السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
semoga bermanfaat
wass....zainal

Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu Namun Itu Baik Buatmu
 
Al-Ustadz Qomar Sua’idi ZA, Lc
 


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ 
تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا 
تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh 
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah 
mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al -Baqarah: 216)

Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk 
seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu 
yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang 
disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, iapun tidak akan merasa 
aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang 
menyenangkan. Dan iapun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu 
yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu 
akibat suatu perkara, karena Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala 
mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh  hamba. Dan ini menumbuhkan 
pada diri hamba beberapa hal:

1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan 
perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, walaupun di awalnya terasa berat.
Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta 
kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi 
hal itu akan lebih baik dan bermanfaat. Demikian pula, tidak ada yang 
lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya 
cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah 
penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah. 

Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan 
sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. 
Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan 
kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.


Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan 
melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya.
Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada 
puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Iapun akan 
melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik 
ataupun yang jelek. Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan 
lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali 
kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya 
(untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah Subhanahu wa 
Ta'ala bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan 
dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya 
menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnyapun akan memerintahkannya 
untuk mengonsumsinya. 

Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan 
mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang 
mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan 
apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang 
yakin dan kesabaran maka ia akan terhambat dari memperolehnya. Tetapi bila 
ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang 
ia pikul dalam rangka memperoleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan 
yang abadi.

2. Di antara rahasia ayat ini bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba 
untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara 
serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia 
mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.

3. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang 
mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau memilih sesuatu yang 
tidak Allah Subhanahu wa Ta'ala pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia 
tidak engetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan 
kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia 
memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon 
kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar 
menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih 
bermanfaat untuknya daripada hal ini.

4. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha 
dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala pilihkan untuk dirinya, Allah 
subhanahu wa Ta'ala pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk 
melakukan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala pilihkan, berupa kekuatan dan 
tekad serta kesabaran. Juga, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan palingkan 
darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi 
penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala 
pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk 
dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa 
yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.

5. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari 
berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga 
melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, 
yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, 
iapun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah Subhanahu wa 
Ta'ala telah taqdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah Subhanahu 
wa Ta'ala maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan 
tersyukuri serta terkasihi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bila tidak, maka taqdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia 
tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena ia bersama 
pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan 
urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ridhanya kepada-Nya, ia akan 
diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani taqdir 
ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. 
Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan 
kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani taqdir-Nya.

Bila taqdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab 
kuatnya tekanan taqdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. 
Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada 
berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan taqdir dalam keadaan 
terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak 
akan rela memakan mayat. 

(Diterjemahkan oleh Qomar ZA dari buku Al-Fawa`id hal. 153-155)

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke