-

ZAINAL ARIFIN 













 
السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
 
semoga bermanfaat
wass....zainal
 
Hidup dan Keimanan 
Oleh: Samin Barkah, Lc 
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata bahwa Rasulullah saw. telah 
menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang paling benar dan 
dibenarkan perkataannya, “Sesungguhnya sebagian kalian dikumpulkan bahan 
ciptaannya di rahim ibunya 40 hari dalam bentuk nuthfah. Kemudian menjadi 
‘alaqah dalam masa yang sama (40 hari), kemudian menjadi mudghah dalam 
masa yang sama (40 hari). Kemudian Allah mengutus malaikat kepada ciptaan 
itu, lalu malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk 
menuliskan empat ketetapan; Ketetapan rezki; Amal perbuatannya; Ajal 
usianya; Dan nasibnya di akhirat, sengsara (penghuni neraka) atau bahagia 
(penghuni surga). Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya 
ada salah seorang dari kalian yang melakukan perbuatan penghuni surga 
hingga antara jarak antara dia dengan surga sejauh satu hasta, lalu 
catatan takdirnya yang lebih dulu telah menggariskan hingga ia melakukan 
perbuatan penghuni neraka dan (akhirnya) ia masuk ke dalam neraka. Dan 
sesungguhnya ada orang yang melakukan perbuatan penghuni neraka hingga 
jarak antara dia dengan neraka sejauh satu hasta, lalu catatan takdirnya 
yang lebih dulu telah menggariskan, hingga ia melakukan perbuatan penghuni 
surga dan (akhirnya) ia masuk ke dalam surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Bunyi hadits di atas adalah:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسعُود رَضِى اللهُ عَنهُ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ 
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ 
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا 
ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ 
مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ 
وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ 
وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ 
لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ 
وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ 
بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ 
بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ 
ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ 
الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري ومسلم)
Tentang Hadits
Hadits ini adalah salah satu hadits yang disepakati keshahihannya oleh 
Imam hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Al-A’masy telah 
menceritakan kepada Abu Bakar bin Abu Syaibah, Abu Mu’awiyah, Waki’, 
Muhammad bin Abdullah bin Numair Al-Hamdani dari Zaid bin Wahab dari 
Abdullah bin Mas’ud r.a.
Telah diriwayatkan bahwa Muhammad bin Yazid Al-Ashfathi bermimpi bertemu 
Nabi saw, lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah riwayat Abdullah bin 
Mas’ud yang ia ceritakan dari Engkau bahwa ia berkata, “Rasulullah telah 
menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan 
perkataannya, memang demikian? Rasulullah menjawab, “Demi Zat yang tidak 
ada Tuhan selain Dia, sungguh aku telah menceritakan hadits itu 
kepadanya”. Kalimat itu diulangnya tiga kali, lalu ia berdoa, “Semoga 
Allah mengampuni Al-A’masy sebagaimana ia menceritakan hadits ini dan 
semoga Allah mengampuni orang sebelum Al-A’masy yang menceritakan hadits 
ini dan juga orang yang menceritakan hadits ini setelah Al-A’masy.
Seperti disebutkan dalam hadits bahwa sebaik-baik manusia adalah orang 
yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, maka menyampaikan hadits atau 
ilmu agama kepada manusia termasuk memberikan manfaat kepada orang lain. 
Dengan ilmu agama, orang akan mengetahui hal-hal yang ia perlukan dalam 
mengarungi kehidupan.
Perawi memberikan penekanan dengan ungkapan وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ 
(Dialah yang benar dan dibenarkan perkataannya) karena memang yang akan 
disampaikan atau yang akan diriwayatkan ini adalah perkara yang tidak atau 
belum diketahui manusia, terutama pada masa setelah masa Rasulullah saw, 
yaitu perihal proses penciptaan manusia.
Dunia kedokteran baru-baru saja mengetahui bahwa proses penciptaan manusia 
terjadi sama seperti yang diceritakan oleh Rasulullah saw, 15 abad yang 
lalu ketika manusia atau tabib belum mengetahui pasti proses penciptaan 
manusia.

Di Antara Pelajaran Dari Hadits
Pelajaran pertama; Matan hadits ini diawali dengan penegasan parsial yang 
tidak menyeluruh, yaitu إِنَّ أَحَدَكُمْ (Sesungguhnya salah seorang 
kalian). Ungkapan ini adalah ungkapan yang sangat bijak dari Rasulullah 
saw, dan ungkapan yang komitmen dengan ilmu yang dimilikinya. Ungkapan ini 
menegaskan bahwa sebagian manusia diciptakan Allah dengan proses yang 
disebutkan di dalam hadits dan sebagian lainnya Allah sendiri yang 
menciptakannya.
Proses penciptaan Adam dan Hawa tidaklah sama dengan proses penciptaan 
anak keturunannya. Nabi Adam diciptakan langsung oleh Allah seperti yang 
diceritakan di dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr ayat 28-29:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ 
مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي 
فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering 
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku 
telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh 
(ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Juga di dalam surat Shad ayat 71-72, Allah menegaskan:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ 
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku 
akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan 
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu 
tersungkur dengan bersujud kepadanya”.
Tidak seperti proses penciptaan anak keturunan Adam, nabi Adam diciptakan 
Allah dari tanah atau tanah liat atau lumpur hitam seperti disebutkan 
dalam ayat-ayat di atas dan kemudian Allah menyempurnakannya, lalu Allah 
juga yang meniupkan ruh ke dalam jasad Adam a.s.
Karena itu ada beberapa ungkapan di dalam Al-Qur’an atau Hadits yang 
menggunakan bentuk jamak untuk beberapa perbuatan rabb, seperti “لَقَدْ 
خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي كَبَدٍ” atau “لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي 
أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ”. Kata “خَلَقْنَا” (Kami telah menciptakan) 
mengisyaratkan bentuk jamak subyek suatu perbuatan.
Jika kita teliti dengan seksama, maka secara aqidah pernyataan ini tidak 
bertentangan dengan aqidah tauhid. Allah menggunakan bentuk jamak dalam 
beberapa perbuatan-Nya di dalam Al-Qur’an, karena tindakan tersebut secara 
proses diwakilkan kepada tentara dan pembantu Allah, yaitu malaikat-Nya 
yang telah diberikan tugas khusus. Malaikat akan melakukan apa saja sesuai 
perintah Allah, “Wa yaf’aluuna maa yu-maruun”.
Dalam proses penciptaan manusia, seperti disebutkan dalam beberapa riwayat 
bahwa tiap fase penciptaan 40 harian itu, Allah mewakilkannya kepada 
malaikat untuk menyempurnakan proses, hingga pada 40 hari yang ketiga 
Allah mengutus malaikat yang akan meniupkan ruh ke dalam jasad manusia dan 
mencatat empat ketetapan Allah dari Lauhil Mahfuzh, ketetapan rezki, amal 
perbuatan, usia dan nasibnya di akhirat. Dengan demikian, maka ungkapan 
khalaqnaa sangat tepat untuk menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan 
manusia, Allah kuasa untuk mewakilkannya kepada malaikat-Nya. Itulah 
kekuasaan Allah. Allah mampu menciptakan manusia tanpa diwakilkan dan 
mampu pula menciptakan manusia melalui perwakilan-Nya. Sungguh Allah Maha 
Berkuasa dalam segala sesuatu.
Hadits ini juga membuktikan akan kebenaran ajaran Islam, karena sebelum 
dunia kedokteran mengetahui proses penciptaan manusia, Allah telah 
mengabarkan manusia melalui lisan nabi Muhammad saw.
Pelajaran Kedua; Manusia tidak tahu apa-apa dengan nasib orang lain. Ada 
yang sejak muda hingga dewasa dikenal masyarakat sebagai orang baik, orang 
shalih, ternyata di sisi Allah dia termasuk penghuni neraka. Ia menutup 
usianya dengan perbuatan penghuni neraka hingga ia termasuk penghuni 
neraka.
Ungkapan فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا dan فَيَعْمَلُ 
بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا disebutkan dalam riwayat lain 
dengan ungkapan فَيُختَمُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا (kemudian 
ia tutup dengan perbuatan penghuni neraka dan ia masuk ke dalam neraka) 
menunjukkan bahwa kebaikan itu akan kekal dengan keikhlasan, sebagaimana 
pahala amal shalih akan langgeng, tidak berkurang jika tetap dijaga 
keikhlasan, sebelum berbuat, saat berbuat dan setelah berbuat.
Jika seseorang hanya ikhlas ketika akan berbuat, maka belum ada jaminan 
pahala yang ia dapatkan akan sempurna, karena bisa saja ia merusak 
keikhlasan itu dengan riya, dengan kata-kata yang menyakiti orang lain 
yang kita bantu atau lain perbuatan yang bisa merusak pahala amal.
Karena itulah ada orang yang dikenal masyarakat sebagai orang baik, tetapi 
di sisi Allah ia hanyalah orang yang mengharapkan pujian manusia.
Sebaliknya ada juga orang yang sulit berbuat baik, karena lingkungan atau 
sebab lain sehingga masyarakat memvonis dan memberi cap kepadanya sebagai 
orang tidak baik atau orang jahat. Tetapi siapa yang tahu takdir orang, 
kalau ternyata Allah justru telah menetapkan dia sebagai penghuni surga, 
maka ia pasti akan menemukan saat dan tempat yang tepat untuk bertobat dan 
berbuat baik hingga Allah menjemput ajalnya.
Kekuasaan Allah tidak sama dengan kuasanya manusia, maka takdir dan 
ketetapan Allah itu adalah salah satu bukti kekuasaan Allah seperti yang 
ditegaskan oleh Imam Ahmad ketika salah seorang muridnya bertanya 
kepadanya tentang takdir dan beliau menjawab bahwa takdir itu adalah bukti 
kekuasaan Allah.
Jika manusia mengetahui sesuatu setelah kejadian, maka Allah Maha 
Mengetahui tentang segala kejadian. Sebelum, saat dan setelah kejadian 
Allah Maha Mengetahui. Pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh ruang dan 
waktu. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh dimensi apapun. Berbeda dengan 
manusia yang serba terbatas. Dibatasi dimensi waktu, sehingga kejadian 
esok tidaklah diketahuinya kecuali ketika saatnya tiba. Manusia juga 
dibatasi oleh dimensi ruang, kejadian di Jakarta tidak akan diketahuinya 
ketika ia berada tidak pada tempat kejadian. Atau kalau sekarang dunia 
sudah modern, maka masih banyak lagi kejadian yang berdimensi ruang dan 
waktu yang tidak diketahui oleh manusia. Itulah keterbatasan manusia.
Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Allah Maha Berkuasa. Kuasa menetapkan, 
kuasa membagi penghuni surga dan penghuni neraka. Semua makhluk adalah 
milik Allah. Dia tidak akan ditanya atas segala tindakan-Nya. Manusialah 
yang akan ditanya segala perbuatannya di sisi Allah. Meskipun Allah tidak 
akan ditanya segala perbuatannya, tetapi Allah sangat menepati segala 
janji-Nya. Allah berjanji akan memasukkan orang yang berbuat baik dan 
beramal shalih ke dalam surga. Allah berjanji akan mengampuni orang yang 
bertobat sebelum ajal sampai di tenggorokan. Allah akan menyiksa orang 
yang berbuat dosa, meskipun Allah juga bisa mengampuni mereka dan 
memasukkannya ke dalam surga.
Pelajaran Ketiga; Hal penting yang perlu ditekankan dan ditegaskan adalah 
perkara rezki. Allah berjanji akan memberikan rezki kepada siapa saja 
makhluk-Nya di muka bumi. Dalam surat Hud ayat 6 disebutkan, “Wamaa min 
daabbatin fil ardhi illaa ‘alallaahi rizquhaa wa ya’lamu mustaqqahaa 
wamustauda’ahaa” (Dan tidak ada makhluk hidup di muka bumi ini, kecuali 
Allah yang akan memberikan rezkinya. Dan Dia mengetahui tempat berdiamnya 
dan tempat penyimpanannya).
Kalau kita cermati, kita tidak akan cepat menyalahkan takdir atau 
menyalahkan Allah, ketika kita disempitkan rezki oleh Allah. Pemberian 
rezki bukanlah ukuran sayangnya Allah kepada manusia, karena semua makhluk 
pasti akan diberikan rezki. Kita tidak boleh berbangga dengan limpahan 
rezki dan tidak boleh berkecil hati dengan rezki yang pas-pasan. Tiap 
manusia mempunyai jatah rezki yang berbeda dengan jatah orang lain.
Orang lain tidak akan bisa merebut rezki orang lain. Inilah ungkapan 
puncak ma’rifah kepada kekuasaan Allah seperti yang diungkapkan oleh Imam 
Hasan Al-Bashri ketika ditanya oleh muridnya, “Wahai guruku, apa rahasia 
zuhud baginda?” Kemudian Syeikh memberikan 4 rahasia dan salah satu 
rahasianya adalah ‘alimtu anna rezqii laa ya-khudz ghairii fatma-annat 
qalbii (aku tahu bahwa rezkiku tidak akan diambil oleh orang lain, maka 
hatiku menjadi tenang).
Ketenangan mengarungi kehidupan adalah modal untuk sampai kepada tujuan. 
Hati yang tenang akan banyak menyelesaikan permasalahan. Ketenangan tidak 
akan datang dengan sendiri. Ketenangan adalah puncak dari keimanan dan 
ingat kepada Allah. Iman yang didasari ma’rifah dan ingat akan 
kehambaannya di sisi Allah Taala.
Ingatlah bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang. Wallahu 
a’la
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke