السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 
semoga bermanfaat
wass....zainal
Menjadi Pribadi Yang Bersyukur 
 
Oleh: Dr.Attabiq Luthfi MA
 
“Mereka (Para Jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang 
dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, 
patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan 
periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai 
keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari 
hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. (Saba’:13)
Ayat ini mengabadikan anugerah nikmat yang tiada terhingga kepada keluarga 
nabi Daud as sebagai perkenan atas permohonan mereka melalui lisan nabi 
Sulaiman as yang tertuang dalam surah Shaad: 35, “Ia berkata, “Ya Tuhanku, 
ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki 
oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. 
Betapa nikmat yang begitu banyak ini menuntut sikap syukur yang totalitas 
yang dijabarkan dalam bentuk amal nyata sehari-hari.
Tampilnya keluarga Daud sebagai teladan dalam konteks bersyukur dalam ayat 
ini memang sangat tepat, karena dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh 
Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:
“Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat nabi Daud; ia tidur 
setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. 
Puasa yang paling dicintai oleh Allah juga adalah puasa Daud; ia puasa 
sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya”. 
Bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan 
bagaimana nabi Daud membagi waktu shalat kepada istri, anak dan seluruh 
keluarganya sehingga tidak ada sedikit waktupun, baik siang maupun malam, 
kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat. Dalam 
riwayat lain yang dinyatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh bahwa nabi Daud 
pernah mengadu kepada Allah ketika ayat ini turun. Ia bertanya: “Bagaimana 
aku mampu bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itupun nikmat dari 
Engkau? Allah berfirman, “Sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu, karena 
engkau mengakui nikmat itu berasal daripada-Ku”.
Keteladanan nabi Daud yang disebut sebagai objek perintah dalam ayat 
perintah bersyukur di atas, ternyata diabadikan juga dalam beberapa hadits 
yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Dalam hadits yang diriwayatkan 
oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan 
makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya 
nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”
Bekerja yang dilakukan oleh nabi Daud tentunya bukan atas dasar tuntutan 
atau desakan kebutuhan hidup, karena ia seorang raja yang sudah tercukupi 
kebutuhannya, namun ia memilih sesuatu yang utama sebagai perwujudan rasa 
syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah swt.
Secara redaksional, yang menarik karena berbeda dengan ayat-ayat yang 
lainnya adalah bahwa perintah bersyukur dalam ayat ini tidak dengan 
perintah langsung “Bersyukurlah kepada Allah”, tetapi disertai dengan 
petunjuk Allah dalam mensyukuri-Nya, yaitu “Bekerjalah untuk bersyukur 
kepada Allah”. Padahal dalam beberapa ayat yang lain, perintah bersyukur 
itu langsung Allah sebutkan dengan redaksi fi’il Amr, seperti dalam firman 
Allah yang bermaksud, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku 
ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu 
mengingkari (nikmat)Ku”. (Al-Baqarah: 152), juga dalam surah Az-Zumar: 66, 
“Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu 
termasuk orang-orang yang bersyukur”.
Redaksi seperti dalam ayat di atas menunjukkan bahwa esensi syukur ada 
pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Dalam hal ini, Ibnul Qayyim 
merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang 
sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, 
dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh 
anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.
Sehingga bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat 
seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti 
akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah 
implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal 
shaleh seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi.
Az-Zamakhsyari memberikan penafsirannya atas petikan ayat, “Bekerjalah 
wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” bahwa ayat ini 
memerintahkan untuk senantiasa bekerja dan mengabdi kepada Allah swt 
dengan semangat motifasi mensyukuri atas segala karunia nikmat-Nya. Ayat 
ini juga menjadi argumentasi yang kuat bahwa ibadah hendaklah dijalankan 
dalam rangka mensyukuri Allah swt.
Makna inilah yang difahami oleh Rasulullah saw ketika Aisyah mendapati 
beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti, bahkan 
seakan-akan memaksa diri hingga kakinya bengkak-bengkak. Saat ditanya oleh 
Aisyah, “Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin 
untuk mengampuni segala dosa-dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah (jika 
demikian) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari).
Pemahaman Rasulullah saw akan perintah bersyukur yang tersebut dalam ayat 
ini disampaikan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra dalam bentuk pesannya 
setiap selesai sholat, “Hai Muaz, sungguh aku sangat mencintaimu. 
Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya 
Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri 
(segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Dalam pandangan Sayid Qutb, penutup ayat di atas “Dan sedikit sekali dari 
hamba-hamba-Ku yang bersyukur” merupakan sebuah pernyataan akan kelalaian 
hamba Allah swt dalam mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka berusaha 
dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja mereka tidak akan mampu 
menandingi nikmat Allah swt yang dikaruniakan terhadap mereka yang tidak 
terbilang. Sehingga sangat ironis dan merupakan peringatan bagi mereka 
yang tidak mensyukurinya sama sekali. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra 
pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk 
golongan yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa 
engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar 
Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, 
makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.
Ciri lain seorang hamba yang bersyukur secara korelatif dapat ditemukan 
dalam ayat setelahnya bahwa ia senantiasa memandang segala jenis nikmat 
yang terbentang di alam semesta ini sebagai bahan perenungan akan 
kekuasaan Allah swt yang tidak terhingga, sehingga hal ini akan menambah 
rasa syukurnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Allah swt berfirman 
diantaranya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat 
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. 
(Saba’:19). Ayat yang senada dengan redaksi yang sama diulang pada tiga 
tempat, yaitu surah Ibrahim: 5, Luqman: 31, dan surah Asy-Syura’: 33.
Memang komitmen dengan akhlaqul Qur’an, di antaranya bersyukur merupakan 
satu tuntutan sekaligus kebutuhan di tengah banyaknya cobaan yang menerpa 
bangsa ini dalam beragam bentuknya. Jika segala karunia Allah swt yang 
terbentang luas dimanfaatkan dengan baik untuk kebaikan bersama dengan 
senantiasa mengacu kepada aturan Allah swt, Sang Pemilik Tunggal, maka 
tidak mustahil, Allah swt akan menurunkan rahmat dan kebaikanNya untuk 
bangsa ini dan menjauhkannya dari malapetaka, karena demikianlah balasan 
yang tertinggi yang disediakan oleh Allah swt bagi komunitas dan umat yang 
senantiasa mampu mensyukuri segala bentuk nikmat Allah swt:
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah 
adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (An-Nisa’:147) Allahu A’lam. 

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke