Dari Cuaca Ekstrem ke Meja Makan

Jika Anda ingin menikmati makanan laut, bersiaplah untuk merogoh kocek lebih
dalam. Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membawa
dampak bagi penikmat makanan laut. Harga-harga ikan seperti kakap, tuna,
bawal, tongkol, lalu kepiting, udang, dan cumi di pasar-pasar tradisional
naik antara 30-70 persen.

Inilah salah satu hasil dari survey yang dilakukan oleh Koalisi Rakyat untuk
Keadilan Perikanan (KIARA) pada para nelayan. Cuaca ekstrem, dalam hal ini
ombak tinggi, bisa mengurangi pemasukan nelayan antara 50-70 persen.

Nelayan-nelayan yang mereka survey hidup di wilayah Sibolga, Sumatera Utara;
Tarakan, Kalimantan Timur; Bau-Bau, Sulawesi Tenggara; dan Teluk Jakarta.
Dalam lima tahun terakhir, frekuensi ombak tinggi yang semakin sering
mengurangi jumlah hari melaut mereka. Dari rata-rata 240-300 hari per tahun,
kini mereka hanya melaut sekitar 160-180 hari per tahun.

Kenapa semua ini berpengaruh pada harga ikan di pasar?

Karena sampai 75% dari konsumsi ikan nasional, ini berarti makanan laut yang
kerap Anda temui di pasar tradisional atau swalayan, berasal dari para
nelayan kecil yang berjumlah 2,7 juta orang.

Tidak seperti beras atau gandum yang mengandalkan produk impor, sangat kecil
jumlah konsumsi ikan dari keluarga-keluarga Indonesia yang datang dari luar
negeri. Semakin sedikit jumlah hari melaut berarti semakin sedikit pula ikan
yang ditangkap oleh para nelayan. Akhirnya, berkuranglah pasokan ikan yang
sampai di pasar-pasar tradisional dan pasar swalayan, sehingga harga makanan
laut bertambah mahal.

Masalah utamanya kini adalah cuaca ekstrem, dalam hal ini ombak besar yang
membuat nelayan kecil takut melaut. Cuaca ekstrem yang terjadi semakin
sering adalah salah satu ukuran sedang terjadinya perubahan iklim. Bukan
tidak mungkin, tanpa intervensi atau perlindungan pemerintah terhadap para
nelayan kecil dalam menghadapi ekstremitas cuaca, harga ikan dan makanan
laut lain akan semakin meroket.

Kepala Pusat Sosial Ekonomi Kementerian Kelautan dan Perikanan Agus Heri
Purnomo dalam sebuah diskusi lingkungan di Jakarta, Jumat (11/2), juga
memaparkan hasil penelitian institusinya terhadap para nelayan kecil.

Jika bagi kebanyakan orang Indonesia 'perubahan iklim' masih menjadi sebuah
konsep yang abstrak, bagi para nelayan kecil, kondisi tersebut sudah
berwujud menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Bagi para nelayan di Cilamaya, Karawang, kombinasi angin kencang dan
gelombang tinggi yang semakin sering mereka anggap sebagai hambatan terbesar
saat hendak pergi melaut. Sementara bagi para pembudidaya ikan, curah hujan
berkepanjangan (yang semakin sering) dan banjir mulai menyulitkan. Di
kawasan seperti Cijulang, Ciamis atau Batu Karas, Pangandaran, gelombang 2-3
meter membuat mereka ciut melaut.

Lebih dari 60% nelayan-nelayan di Cijulang sudah kesulitan menangkap ikan,
dan produksi ikan di kawasan itu telah turun lebih dari 50% sejak 2009.
Sebagian besar penurunan produktivitas ini mereka rasakan akibat alam atau
iklim yang berubah.

Bukan hanya di Cilamaya atau Cijulang nelayan yang disurvei oleh Kementerian
Kelautan dan Perikanan. Nelayan di Boyolali, Karawang, Gresik, Boyolali,
Cilacap, Pekalongan, Gowa, serta Pulang Pisau dan Kotawaringin Barat di
Kalimantan Tengah pun ikut merasakan dampak perubahan iklim.

Setidaknya para nelayan itu merasakan suhu laut yang semakin hangat
(kemudian berdampak pada kerusakan terumbu karang, yang berarti semakin
sedikitnya makanan ikan), angin kencang dan gelombang tinggi, dan akhirnya
pada menurunnya produksi ikan serta pendapatan mereka. Hasilnya, semakin
sedikit ikan yang beredar di pasar atau pasar swalayan. Dan jika ada, Anda
pun harus bersiap membeli dengan harga yang lebih mahal.

Pada akhirnya, perubahan iklim atau bumi yang semakin menghangat bukan
sebuah konsep abstrak atau sekadar isu lingkungan saja. Dampaknya sampai ke
meja makan dan perut kita.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke