aga madjid
-----Original Message-----
From: Al Faqir Ilmi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 20 Oct 2010 09:15:34
To: <undisclosedrecipients>
Reply-To: [email protected]
Subject: -:: Milist NB::- Akibat Pipa Gas Kodeco, Asuransi Ogah Jamin
Ekspor-Impor di Tanjung Perak
Akibat Pipa Gas Kodeco,
Asuransi Ogah Jamin Ekspor-Impor di Tanjung Perak
Kamis, 19 Agustus 2010 23:50:46 WIB
Reporter :
Rahardi Soekarno J.
Surabaya (beritajatim.com)
- Kalangan perusahaan asuransi internasional tidak mau memberikan
jaminan atas proses ekspor-impor dari dan ke Pelabuhan Tanjung Perak
Surabaya. Mereka enggan menjamin kapal-kapal yang masuk alur pelayaran
barat Surabaya (APBS) dengan polis asuransi normal. Biaya lebih
asuransi akan menjadi beban tersendiri buat pengusaha, selain beban
inefisiensi luar biasa dalam aktivitas kepelabuhanan di Tanjung Perak.
Hal
ini menimbulkan dampak yang sangat merugikan komunitas kepelabuhanan
Tanjung Perak. Ini dipicu penanganan yang berlarut terkait pemindahan
pipa gas bawah laut milik Kodeco Energy Ltd yang selalu molor dari
waktu yang dijadwalkan.
Ketua DPC Indonesian National Shipowners
Association (INSA) Surabaya, Stevens H Lesawengen membenarkan bila
sejumlah asuransi Internasional mulai enggan memberikan jaminan atas
proses ekspor-impor dari dan ke Tanjung Perak.
"Salah satu
asuransi itu bernama PNI yang berkantor pusat di Inggris dan telah
merilis Tanjung Perak merupakan kawasan high risk. Sehingga, sangat
berisiko untuk dijamin lembaga asuransi. Kondisi ini perlu ditanggapi,
karena penyebabnya pipa gas Kodeco yang memotong alur di APBS,"
tegasnya seusai diskusi Terapi Dosis Tinggi pada Pipa Kodeco di APBS di
Resto Seulawah, Jl Perak Timur Surabaya, Kamis (19/8/2010) malam.
Keengganan
kalangan asuransi internasional, lanjut Steven, dikarenakan kebijakan
penanganan pipa gas Kodeco dinilai tidak tegas, dari ditetapkan waktu
relokasi dengan batas waktu 1 Juli 2010, kini tidak jadi dilaksanakan
malah diubah dengan dipendam sedalam minus 19 meter low water spring
(LWS) yang dimulai 27 Agustus 2010 dan selesai 10 November 2010.
Sejumlah
asosiasi kepelabuhanan di Tanjung Perak, seperti APBMI, INSA, Kadin,
Gafeksi, Ginsi dan GPEI mendesak pipa Kodeco dipindah paling lambat
akhir 2011. Ini karena pada 2012, pemerintah akan melakukan pelebaran
alur di APBS dari 100 meter menjadi 200 meter. Ini juga untuk
menyongsong era perdagangan bebas pada tahun 2014.
Sementara
itu, Wakil Ketua Kadin Jatim Deddy Suhajadi menegaskan kalangan
asosiasi pelaku usaha di Pelabuhan Tanjung Perak tengah memikirkan
untuk menempuh langkah hukum terkait keberadaan pipa gas Kodeco yang
dinilai melanggar regulasi. Yakni, terkait pemasangan atau penanaman
benda di alur pelayaran.
"Regulasi itu berupa surat keputusan
Dirjen Perhubungan Laut No.GM.771/9/5/DN-07 pada 7 September 2007.
Dalam aturan itu disebutkan bila ada sesuatu termasuk pipa melintang
alur ditanam minus 30 meter LWS, sejajar alur ditanam minus 16 meter
LWS dan untuk di luar alur ditanam minus 2 meter LWS. Kok bisa aturan
itu dilanggar," tukasnya.
Langkah hukumnya, kata Deddy, akan
diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), karena pasti ada dasar
untuk memasang pipa kodeco itu hingga memotong alur. [tok/gir]
Pipa Gas Molor
Gubernur Jatim Geregetan Kodeco
Senin, 12 April 2010 18:12:01 WIB
Reporter :
Rahardi Soekarno J.
Surabaya (beritajatim.com) -
Permasalahan pipa gas milik Kodeco Energy Co Ltd melintang di alur
perairan barat Surabaya (APBS) Pelabuhan Tanjung Perak yang tak kunjung
usai membuat geregetan Gubernur Jatim Soekarwo.
Untuk itu,
pihaknya mendesak Kodeco untuk segera memperdalam letak pipa gas yang
melintang itu. Kalau tidak segera diperdalam, gubernur mengkawatirkan
terjadi ledakan karena pipa bergesekan dengan badan kapal. Apalagi di
dasar APBS juga tertanam jaringan listrik milik PLN untuk memenuhi
kebutuhan listrik Madura.
"Saat ini terjadi problem mendasar di
Tanjung Perak. Waktu yang dibutuhkan untuk bongkar muat menjadi lebih
lama hingga 5 hari. Padahal, biasanya sesuai standar internasional
maksimal hanya 2 hari. Selain itu, pipa gas Kodeco itu terus terang ini
menghambat rencana memperdalam dan memperlebar alur di pelabuhan," kata
Soekarwo ketika menerima perwakilan BP Migas dan Kodeco di kantor
gubernur, Senin (12/4/2010).
Menurut dia, kondisi itu jika
dibiarkan terus berlangsung, dikhawatirkan akan memperburuk citra
Jatim. Yakni, bisa menghambat laju investasi masuk ke Jatim. Untuk
mengatasi masalah itu, Pemprov Jatim memang berencana memperluas
pelabuhan dengan memperdalam dan memperlebar APBS.
Tetapi,
posisi pipa gas milik Kodeco yang melintang dari pulau Madura ke Gresik
menghambat rencana tersebut. Bahkan pipa tersebut sangat menggangu alur
pelayaran. Sejak dipasang sekitar dua tahun lalu, letak pipa Kodeco
yang berada di APBS memang langsung diprotes banyak pihak.
Kawasan
letak pipa Kodeco merupakan alur pelayaran yang setiap hari dilalui
sekitar 150 kapal barang maupun kapal penumpang berskala besar yang
akan keluar maupun masuk pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
"Solusinya
Kodeco harus segera memperdalam letak pipanya. Ini karena saya memahami
tidak mungkin memindahkan lokasi pipa karena membutuhkan biaya yang
lebih besar," imbuhnya.
Manager Produksi Lapangan Kodeco Johny
Pasaribu menjelaskan, sesuai hasil pertemuan dengan Menteri Koordinator
Bidang Ekonomi dan Keuangan Oktober 2009 lalu, kepada Kodeco hanya
diperintahkan untuk menambah rambu-rambu tanda bahaya di atas laut di
sekitar letak pipa.
Pihak Kodeco sudah memperdalaman letak pipa.
Jika sebelumnya berada di dasar laut atau sekitar 10 meter dari
permukaan laut, kini telah diperdalam dengan memendam tiga meter di
bawah seabelt (tanah keras dasar laut), sehingga letak pipa sudah
berada di kedalaman 13 meter dari atas permukaan laut.
Meski
begitu, hasil rapat terakhir di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
beberapa waktu lalu, Kodeco diminta memperdalam lagi letak pipa di
kedalaman 3 meter dari posisi saat ini, sehingga letak pipa nantinya
berada di kedalaman 6 meter di bawah seabelt.
Johny Pasaribu
mengatakan bahwa Kodeco akan segera memperdalam letak pipanya, terutama
yang posisinya paling dekat dengan alur pelayaran laut. "Pendalaman
akan dilakukan Mei hingga Juni 2010 mendatang. Untuk selanjutnya
seluruh pipa yang melintangi selat sejauh 1.200 meter juga akan
diperdalam," tuturnya.
Untuk diketahui, pipa Kodeco dalam sehari
mengalirkan 210 juta meter kubik gas. Di antaranya untuk kebutuhan PLN
sebesar 113 juta meter kubik, PT Petrokimia Gresik 25 juta meter kubik,
Perusahaan Gas Negara (PGN) 28 juta meter kubik, PT Media Karya Sentosa
(perusahaan gas) 34 meter kubik, serta kepada salah satu BUMD di Gresik
17 juta meter kubik.[tok/ted]
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.