Habibie: Indonesia Harus Kuasai Dua Teknologi Utama
  </antr/20110131/img/ppl-1-habibie-indonesia-har-0371e06b4af40.html> Habibie:
Indonesia Harus Kuasai Dua Teknologi Utama

Jakarta (ANTARA) - Pakar teknologi dirgantara yang juga mantan Presiden Prof
BJ Habibie menegaskan, Indonesia harus menguasai dua teknologi utama yakni
maritim dan dirgantara, apabila ingin menjadi bangsa yang besar.

Saat rapat dengar pendapat umum dengan Komisi I DPR di Jakarta, Senin,
Habibie menuturkan bahwa gagasan itu berasal dari Presiden RI Soekarno yang
saat itu menyatakan bahwa bangsa Indonesia harus menjadi bangsa besar dengan
menguasai teknologi pembuatan kapal laut serta mampu menguasai,
mengembangkan dan mandiri.

"Mandiri waktu itu belum dipakai, karena beliau (Soekarno) memakai kata
berdiri, yaitu produk teknologi dirgantara," ujar Habibie.

Selanjutnya Habibie mengatakan bahwa komitmennya membangun industri
dirgantara di Indonesia, bukan karena dipanggil Presiden Soeharto atau ingin
menjadi menteri.

"Sebenarnya Pak Harto pun hanya melanjutkan penuturan dan keinginan Presiden
Soekarno itu," ujarnya seraya menambahkan bahwa dirinya benar-benar ingin
membangun dan mengembangkan industri pesawat di Indonesia, sementara posisi
presiden yang pernah disandangnya itu tidak penting.

Dalam RDPU yang dipimpin Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq itu, Habibie
mendefinisikan makna industri strategis sebagai industri yang bisa membangun
bangsa dan industri itu bukan hanya dibangun dan dimanfaatkan untuk
pertahanan saja.

Karenanya ia merasa prihatin ketika visi pembangunan teknologi yang
dijalankan bangsa ini yang dicari bukanlah kemandirian, tapi yang dikejar
hanya keuntungan sesaat. Menurut dia, kalau yang dicari hanya keuntungan
sesaat saja, maka sama artinya dengan menjalankan "skenario VOC".

"Industri strategis terhenti perkembangannya karena tidak didukung dengan
bantuan anggaran pemerintah. Karena dicari keuntungan dalam US dolar, kalau
begitu ya bikin saja dagang. bikin saja pabrik perwakilan mereka (asing),"
ujarnya.

Terkait dengan hal itu, Habibie mengartikan globalisasi itu sebagai pakaian
baru untuk kolonialisasi. "Saudara, saya orang tua, tapi saya tidak buta.
Saya harus katakan kepada anda, anda harus bangkit," ujarnya.

Hal lain yang juga memprihatinkannya adalah terbengkalainya Puspitek. Tempat
itu, katanya, tidak lagi digunakan untuk laboratium uji teknik, tapi malah
ada ide untuk dijadikan lapangan golf.

"Saya menantang, kalau berani dibuat lapangan golf, maka saya akan berdiri.
Kita harus terus belajar. Kita tidak hanya belajar dari kebaikan tapi juga
dari kesalahan, bagaimana agar tidak terjadi kesalahan lagi," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Habibie menyatakan bersyukur diundang DPR sebagai nara
sumber untuk memberikan masukan dalam penyusunan RUU usul inisiatif DPR
tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Industri Strategis untuk Pertahanan.

"Saya bersyukur hadir di sini sebagai pembicara, nara sumber, saya kira itu
tepat, bukan sebagai mantan presiden. Saya malu kalau datang ke sini karena
pernah memimpin bangsa Indonesia. Tapi kalau saya diundang ke sini, sebagai
orang tua yang dikasihi oleh semua anak bangsa, maka saya bersyukur,"
ujarnya.



*Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke