*
Surat Untuk Firman
*

*
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah
sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki
jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali
bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga
bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi
yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak
tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka.
Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah
generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang
mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan
diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi
kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya
ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang
kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi
kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan
kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup
tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita,
lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan
demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah
prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang
lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal
yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera.
Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian
puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang
bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk
menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna
solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran.
Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa
depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa
kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di
tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu
hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan
oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang
mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan
esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain
dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan
tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan
garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola
tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap
dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau
memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu
menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan
dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif,
seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang
dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian
mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus,
gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan
membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang
asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari
seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak
mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama
dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang
pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira
sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol
seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh
bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan
bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang
laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
*

Sumber berita <http://itonesia.com/surat-untuk-firman/>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke