Psikologi Kalajengking
Seekor Kalajengking ingin melintasi sebuah sungai, akan tetapi si Kalajengking
tentu saja tidak bisa berenang. Setelah berjalan kesana kemari, lalu akhirnya
ia bertemu dengan seekor Katak.
“Tuan Katak, bisakah engkau membawaku dipunggungmu untuk menyeberangi sungai
ini?” pinta si Kalajengking
“Sebenarnya aku mau” jawab si Katak. “Tapi sepertinya dalam kondisi ini, aku
harus menolak. Kamu bisa saja menyengatku saat aku berenang membawamu ke
seberang”
“Tidak mungkin aku melakukan itu, aku tidak tertarik menyengatmu, karena kalau
kusengat kau akan mati, dan kita akan tenggelam bersama” jawab si Kalajengking.
Meskipun si Katak sangat mengetahui betapa berbahayanya si Kalajengking, tapi
penjelasan yang disampaikan oleh si Kalajengking menurutnya masuk akal. “hmmm
iya, jika dia menyengatku maka dia pun juga akan mati karena tenggelam, tidak
ada untungnya buat dia” begitu kira-kira pemikiran si Katak.
Akhirnya si Katak setuju. Si Kalajengking langsung naik ke punggung si Katak,
dan si Katak pun berenang. Akan tetapi begitu mereka mencapai pertengahan
sungai, si Kalajengking menggoyangkan ekornya dan menyengat si Katak.
“Arrrrggggghhhhh kenapa engkau menyengatku? Sekarang aku akan mati dan kau akan
tenggelam di sungai ini”
“Aku tahu” jawab si Kalajengking saat dia mulai perlahan-lahan tenggelam di
tengah sungai. “Tapi aku Kalajengking, aku harus menyengatmu, itu sudah sifatku”
”Apa yang salah dalam cerita ini?”
Kalajengking dalam cerita ini melukiskan bagaimana setiap makhluk mempunyai
kekuatan. Sengatan adalah kekuatan alami kalajengking. Walaupun ada upaya
membatasi, kekuatan tak akan hilang begitu saja. Kekuatan itu akan mencari
jalan untuk menampilkan diri. Sebuah kekuatan alami akan mencari jalannya
sendiri.
Apa kekuatan alami anda? Apa kekuatan alami anak anda? Apa kekuatan alami
bawahan anda? Apakah kita sudah mengapresiasi kekuatan alami diri kita dan
orang lain?
Dalam kenyataannya, apresiasi atas kekuatan alami biasanya hanya di awal
relasi. Ketika pertama bekerja, kita biasanya kagum dengan kekuatan alami
atasan atau bawahan kita. Ketika masih bayi, kita kagum dengan kekuatan alami
anak kita. Sayangnya, itu hanya sebentar saja.
Ketika anak kita masuk SD, ketika anak kita mendapat raport, kita akan mulai
beralih fokus pada kelemahan anak kita. Kita lebih fokus pada nilai berwarna
merah atau yang buruk. Semisal, nilai matematika. Kita diskusikan persoalan
nilai itu dan bahkan bila perlu mengirim anak kita mengikuti les matematika.
Harapannya, nilai anak kita akan jadi lebih baik.
Fokus pada nilai buruk membuat kita melupakan kekuatan alami anak kita. Padahal
raport itu sebenarnya sudah menampilkannya. Kita justru membuat anak kita
bergelut lebih lama dengan kelemahannya. Dan kehabisan waktu untuk
mengembangkan kekuatannya. Anak kita yang kekuatan alaminya, semisal pada
kemampuan berbahasa, sama sekali tidak mendapatkan kesempatan mengembangkannya.
Apa yang terjadi kemudian? Kekuatan alaminya akan sia-sia. Kekuatan alami itu
akan tampil dalam bentuk-bentuk yang justru tidak bisa kita terima. Bahkan,
bisa jadi anak kita tumbuh berkembang menjadi orang lain. Tidak percaya diri.
Tidak yakin dengan kemampuan dirinya.
Pola serupa terjadi dalam dunia kerja. Ketika awal kagum pada kehebatan bawahan
kita. Sampai kemudian datang saatnya penilaian kinerja dan bawahan kita tidak
mencapai target kinerja. Kita mulai tergoda untuk mencari kelemahannya dan
berusaha memperbaiki kelemahan itu. Segala upaya dilakukan. Dengan sendirinya,
kita akan menyia-nyiakan kekuatan alami bawahan kita.
Sistem yang kita bangun saat ini memang memperlakukan semua orang itu sama.
Anak harus baik nilainya di semua pelajaran. Karyawan kita mencapai sasaran
kinerja dengan cara yang sama. Sistem yang tidak menghargai kekuatan alami
orang-orang didalamnya. Jangankan mengapresiasi orang, pilihan seseorang pun
tidak tidak dihargai.
Apa yang terjadi kemudian? Seperti kisah kalajengking itu, terjadilah kekerasan
dan konflik dengan berbagai bentuknya, bisa fisik, psikologis, maupun sosial.
Apa pelajarannya?
Kenali dan apresiasi kekuatan alami kita! Kenali dan apresiasi kekuatan alami
orang lain!
Ini adalah kunci pertama sebagai seorang manajer hebat!
Ini adalah kunci pertama sebagai orang tua hebat!
Psikologi kalajengking!
Penulis: Bukik dan Dimas
__._,_.___
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.