyum manis kepadaku sambil menyerahkan sisa uang tiga ratus
ke tanganku. Laa hawla walaa quwwata illa billaah[1]. Berarti hari ini
Abi cuma makan sepotong roti tujuh ratusan. Dan itu juga berarti besok
tidak bisa beli beras. Kuamati sisa beras yang cuma tinggal dua
genggam lagi dan tiga keping uang logam seratusan di telapak tanganku
yang diam membisu.
********
Pagi itu aku tidak tega membiarkan Abi memanggul cangkulnya dengan
perut berisi air sumur. Kutanak beras segenggam dengan air yang agak
banjir dan kucampur dengan beberapa sendok tepung gandum. Rasanya?
Aduh..jangan tanya deh. Yang penting ada kalori yang mengisi badan
suamiku. Kasihan..sudah dua hari perutnya tidak diisi apa-apa.
"Umi, biar saja nasi itu buat anak-anak kita." Kata suamiku.
Aku tersenyum manis kepadanya dengan meredam seluruh kesedihan dan
kecemasanku di hari itu.
"Nggak, yang ini untuk Abi. Nanti buat anak-anak Umi siapkan pisang
rebus". Dalam hati aku bergumam, pisang rebus dari mana? Pisang mentah
yang dibawah Mas Darman kemarin sudah habis dimakan anak-anak. Namun
setidaknya bujukanku berhasil. Mas Darman mau memakan sarapan nasi
campur tepung gandum itu.
Pagi itu aku tidak memberikan sarapan kepada anak. Kurebus saja air
campur sedikit gula jawa yang masih tersisa. Kuberikan semuanya kepada
mereka. Aku cuma membasahi tenggorokan dengan seteguk air. Tetapi jam
sepuluh pagi anak-anakku yang sedang dalam masa pertumbuhan itu mulai
merengek-rengek minta makan. Mereka bahkan secara dramatis menguji
kesabaranku dengan menunjuk-nunjuk tukang bubur dan ketupat tahu yang
lewat di depan rumah petak kami. Padahal tidak pernah sekalipun aku
menyuapi mereka dengan makanan semewah itu. Ya Allah ..mungkin rasa
lapar yang mendesak mereka bersikap secara natural seperti itu.
Kubujuk mereka dengan kepandaianku bercerita. Mereka suka mendengar
ceritaku sehingga tersenyum-senyum gembira. Untuk beberapa saat rasa
lapar dapat kami lupakan.. Namun setelah sholat Zuhur mereka kembali
menyuarakan pesan yang dihembuskan dari lambung-lambung yang kosong.
Kutatap segenggam beras terakhir yang menjadi tapal batas pertahanan
terakhirku. Kumasak segenggam beras menjadi bubur yang sangat cair.
Kububuhkan sedikit garam ke dalamnya Anak-anakku makan dengan lahap
sekali. Nafas mereka mendengus-dengus saking lahapnya. Sayang mereka
harus menggigit jari saat meminta tambahan. Bubur itu sudah habis.
Kubawa panci itu kebelakang dan kusapu sisa bubur itu dengan
jari-jariku. Kemudian akupun kembali mengisi kekosongan perut dengan
air sumur yang dingin.
Anak-anakku tertidur pulas. Melihat wajah mereka saat tidur merupakan
salah satu hiburan yang mewah bagi jiwaku yang sedang kalut dan cemas.
Mudah-mudahan Mas Darman cepat pulang dan membawa sedikit beras untuk
makanan mereka.
***********
Awal menikah dengan Mas Darman yang sekarang menjadi ayah anak-anakku,
masalah ini tidak pernah terjadi. Dulu semua orang termasuk diriku
sendiri heran bin ajaib, mengapa anak seorang tentara seperti aku kok
jatuh cinta dengan Darman yang cuma tukang bakso. Dilihat dari tampang
memang tidak ada seorangpun yang dapat menafikan kegantengannya. Tapi
suer ..aku naksir dia bukan karena kegantengannya.
"Melangkah ke jenjang rumah tangga itu tidak cukup hanya dengan
berbekal cinta." Papa menegurku dengan bahasa yang klise.
"Pokoknya Mama cuma mau kamu nikah sama Gunawan yang calon dokter itu.
Lain orang Mama tidak setuju". Mama menyebut-nyebut lagi nama Mas
Gunawan. Padahal semua orang tahu dia sudah punya pacar. Apa belum ada
yang bilang ke Mama.
Berhari-hari mereka membujukku dengan berbagai cara. Akhirnya mereka
meminta kak Mita, kakakku yang sudah menikah untuk membujukku.
Hmm..Kak Mita sangat sayang padaku dan pasti akan senantiasa
membelaku. Kesempatan itu justru akan kugunakan untuk balik membujuk
kak Mita.
"Yuli sayang..bagaimana sih ceritanya kok kamu bisa kecantol sama Mas
Darman?"
"Hmm..Tepatnya aku sendiri tidak tahu, kak. Tapi aku merasa terpesona
dengan keindahan suaranya ketika mengumandangkan azan Subuh. Tentang
ini Papa juga setuju lho sama aku".
"Terus.."
"Suatu hari aku memberhentikan gerobak baksonya. Aku beli semangkok
bakso sambil mengucapkan terima kasih karena telah membangunkanku
setiap Subuh."
"Terus.."
"Dia cuma menjawab, Ya sambil terus menundukkan pandangan. Semua
pertanyaanku dijawabnya singkat tanpa berani menatap mataku. Melihat
sikapnya yang sopan itu hatiku jadi berbunga-bunga. Kayaknya di
situlah hatiku mulai tersangkut, kak Mitaku sayang."
"Terus.."
"Ya..sejak hari itu akupun bergerilya untuk menawan hatinya.
Alhamdulillah, dia akhirnya mengirim sepucuk surat kepadaku."
"Tapi Ya Allah, Yuli..dia kan cuma tukang bakso. Gerobak aja masih
belum punya sendiri. Asal-usulnya dari Brebes juga nggak jelas." Kak
Mita berdiri menghindari pelukanku. Panas juga kupingku mendengar kak
Mita merendahkan Mas Darman. Nampaknya usahaku untuk menjadikan Kak
Mita pendukung cintaku tidak berhasil.
"Dia bukan cuma tukang bakso, kak. Dia tukang bakso yang soleh."
"Adikku yang manis .. dengar sini baik-baik, ya. Pikirkan dulu dong
masak-masak. Kamu yakin si Darman itu bisa membahagiakan kamu dan
mencukupi keperluan kamu?"
"Kalau membahagiakan Yes, aku yakin. Tapi kalau mencukupi keperluan,
bukankah keperluan kita selama ini Allah yang memberi, kak?"
"Yuli, menjalani kehidupan rumah tangga itu sangat sulit. Tidak bisa
kita terus hidup hanya dengan setumpuk cinta di dada. Emangnya makanan
pokok kamu cinta, apa?"
"Cinta memang tidak bisa dimakan, kak. Yang bisa dimakan itu nasi.
Tapi makan nasi di depan orang yang tidak kita cintai juga pasti tidak
enak kan kak."
Kak Mita benar-benar tidak mengerti lagi bagaimana menghadapiku. Dia
bilang sejak aku sering taklim pemikiranku jadi aneh dan tidak karuan.
Aku bilang justru sekarang aku merasa bahagia karena akibat taklim
kini aku bersikap, berpikir dan bertindak hanya menurut kehendak Allah
saja.
Keluargaku menyadari kekerasan hatiku dalam masalah pilihan hidup.
Mereka merasa tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Papa takut juga
ketika kuancam bahwa dosa cinta kami akan Papa tanggung jika kami
dihalangi menikah. Padahal, aku cuma nakut-nakuti doang. Tapi
'gerilyaku' berikut ancaman itu membuahkan hasil. Papa akhirnya setuju
untuk menerima kedatangan keluarga Mas Darman ke rumah kami.
Mas Darman memberanikan diri ke rumah ditemani Ibunya yang baru datang
dari kampung. Papa hanya menahan nafas melihat buah tangan yang dibawa
keluarga Mas Darman; sekarung bawang merah dari Brebes. Sementara Mama
tidak memperlihatkan mukanya sampai Mas Darman dan ibunya pulang.
Dua bulan kemudian kami pun resmi menikah. Pernikahan kami berlangsung
secara sederhana sekali. Mas Darman cuma bisa ngasih satu setengah
juta rupiah. Maka setelah Ijab Kabul[3], kami cuma mengadakan doa
selamat dengan mengundang tetangga dan keluarga terdekat saja
Seusai acara Papa mengajakku berbicara empat mata.
"Yuli, sekarang kamu telah menetapkan kehidupan kamu sendiri.
Berbaktilah kepada suamimu dengan sepenuh hati. Tanggung jawab
menafkahimu kini beralih kepada suamimu. Papa tidak boleh terlalu
mencampuri urusan keluargamu. Tapi nak, ini ada uang tiga puluh juta.
Memang dari dulu Papa sengaja nabung untuk keperluan kamu setelah
menikah. Gunakanlah uang ini sebaik-baiknya. "
Aku terharu menyadari betapa sayangnya Papa padaku. Aku menerima uang
itu dengan tangan bergetar. Uang dari papa itu kami gunakan untuk
membeli sebuah rumah petak kecil di kawasan perkampungan. Sisanya
dipakai Mas Darman untuk modal jualan bakso.
Berkat ketekunannya usaha Bakso Mas Darman cukup maju. Mulai dari
berjualan bakso dengan gerobak dorong Mas Darman menapak selangkah
demi selangkah sampai akhirnya mampu menyewa sebuah tempat untuk
warung bakso. Kami menamakannya warung bakso 'Tawakal', sesuai dengan
prinsip hidup Mas Darman.
Pelanggan warung bakso Tawakal bertambah hari demi hari. Disamping
bakso Tawakal enak dan ngegres[4], Mas Darman juga sangat ramah kepada
pelanggan. Ketika usaha bakso itulah kami dianugerahi Allah tiga orang
anak-anak yang lucu. Rasanya sempurna sudah kebahagiaan yang kurasakan
bersama Mas Darman.
Namun benar kata Nabi Muhammad saw; jika Allah sayang kepada seseorang
maka Dia akan mengujinya. Ujian yang kami terima di tengah sepoi angin
kebahagiaan itu tidak tanggung-tanggung. Warung Bakso Tawakal dituduh
telah mencampuri baksonya dengan daging tikus! Ya Allah .Ya Gusti.
Alangkah jahatnya fitnah itu. Aku sendiri sempat membaca selebaran
fitnah itu yang katanya juga disebarkan melalui milis internet. Di
situ tertulis pengalaman seorang bekas pelanggan bakso Tawakal yang
mengaku melihat sendiri kepala-kepala tikus saat kebetulan numpang
pipis ke belakang. MasyaAllah! Keji betul fitnah itu. Mana mungkin Mas
Darman yang setiap pagi azan Subuh di masjid mencampuri daging
baksonya dengan daging tikus!
Dampak fitnah yang keji itu sungguh luar biasa. Warung Bakso Tawakal
yang tadinya bisa menjual minimal tiga puluh mangkok sehari turun
drastis. Untuk dapat lima mangkok sehari saja susahnya bukan main.
Sampai akhirnya Mas Darman mengover kreditkan sewa warung ke orang
lain. Usaha warung bakso kami resmi gulung tikar.
Seperti biasanya Mas Darman tetap senyum dan optimistis. Sisa uang
yang ada dibelikan gerobak dan mulailah ia kembali mendorong baksonya
keliling kampung.
Sayang ternyata citra buruk itu tidak hanya melekat ke warung bakso
Tawakal yang sekarang sudah 'almarhum'. Bagaikan bayang-bayang badan,
fitnah itu tetap menyertai Mas Darman ke manapun ia pergi. Alih-alih
mendapat untung, gerobak bakso yang didorong Mas Darman keliling
kampung malah menjadikan mulut orang gatal. Fitnah itu kian kuat
tersebar. Bahkan pernah ada seseorang yang dulunya penggemar Bakso Mas
Darman meludah jijik di depan gerobak. Saat itulah hati Mas Darman
benar-benar pedih. Hari itu juga ia memutuskan untuk berhenti jualan
bakso dan menjual gerobak dorongnya ke orang lain.
Mulailah kami menghitung hari dengan sisa uang yang ada. Keran
pengeluaran kuperketat habis-habisan. Pengeluaran hanya untuk makan
dan tidak ada pengeluaran untuk yang lain. Meskipun tetap mengumbar
senyum manisnya kepadaku, Mas Darman sering juga tertekan memikirkan
pekerjaan apa yang dapat dilakukannya untuk tetap menghidupkan dapur
keluarga. Aku sering menemaninya berdiskusi tentang mata pencaharian baru.
"Pekerjaan yang Abi tahu dari dulu Cuma jualan bakso, Umi."
"Abi kan bisa jualan lain, seperti gorengan misalnya, atau ketoprak?",
kataku.
"Umi benar. Tetapi untuk jualan makanan rasanya masyarakat sudah tidak
bisa lagi mempercayai Abi. Biarlah Abi coba cara lain."
"Cara lain seperti apa?", tanyaku.
"Begini, dulu di Brebes Abi sering bantuin petani bawang merah di
kebun. Jadi Abi cobalah membawa cangkul kita ini untuk mencari nafkah.
Kebetulan di ujung jalan depan suka ada truk yang berhenti mencari
kuli cangkul."
"Kuli cangkul? Apa nggak ada pekerjaan lain, Abi?"
"Ya, buat saat ini rasanya hanya itu yang rasional. Persediaan beras
kita juga sudah semakin tipis, kan?"
Ucapan Mas Darman bahwa sewaktu di Brebes dia biasa nyangkul, tidak
sepenuhnya bisa kupercaya. Setahuku dia itu anak sekolahan yang drop
out karena kekurangan biaya dan akhirnya memberanikan diri merantau ke
Jakarta. Aku tidak yakin badannya tahan dipakai untuk nyangkul.
Ternyata kecurigaanku benar. Sore harinya Mas Darman pulang dengan
badan keletihan dan telapak tangan mengelupas. Aku hanya bisa menangis
sambil memijiti tubuhnya dan melumuri tangannya yang melepuh dengan
tumbukan daun keladi dicampur putih telur.
Dalam kepedihan itu, Mas Darman masih mengajakku untuk beryukur kepada
Allah. Memang Allah telah menebarkan dalam dirinya kekayaan hati.
Justru ketabahan dan kepasrahan Mas Darman sering menjadikan tangisku
berhenti.
*******
"Umi, mana makannya. Zakia lapar.". Suara Zakia tidak lagi sekeras
tadi. Matanya yang kuyu memandangiku dengan setengah keyakinan. Justru
adik-adiknya yang kini malah menangis tak henti-hentinya. Yamin
kelaparan dan Dafa menangis karena tidak mendapatkan apa-apa pada
puting susuku. Kugagahkan langkah menuju dapur. Tidak ada apa-apa lagi
di sana kecuali beberapa sendok tepung gandum. Kutatapi gandum putih
yang saat ini nilainya sama dengan nyawa anak-anakku. Ya Allah.. berat
benar bahasa cinta-Mu kepada kami. Jadikanlah kami orang-orang yang
memahami embun-embun cinta yang Kau nyatakan dalam bahasa lapar ini.
Sebenarnya tiga sendok gandum itu kusediakan untuk Mas Darman. Entah
mengapa aku tidak yakin hari ini ia berhasil dapat kerjaan. Tapi
keluhan anak-anakku benar-benar hampir memutuskan tali jantungku. Maka
kurebuslah tiga sendok gandum itu dengan air sumur dan sedikit garam
dapur.
Hanya bubur gandum yang cair itu saja yang dapat kuhidangkan untuk
mereka. Tanganku menyuapi mereka dengan setengah gemetar menahan
lapar. Mulut mereka menerimanya dengan lemah dan mata yang kuyu. Belum
sampai ke suapan terakhir ketiga-tiganya telah berbaring keletihan dan
tertidur.
Kuseret langkah ke kamar mandi. Kubasahi wajah dengan air wudhuk. Aku
tidak sabar untuk merintihkan semua luka ini kepada Yang Maha
Pencipta. Akupun terbenam khusyuk dalam sujud-sujud yang panjang.
Setelah salam, kuangkat tangan tinggi-tinggi dan kurintihkan sederet
doa agar Allah segera meringankan kami sekeluarga dari penderitaan
ini. Semoga doaku tidak terhalang oleh bunyi hujan yang masih turun
dengan derasnya. Keletihan membuat badanku terkulai dan tertidur di
atas sajadah.
*********
Aku tersentak bangun. Rupanya hujan sudah lama berhenti. Kutatapi
jarum jam tua yang hampir mendekati angka sebelas. Mengapa Mas Darman
belum pulang juga? Hatiku bertambah risau dan cemas. Apa yang
menimpanya hari ini? Oh.. ya Allah aku jadi sangat merinduinya.
Detik-detik terasa kian menyiksa dalam menanti kepulangannya.
Alhamdulillah tidak berapa lama kemudian kudengar suaranya mengetuk pintu.
"Umi, Umi..buka pintu sayang." Akupun bergegas membuka pintu. Mas
Darman berdiri di pintu dengan senyuman yang manis. Hah.. Subhanallah
ada bau masakan yang sangat menggoda perut laparku dalam bungkusan
yang dibawanya.
"Nah Umi pasti belum makan, kan? Ayo sekalian bangunkan anak-anak. Ini
Abi bawakan dua bungkus sate padang dan dua bungkus serabi manis. Pas
seperti Manna dan Salwa[5] hidangan Allah untuk mereka yang soleh."
"Subhanallah, dari mana Abi dapat uang membelinya?"
"Makan dulu sayangku. Nanti Abi ceritakan. InsyaAllah yang ini Halalan
Toyyiban[6]. "
Maka anak-anakpun aku bangunkan. Mereka juga rindu dengan Abinya. Mas
Darman memeluk mereka dalam canda yang ceria. Setiap pulang Mas Darman
membawa kebahagiaan dalam hati anak-anak kami. Kami pun menikmati
makanan itu dengan lahapnya. Aku bahagia sekali melihat mata
anak-anakku berbinar-binar menikmati kue serabi yang manis.
"Enak ya, Umi. Terima kasih ya Abi sudah belikan Zakia serabi." Zakia
berbicara dengan mulut penuh dengan makanan.
"Ya sayang. Zakia harus rajin berdoa ya agar Allah terus menerus
memberi kita rezeki seperti ini."
"Baik Abi. Umi juga sudah ngajarin Zakia cara berdoanya."
************ *
Malam itu aku berbaring di atas lengan Mas Darman. Kucubiti perutnya
supaya dia menceritakan kepadaku asal usul makanan itu. Sebab dari
tadi dia cuma bilang dari Allah..dari Allah.
"Tentu saja semuanya dari Allah, Abi. Tapi tentu ada sebabnya?" kataku.
"Ya, ya..baik ndoro puteri. Begini ceritanya ..Dari pagi tadi Abi
sudah setengah putus asa menunggu truk-truk pasir itu. Ada beberapa
yang lewat tapi tidak mau mengambil Abi. Alasannya sekarang mereka
sudah punya pekerja tetap di pool pasir. Akhirnya menjelang sore Abi
bawa kaki melangkah ke mana saja ia ingin melangkah. Menjelang sholat
Ashar Abi menyahut panggilan azan dari sebuah masjid dalam kompleks
perumahan. Abi kenyangkan perut dengan air keran supaya jangan ingat
makanan ketika sholat. Duh..segar benar rasanya. Kemudian Abi pun ikut
sholat berjamaah. Setelah sholat ada seorang jamaah masjid yang bertanya.
"Mas bawa-bawa cangkul mau kemana?"
"Saya mau cari kerjaan, Pak. Apa saja."
"Bisa membersihkan dan merapikan taman?"
"InsyaAllah bisa, Pak."
Maka Abipun ikut bapak itu ke rumahnya untuk membersihkan taman.
Menjelang Maghrib pekerjaan itu selesai. Bapak itu memberikan uang
cukup banyak, Mi. Lima puluh ribu! Nah, sebelum pergi, Abi melihat
bapak itu meringis memegangi punggungnya. Rupanya bapak itu mengalami
sakit punggung. Abi tawarkan kepadanya untuk diurut."
"Memangnya Abi bisa ngurut?" Aku menyela dengan sebuah pertanyaan.
"Ya itulah salah satu kemahiran Abi yang agak ajaib. Sebenarnya Abi
tidak pernah belajar mengurut. Tapi Ibu bilang urutan Abi enak dan
menyehatkan. Maka banyak juga dikampung orang yang minta diurut sama
Abi. Nah, Umi rupanya urutan Abi juga mengena ke urat bapak ini. Dia
merasa enak dan lega setelah diurut sama Abi. Umi tahu apa yang
terjadi? Subhanallah, dia mengeluarkan lagi uang lima puluh ribu!"
Aku memandang mata Mas Darman dengan penuh haru. Kulihat ada secercah
harapan pada bola matanya. Kami berdua berpelukan bahagia sambil terus
menggumamkan pujian kepada Allah.
"Ya Allah betapa besar syukur kami kepadaMu. Engkau bawa kami ke
puncak cobaan, agar dapat lebih mensyukuri sedikit rezki yang Engkau
teteskan hari ini. Kami sangat memahami ya Allah, bahwa Engkau masih
tetap sayang kepada kami."
Semoga rintihan doa kami berdua dapat terus mi'raj menembus langit
menuju pangkuan Ilahi, dan tidak lagi terbenam dalam deru hujan yang
kembali turun dengan derasnya.
Cikarang, 25 Juli 2007.
Sebait cinta untuk isterik
--
Warm regards,
Arifin Efendi
Ratu Prabu 2
Jl. Letjend. TB Simatupang Kav. 1B
12430.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.