*"Saya Mulai Siapkan Penerus"*

Hari ini, Selasa (21/6), Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) genap berusia
50 tahun. Seiring di usia emasnya itu, suara dukungan agar Jokowi maju
memimpin Jawa Tengah atau DKI Jakarta santer terdengar. Namun, Walikota
terbaik se-Indonesia tahun 2011 ini selalu enggan kalau diminta bicara soal
bursa menjadi gubernur Jateng maupun DKI. Tapi, kepada wartawan Joglosemar
Anas Syahirul dan Ari Kristyono di rumah dinasnya Loji Gandrung, Jokowi
blakblakan soal sedia atau tidaknya memimpin Jateng atau Jakarta. Berikut
kutipan wawancaranya.

*Besok (hari ini-red) Anda ulang tahun, ada acara khusus?*
Saya ini wong ndesa, dalam keluarga saya tidak ada tradisi merayakan ulang
tahun. Bahkan saya sendiri sering lupa. Kalau sekarang ada yang suka
memperhatikan ulang tahun saya, pakai bawa kue dan tiup lilin, saya malah
malu.

*Tentu ada waktu untuk refleksi. Apa yang ingin dicapai di usia 50 tahun
ini?*
Kalau refleksi, pasti ada. Misalnya, apakah saya sudah bekerja dengan baik,
apakah kesalahan saya dan sebagainya. Sekali lagi, tidak ada yang istimewa
di hari ulang tahun.

*Anda banyak disorot, karena berhasil memimpin Solo dengan baik. Kini banyak
yang menginginkan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi, seperti
Gubernur bahkan posisi menteri?*
Ya, saya mengerti. Kebetulan saya juga menyimak media massa, juga di
Twitter, Facebook, Kaskus, banyak sekali dukungan. Tetapi kalau soal
kemampuan, itu yang menilai kan masyarakat. Kalau saya sendiri merasa tak
bisa apa-apa. Saya mengukur diri dan saya yang paling tahu seberapa jauh
saya bisa maju, ke arah mana. Sebenarnya saya tidak terlalu banyak
memperhatikan suara-suara pujian. Saya justru lebih suka pada komentar
bernada kritik, artinya ada yang menunjukkan kelemahan atau kekurangan saya.

*Belakangan ini Anda dijagokan memimpin DKI Jakarta atau Jawa Tengah, bahkan
banyak orang menilai Anda mampu memimpin kedua wilayah ini?*
Ah nggak lah, saya tidak memikirkan itu. Orang lain saja lah.

*Tapi banyak yang yakin Anda bisa membereskan permasalahan DKI Jakarta. Ini
sesuai dengan karakter Anda yang suka tantangan?*
Memang, saya suka tantangan. Pekerjaan, kalau tidak menantang, tidak
menarik. Tetapi anggapan itu berlebihan. Saya merasa tidak mampu kok.
Kebetulan, sebagai pengusaha saya terbiasa membuat kalkulasi-kalkulasi. Kita
harus bisa melihat kemampuan diri sendiri kan.

*Kalkulasi seperti apa?*
Kalkulasinya banyak, bukan hanya dukungan masyarakat saja tapi juga
menyangkut faktor lain mulai finansial hingga kemampuan saya. Lha saya ini
apa punya potongan mampu tho untuk memimpin Jakarta (sambil tersenyum..).
Saya tak punya potongan jadi gubernur.

*Tapi sebenarnya memimpin Jakarta itu kan juga tantangan?*
Betul kalau dilihat dari sudut pandangan itunya. Dan saya melihat sejumlah
hal yang bisa segera diselesaikan di DKI itu. Contohnya kita melihat
permasalahan di DKI itu kan yang utama macet dan banjir. Kalau dua hal itu
bisa dibereskan, itu sudah hebat luar biasa. Bagi saya, itu menarik untuk
dikalkulasi. DKI itu luar biasa, pendapatan asli daerah (PAD) mencapai Rp 22
triliun lebih. Prioritaskan bikin monorail, subway, dan sistem transportasi
massal lainnya. Gak akan habis segitu. Belum lagi kalau menghitung investor,
saya lihat itu sudah antre. Selebihnya tinggal menata masyarakatnya dengan
konsistensi dan integritas.

*
Kedengarannya cukup sederhana. Tapi kenapa tidak terealisasi dari dulu?*
Itu tantangannya. Saya yakin di lemari birokrasi di sana, sudah bertumpuk
ribuan kajian tentang pemecahan masalah yang tidak pernah direalisasikan.
Seperti di sini juga pernah seperti itu. Kalau saya pegang kendali, maka
saya tantang para pejabat yang bertanggung jawab. Saya tunjukkan targetnya.
Harus sanggup. Kalau tidak, silakan minggir. Kelemahan negara kita memang
ada di birokrasi yang berorientasi pada prosedur, bukan pada hasil. Nah,
pemimpin yang mau berhasil harus bisa mengubah itu menjadi berorientasi pada
hasil, tapi tidak meninggalkan prosedur.

*Bagaimana memastikan birokrat bisa bekerja sesuai arahan?*
*Kembali ke pemimpinnya*. Adalah sangat penting untuk bersikap konsisten dan
disiplin, sehingga bawahan pun termotivasi. Masyarakat kita itu sebenarnya
punya mental yang cukup baik. Kalau diberi contoh, mereka biasanya akan
mengikuti. Dan, sekali lagi, jangan pernah punya kepentingan. Itu akan
merusak banyak hal.

*Jadi, Anda yakin mampu menjadi Gubernur DKI?*
Ah, kalkulasinya bukan hanya itu. Bukan soal kemampuan kerja. Tapi Anda tahu
kan, jauh lebih sulit proses untuk bisa ke sana. Kalau sudah jadi, itu malah
lebih mudah. Karena pasti akan banyak kepentingan yang beradu kuat. Secara
pribadi, saya benar-benar tidak ada keinginan untuk ke sana. Sudah nyaman di
Solo. Saya dan keluarga, Anda tahu, selama ini tetap hidup seperti warga
biasa, dan memang saya tidak pernah merasa menjadi pejabat. Kami ingin
segera kembali menjadi warga biasa lagi.

*Kabarnya PDIP akan menduetkan Anda dengan Rano Karno untuk Pilkada DKI.
Rano gubernurnya, Anda calon wakilnya?*
Ah siapa bilang. Tapi kalau memang begitu ya silakan kalau berani hehehe....

*Anda juga punya kans besar untuk dicalonkan jadi Gubernur Jawa Tengah oleh
PDIP?*
Ndak...ndak...jangan saya. Saya mengukur diri, masih banyak yang lebih ahli.
Ada Pak Bibit, ada Pak Murdoko (Ketua DPD PDIP Jateng) dan lainnya. Biar
yang lebih ahli yang mimpin Jateng.

*Tapi kalau partai akhirnya menugaskan Anda?*
Loh saya kan juga punya alasan untuk menjelaskan mengapa tidak bersedia. Dan
itu nantinya akan saya sampaikan. Berat memimpin Jateng itu. Banyak
kalkulasi yang menjadi alasan saya, termasuk keluarga yang pasti juga nggak
mengizinkan saya dicalonkan.

*Kembali ke Kota Solo. Anda bisa menjamin semua hasil pekerjaan Anda
membangun Solo ini, bisa dilanjutkan dan dipertahankan?*
Tentu saya akan berusaha menciptakan sistem. Walikota boleh ganti, tetapi
saya akan berusaha bersama DPRD supaya ada pola yang bisa menjadi pedoman.
Jadi hasilnya akan berkesinambungan.

*Selain menciptakan pedoman, solusi apa lagi yang akan ditempuh agar
kebijakan Anda bisa diteruskan?*
Ya yang paling realistis adalah menyiapkan penerus. Seorang pemimpin yang
baik justru harus bisa menyiapkan kader pemimpin berikutnya. Itu mungkin
yang juga akan saya lakukan. Paling tidak, pada akhirnya nanti saya akan
sodorkan dua atau tiga figur penerus saya. Biar nanti warga yang akan
memilih yang terbaik. Jelas saya tidak bisa memaksakan, tetapi kalau
pilihannya ada beberapa, mosok tidak ada yang laku.

*Siapa figur penerusnya?*
Kita tunggu saja nanti, sekarang dalam proses menimang-nimang. Nanti pasti
kan banyak yang berminat (jadi walikota-red). Dari situ kita bisa memilih
mana yang dirasa tepat.

*
Apa ada peluang penerusnya dari kalangan keluarga?*
O jelas tidak, saya menghindari hal itu. Yang jelas saya tidak akan
menyiapkan penerus dari keluarga saya. Itu pasti akan saya hindari. Saya
jamin hal itu.

Warm Regards,


Zigo AlCapone

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke