**
*“PEMAIN” ATAU “KORBAN”?***** * ***** *Eileen Rachman & Sylvina Savitri*****
*EXPERD          ***** *“*Effective Interviewing” Training**** * ***** *Dimuat
di KOMPAS, 23 Juli 2011***** * ***** *Sebagai seorang pemula atau junior
dalam sebuah tim, seorang teman kerap berolok-olok, bahkan menyebut dirinya
“kacung kampret”.  Ia yang menyiapkan presentasi, namun atasan yang
“mendapat nama”. Ia begadang sampai tengah malam, sementara atasan pulang
cepat dan tinggal memetik hasilnya. Singkatnya ia merasa semua “dirty-work”,
“leg-work” harus dikerjakannya, sementara wewenang dan pengambilan keputusan
tidak ia miliki “**privilege”** jabatan pun sering belum ia rasakan. Dalam
situasi yang berbeda, teman saya yang lain pun merasakan hal yang sama. Ia
tidak lagi junior dalam organisasi, bahkan direspek benar kompetensinya.
Namun, setiap kali harus bergerak, melakukan pekerjaan besar atau kecil,
bahkan ketika orang-orang lain mengandalkan dirinya, ia merasa diperbudak
oleh situasi. Ia menggerutu dan tidak happy, karena seolah “dia lagi, dia
lagi” yang harus maju mengerjakan sesuatu.***** * ***** *Kita lihat bahwa
sikap merasa diri sebagai bulan-bulanan situasi bisa dialami dan dimiliki
tidak hanya oleh orang dengan posisi rendah, tapi juga mereka yang kompeten
dalam posisi tinggi. **Si kompeten yang merasa sebagai ‘victim’ situasi,
justru diam**-**diam merasa diri lebih daripada orang lain**. Ia tidak **tidak
bisa melihat orang lain sebagai support melainkan sebagai beban. “**M**engapa
harus saya yang pergi presentasi?” “**M**engapa harus saya yang menghadap
atasan, mewakili teman teman?” Ia tidak melihat bahwa posisi terdepan adalah
kekuatan yang akan mendorong dia kearah kesuksesan. Sementara orang**-**orang
yang merasa ‘kecil’ dibandingkan orang di sekitarnya seperti para senior
maupun atasan, juga memandang dirinya selalu berada  pada posisi ‘victim”
yang perlu dikasihani. Teringat seorang ahli manajemen John W.
Gardner: **“Self-pity
is easily the most destructive of the nonpharmaceutical narcotics; it is
addictive, gives momentary pleasure and separates the victim from reality.”*
**** * ***** *Bila individu kerap menyalahkan lingkungan kerja, keluarga,
peraturan atau kebobrokan mental masyarakat, otomatis ia tumbuh menjadi
orang yang mudah menggerutu, sekaligus melepaskan tanggung jawab dalam
mengembangkan diri dan mengoreksi diri. Bahayanya, m**indset sebagai korban
ini **mudah **menular dan **bisa **menjadi penyakit **dalam tim, organisasi
dan **masyarakat. Pertanyaannya, kalau **mentalitas “korban” ini **menyebar,
**tim dan **masyarakat akan terdiri dari orang**-**orang yang **merasa
dirinya **‘innocent’ dan tidak berdaya**. Lalu, s**iapakah yang akan
diandalkan untuk mengubah situasi? ***** * ***** *Responsibility =
response-ability***** *Sekolot**-**kolotnya ayah saya, ia selalu
mengingatkan bahwa manusia**, **hampir di semua situasi mempunyai pilihan**,
bahkan dalam situasi genting sekali pun. **Akal budi membuat kita mampu
berlatih untuk merespons apa yang kita hadapi **sehingga tidak **merasa
bahwa semua situasi adalah nasib yang jatuh dari langit. Bila kita berlatih,
stimulus yang datang kepada kita** diolah sebagai **informasi yang perlu di*
*respons dengan **kemauan kita sendiri. **D**engan demikian kita **tidak
lagi merasa **sekedar obyek atau ‘victim”**, namun menjadi subyek atau
sutradara untuk mengendalikan situasi. **Hal inilah yang juga diajarkan pada
pemain**-**pemain bola atau **dalam latihan **bela diri**. **Kita tidak**asal
** bereaksi**,** tetapi kita memilih gerakan berdasarkan informasi tertentu.
***** * ***** *Sikap mental ini tidak selalu harus dimiliki oleh **individu
dengan posisi tinggi ataupun **jenderal jenderal besar seperti Mc Arthur
atau LB Moerdani. Kita pun sebagai **“**wong cilik**”**, yang masih belum
mempunyai jabatan bisa mempunyai “player** mentality”, mengambil peran dan
tanggung jawab penuh atas situasi yang terjadi**. Di dalam pekerjaan,** bila
informasi yang dimiliki tidak cukup, bisa saja kita menyalahkan pihak yang
memberi data tidak lengkap, namun kita pun sebetulnya bisa mengembangkan
sikap** bertanggung jawab **dan proaktif untuk **mencari informasi lebih
banyak. **Seorang **pemelihara tanaman di kantor pun bisa mengambil
inisiatif, **misalnya sepenuh hati memberi pupuk, **membuat larangan dan
peraturan **agar tanaman yang dirawatnya tidak rusak dan bisa tumbuh subur.
**Kenapa kita tidak bisa?***** * ***** *B**ergerak **M**engejar **S**asaran
***** *Latihan untuk menganggap bahwa apapun yang terjadi dihadapan kita
adalah ‘informasi’**, **akan membuat kita terbiasa untuk memikirkan langkah
apa yang kita ambil. Seorang **“korban” dengan mudah menyalahkan situasi,
sementara “**pemain**”** selalu mampu memahami situasi. Seorang pemain sepak
bola handal pun selalu paham tentang situasi yang dihadapinya dan mampu
mengarahkan tendangannya sambil sekaligus meramalkan ke mana bola itu akan
pergi. Jadi ia bukan berespons secara impulsif. **Meski respons** ini
terjadi dalam hitungan detik, tetapi individu bermentalitas pemain sudah
mempunyai kontrol terhadap situasi. Di situasi kerja kita pun perlu
mempertanyakan**, a**pakah kita hanya mengikuti perintah atau berusaha
mempersiapkan, berpartisipasi dan mengkontrol situasi? Apakah kita mengambil
peran pasif atau aktif**?** Apakah kita membuat keputusan karena terdesak
ataukah kita membuat keputusan dalam keadaan sadar dan jernih? I**n**dividu
dengan mentalitas pemain biasanya tidak sulit untuk bergerak dan mengarahkan
diri ke masa depan dan **“make things happen”**. “**They don’t sit around
waiting for answers to appear; they stand up, put one foot in front of the
other, and find the answers”.  ***** * ***** *Pelecehan psikologis, seperti
menyebut diri “kacung kampret”, sebetulnya lebih sering dilakukan oleh diri
kita sendiri, bukan oleh orang lain. Kitalah yang perlu **menyuburkan
**penghargaan
diri, **rasa percaya diri untuk maju dan mengembangkan karir**. Dengan
demikian, kita menumbuhkan, karakter diri yang kuat dan bisa bangga karena
nyata-nyata memberikan kontribusi optimal.***** * ***** * ***** *EXPERD
CONSULTANT*
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang ****Jakarta**** 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
http://www.experd.com****


-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL !!!
...." *
**
*- Aga Madjid -*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke