MENJADIKAN anak cerdas seharusnya dilakukan dengan pendekatan multifaktor,
yaitu faktor biofisik dan psikososial berupa kebutuhan asah, asih, dan asuh.
Bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut? Untuk menciptakan anak yang
cerdas, orangtua harus terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan
kecerdasan.
Dikatakan psikolog anak, Roslina Verauli MPsi, bahwa peran orangtua sangat
berperan penting untuk menumbuhkan kecerdasan anak, di antaranya dengan
memerhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak.
”Orangtua diharapkan mampu memahami tugas-tugas perkembangan anak untuk
setiap tahap tumbuh-kembangnya,” tutur psikolog yang berpraktik di Empati
Development Center ini.
Dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr
Rifan Fauzie Spa, mengatakan bahwa proses tumbuh-kembang anak adalah sebuah
proses yang kompleks. Proses tersebut memerlukan suatu lingkungan yang
mendukung untuk terjadinya sebuah proses yang optimal.
”Tumbuh-kembang seorang anak merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang
saling terkait, yaitu faktor genetik atau keturunan, lingkungan biofisik dan
psikososial,” tuturnya saat menghadiri acara Smart Parents Conference yang
diadakan Frisian Flag Indonesia beberapa waktu lalu.
Rifan menjelaskan, proses ini bersifat individual dan unik sehingga
memberikan hasil akhir yang berbeda dan ciri tersendiri pada setiap anak.
Walaupun faktor genetik menjadi modal dasar pertumbuhan dan perkembangan
seorang anak, bukan berarti faktor ini merupakan satu-satunya faktor yang
memegang peranan penting, tetapi masih ada aspek penting berupa aspek
biofisik dan aspek psikososial yang terdiri dari asah, asih, dan asuh.
Asah adalah stimulasi yang diberikan. Asih adalah kasih sayang yang
diberikan orangtua, sedangkan asuh adalah kecukupan sandang, pangan, papan,
dan kesehatan dasar yang diperoleh oleh anak.
”Lingkungan biofisik meliputi kebutuhan asuh, sedangkan aspek psikososial
mencakup kebutuhan akan asah dan asih,” jelasnya.
Kebutuhan asuh (biomedis) meliputi asupan gizi anak selama dalam kandungan
dan sesudahnya, kebutuhan akan tempat tinggal, pakaian yang layak dan aman,
perawatan kesehatan dini berupa imunisasi serta deteksi dan intervensi dini
akan timbulnya gejala penyakit.
”Tempat tinggal yang layak huni, aman, lingkungan yang sehat dan bersih amat
membantu proses tumbuh-kembang yang optimal,” ucapnya.
Untuk pemenuhan kebutuhan asah (stimulasi), meliputi upaya untuk melakukan
stimulasi baik secara verbal maupun nonverbal. Proses ini merupakan cikal
bakal proses pembelajaran, pendidikan, dan pelatihan yang diberikan sedini
dan sesuai mungkin.
”Lakukan proses ini terutama pada usia 3–5 tahun pertama (golden year)
sehingga akan terwujud etika, kepribadian yang mantap, arif, dengan
kecerdasan, kemandirian, keterampilan dan produktivitas yang baik,” papar
dokter lulusan Universitas Indonesia ini.
Ditegaskan olehnya, bahwa hal yang terpenting dalam stimulasi terhadap bayi
atau anak adalah harus dilakukan secara berkesinambungan, penuh dengan
atmosfer kasih sayang, kesabaran dan suasana yang menyenangkan.
Anak akan jauh lebih cepat menangkap dan merespons stimulasi yang diberikan
dalam keadaan yang menyenangkan dan membuat suasana hatinya baik. Adapun
kebutuhan asih (kebutuhan emosional) meliputi upaya pemenuhan rasa aman
(emotional security).
Ini bisa dilakukan dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin dengan ibu.
Kebutuhan anak akan kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, pengalaman
baru, pujian, tanggung jawab untuk kemandirian sangatlah penting untuk
diberikan. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal.
”Dalam keseharian, orangtua diharuskan untuk tidak mengutamakan hukuman
dengan kemarahan, tetapi lebih banyak memberikan teladan,” sarannya.
Selain untuk menciptakan anak cerdas, pemenuhan kebutuhan asah, asih, dan
asuh yang tepat juga ternyata dapat memengaruhi karakter anak. Jadi,
menerapkan pendekatan dari berbagai faktor ternyata sangat penting dilakukan
agar kecerdasan anak dapat tumbuh lebih baik, sehingga belum terlambat untuk
penuhi kebutuhan asah, asih, dan asuh untuk anak.
Warm Regards,
Rochmad Sigit.
{Rasa kecilnya diri ini saat berhadapan dengan masalah,
bukan disebabkan oleh besarnya masalah,
tetapi oleh kecilnya tujuan hidup.}
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.