Demi Sepakbola, Titik!
 *Rossi Finza Noor* - detiksport

(Ilustrasi: Laurence Griffiths/Getty Images)

  *Jakarta* - Perubahan itu mutlak harus terjadi. Perubahan ke arah yang
lebih baik. Tujuannya hanya satu: demi sepakbola nasional yang lebih baik.

Kamis 27 November 2008 rumah di bilangan Cibubur itu tampak sepi. Tak tampak
pemiliknya. Rumah beratap hijau itu belum mau menerima tamu wartawan
sehingga para penjaganya hanya bisa mengizinkan mereka yang meminta komentar
si pemilik menunggu di luar.

"Bapak saat ini sedang beristirahat. Kelihatannya dia kelelahan dan tampak
kurang sehat. Kami tak bisa kasih izin karena kami tak mendapatkan
instruksi," tukas salah seorang petugas keamanan.

Hari itu adalah hari ketika Nurdin Halid, si pemilik rumah, keluar dari
Rutan Salemba pada pukul 06.00 pagi. Sudah lebih dari dua tahun hari itu
berlalu --sudah cukup lama pula artinya. Namun, sejak saat itu kritikan dan
desakan agar dirinya mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI berlangsung.

Bahkan sebenarnya seruan itu sudah bergaung lebih lama, sejak Nurdin masih
mendekam di dalam ruang tahanan. Alasannya jelas, di lihat dari sisi mana
pun tidak etis dan tak pantas sebuah federasi sepakbola nasional dipimpin
seseorang yang berada di dalam tahanan.

Tapi mau bilang apa, kritik dan desakan itu dianggap angin lalu. Nurdin
masih tetap memimpin PSSI sampai hari ini. Kongres Sepakbola Nasional yang
diprakarsai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hampir setahun silam tak mampu
mendongkelnya. Nurdin masih tetap di kursinya.

Jangan salahkan siapa-siapa kalau kini muncul banyak gerakan perlawanan
terhadap Nurdin dan PSSI-nya. Ketika tim nasional yang tampil sepenuh hati
di Piala AFF dipuja-puja, Nurdin dan PSSI-nya dilarang untuk kecipratan
pujian. Mereka tetap dihantam kritik.

Seruan di dunia-dunia maya bermunculan. Semuanya satu suara, suara yang
hampir sama seperti dua tahun lalu: Nurdin harus mundur!

Itu baru seruan. Dalam langkah konkret dan nyata, perlawanan itu muncul,
salah satunya, dalam sebuah bentuk kompetisi baru bernama Liga Primer
Indonesia (LPI). LPI menjanjikan sebuah kompetisi yang sarat akan perubahan:
klub yang tak dibiayai APBD, wasit asing agar permainan lebih teratur dan
terutama penegakan* fair play.*

Janji perubahan yang bagus, dan layak untuk dinantikan apakah LPI mampu
memenuhi janjinya itu.

Masalah mulai muncul ketika PSSI tak setuju dengan munculnya LPI. Klub-klub
yang membelot diancam dikenai sanksi. Pemain-pemain timnas yang bermain di
sana pun tak lepas dari sorotan mereka. Bagi mereka hanya ada satu kompetisi
yang sah: Liga Indonesia, termasuk di dalamnya adalah ISL.

PSSI pun mulai mengeluarkan dalil-dalil dan berbagai macam peraturan,
termasuk di dalamnya bahwa LPI tak akan diakui oleh AFC. Tapi pedulikah LPI
terhadap semua itu? Tidak.

LPI lahir dengan dana sendiri, klub sendiri dan para penontonnya sendiri
(kelak). Sejauh ini mereka tak meminta juara dari kompetisinya bermain di
kompetisi AFC. Anggap saja LPI adalah turnamen "antarsekolah", yang mereka
lakukan hanyalah ingin memberikan sebuah kompetisi yang layak dan bisa
memajukan sepakbola Indonesia.

"Beginilah sepakbola Indonesia, saya kira, seharusnya," ujar Arifin
Panigoro, sang pencetus LPI, dalam peluncuran resmi kompetisi tersebut
beberapa waktu silam.

Saya pribadi tak membela LPI. Tidak juga pro ISL. Buat saya, asal dua-duanya
bisa bagus dan lebih bagus, tidak masalah. Yang harus diuntungkan cuma satu:
sepakbola itu sendiri!

Harapan dengan munculnya LPI adalah ISL mendapatkan sentakan moral sehingga
mereka mau berbenah ke arah yang lebih baik. Kalau kedua kompetisi ini
berjalan dengan baik, tentunya mutu sepakbola nasional akan terangkat naik.
Pemain-pemain yang dihasilkan oleh kompetisi tersebut juga lebih baik.
Ujung-ujungnya, kualitas tersebut, idealnya, bisa menular kepada tim
nasional--yang tentunya diharapkan bisa menghasilkan sebuah prestasi.

Tapi lagi-lagi PSSI bertindak bebal. Mereka* keukeuh* bertahan dengan segala
aturan hukum dan peraturan -- sesuatu yang biasa mereka abaikan ketika
tengah berada di atas.

Kalau mereka bisa bicara peraturan dan tatanan hukum, ke mana mereka ketika
Nurdin dipenjara? Saat itu, dan mungkin sampai saat ini bisa terus
diulang-ulang, kita bisa saja berbicara, "Dari sisi moral, tak pantaslah
seorang narapidana memimpin federasi dari balik jeruji, apalagi sang mantan
napi itu masih memimpin sampai saat ini."

Kita berbicara moral di sini.

*Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke