*Belajar Dari Joko Widodo, Walikota Solo Yang Memimpin Dengan Hati"* 

Para Pejabat Publik.. Marilah kita merenung sejenak, mengapa Tragedi Koja
Tanjung Priuk bisa terjadi di era demokrasi yang sering diwacanakan oleh
Para Politisi negeri ini..

Mungkin pengalaman Walikota Solo, Joko Widodo sedikit memberi gambaran, jika
seorang Pemimpin mampu menyelaraskan hati dan jiwa'nya didalam mengemban
amanah untuk memberikan kemaslahatan bagi rakyat banyak..

JOKO WIDODO, WALI KOTA SURAKARTA, Walikota Kaki Lima

SEMUANYA berawal pada 2005. Joko Widodo, yang baru dilantik menjadi Wali
Kota Surakarta, membentuk tim kecil untuk mensurvei keinginan warga kota di
tepian Sungai Bengawan itu. Hasilnya, kebanyakan orang Solo ingin pedagang
kaki lima yang memenuhi jalan dan taman di pusat kota disingkirkan.


Joko bingung. Ia tak ingin menempuh cara gampang, dengan memanggil polisi
dan tentara, lalu usir pedagang itu pergi. "Dagangan itu hidup mereka. Bukan
cuma untuk perut mereka sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan anak-anak
mereka" katanya.

Tak bisa tidak, para pedagang itu harus direlokasi. Tapi bagaimana caranya?
Tiga Walikota sebelumnya angkat tangan. Para pedagang kaki lima mengancam
akan membakar kantor Walikota kalau digusur. Di Solo, ancaman bakar bukan
omong kosong. Sejak dibangun, kantor Walikota sudah dua kali, yaitu pada
tahun 1998 dan 1999-dihanguskan oleh massa.

Lalu munculah ide, untuk meluluhkan hati para pedagang, mereka harus diajak
makan bersama. Dalam bisnis, jamuan makan yang sukses biasanya berakhir
dengan kontrak yang bagus. Sebagai eksportir furniture selama 18 tahun, Joko
tahu betul ampuhnya strategi "lobi meja makan". Maka rencana disusun. Target
pertama adalah kaki lima di daerah Banjarsari-kawasan paling elite di Solo.
Di sana ada 989 pedagang yang bergabung dalam 11 paguyuban.

Aksi dimulai. Para koordinator paguyuban diajak makan siang di Loji
Gandrung, rumah dinas Walikota. Tahu hendak dipindahkan, mereka datang
membawa pengutus lembaga swadaya masyarakat. Joko menahan diri untuk tidak
mengungkapkan keinginannya menyampaikan rencana relokasi tsb.

Seusai makan, Joko mempersilakan mereka pulang. Para pedagang kaki lima
kecele. "Enggak ada dialog, Pak?" tanya mereka. "Enggak. Cuma makan siang
saja kok" jawab Joko santai dan ramah.

Tiga hari kemudian, mereka kembali diundang. Lagi-lagi cuma SMP - sudah
makan pulang. Ini berlangsung terus selama tujuh bulan. Baru pada jamuan
ke-54, saat itu semua pedagang kaki lima yang hendak dipindahkan hadir, lalu
Joko pun mengutarakan niatnya. "Bapak-bapak yang baik, mohon maaf sebelumnya
jika tempat Bapak-bapak berdagang hendak saya pindahkan" katanya ramah dan
tetap santai, seluruh pedagang kali lima tidak ada yang membantah.

Para pedagang minta jaminan, di tempat yang baru, mereka tidak kehilangan
pembeli. Joko tak berani. Dia cuma berjanji akan mengiklankan Pasar
Klitikan-yang khusus dibangun untuk relokasi-selama empat bulan di televisi
dan media cetak lokal. Janji itu dia tepati. Pemerintah kota juga
memperlebar jalan ke sana dan membuat satu trayek angkutan kota.

Terakhir, mereka minta kios diberikan gratis. "Ini berat. Saya sempat
tarik-ulur dengan Dewan," kata Joko. Untungnya, Dewan bisa diyakinkan dan
setuju. Jadilah para pedagang tak mengeluarkan uang untuk kios barunya.
Sebagai gantinya, para pedagang harus membayar retribusi Rp 2.600,- perhari.
Joko yakin dalam delapan setengah tahun modal pemerintah Rp 9,8 miliar bisa
kembali.

Boyongan pedagang dari Banjarsari ke Pasar Klitikan pada pertengahan tahun
lalu berlangsung meriah, karena dibuat seperti pawai tujuhbelasan, dengan
riang gembira para pedagang membawa barang dagangannya ke tempat yang baru.
Bukannya dikejar-kejar seperti di kota lain, mereka pindah dengan senyum
rasa bangga. Semua pedagang mengenakan pakaian adat Solo dan menyunggi
tumpeng-simbol kemakmuran. Mereka juga dikawal prajurit keraton berpakaian
lengkap.

"Orang bilang mereka nurut saya karena sudah diajak makan. Itu salah. Yang
benar itu karena mereka diwongke, dimanusiakan. ." kata Joko.

Joko yang saat Pilkada diusung oleh PDIP sangat membela wong cilik,
"Sebenarnya pekerjaan ini bukan perkara sulit" Pokoknya, pimpinlah mereka
dengan hati. Hadapi mereka sebagai sesama, bukan sampah," ujarnya.

Kini warga Solo kembali menikmati jalan yang bersih, indah, dan teratur.
Monumen Juang 1945 di Banjarsari kembali menjadi ruang terbuka hijau yang
nyaman.

Berhasil dengan Banjarsari, Joko merambah kaki lima di wilayah lain. Untuk
yang berada di jalan depan Stadion Manahan, sekitar 180 pedagang, dibuatkan
shelter dan gerobak. Penjual makanan yang terkenal enak di beberapa wilayah
dikumpulkan di Gladag Langen Bogan Solo, Gandekan. Lokasi kuliner yang hanya
buka pada malam hari dengan menutup separuh Jalan Mayor Sunaryo tersebut
sekarang menjadi tempat jajan paling ramai di kota itu.

Hingga kini, 52 persen dari 5.718 pedagang kaki lima sudah ditata. Sisanya
mulai mendesak pemerintah kota agar diurus juga. "Sekarang kami yang
kewalahan karena belum punya dana," kata Joko, tertawa. Tapi rencana terus
jalan. Januari lalu telah dibuat Pasar Malam di depan Keraton Mangkunegaran
untuk 450 penjual barang kerajinan.

Joko juga punya perhatian khusus pada pasar-pasar tradisional yang selama
30-an tahun tak pernah diurus. Tiga tahun terakhir, 12 pasar tradisional
ditata dan dibangun ulang. Targetnya, ketika masa jabatannya berakhir pada
2010, sebagian besar dari 38 pasar tradisional Solo telah dibangun ulang.

Ketika masih mengelola sendiri usaha Furniturenya, Joko sering bepergian
untuk pameran. Dia banyak melihat pasar di negara lain. Di Hong Kong dan
Cina, menurutnya, pengunjung pasar jauh lebih banyak dari mal. Itu karena
pasar tradisional komplet, segar, dan jauh lebih murah.

Di sini kebalikan. Ibu-ibu lebih suka ke mal karena pasarnya kotor dan
berbau. "Makanya pasar saya benahi" katanya. Agar lebih menarik, tahun 2010
ini telah dibuat promosi: belanja di pasar dapat hadiah mobil.

Toh, tak sia-sia Joko ngopeni pedagang kecil. Meski modal cetek, pasar dan
kaki lima di Solo paling banyak merekrut tenaga kerja. Mereka juga
penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. Tahun ini nilai pajak dan
retribusi dari sektor itu mencapai Rp 14,2 miliar. Jauh lebih besar
dibanding hotel, Rp 4 miliar, atau terminal, yang hanya Rp 3 miliar.

Joko Widodo lahir di Surakarta, 21 Juni 1961, Pendidikan Sarjananya dari
Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(1985) Kariernya berawal dari karyawan pada perusahaan Furniture Roda Jati,
Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990) - Ketua Bidang
Pertambangan dan Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996) -
Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta
(2002-2007) - Wali Kota Surakarta (2005-2010)

Penghargaan yang pernah diperoleh adalah - Kota Pro-Investasi dari Badan
Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah - Kota Layak Anak dari Kementerian Negara
Pemberdayaan Perempuan - Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan -
Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum.

Tahun 2010 ini, Pemilihan Walikota Solo pengganti Joko akan berlangsung.
Tanpa kampanye yang menghamburkan uang dan melelahkan, seluruh masyarakat
Kota Solo meminta agar Joko kembali memimpin mereka. Tetapi Joko memilih
untuk tidak mencalonkan kembali, menurutnya, masih banyak calon Pemimpin
baru yang mampu menggantikan dirinya. Yang terpenting bagi Joko adalah, dia
telah membangun fondasi terpenting untuk Kota Solo, tanah kelahirannya. .

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke