MENJEJAK HATI

 

            Kau yakin, sangat yakin, bahwa hatimu tidak terbuat dari kertas.
Tapi kau tidak habis pikir, kenapa hatimu selalu terbakar dengan mudah
ketika dia tidak menghadirkan senyumnya untukmu. Dan kau pun mulai berpikir,
kau tidak mahir lagi meraba cintanya.

            "Hari ini hujan lagi, udaranya jadi dingin. Kamu mau aku tidur
di sampingmu dan kita berbagi selimut?" Dia mengatakannya dengan indah,
seperti sebuah iklan mie instan yang menggiurkan dan menggodamu untuk segera
bisa menikmatinya. Kau tidak ingin menolaknya. Kau memang ingin dia tidur di
sampingmu, selamanya. Tapi kau tak mampu bersuara. Senyum di wajahnya yang
raib sejak tadi pagi membuatmu ikut larut dalam gulana. Kau merasanya,
karena dia adalah manusia paling berharga untukmu. Terutama untuk saat ini.

            Entah apa yang berlarian di benaknya. Wanita itu berjalan
sedikit mendekati jendela. Matanya letih oleh sesuatu. Dan kau khawatir
kalau keletihan itu bersumber dari dirimu.

            Kau pun bernafas pelan. Kau hanya bisa mengamati dia yang
bercermin pada jendela yang basah, berusaha membekukan kesedihannya. Hatimu
sakit melihatnya menjura. Mendadak kau kelelahan, berharap bisa mati
secepatnya daripada terus menjadi tak berdaya karena tak bisa lagi
menghadirkan bahagia untuknya.

            Pelan-pelan, pikiran gila serupa sesat menyergapmu cepat. Kau
terkulai, melemah pada keinginan untuk tetap hidup. Persetan dengan cinta,
karena sebenarnya kau tidak tahu untuk apa cinta itu? Kau bahkan tidak yakin
bahwa hidup mencintaimu atau tidak. Kau hanya ingin mati.

            Tanganmu pun mulai kau gerakkan. Sial, umpatmu keras-keras di
dalam hati. Seberapapun hebatnya kau berusaha, kau bahkan tidak mampu
menggerakkan satu jari pun di kedua tanganmu. Kau kaku. Seluruh tubuhmu
kaku. Hanya menyisakan jantung yang terus berdetak dan bulu mata yang
berkedip-kedip tanpa nada. Seonggok tubuh tanpa guna. Karena itu kau ingin
mati. Sekarang!!

            "Sayang, sebentar lagi Desember. Itu bulan lahirmu. Kau mau kado
apa?" Dia menoleh padamu. Wanita itu sedikit memperlihatkan senyumnya, tapi
kau mencium aroma kepalsuan dari senyumnya. "Apa kau mau nasi kuning tumpeng
seperti biasanya?" Dia bertanya lagi. Kali ini dia sudah berada di dekatmu.
Sangat dekat. Tangannya diletakkannya di atas dadamu yang luas namun kurus.
Matanya mengamati matamu dengan teliti. Dia membaca kedipan matamu. Satu.
Dua. Tiga. Lalu jeda. Kau hentikan kedipan matamu beberapa saat, lalu
berkedip kembali.

            Wanita cantik itu tersenyum. Kali ini tidak tercium kepalsuan.
Dia tersenyum tulus.

            "Baiklah, aku buatkan lagi nasi kuning tumpeng untuk ulang
tahunmu bulan depan." Dia pun berjingkat naik ke atas ranjangmu, dan berbagi
selimut denganmu.

            Kau menangis, tapi bukan matamu. Airmatamu sudah kering. Airmata
dari hatimulah yang terus menggenangi jiwa letihmu. Wanita yang tidur di
sampingmu itu memelukmu erat, dan terus membisikkan ayat-ayat kitab suci di
telingamu. Syahdu. Sebenarnya untuk apa cinta itu? Untuk terperangkap dalam
ketidakberdayaan seperti dirimu dan hanya menggigiti waktu karena kau tidak
bisa memeluk dirinya?

            Sial, kau mengumpat lagi. Kau ingin mati. Tidak tertolerir lagi.
Kau hanya ingin mati. Sekarang!!!

**************       

            Kau berhasil. Kurva detak jantung di layar monitor yang
terpasang di sampingmu melenggok-lurus-melenggok-lurus. Kau sekarat. Kau
terkirim ke dunia perbatasan. Dunia antara yang hidup dan yang mati. Dunia
persinggahan yang harus kau datangi dulu sebelum kau benar-benar berhasil
mewujudkan keinginanmu. Mati.

            Empat tahun didera stroke membuatmu seperti manusia tak berguna.
Kau hanya jadi bunga ranjang. Terpasang di sana nyaris seperti sprei yang
membungkus kasur empuk di bawahmu. Kau tidak bergerak, bahkan untuk ke kanan
atau ke kiri pun kau harus dibantu. Kau terdefinisi sebagai manusia yang
masih hidup karena jantungmu masih menari. Dan satu-satunya komunikasi yang
bisa kau lakukan dengan orang lain hanyalah dengan kedipan matamu.

            Satu. Dua. Tiga. Lalu jeda sebelum akhirnya kau berkedip lagi
memberi isyarat bahwa kau menyetujui. Kau memberi jawaban iya untuk
pertanyaan yang ditujukan padamu. Sebaliknya, kau tidak akan berkedip ketika
kau ingin mengatakan tidak. Jutaan aksara milikmu telah terpangkas, dan
hanya menyisakan kata 'ya' dan 'tidak'. Itupun juga hanya dapat kau ucapkan
lewat kedipan matamu. Sial, kau mengumpat lagi. Bahkan dalam keadaan sekarat
pun kau masih terus mengumpat. Tapi kau lara. Stroke yang datang di usiamu
yang masih sangat muda, di tengah semangatmu mengejar mimpi, sudah tidak
lagi melagukan setiap mili bagian di seluruh tubuhmu dalam keriangan. Kau
putus asa. Dan kini kau pun koma.

            Bukan hanya tubuhmu yang sudah tidak berguna. Kini matamu pun
juga tidak lagi ada manfaatnya. Kau tidak bisa lagi berkedip untuk memberi
jawaban pada pertanyaan darinya yang ditujukan padamu. Kau sudah mati.
Hampir.   

            Masih ada indera yang bisa kau pakai. Telingamu, dan hidungmu.
Kau masih dapat mendengarnya berbicara. Kau juga masih bisa mengenali aroma
tubuhnya.

            Kini kau tahu dia ada di dekatmu. Aroma khas miliknya menyergap
masuk ke hidungmu. Kau tahu itu dia. Suara tangisnya masih ada, walau sudah
terdengar sisa-sisa. Kau jengah, sekaligus lelah. Kau memilih untuk berlari
ke dunia di depanmu. Kau hanya ingin mati. Kau tidak ingin lagi melihat
wanita di samping ragamu itu terus berkubang dalam kesedihan.

            "Sayang, Desember tinggal beberapa hari lagi. Kau tidak mau
menunggunya lagi? Kau tidak mau nasi kuning tumpengku lagi?" Dia bertanya
dan kau tidak bisa menjawabnya. Matamu terpejam. Rapat.

            Kau kembali berjalan, semakin meninggalkan pintu di belakangmu,
yang justru adalah pintu yang akan mendekatkanmu kembali dengan wanita
cantik itu.

            Sejurus kemudian, kau menoleh ke belakangmu. Kau mendengarkan
hembusan nafasnya yang terpatah-patah. Suaranya kembali mengalunkan
ayat-ayat kitab suci dalam dentingan yang magis. Kau terperanjat. Di luar
dugaanmu, kau ingin dia terus menggumamkan doa-doa itu. Kau tersentuh. Kau
pun akhirnya berhenti melangkah, dan memutuskan untuk duduk di atas tanah
yang kau jejaki. Tanah dunia persinggahan itu ternyata sangat dingin, hingga
melumpuhkanmu. Tapi kau bersikeras untuk mendengarkan suara wanita itu dulu.
Kau mencintainya, karena itu kau ingin mendengar suaranya lagi sebelum kau
beranjak pergi.

            "Aku yakin kau bisa mendengarku. Karena itu aku ingin kau tahu,
bahwa aku tidak pernah benar-benar menginginkanmu pergi. Tidak pernah
sekalipun aku menginginkannya. Tapi bila ternyata kau harus pergi, ijinkan
aku mengetahui alasanmu pergi. Kau boleh pergi bila kau sudah tidak kuat
lagi menahan sakitmu. Tapi kumohon, jangan pergi hanya karena kau kelelahan
berjuang. Kau tidak pernah patah semangat, tidak juga ketika kau terlihat
seperti tidak berguna karena penyakitmu ini."

            Kau mulai berpikir. Sebenarnya apa alasanmu pergi. Karena kau
tidak kuat menahan sakit atau karena kau kelelahan berjuang? Wanita itu
berhasil membuatmu berpikir.

            "Sayang, tidak peduli seberapa buruk dan tidak berdayanya
dirimu, kau tetap berarti. Arti dirimu adalah seluruh duniaku. Setiap orang
selalu memiliki arti untuk seseorang. Setiap orang istimewa untuk seseorang.
Dan kau, sangat istimewa karena kau adalah alasanku untuk tetap tidak
menyerah pada ujian kita. Kau berarti karena kau mengajariku sabar,
mengajariku mendekatkan diri padaNya karena setiap waktu aku berdoa untuk
kesembuhanmu dan bersyukur setiap kali kau mengalami kemajuan. Kau tidak
pernah tidak luar biasa. Kau selalu luar biasa. Aku mencintaimu, sayang."

Untaian bait pengharapannya menggugahmu. Kau berdiri cepat. Kau tengok pintu
di kedua sisimu. Kau harus memutuskan, tapi kau sadar bahwa kau tidak punya
hak untuk memutuskan. Maka kau pun menengadahkan kepalamu ke atas. Kau
berdoa.

Bibirmu bergumam. Beberapa larik doa kau hembuskan lancar tanpa patahan, dan
berharap doa itu bisa bertiup hingga ke singgasanaNya. Kau memohon ijinNya,
untuk sekali lagi kembali ke pintu yang mulai redup sinarnya itu. Kau ingin
kembali ke pintu yang akan mendekatkanmu lagi pada wanita hebatmu itu. Kau
ingin hidup.

Kau tahu bahwa ternyata hidupmu adalah keajaiban untuknya. Kau tidak pernah
sekalipun hidup dalam kesia-siaan. Kau berarti baginya. Kau istimewa
untuknya. Setidaknya itu sudah cukup untuk menjadi amunisimu menghabisi
lelah karena penyakitmu. Kau ingin hidup.

            Cahaya terang dari pintu yang kau tinggalkan pun mulai terlihat
menyeruak. Berkas sinarnya telah menjadi pertanda. Dia sang Khalik telah
mengijinkanmu untuk kembali berjuang di dunia fana. Kau pun bersyukur
berulang kali.

Kau berlari menuju pintu yang bercahaya itu. Ketika sebersit tanya kembali
menjejali otakmu yang tidak seberapa hebat, kau tersenyum. Kau tidak lagi
mengumpat penuh kebencian saat suara di kepalamu mulai menanyakan lagi,
"Untuk apa cinta itu?"

Lihat, kau tersenyum sekarang. Kau sudah tahu jawaban dari pertanyaan
melelahkan itu. Bagimu, cinta itu untuk membantumu menemukan jalan pulang.
Karena sebuah cinta yang hebat, kau berhasil memiliki peta ajaib yang
membawamu pulang padanya, pada wanita hebat yang selalu mencintaimu dengan
hebat. Ibumu.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke