السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته




*Memberi Hakikatnya Mendapatkan *

Oleh: *Sholih Hasyim**


Kekayaan seorang mukmin yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah
manisnya iman kepada Allah Swt. Jika kita memilikinya, sekalipun kita miskin
harta, pengaruh, jabatan, tinggal di gubuk reot, mendekam di balik jeruji,
hakikatnya kita memiliki segala-galanya dalam kehidupan ini. Sebagaimana
pengalaman Nabi Yusuf As.

Yusuf berkata: *"Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi
ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu
daya mereka**, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)
dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."* (QS. Yusuf (12) :

Sebaliknya, meskipun dunia dan seisinya berada di dalam genggaman kita,
tetapi kita faqrul iman (miskin iman), maka sejatinya kita tidak memiliki
apa-apa. Karena, kita tidak bisa memaknai dan menikmati kehidupan ini. Dunia
yang luas tak bertepi ini terasa sempit. Dunia yang terang benderang ini
terasa gelap gulita. Orang beriman sekalipun miskin harta, tetapi memiliki
kekayaan jiwa (*ghinan nafsi*).

Oleh karena itu kita harus berjuang tanpa mengenal lelah, dengan tenaga,
fikiran, potensi yang kita miliki untuk mencapai manisnya iman (*halawatul
iman*). Betapapun tinggi gunung kita daki, lautan yang tidak bertepi kita
arungi, semua untuk memperoleh kenikmatan spiritual (*lazzatur ruhi*), yang
diserap dari iman itu. Karena, di tengah-tengah perjuangan itu Allah Swt
akan menggantinya dengan dua surga. Surga di dunia dengan kehidupan yang
bahagia (*hayatun thayyibah*) dan surga di akhirat, selamat dari siksa
neraka.

“*Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang
beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.** Tidak ada perubahan
bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah
kemenangan yang besar.”* (QS. Yunus (10) : 62-64).

Namun, bagaimanakah iman yang sebenarnya, *aqidah salimah* (steril dari
kontaminasi kemusyrikian)  merujuk referensi Islam itu?

Iman yang benar adalah keyakinan yang terhunjam di kedalaman hati, diucapkan
dengan lisan, dan dibuktikan dengan seluruh anggota tubuh. Keyakinan bulat,
tiada keraguan sedikit pun (al-yaqinu kulluhu). Dan mampu mempengaruhi
orientasi kehidupan (*ittijahul hayah*). Iman tidak sekedar amal perbuatan,
bukan pula sebatas pengetahuan tentang rukun Iman.

Iman bukan pula sekedar ucapan lisan seseorang yang mengaku bahwa dirinya
orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun dengan lisannya menyatakan hal
yang serupa, tetapi hatinya mengingkari statemennya sendiri.



*“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari
kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang
beriman. Mereka
hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman**, pada hal mereka hanya
menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. *(QS. Al-Baqarah (2) :
8-9).

Iman pula tidak sebatas amal perbuatan an sich yang secara lahiriah
merupakan ciri khusus perbuatan orang beriman. Sebab, orang-orang munafik
pun tidak sedikit yang secara permukaan mengerjakan ibadah dan berbuat baik
(fi’lul khoir), sedangkan hatinya kontradiksi dengan penampakan lahiriahnya.
Apa yang dikerjakan tidak didasari kemurnian niat untuk mencari ridha Allah
Swt , *“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan
manusia**. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (*QS.
An-Nisa (4) : 142). Iman juga bukan sekedar pengetahuan akan makna dan
hakikat iman, tidak sedikit orang yang mendalami hakikat dan makna iman,
tetapi mereka tetap saja ingkar, *“Dan mereka mengingkarinya **karena
kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)
nya.** Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat
kebinasaan.” *(QS. An-Naml (27) : 14),  *“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani)
yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti
mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di
antara mereka
menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.**”* (QS. Al-Baqarah (2)
: 146).

Dengan demikian, iman membutuhkan penerimaan oleh akal hingga mencapai
keyakinan yang benar-benar kuat, tidak lentur dengan perasaan
bimbang.*“Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti
kami dan Allah
Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah
pendusta belaka**".” *(QS. Al-Hujurat (49) : 15). Iman di samping menuntut
adanya pengetahuan, pemahaman dan keyakinan yang kokoh, dia juga
mensyaratkan adanya kepatuhan hati, sami’na wa ‘atha’na (kami dengar dan
kami patuh), kesediaan dan kerelaan menjalankan perintah (instruksi) Allah
Swt dan Rasul-Nya, serta ulil amri yang dipilih-Nya. *“Dan kami tidak
mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati** dengan seizin
Allah.”  *(QS.
An-Nisa (4) : 65), *“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka
dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di
antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh."** Dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung.”* (QS. An-Nur (24) : 51*), “Dan tidaklah
patut** bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan
ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya** maka sungguhlah dia telah sesat, sesat
yang nyata.” (*QS. Al-Ahzab (33) : 36).

Di samping pengetahuan dan penerimaan, iman sepatutnya membangkitkan
semangat untuk beramal, berjuang dengan harta dan jiwa, sesuai dengan yang
dituntut oleh iman itu sendiri dan kewajiban orang beriman, *“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah** mereka yang apabila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka,** dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (**karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka
bertawakal,** (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat** dan yang menafkahkan
sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka**. Itulah orang-orang
yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa
derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang
mulia.”* (QS. Al-Anfal (8) : 2-4).

Dalam menyajikan ilustrasi tentang iman, Al-Quran selalu mengambil bentuk
sebagai perilaku terpuji dan amal yang mendatangkan manfaat, yang merupakan
garis pembeda antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan
munafik,  *“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman**, (yaitu)
orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,** orang-orang yang menjauhkan
diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,** orang-orang
yang menunaikan
zakat**, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya*.” (QS. Al-Mukminun (23) :
1-5).

Iman dan Kekayaan
*
Orang beriman sadar bahwa apa yang dimilikinya hanya hak guna (pinjaman),
bukan hak milik*. Karena yang memilikinya adalah Allah Swt. Maka, dilandasi
oleh keimanan ia ikhlas memberikan sesuatu, sekalipun pada saat akan
mengeluarkan ada perasaan berat, tetapi keimanannnya itu mengantarkannya
untuk rela memberi. Ia yakin dengan memberi, hakikatnya akan mendapatkan
balasan yang lebih baik. Balasan itu tidak akan salah alamat, pasti akan
mengenai dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Justru infak yang paling
tinggi nilainya adalah ketika akan dikeluarkan banyak sekali
pertimbangannya, dan berat hati untuk memulainya.

Bahkan bersedia memberikan yang lebih banyak, melebihi dari yang diwajibkan,
karena yakin bahwa apa yang diberikannya untuk menunaikan kewajiban kepada
Allah Swt. Itulah yang kekal abadi. Sedangkan apa yang di genggaman
tangannya akan hilang, lenyap tanpa bekas. Apa yang kita berikan untuk
kebaikan, itulah milik kita sebenarnya.

Sebagai contoh kita nukilkan di sini pengalaman ruhani seorang sahabat
Rasulullah Saw bernama Ubay bin Ka’ab:
*
“Aku pernah diutus oleh Rasulullah Saw mengumpulkan zakat. Dalam menjalankan
tugas ini, aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang akan dipungut zakat
hartanya. Setelah dikumpulkan semua ternaknya, maka menurut pendapatku dia
hanya berkewajiban membayar bintu makhadh (unta yang sangat mudah). Aku
katakan kepadanya: Berikanlah seekor bintu makhadh, karena hanya itu zakat
yang diwajibkan kepadamu. Dia menjawab: Unta seusia itu belum mempunyai susu
dan belum dapat dikendarai. Inilah seekor onta muda, besar dan gemuk.
Ambillah ia !. Aku menjawab: Aku tidak akan mengambil apa yang tidak
diperintahkan kepadaku. Kini Rasulullah Saw tidak jauh dari kita. Engkau
bisa menemui beliau, mengutarakan apa yang telah kau utarakan kepadaku ini.
Kalau Rasulullah Saw menyetujui, tentu aku pun menerimanya. Sebaliknya, jika
beliau tidak sepakat, maka aku pun menolaknya. Lelaki itu berkata: Boleh.
Lalu kami pergi bersama dengan membawa onta tersebut. Kami menjumpai
Rasulullah Saw, lalu laki-laki itu berkata: Ya Rasulullah! Utusanmu telah
datang kepadaku. Demi Allah, sebelum ini, baik Rasulullah Saw sendiri maupun
utusannya belum pernah mengambil zakat dari hartaku. Lalu aku kumpulkan
ternakku, hingga utusanmu berkata: Kewajibanmu hanya membayar bintu makhadh.
Unta seperti itu belum mempunyai susu dan belum bisa dikendarai. Aku
kemukakan kepadanya supaya dia mengambil seekor onta yang muda dan besar,
tetapi dia tidak mau menerimanya. Dan inilah onta itu, kubawa kepadamu, ya
Rasulullah, ambillah ia. Rasulullah Saw menjawab: Kewajibanmu hanya itu
(bintu makhadh). Tetapi kalau engkau berbuat kebaikan dengan suka rela,
niscaya Allah Swt akan memberi pahala kepadamu karenanya, dan kami pun
menerimanya**. Lelaki itu berkata: Inilah onta itu, ya Rasulullah! Telah
kubawa kepadamu. Karena itu terimalah ia. Lalu Rasulullah Saw memerintahkan
kepada utusannya itu untuk menerimanya dan mendoakan keberkahan
hartanya.”*[HR. Abu Daud].

Al-Hamdulilllah, setelah bersedekah dan didoakan oleh manusia pilihan
(al-Musthofa) itu, hartanya menjadi barakah, bertambah kebaikannya, semakin
berlimpah, baik secara kuantitas dan kualitas. Keluarganya semakin harmonis,
anak dan istrinya semakin patuh. Dia terhindarkan dari berbagai penyakit
yang selama ini diidapnya. Karena sedekah itu bisa menolak bala’
(Ash-Shadaqatu tadfa’ul bala’). Dia sering mendapatkan jalan keluar dari
berbagai kesulitan yang ditemuinya. Bahkan, orang-orang terdekatnya semakin
cinta, simpati, dan selalu membelanya. *Hashshinuu amwalaku biz
zakat*(bentengilah harta kekayaanmu dengan zakat), meminjam istilah
Umar bin
Khathab.

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan
menyiapkan baginya jalan yang mudah, “*Adapun orang yang memberikan
(hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang
terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.*”
(QS. Al-Lail (92) : 5-7).

Apabila kita dalam kondisi papa, keluarkan harta yang paling kita senangi,
niscaya Allah Swt akan menghilangkan kemiskinan kita itu. Apabila kita
memiliki kecukupan, keluarkanlah infaq, niscaya Allah Swt akan menambah
kekayaan kita. Apabila kita kaya, gemarlah berinfaq dengan tulus, supaya
semakin kaya. Dan apabila kita sedang sakit, berinfaklah, Insya Allah sakit
itu akan segera disembuhkan oleh-Nya. Sedekah adalah solusi yang jitu untuk
mengatasi berbagai kerumitan kehidupan kita. Semoga kita bisa mengambil
‘ibrah (pelajaran), ‘ubur (jembatan menuju puncak sukses) dari kisah tadi.
*
Akrabilah Allah Swt di saat lapang, maka Ia akan mendatangimu ketika sempit
*(Hadits Qudsi). *Wallahu a’lam bishshawab*.






-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL !!!
...." *
**
*- Aga Madjid -*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke