Perjalanan Geng Preman di Jakarta

 

Berikut sepenggal cerita perjalanan geng preman di Jakarta :

 

 

PERALIHAN penguasa bisnis jagoan di Ibu Kota bukanlah suksesi yang mulus. Pada 
1990-an, area ini dikuasai Hercules. Ia semula pemuda Timor yang direkrut 
Komando Pasukan Khusus, atau Kopassus, pada saat proses integrasi wilayah itu 
ke Indonesia. Terluka dalam kecelakaan helikopter, ia dibawa Gatot Purwanto, 
perwira pasukan yang dipecat dengan pangkat kolonel setelah insiden Santa Cruz, 
ke Jakarta.

 

Spoiler for Hercules:

http://www.imagedum.com/images/587_Hercules.jpg

 

 

Hercules menetap di Jakarta, dan segera merajai dunia para jagoan. Ia menguasai 
Tanah Abang. Namanya pun selalu dekat dengan kekerasan. Kekuasaan tak abadi. 
Pada 1996, ia tak mampu mempertahankan kekuasaannya di pasar terbesar se-Asia 
Tenggara itu. Kelompoknya dikalahkan dalam pertikaian dengan kelompok Betawi 
pimpinan Bang Ucu Kambing, kini 64 tahun.

 

Sejak itu ia tak lagi berkuasa. Tapi namanya telanjur menjadi ikon. Seorang 
perwira polisi mengatakan, setiap pergantian kepala kepolisian, Hercules selalu 
dijadikan "sasaran utama pemberantasan preman".

 

Pada masa kejayaan Hercules, ada Yorrys Raweyai. Pada awal 1980-an, ia bekerja 
menjadi penagih utang. Kekuatan pemuda asal Papua ini ditopang Pemuda 
Pancasila, organisasi yang mayoritas anggotanya anak-anak tentara. Dia menjadi 
ketua umum organisasi itu pada 2000 dan melompatkan kariernya di politik. Dia 
kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Golkar.

 

Spoiler for Yorris Raweyai:

http://img194.imageshack.us/img194/8184/yorris.jpg 
http://img26.imageshack.us/img26/7974/yorris1.jpg

 

 

Pemuda Pancasila juga menjual jasa pengamanan lahan, penagihan, dan penjaga 
keamanan. Ordernya diterima dari perusahaan resmi yang memiliki jaringan dengan 
Pemuda Pancasila. "Habis, mau kerja apa, mereka tidak punya ijazah," Yorrys 
menunjuk anggota kelompoknya. Soal cap preman, dia berkomentar enteng, "Saya 
anggap koreksi saja."

 

Pada generasi yang sama, Lulung, bekas preman Tanah Abang, kini menjadi anggota 
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta dari Partai Persatuan Pembangunan. 
Usahanya dimulai dari pengumpul sampah kardus bekas hingga barang bekas. 
"Karier"-nya mencorong ketika kemudian bermain dalam usaha pengamanan Tanah 
Abang.

 

Spoiler for H. Lulung:

http://www.imagedum.com/images/156_H._Lulung.jpg

 

 

Untuk melestarikan kekuatan, Lulung memilih jalur resmi. Ia mendirikan PT 
Putraja Perkasa, lalu PT Tujuh Fajar Gemilang, dan PT Satu Komando Nusantara. 
Perusahaan ini disesuaikan dengan "kompetensi inti" Lulung: jasa keamanan, 
perparkiran, penagihan utang. "Kami masuk lewat tender resmi," ujarnya.

 

 

Pada 1996, ketika Hercules berhadapan dengan Bang Ucu, Lulung memilih 
"berkolaborasi" dengan kelompok Timor. Alhasil, ia dikejar-kejar teman-temannya 
di Betawi. Bang Ucu menyelamatkannya. Itu sebabnya, kini Lulung rajin menyetor 
dana ke Ucu.

 

Dari Nusa Tenggara Timur ada nama Zakaria "Sabon" Kleden. Mendarat di Betawi 
pada 1961, Zaka-begitu dia disapa-mengatakan menjadi preman pertama asal 
daerahnya. "Dulu istilahnya geng. Ada geng Berland, Santana, dan Legos," 
tuturnya kepada Tempo.

 

 

Riwayat Zaka tak kalah berdarah. Ia mengaku sempat memutilasi korbannya. Ia 
juga mengatakan telah menembak mati beberapa orang. "Saya membela harga diri 
saya," ujarnya. Tapi ia mengatakan tak pernah dinyatakan bersalah. "Saya sering 
ditahan, tapi tidak pernah dihukum penjara," kata pria yang sangat dihormati 
kelompok preman terutama dari daerah Nusa Tenggara Timur itu. Tiga tahun lalu, 
Zaka menjalankan bisnis sekuriti, PT Sagas Putra Bangsa.

 

Dari eranya, Zaka menyebutkan nama ketua geng seperti Chris Berland, Ongky 
Pieter, Patrick Mustamu dari Ambon, Matt Sanger dari Manado, Jonni Sembiring 
dari Sumatera, Pak Ukar dan Rozali dari Banten, Effendi Talo dari Makassar. 
"Komunikasi di antara kami baik, maka jarang bentrok berdarah," tuturnya.

 

Pada awal 2000, muncul Basri Sangaji. Tapi dia terbunuh dalam penyerangan 
berdarah di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. "Bisnis"-nya diteruskan 
anggota keluarga Sangaji: Jamal dan Ongen. Ongen kini mantap dengan karier 
politiknya, menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Jakarta. "Target 
saya ketua Dewan Pimpinan Pusat," ujarnya.

 

 

Spoiler for Basri Sangaji:

http://img580.imageshack.us/img580/7568/basrisangaji.png

 

 

Menjelang 1980-an kelompok-kelompok preman etnis juga membentuk organisasi 
massa. Dimulai dari Prems-kependekan dari Preman Sadar-pimpinan Edo Mempor. 
Tetap saja, bisnis mereka penagihan, perpakiran, dan jaga tanah sengketa. "Ini 
awal mulanya preman berbalut ormas," kata seorang mantan serdadu yang kini jadi 
preman.

 

Kelompok itu berdiri hingga kini. Ada Angkatan Muda Kei, Kembang Latar, Petir, 
Forum Betawi Rempug, Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), Badan Pembina 
Potensi Keluarga Besar Banten, juga Angkatan Muda Kei.

 

 

l l l

 

SETELAH bentrok berdarah di Ampera, nama Thalib Makarim muncul ke permukaan. 
Para pesaingnya menyebut dia menyediakan pengamanan klub hiburan malam, seperti 
Blowfish, DragonFly, X2, dan Vertigo. Thalib resminya seorang pengacara. Dia 
pernah mendampingi artis kakak-adik Zaskia Adya Mecca dan Tasya Nur Medina, 
yang diculik oleh Novan Andre Paul Neloe. Ia juga menjadi anggota tim pengacara 
pengusaha Tomy Winata, ketika menggugat majalah Tempo pada 2005.

 

Thalib tercatat bekerja untuk kantor pengacara Victor B. Laiskodat & Associates 
di Melawai, Jakarta Selatan. Tapi, ketika Tempo mendatangi kantor ini, ia tak 
lagi bekerja di sana. "Lima tahun lalu sudah keluar," kata Mie Gebu, staf 
kantor ini. Beberapa orang yang berjanji bisa menghubungkan dia dengan Tempo 
juga gagal menemukannya. Ia juga tak pernah memenuhi panggilan polisi, yang 
menangani kasus Ampera.

 

Sumber Tempo di kalangan preman menyebutkan, Thalib merupakan pengganti Basri 
Sangaji. Ia menguasai tempat-tempat hiburan elite di Jakarta Selatan. "Termasuk 
lingkungan pasar Blok M-Melawai," katanya.

 

Adapun kelompok John Kei, menurut salah satu pentolannya, Agrafinus, berfokus 
pada jasa penagihan dan pengacara. Kelompok ini tidak masuk ke bisnis 
pengamanan tempat hiburan, perparkiran, ataupun pembebasan tanah. "Level kami 
bukan kelas recehan seperti itu," katanya. Sebab itulah, Daud Kei membantah 
tuduhan pertikaian di Blowfish dan Ampera dilatari perebutan lahan bisnis. 
"Kami etnis Maluku tidak ada bisnis penjagaan tempat hiburan," dia menegaskan.

 

Spoiler for John Kei:

http://img215.imageshack.us/img215/6264/johnkei.jpg 
http://img33.imageshack.us/img33/6264/johnkei.jpg

 

 

Namun, menurut seorang preman senior, pertikaian antarkelompok separah itu 
umumnya karena berebut suplai atau meminta jatah. Sebab, perputaran uang di 
tempat-tempat dugem (dunia gemerlap) itu luar biasa besar. "Bayangin aja, dari 
suplai tisu, snack, minuman, sampai narkoba ada," tuturnya.

 

Berbeda dengan John Kei, Umar Kei meluaskan bisnisnya ke pembebasan tanah, 
termasuk penjagaannya. Di lahan ini juga bermain Forum Betawi Rempug dan Badan 
Pembina Potensi Keluarga Besar Banten. Adapun perparkiran umumnya dipegang 
ormas lokal Betawi atau Banten, contohnya Haji Lulung.

 

Dari semua bisnis yang dilakoni kelompok etnis itu, sumber Tempo menuturkan, 
penghasilan terbesar ada di proyek pembebasan tanah. "Nilainya setara dengan 
uang jajan setahun," katanya. Mereka biasa menyebut penghasilan ini sebagai 
"jatah preman", yang dipelesetkan menjadi "jatah reman". Di tingkat kedua, 
penjagaan tempat hiburan malam. Kali ini jatahnya dipakai untuk "uang jajan 
sebulan". Sedangkan bisnis perpakiran menghasilkan jatah reman berupa "uang 
jajan harian".

 

Tak mengherankan bila dunia para jagoan ini sering diwarnai pertikaian, bahkan 
sampai berdarah-darah.

 

 

UPDATE !!!!!

ini ada tamabahan dari agan vickhen dan agan Felipe_Melo tentang profil si BANG 
UCU

Spoiler for BANG UCU:

 

Sejarah Preman Jakarta

 

29 September 2010 

Bentrokan antara kelompok Maluku (Kei) dan Flores (Thalib Makarim) ketika 
sidang kasus Blowfish di Jalan Ampera, di depan Pengadilan Negeri Jakarta 
Selatan. Korban tewas dari kelompok Maluku: Frederik Philo Let Let, 29 tahun, 
Agustinus Tomas (49), dan seorang sopir Kopaja Syaifudin (48).

 

31 Juli 2010

Bentrokan Forum Betawi Rempug (FBR) dengan Pemuda Pancasila, Forum Komunikasi 
Anak Betawi (Forkabi), dan Komunikasi Masyarakat Membangun Lapisan Terbawah 
(Kembang Latar) di Rempoa, Ciputat.

 

30 Mei 2010

Bentrokan antara massa Forkabi dan warga Madura di Duri Kosambi, Cengkareng. 
Ketua Forkabi Cipondoh Endid Mawardi tewas dibacok.

 

12 April 2010

Koordinator keamanan Koperasi Bosar Jaya, Logo Vallenberg, dikeroyok kelompok 
Umar Kei. Penyebabnya sengketa warisan antarkeluarga pemilik koperasi.

 

4 April 2010

Bentrokan di Klub Blowfish, Wisma Mulia, Jakarta, menewaskan dua orang dari 
kelompok Kei, M. Sholeh dan Yoppie Ingrat Tubun. Klub Blowfish dijaga kelompok 
Flores Ende pimpinan Tha-lib Makarim.

 

14 Desember 2009

Mantan karyawan PT Maritim Timur Jaya, Susandi alias Aan, dipukul dan ditendang 
di bagian kepala dan dada oleh Viktor Laiskodat, pemimpin Artha Graha Group.

 

11 Agustus 2008 

John Kei, pemuda Ambon, ditangkap Densus Antiteror 88 Kepolisian Daerah Maluku 
di Desa Ohoijang, Kota Tual. Dia diduga kuat terlibat penganiayaan terhadap dua 
warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra, yang menyebabkan jari kedua pemuda 
itu putus.

 

1 Juni 2008

Bentrokan Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan 
Beragama dan Berkeyakinan. Markas Besar Kepolisian RI menetapkan lima anggota 
FPI sebagai tersangka dalam pengeroyok-an dan pemukulan terhadap anggota 
Aliansi.

 

27 April 2006 

Ratusan anggota FBR mendatangi rumah artis Inul Daratista, menuntut Inul 
meminta maaf atas tindakannya menggelar demonstrasi menolak Rancangan 
Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi di Hotel Indonesia.

 

3 Februari 2006

Massa FPI mengamuk di depan kantor Kedutaan Besar Denmark, Menara Rajawali, 
terkait dengan pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di koran Denmark, 
Jyllands-Posten.

 

19 Desember 2005

Hercules bersama 17 anak buahnya menyerang kantor Indopos, Jakarta Barat, 
karena keberatan atas artikel berjudul �Reformasi Preman Tanah Abang, Hercules 
Kini Jadi Santun". Dia divonis hukuman penjara 2 bulan.

 

18 Juni 2005

Kelompok Maluku mengamuk dan merusak kantor pemasaran Perumahan Taman Permata 
Buana, Jakarta Barat. Mereka mengaku mewakili Aminah binti Ilyas, pemilik tanah 
yang sedang bersengketa dengan pengembang.

 

8 Juni 2005

Keributan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei saat sidang kasus 
pemukulan di Diskotek Stadium, Jakarta Barat. Kakak kandung John Kei, Walterus 
Refra Kei alias Semmy Kei, terbunuh di lahan parkir Pengadilan Negeri Jakarta 
Barat. Tindakan ini merupakan balas dendam atas pembunuhan Basri Sangaji dan 
bentrokan di Diskotek Stadium.

 

29 Mei 2005

Persatuan Pendekar Banten bentrok dengan Forkabi. Jahuri, 44 tahun, warga 
Cilampang, Banten, tewas, ditemukan di Gedung Serbaguna Perumahan Permata 
Buana. Bentrokan dipicu sengketa tanah.

 

1 Maret 2005 

Ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, dan celurit berhadapan di Jalan 
Ampera, Jakarta Selatan, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ketika 
sidang pembunuhan Basri Sangaji.

 

16 Februari 2005 

Bentrokan antara petugas Tramtib DKI dan kelompok Hercules yang menjaga lahan 
kosong di Jalan H.R. Rasuna Said Blok 10-I Kaveling 5-7, Jakarta Selatan. Adik 
Hercules, Albert Nego Kaseh alias John Albert, mati tertembak senjata Kasi 
Operasi Satpol Pamong Praja DKI Jakarta, Chrisman Siregar.

 

12 Oktober 2004

Basri Sangaji tewas diserang sepuluh preman dari kelompok John Kei di kamar 301 
Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan.

 

2 Maret 2004 

Bentrokan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei di Diskotek Stadium di 
kawasan Taman Sari, Jakarta Barat. Saat itu kelompok Basri menjaga diskotek dan 
diserang puluhan orang Kei. Dua penjaga keamanan dari kelompok Basri tewas.

 

7 Mei 2003

Bentrokan kubu Hercules dan Basri Sangaji di Kemang, Jakarta Selatan. 
Pertikaian menyebabkan Samsi Tuasah tewas akibat luka tembak di paha dan dada.

 

8 Maret 2003

David A. Miauw dan rekan, anak buah Tomy Winata, menyerang dan melakukan 
pemukulan terhadap tiga wartawan majalah Tempo. Tomy berkeberatan atas artikel 
Tempo edisi Senin, 3 Maret 2003, berjudul "Ada Tomy di Tenabang?" Kasus ini 
dibawa ke pengadilan.

 

28 Maret 2002

Tujuh anggota FBR menganiaya anggota Urban Poor Consortium pimpinan Wardah 
Hafidz di kantor Komnas HAM, Menteng.

 

12 Desember 1998 dan 15 Januari 1999

Kerusuhan antara kelompok Ambon muslim dan Kristen dipicu peristiwa Ketapang. 
Kerusuhan Ambon ditengarai akibat provokasi beberapa kelompok preman.

 

22-23 November 1998

Kerusuhan antara Ambon muslim dan Kristen di daerah Ketapang, Jakarta Pusat. 
Baku hantam dipicu terbunuhnya empat pemuda muslim pada kerusuhan Semanggi, 
menjelang Sidang Istimewa MPR.

 

29 Mei 1997

Dedy Hamdun, preman asal Ambon beragama Islam, diculik lalu hilang hingga kini. 
Suami artis Eva Arnaz ini bekerja membebaskan tanah bagi bisnis properti Ibnu 
Hartomo, adik ipar bekas presiden Soeharto. Sebelum hilang, Dedy aktif 
mendukung Partai Persatuan Pembangunan.

 

1996

Perang antara kelompok Betawi dan Timor pimpinan Hercules. Kelompok Timor 
hengkang dari Tanah Abang.

 

Laskar Jalanan

 

29 Juli 2001

FBR didirikan oleh KH Fadloli el-Muhir (almarhum) dengan jumlah pengikut saat 
pendirian 400 ribu orang.

 

18 April 2001

Forkabi dideklarasikan di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

 

10 Oktober 2000

Kelompok Laskar Merah Putih pimpinan Eddy Hartawan (almarhum). Kelompok pemuda 
ini pernah menjadi tenaga pengawal mendampingi Manohara Odelia Pinot.

 

Mei 2000

Angkatan Muda Kei (AmKei) didirikan oleh keluarga Kei dengan ketua John Refra 
atau John Kei. Organisasi terbentuk pascakerusuhan Tual, Maluku, pada Maret 
1999. Kelompok ini mengklaim memiliki 12 ribu pengikut.

 

17 Agustus 1998

FPI didirikan oleh Muhammad Rizieq bin Husein Syihab di Jalan Petamburan III 
Nomor 83, Jakarta Pusat. Beberapa jenderal TNI dan Polri mendukung pendirian 
FPI, di antaranya mantan Kepala Polda Metro Jaya Komisaris Jenderal Nugroho 
Jayusman.

 

1998 

Warga Betawi Tanah Abang mendirikan Ikatan Keluarga Besar Tanah Abang dan 
memilih jawara Tanah Abang, Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing, sebagai 
ketua umum hingga sekarang.

 

Masa Orde Baru: 

Tumbuh organisasi pemuda, seperti Pemuda Pancasila, Pemuda Panca Marga, Forum 
Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia, Yayasan Bina Kemanusiaan, dan 
belakangan organisasi Kembang Latar. Selain berbendera organisasi kepemudaan, 
ada kelompok informal yang sangat populer, seperti Siliwangi, Berland, Santana, 
dan Legos. Kelompok ini menjalankan usaha keamanan tempat hiburan serta 
sengketa lahan dan tempat parkir wilayah Jakarta Selatan.

 

Petrus

Pemerintah Orde Baru menekan kelompok preman dengan operasi rahasia "penembakan 
misterius" atau petrus. Investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak 
Kekerasan mencatat korban tewas petrus pada 1983 sekitar 532 orang, dan 
sepanjang 1984 dan 1985 sebanyak 181 orang.

 

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke