-----Original Message-----
From: "Ir. Winarno" <[email protected]>
Date: Fri, 20 May 2011 07:51:11 
To: aga madjid<[email protected]>
Subject: Fw: Ada Bagian dalam Kekayaanmu



FYI, semoga bermanfaat

----- Original Message ----- 
From: Sri Haryati 
To:  Winarno ; bahtiarhs ; Djokolono ; sardjani bin pamudji ; baidaba_gustaman 
; Cut-Zidatul.FAZLA ; Farida Hanum ; lebda ; dedefarhan ; Didi ; Suharto 
(Geologist) ; Dodit Lebda ; kpcrb ; Lebda Prakoswo Pradipto (NPCC) 
Sent: Thursday, May 12, 2011  8:58 AM
Subject:  Ada Bagian dalam Kekayaanmu




ADA BAGIAN DALAM KEKAYAANMU
Oleh SUKRON ABDILAH


"Cinta yang berlebihan terhadap harta dan kedudukan dapat mengikis agama 
seseorang" (HR. Ath-Thusi).

Posisi harta bagaikan boomerang. Tanpa kepiawaian menggunakannya, akan 
berakibat fatal bagi sang pemilik. Mungkin kita pernah mendengar bahwa Qarun 
ditenggelamkan bersama hartanya ? Mungkin juga pernah mendengar Fir'aun menjadi 
sombong karena memiliki harta dan kekuasaan ? Atau pernah menyaksikan sendiri 
tetangga kaya raya di kampung sibuk mengumpulkan harta sampai lupa kepada 
tetangganya yang miskin ? Bahkan, pernah mendengar barangkali kalau ada orang 
kaya yang pergi ke Mekkah untuk berhaji sampai beberapa puluh kali, tapi 
melupakan tetangga miskin ?


Bagi mereka harta adalah segalanya. Tidak sadar bahwa harta adalah pemberian 
Allah kepada hamba-Nya yang rajin berusaha. Akibatnya, mereka terlena dengan 
kekayaan duniawi dan tidak mampu bersyukur atas segala pemberian-Nya. Syukur 
adalah salah satu bentuk laku dan kata untuk meluapkan rasa terima kasih kepada 
sang pemberi kekayaan, Allah Swt. Dengan memberikan hak fakir miskin yang ada 
di dalam harta, sebetulnya kita sedang bersyukur.


Memberikan pertolongan kepada fakir miskin tidak akan membuat kita menjadi 
miskin. Malahan akan berlipatganda, sebab dirinya terus termotivasi mencari 
harta agar bisa ber-zakat, infaq atau shadaqah. Kalau kita analogikan, 
memberikan sebagian dari harta (zakat, infaq dan shadaqah) untuk orang miskin 
seperti kita akan memakan pisang. Kulitnya harus kita kupas lebih dulu.. 
Kemudian setelah dikupas, maka kita sudah boleh memakannya. Kalau pun di makan 
dengan kulit-kulitnya, kita lebih bodoh daripada monyet. Wong monyet juga kalau 
makan pisang dibuang dulu kulitnya.


Nah, menunaikan zakat, infaq dan sedekah adalah usaha membuang kulit di dalam 
harta kita. Kalau kita tidak ber-zakat, infaq dan sedekah sama dengan seseorang 
yang memakan buah pisang dengan kulit-kulitnya. Ini artinya, kita tidak boleh 
meniru Qarun yang rakus terhadap kekayaan sehingga tidak mau berbagi. Sebab, 
ketika kita tidak mau berbagi dengan orang lain, keserakahan itu akan 
menyebabkan berkurangnya amal, yang kelak akan mengantarkan kita memasuki 
neraka.


Rasulullah Saw. Bersabda: "Tiap muslim wajib bersedekah."
Para sahabat kemudian bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?."
Nabi Saw. menjawab: "Bekerjalah dengan keterampilan tangan untuk kemanfaatan 
dirinya lalu bersedekah."
Mereka bertanya lagi: "Bagaimana kalau dia tidak mampu?"
Nabi Saw menjawab: "Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya."
Mereka kemudian bertanya kembali: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya? ."
Nabi Saw menjawab: "Menyuruh berbuat ma'ruf."
Tanpa pernah bosan mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?"
Nabi Saw menjawab, "Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah." (HR. 
Bukhari dan Muslim).


Dengan kondisi kemiskinan di Indonesia yang mengkhawatirkan, zakat, infaq dan 
sedekah adalah salah satu usaha mencegah kejahatan. Coba saja kalau orang kaya 
raya di negeri kita tidak diwajibkan zakat, infaq dan sedekah. Boleh jadi, akan 
muncul kecemburuan di lingkungan masyarakat hingga mengakibatkan merebaknya 
kejahatan. Pencurian, perampokan, dan penjabretan adalah salah satu dampak dari 
keserakahan seseorang. Selain itu, akan muncul juga kebencian warga miskin 
terhadap orang kaya kalau Islam tidak mengajarkan manusia untuk zakat, infaq 
dan sedekah.


Jadi, kalau hidup di dunia memiliki kelebihan harta; sebaiknya bersyukur dengan 
ber-zakat, infaq dan sedekah. InsyaAllah harta kita akan semakin berkah. 
Bertambah dan berlipat-lipat ganda kebaikannya. Dalam sebuah keterangan 
dijelaskan, tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun ke bumi. Yang satu 
berdoa: "Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan 
peninggalan." Malaikat yang satu lagi berdoa: "Ya Allah, timpakan kemusnahan 
bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya) ." (HR. Mutafaqun `Alaih).


Jelas sekali bahwa hadits ini mengajarkan untuk memberikan hak warga miskin 
dalam harta kita sebagai bentuk rasa syukur terhadap-Nya. Sedekah dilakukan 
agar kita tersadar bahwa harta, kekayaan, dan jabatan harus dipergunakan secara 
arif dan bijaksana. Ejawantah dari syukur kita terhadap pemberian-Nya adalah 
dengan berbagi. Kalau saja kita bisa menangkap semangat dianjurkannya sedekah, 
niscaya akan menjadi kekuatan ekonomi bagi umat dan seluruh manusia.


Sedekah diwajibkan untuk melepaskan diri dari hal yang bersifat material; baik 
harta, kekayaan, kesehatan, ataupun jabatan. Sebab, ketika kita masih 
terperdaya dengan kekayaan dan jabatan, saripati agama dalam diri akan meredup 
sehingga kita berubah menjadi manusia angkuh, serakah dan sombong. Sedekah, 
merupakan kekuatan ekonomi yang mampu memberi kehidupan kepada seluruh umat 
manusia menjadi berkah.


Apalagi, sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya, sedekah merupakan ladang kita 
beramal shaleh. Seandainya sedekah merupakan salah satu bentuk syukur kita 
terhadap nikmat-Nya, sudah pasti kita termasuk orang yang beriman. Makanya, 
dalam suatu keterangan disebutkan bahwa syukur adalah sebagian dari iman, 
kemudian sebagian lagi adalah ridha. Apalagi kalau ada semacam pembiasaan 
ber-sedekah. Boleh jadi bentuk syukur orang kaya (zakat, infaq dan sedekah) 
bisa menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat. Wallahua'lam


Penulis, Alumni Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN BDG.
__._,_.___
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe . 

__,_._,___

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke