Anjritttt,,, tambah rumit aja kalo udah urusan politik n uang,,, kampret,,,,


Politik sepakbola Arifin dan Bakrie


Posted on Januari 5, 2011 by rusdi mathari 


 
<http://www.beritasatu.com/articles/read/2011/1/2223/politik-sepakbola-arifi
n-dan-bakrie> Description:
http://rusdimathari.files.wordpress.com/2011/01/suporter301210-12.jpg?w=150&;
h=90Kalau Anda mencintai sepakbola Indonesia, mestinya Anda tidak mendukung
Liga Primer Indonesia dan Liga Super Indonesia.

oleh Rusdi Mathari
Siapa yang tak cinta Timnas Sepakbola Indonesia? Anda, saya dan kita semua,
saya kira mencintai Timnas. Antusiasme sebagian besar orang Indonesia dan
luapan penonton di Senayan saat Timnas berlaga di Piala AFF Suzuki adalah
salah satu bukti, bahwa sebagian besar dari kita mencintai Timnas. Sebagian
di antara kita, mungkin malah bermimpi, Timnas bisa berlaga di Piala Dunia.

Tapi menyertai semua semangat dan mimpi itu, ada isu yang tertendang ke
gawang publik: gonjang-ganjing pelaksanaan Liga Primer Indonesia. PSSI
menganggap pergelaran liga itu ilegal, karena katanya tidak direstui FIFA,
AFC dan tentu saja oleh PSSI. Tendangan selanjutnya adalah
teriakan-teriakan, agar Ketua Umum PSSI Nurdin Halid mundur dari jabatannya,
dan kabar tentang  Irfan Bachdim pemain Persema Malang yang konon akan
berlaga di Liga Primer.

Tapi benarkah semua tendangan "bola" itu hanya akan berhenti pada persoalan
Liga Primer, Liga Super, Nurdin dan PSSI, atau itukah arena lain dendam
kesumat dari Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie?

Faktor Sudharmono dan Ginanjar 
Arifin Panigoro dan Aburizal Bakrie alias Ical adalah dua pengusaha yang
tumbuh besar sejak Soeharto membentuk Tim Keppres 10, 23 Januari 1980. Tim
itu diketuai oleh mendiang Sudharmono dan Ginanjar Kartasasmita duduk
sebagai salah satu anggota tim. Oleh Soeharto pembentukan tim itu
dimaksudkan untuk menumbuhkan pengusaha pribumi dengan antara lain
mengalokasikan sejumlah proyek nondepartemen bernilai di atas Rp 500 juta.
Sekretariat Negara di bawah Sudharmono lantas ditunjuk sebagai
penanggungjawab keberhasilan program tersebut.

Lewat tim itulah sejumlah pengusaha muda pribumi kemudian banyak mendapat
prioritas. Ical, Arifin Jusuf Kalla, Iman Taufik, Fadel Muhammad, dan Agus
Kartasasmita adalah beberapa pengusaha yang banyak "berhubungan" dengan Tim
Keppres 10.

Hubungan mereka dengan Sudharmono dan Ginanjar, sejak itu lantas menjadi
seperti hubungan bapak-anak. Sudharmono mengenal mereka sebagai
pengusaha-pengusaha pribumi yang profesional, sementara para pengusaha itu
menganggap Sudharmono sebagai tokoh yang bersih, kendati loyal kepada
Soeharto dan berada di lingkaran kekuasaan. Kini, dua dari pengusaha yang
disusui oleh Orde Baru itu yakni Ical dan Arifin terlibat perseteruan
panjang.

Arifin adalah salah satu raja minyak yang cukup terkenal terutama sejak
reformasi dan Ical adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. Arifin
pemilik kerajaan bisnis Grup Medco dan Ical pemilik kerajaan bisnis grup
Bakrie.

November tahun lalu, Arifin gagal menjual salah satu anak bisnisnya ke
Pertamina karena [terutama] Golkar yang dikendalikan Ical menjegal rencana
penjualan itu melalui orang-orangnya di Senayan. Tapi itu hanya titik kecil
dari perseteruan keduanya.

Sebagian orang tahu, Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie sudah saling
meradang sejak kedua keluarga itu tidak bersepakat soal tanggungjawab dalam
kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. PT Medco E&P Brantas
anak perusahaan dari PT MedcoEnergi, dulu memang pernah menjadi peserta
[participating interest] eksplorasi dan pengeboran Lapindo.

Perusahaan itu mengantongi 32 persen saham di PT Energi Mega Persada Tbk.
Nama yang disebut terakhir adalah salah satu sayap bisnis Grup Bakrie dan
pemilik Lapindo Brantas Inc. perusahaan kontraktor kontrak kerjasama yang
ditunjuk BP Migas melakukan pengeboran minyak dan gas bumi di tepi Sungai
Brantas. Tapi entah kenapa, Medco kemudian menarik diri setelah bencana
lumpur itu menyebur di Sidoarjo, 29 Mei 2006.

Akibat sikap Medco [Arifin] yang seperti itu, Nirwan Bakrie [adik Ical] CEO
Lapindo Brantas Inc. konon berang. Nirwan bahkan disebut-sebut sempat
mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh kepada Hilmi Panigoro, adik
Arifin. Sejak itu hubungan dua keluarga pengusaha itu, dikabarkan terus
memburuk. Apalagi hingga sekarang, Grup Bakrie yang harus menanggung sendiri
semua risiko akibat luapan lumpur Lapindo itu.

Arifin yang sudah "keluar" dari dunia politik [baca dari PDIP] kemudian
seperti menyepi. Nyaris tidak ada suaranya, meski dia tentu saja masih ikut
mengendalikan dari balik layar sejumlah manuver politik. Adapun Ical, terus
moncer dan sebagian orang, kini menyebutnya sebagai "the real president."

Liga Primer dan Liga Super
Hubungan dua keluarga pengusaha itu semakin renggang, ketika Sri Mulyani
Indrawati sering bertabrakan dengan Ical ketika keduanya masih menjadi
menteri di kabinet pemerintahan SBY-JK. Sri Mulyani, sejauh ini memang
dikenal "lebih dekat" ke Arifin ketimbang misalnya ke Ical. Beberapa
keputusan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, antara lain untuk kasus
saham PT Bumi Resources Tbk. awal November 2008, lalu dituding oleh kelompok
Ical, sebagai bagian dari manuver Arifin. Sebuah tudingan yang niscaya
dianggap lelucon oleh Arifin dan juga Sri Mulyani.

Kini, hubungan dua keluarga pengusaha superkaya itu tampak seperti tak bisa
direkatkan, setelah Arifin dkk. membiayai penyelenggaraan Liga Primer. Hak
siar kompetisi ini, dikabarkan dikantongi oleh stasiun televisi Indosiar
[Grup Salim], sementara hak siar Liga Super [tentu saja] dipegang stasiun
ANTV [Grup Bakrie].

Tentu saja Liga Super bukan sekadar sebuah kompetisi sepakbola yang
dimasudkan untuk "menantang" Liga Super yang digelar oleh PSSI. Tak pula
ditujukan untuk misalnya, memberikan kebebasan kepada pemain sepakbola
memilih arena bertanding yang mereka sukai, seperti wartawan yang bebas
memilih induk organisasi profesi.

Liga Primer seharusnya juga dibaca sebagai mesiu politik yang lain dari
Arifin yang diarahkan kepada Ical. Tidakkah Nirwan Bakrie adalah Wakil Ketua
Umum PSSI?

Keluarga Bakrie katanya, penggila olahraga. Ical dikenal sebagai jago tenis,
dan Nirwan walaupun tidak bisa bermain sepakbola, dikenal sebagai penggila
olahraga paling popular di dunia itu. Keluarga Bakrie [tentu saja melalui
kelompok bisnisnya] bahkan dilaporkan telah mengakuisisi 20 persen saham
klub sepakbola Leicester Inggris. Keluarga itu, disebut-sebut telah
memberikan hadiah Rp 3 miliar kepada pemain Timnas. Konon pula, sejumlah
pemain sepakbola PSSI telah disekolahkan ke Uruguay dengan dukungan dana
sepenunya dari Keluarga Bakrie.

Bagaimana dengan Nurdin? Ketua Umum PSSI itu suatu hari pernah berkata:
"Keberhasilan Timnas [di ajang AFF] adalah berkat pengorbanan besar keluarga
Bakrie, terutama Nirwan."

Benar, Nurdin memang orang dekat Keluarga Bakrie. Selain sebagai Ketua Umum
PSSI, dia dikenal pula sebagai politisi Partai Golkar dan Ketua Dewan
Koperasi Indonesia alias Dekopin. Tahun 2009, dia terpilih sebagai ketua
Dekopin menyusul rekonsiliasi faksi-faksi di organisasi koperasi itu yang
difasilitasi oleh Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan [Partai
Demokrat].

Dia pula pernah menjadi narapidana kasus korupsi. Nama Nurdin juga
disebut-sebut oleh Hamka Yamdu [salah satu narapidana kasus suap pemilihan
<http://www.beritasatu.com/articles/read/2010/10/1376/nurdin-halid-bantah-te
rima-suap-miranda> Miranda Goeltom sebagai deputi senior BI 2004] ikut
menerima cek perjalanan sebanyak 10 lembar dengan nilai Rp 500 juta. Hamka
mengungkapkan keterlibatan Nurdin, ketika dia memberikan kesaksisan dalam
sidang di Pengadilan Tikipikor, Jakarta, 27 April lalu.

Tiga serangkai orang Bakrie
Nurdin, Nirwan dan Andi Darussalam Tabusalla adalah Tiga Serangkai yang
tidak terpisahkan di PSSI. Nurdin ketua, Nirwan wakil, dan Andi Direktur
Badan Liga Indonesia. Orang penting lainnya di PSSI adalah Berhard Limbong
[Ketua Induk Koperasi Angkatan Darat atau Inkopad] dan Ibnu Munzir [Wakil
Ketua Fraksi Golkar di DPR].

September tahun lalu, Andi pernah menantang Arifin Panigoro. Kata Andi,
kalau Arifin membuktikan janji menyuntikkan dana Rp 540 miliar kepada 18
klub peserta Liga Super Indonesia, dia akan menyerahkan jabatannya sebagai
direktur penyelenggaran liga di Indonesia kepada Arifin. "Tolong sampaikan
kepada Pak Arifin, silakan kucurkan uang itu ke Escrow Account masing-masing
klub, maka pengelolaan BLI akan kami serahkan kepada beliau. Tak perlu
repot-repot membuat kompetisi tandingan," begitulah kata Andi.

Sekarang, marilah tengok Liga Primer yang akan dimulai 8 Januari mendatang.
Penyelanggara liga ini dikabarkan juga telah mendekati PT Djarum, produsen
rokok yang dikendalikan oleh Keluarga Hartono [pemilik BCA]. Djarum sejauh
ini dikenal sebagai penyokong utama Liga Super [PSSI] dan disebut-sebut
telah menghabiskan sekitar US $ 5 juta per tahun untuk kompetesi Liga Super.

Sudah ada 19 klub yang akan berlaga di liga tersebut. Yaitu Aceh United,
Bali De Vata, Bandung FC, Batavia Union, Bogor Raya, Cendrawasih Papua,
Jakarta 1928, Kabau Padang, Ksatria XI Solo, PSM Makassar, Manado United,
Medan Chiefs, Medan Bintang, Persebaya, Persema, Persibo [Bojonegoro], Real
Mataram, Semarang United dan Tangerang Wolves.

Pemilik klub [politik] sepakbola 
Persema, klub tempat Irfan Bachdim bermain, sebelumnya dimiliki oleh PT
Bentoel Investama. Klub ini sempat diambilalih oleh Peter Sondakh dan kini
dikendalikan oleh Walikota Malang, Peni Suparto [politisi PDI-P].

Lalu Persibo Bojonegoro diketuai oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang juga
ketua Partai Amanat Nasional Jawa Timur. Semarang United dikendalikan oleh
Kukrit Suryo Wicaksono, CEO Grup Suara Merdeka, kelompok media terbesar di
Jawa Tengah. Lalu PSM Makassar dikuasai oleh Ilham Arief Sirajuddin, Ketua
Partai Demokrat Sulawesi Selatan.

Adapun Arifin, tahun lalu telah mengakuisisi PT Pengelola Persebaya
Indonesia, pemilik klub sepakbola Persebaya Surabaya, Jawa Timur tahun lalu.
Konon, PT Pengelola Persebaya berniat menyediakan Rp75 miliar untuk
Persebaya.

Jadi ke mana sebetulnya olahraga sepakbola Indonesia akan dibawa oleh [untuk
sementara] Keluarga Bakrie dan Keluarga Arifin? Mengapa misalnya, mereka
tidak memilih arena lain untuk saling menembakkan senjata kepentingan
politik mereka ketimbang merusak semangat dan antusiasme sebagian besar dari
orang Indonesia yang mencintai dan mendukung Timnas?

Benar, olahraga sepakbola di dunia adakalanya tidak bisa dilepaskan dari
kepentingan politik. Tapi yang dipertontonkan oleh Keluarga Arifin dan
Keluarga Bakrie dalam olahraga sepakbola Indonesia belakangan ini, sungguh
sudah tidak menarik karena yang terbaca kemudian adalah mereka hanya
meneruskan perseteruan pribadi menjadi perseteruan publik.

Nafsu dan kepentingan politik mereka, apa boleh harus disebut menjijikkan.
Padahal kalau mereka mau, mereka bisa membesarkan olahraga sepakbola
bersama-sama. Tanpa kepentingan apapun hingga mimpi sebagian besar dari kita
untuk menempatkan Timnas di Piala Dunia menjadi kenyataan.

Tulisan ini dimuat di beritasatu.com
<http://www.beritasatu.com/articles/read/2011/1/2223/politik-sepakbola-arifi
n-dan-bakrie>  

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke