PIALA AFF
Jangan Malu untuk Belajar
Kamis, 30 Desember 2010 | 08:36 WIB
 KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Ekspresi pemain timnas Indonesia usai laga final kedua Piala AFF 2010 di
Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Rabu (29/12/2010) malam. Meski
menang dari Malaysia 2-1, Indonesia gagal merebut Piala AFF 2010 karena
kalah dengan gol agregat 2-4.

*JAKARTA, KOMPAS.com *- Indonesia tidak perlu malu belajar atas sukses
Malaysia menjuarai Piala AFF 2010. Meski menang 2-1 pada final kedua di
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/12/2010),
Indonesia gagal menjadi juara. Sukses Malaysia tidak lepas dari keseriusan
mereka pada pembinaan usia muda.

Disaksikan sekitar 95.000 penonton, termasuk Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, Indonesia tertinggal 0-1 menit ke-54 oleh striker Safee Sali. Bek
Muhammad Nasuha menyamakan 1-1, menit ke-72, dan Mohammad Ridwan memenangkan
Indonesia 2-1, dua menit menjelang laga bubar. Kapten Firman Utina gagal
mengeksekusi penalti pada menit ke-19.

Sebelum berangkat menonton pertandingan, Presiden sempat memberikan
keterangan pers. Ia mengharapkan tim nasional Indonesia bermain
sebaik-baiknya tanpa beban dalam pertandingan final kedua ini. ”Tidak perlu
ada beban apa pun, kami semua tetap bangga kepada tim nasional kita,
meskipun kemarin di Kuala Lumpur belum berhasil, tetapi tetaplah bermain
dengan baik,” ujarnya.

Meski gagal juara, suporter Indonesia yang menguasai stadion dengan atribut
merah tidak kecewa kepada pemain. Mereka tetap mengelu-elukan Firman Utina
dan kawan-kawan, terutama setelah mendengar Firman dinobatkan sebagai Pemain
Terbaik.

Kekecewaan atas kegagalan Indonesia meraih Piala AFF 2010 terpancar jelas
dari wajah-wajah para pemain, jajaran manajer, dan pengurus PSSI.

Raut wajah mengungkap sejuta rasa meskipun kebisuan mengunci para pemain
saat berjalan menyusuri lorong penghubung antara lapangan dan ruang ganti.
Pemain berjalan lesu, dengan wajah murung menuju ruang ganti.

Firman, yang biasanya ramah, wajahnya terlihat tegang. Ia hanya menunjuk
dengan telunjuk tangan kanannya ke arah press room.

Bambang Pamungkas yang bermain bagus di babak kedua juga dengan singkat
mengatakan, ”Nanti saja ya.” Pemain lainnya tidak ada yang menjawab
pertanyaan jurnalis dan berjalan langsung ke ruang ganti.

Manajer Timnas Andi Darussalam Tabussala, yang biasanya ceria dan sering
melontarkan guyonan kepada wartawan, berjalan lesu. Wajahnya terlihat
gundah. Senyum tipisnya membalas sapaan wartawan, tetapi tak mampu menutupi
kekecewaan.

Sekitar 15 menit kemudian, drama lain terjadi di pintu keluar ruang ganti
pemain. Ketua Umum PSSI Nurdin Halid diteriaki para suporter yang menunggu
pemain untuk minta tanda tangan. Anggota rombongan Nurdin terpancing
emosinya dan membalas teriakan para suporter itu. Ketegangan sesaat itu baru
mencair setelah petugas keamanan meminta rombongan Nurdin berjalan keluar
melalui lorong samping.

”Ketua umum sudah berusaha maksimal, segala daya dan upaya sudah dilakukan,”
ujar Nurdin yang menolak mundur. ”Apa urusannya dengan ketua umum. Nurdin
Halid tidak akan pernah mengundurkan diri. Catat itu besar-besar.”

Dalam jumpa pers sebelumnya, Presiden menyatakan telah mencermati banyak
saran dan kritik disampaikan masyarakat soal PSSI. Ia mengharapkan PSSI juga
mendengarkan saran dan kritik masyarakat itu. ”PSSI saya harapkan juga
mendengarkan saran, kritik, rekomendasi dari rakyat Indonesia yang sangat
mencintai tim nasionalnya,” ujar Presiden.

*Riedl evaluasi pemain*

Dalam jumpa pers seusai laga, Pelatih Indonesia Alfred Riedl ditanya soal
masa depan tim Indonesia, tetapi ia tidak secara tegas menjawabnya. Ia
menyatakan bakal melakukan evaluasi terhadap skuadnya.

Riedl menambahkan, timnya bermain sangat bagus, tetapi kurang beruntung.
”Kami ucapkan selamat kepada Malaysia, tetapi kali ini tim terbaik tidak
menjadi juara,” kata Riedl yang juga mengucapkan terima kasih kepada
dukungan suporter yang luar biasa.

Menurut Riedl, kegagalan Indonesia merebut juara sudah dipastikan pada laga
pertama di Kuala Lumpur. ”Kami kalah di Kuala Lumpur, dalam 15 menit yang
kacau,” ujarnya.

”Itu adalah permainan terbaik kami sepanjang turnamen. Kami memiliki banyak
peluang, tetapi kurang beruntung. Pada babak kedua, tim memperlihatkan
karakternya untuk bangkit, saya berterima kasih pada pemain,” katanya.

Soal penalti yang gagal, Riedl tidak mau menyalahkan Firman Utina. Firman
mengatakan, kegagalannya menendang penalti bukan karena tekanan. ”Itulah
sepak bola, malam ini saya gagal. Saya memang ditugaskan oleh pelatih untuk
mengambil penalti, kalau bukan saya siapa lagi,” kata Firman.

Bambang Pamungkas menambahkan, pertandingan final kedua sangat luar biasa
dan Indonesia hanya kurang beruntung. ”Kita tidak kalah, kita menang, tetapi
tidak juara,” ujar Bambang.* (DAY/COK/RAY/ANG/SAM)*

*
*

*Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke