nice reading... :)

nuhun
risa



Pada 8 Juli 2011 12:26, Arsianti Dewi <[email protected]> menulis:

>  http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/08/menantang-tuhan/
>
> Menantang Tuhan
>
> OPINI <http://www.kompasiana.com/posts/type/opinion/> | 08 July 2011 |
> 12:05 4 0 Nihil
> ------------------------------
>
>  Entah kenapa, malam ini saya ingat kejadian yang buat sangat penting
> dalam titik keimanan saya ini. Suatu hari, 7 tahun yang lalu. Ketika
> Mimi,anak pertama saya baru berusia kira-kira 6 bulan. Saat itu, saya
> memilih jadi ibu rumah tangga full time. Hanya mengurus mimi dan mengerjakan
> pekerjaan rumah tangga. Hal yang paling terasa saat itu adalah, tidak punya
> uang dari hasil keringat sendiri. Ya, setiap bulan hanya menunggu transferan
> dari suami. Tak nyaman rasanya. Apalagi setelah bertahun-tahun terbiasa
> bekerja, mendapat gaji, lalu mengaturnya sesuka hati.
>
>
> Lebih tak enak lagi, ketika kadang diakhir bulan terasa sekali situasi yang
> “mendebarkan.” Biasanya situasi paling kacau adalah ketika banyak sekali
> undangan pernikahan atau sunatan dalam satu bulan. Dijamin, kalau semua
> harus didatangi, akan terjadi “tsunami” kecil pada posisi keuangan rumah
> tangga.  Karena banyaknya amplop -dan isinya- yang harus disiapkan. Namun,
> memutuskan tak datang pada satu undangan sepertinya juga riskan, karena
> ketika undangan itu tiba, pastinya pihak pengundang berharap kita hadir.
> Nyaris tidak mungkin, ada undangan lalu pihak pengundang berharap yang
> diundang tak hadir. Aneh kalau ada pengundang yang berharap tamunya tak
> hadir. Buat apa dia mengundang??
>
>
> Jungkir balik mengakali gaji suami sudah biasa dilakukan. Potong sana,
> pangkas sini, semuanya dilakukan demi pengetatan anggaran. Maklum, cuma ada
> satu tiang penyangga finansial keluarga. Berhemat? sudah pasti laaahhh…
> Misalnya, untuk menghemat anggaran, kami memutuskan tak ada PRT. Toh saya
> memilih jadi ibu rumah tangga full time, jadi dengan anak yang masih satu,
> rasanya sangguplah mengurus rumah tanpa bantuan orang lain. Cara lain?
> Ongkos rekreasi diganti pergi ke toko buku. Numpang baca, hehehe.. Lalu
> jajan diluar dipangkas besar-besaran. Masuk dapur, masak. Ga enak ga
> apa-apa, yang penting hemat :)
>
>
> Namun, saya pernah berada pada posisi yang sangat kritis. Seperti saya
> katakan diatas, 7 tahun yang lalu. Waktu itu usia mimi, anak pertama saya
> masih beberapa bulan. Tahun sebelumnya, kami baru pindah rumah, yang kami
> putuskan untuk beli dengan cara kredit. Cicilan rumah lumayan besar.
> Ditambah dengan pengeluaran rumah tangga lainnya, ternyata benar-benar
> menguras kantong.  2 hari sebelum tanggal gajian, saya sadar saya tak punya
> uang sepeser pun. Benar-benar tak ada. Saya masih punya stok bahan pangan,
> seperti beras, telur, sayuran mentah untuk dimasak, gula, kecap, garam, dan
> air mineral di galon yang cukup hingga tanggal gajian. Mimi ga ada masalah,
> saat itu masih ASI eksklusif. Namun saya sungguh-sungguh tak punya uang
> sepeser pun. Ini pertama kalinya dalam hidup saya, saya tak memegang uang
> sepeser pun. Saya sempat menangis. Saya takut. Tak pernah mengalami situasi
> ini.
>
>
> Saat itu, saya tak tega menyampaikan pada suami, bahwa kondisi keuangan
> sudah lampu merah. Jadi saya biarkan saya menangis sendiri. Hanya berdua
> mimi, yang pasti malah tertawa lucu melihat saya menitikkan air mata.  Entah
> kenapa, tiba-tiba saya ingin menantang Tuhan. Siang itu, usai sholat zuhur.
> Saya bergumam dalam doa. “Ya Allah, jika Engkau Maha Kuasa, tunjukkan padaku
> keMAHAan-MU itu. Saya sedang tak memiliki uang sepeser-pun, lalu apa yang
> akan KAU lakukan padaku untuk meyakinkanku bahwa Engkau Maha Segalanya?”
> Setelah itu saya tutup doa. Tak ingin memikirkan apa yang akan terjadi. Saya
> lipat mukena. Lalu memutuskan untuk tidur berdua mimi. Pusing, stress,
> sedih, dan takut. Mungkin tidur akan sejenak menenangkan saya.
>
>
> Jam empat sore saya terbangun. Ah, tak ada yang berubah. Tak ada uang yang
> tiba-tiba hadir dihadapan saya. Jadi, doa saya belum didengar, begitu
> kesimpulan saya. Lalu saya memutuskan masak air untuk memandikan mimi.
> Setelah mimi cantik dan rapi, gantian saya yang mandi, berwudhu dan sholat
> Ashar. Doa yang sama saya sampaikan kembali. Entah setan mana yang sedang
> singgah, terasa sekali bahwa saat itu saya sungguh-sungguh menantangNYA.
> Meski jauh disudut hati, saya agak takut juga. Takut kualat. Tapi saya
> sungguh-sungguh ingin membuktikan janjiNYA yang sering IA ucapkan. Bahwa
> kepadaNYA kita bisa meminta apapun.
>
>
> Usai sholat dan melipat mukena, saya berencana membawa mimi jalan-jalan
> sore. Saat sedang merapikan jilbab, pintu rumah diketuk tetangga. Saya
> keluar dan menyambut salamnya. Ah, tetangga tiga rumah terdekat. Teman
> curhat saya. Lalu dia berkata, “Mama mimi, kalo ga salah mama mimi pernah
> cerita punya simpanan mainan edukatif ya? Yang katanya mo disimpan tunggu
> mimi ngerti buat maininnya?” tanyanya pada saya. Saya mengangguk,
> mengiyakan. “Iya ada. Mau buat apa?” tanya saya bingung. “Ini, temennya kiki
> ada yang ulang tahun. Saya ga sempat cari kado. Sini deh saya bayarin aja.
> Kan nanti kalo mimi udah ngerti tinggal beli lagi,” katanya dengan santai.
> Saya tertegun. Bagai ditampar, saya terkesima. Sungguh terkesima.
> Astaghfirullah, doa saya langsung diijabahNYA. Sementara tetangga saya tetap
> berbicara, “Keluarin aja, biar saya bisa milih,” pintanya dengan paksaan
> yang sulit saya tolak.
>
>
> Lalu saya mengeluarkan kotak mainan edukatif itu. Ya, saya memang pernah
> membeli beberapa mainan ini. Beli dicicil biar ga terasa mahalnya, hehehe..
> Maka tetangga dekat saya itu memilih dengan leluasa. Diambilnya satu set
> puzzle dan satu buah papan abjad. “Nih, saya ambil dua yang ini, mau
> dihargai berapa?” tanyanya lagi. Sepertinya ia tidak menyadari keterkejutan
> yang saya rasakan. “Ya udah, bayarin aja 50rb. Itu harga belinya,” saya
> jawab pertanyaannya. Mungkin dia tak sadar bahwa tenggorokan saya terasa
> tercekat. Susah sekali untuk bicara. Dengan gembira, tetangga dekat itu
> mengangsurkan selembar 50 ribuan. “Nih ya, lunas ya..,” balasnya dengan
> wajah puas. Mungkin lega karena sudah ada kado untuk yang berulang tahun.
> “Saya langsung pulang ya, kasian anaknya udah nunggu, siap ke ulang tahun,”
> lanjutnya. Saya hanya mengangguk-angguk. Begitu ia keluar, saya menutup
> pintu. Terduduk. Lalu mengalirlan air mata itu. Sungguh luar biasa kuasaMU
> ya Allah… bisik hati saya. Saya genggam uang itu erat-erat. Nyaris tak
> percaya bahwa ini sungguh-sungguh terjadi. Mungkin jumlah 50rb terasa kecil
> buat sebagian orang, tapi bagi saya yang saat itu sama sekali tak memegang
> uang sepeser pun, jumlah itu jadi terasa luar biasa. Yang menjadikannya
> terasa luar biasa adalah saya menyadari MAHA KUASANYA.
>
>
> Sejak itu saya senang menantang Tuhan. Bukan untuk kesombongan saya. Namun
> untuk selalu menambah rasa syukur saya, karena IA tak pernah ingkar janji.
> Bahwa  benar adanya, “AKU adalah menurut sangkaan hambaKU,” dan bahwa “AKU
> lebih dekat dari urat lehermu.” Jadi, percayalah…. janjiNYA selalu pasti. IA
> tak pernah tidur. Jangan takut menghadapi hidup, karena IA tak pernah
> meninggalkan hambaNYA. Yakinlah bahwa setiap janjiNYA adalah kebenaran.
> Dibalik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Dibalik setiap kesulitan,
> pasti ada kemudahan. Mari bahagia dengan janjiNYA.
>
>
> Sawangan, 5 Juli 2011
>
> --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
> add my twitter @aga_madjid
> thanks for joinning this group.
>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke