Nice info... akhir2 ini gw juga lagi mikirin soal ini... Terus terang gw cukup kaget dengan sekolah skrg... anak gw baru TK, tapi baru minggu kemarin gw ngerasa anak gw terlalu terbebani dengan yang namanya "sekolah"...
Pertama gw kaget, anak TK ada "ujian"... isinya, kemampuan berhitung, ngeliat angka yang kalau dihubungin pake garis bisa membentuk seekor binatang, ngelatih daya ingat dengan cara menebak 2 gambar yang sama secara tertutup setelah dikasih lihat secara keseluruhan.. sekolompok gambar orang dipilih untuk dipisahkan mana yang perempuan dan laki2... Kedua gw kaget, disuruh ngafalin puisi... Neh puisinya : Kucing ada dua Mani san putih bulunya Makan dan bermain bersama Tidur dibawah meja XXXXX XXX dan berkumis Malam mencari makan Pulang setelah kenyang. XXXX itu gw lupa kalimatnya karena gw hanya mendengar dari anak gw Cuma 1x dan baca 1x... Gw sampe bingung, antara mau marah krn anak gw terbebani, atau gw merasa kasihan atau gw juga bangga.... Bayangin, anak baru masuk TK tapi tingkat pelajarannya dah kayak gini... terus gw mikir, masa2 dia mainnya kapan?? Akhirnya gw Cuma bisa manggil anak gw, gw peluk sambil gw ajarin pelan2 cara bacanya... Gw coba flashback, sejak anak gw masuk TK, setiap malam tidur jam 9-10, padahal dulu namanya disuruh tidur susahnya minta ampun.. Sabtu, yang dulunya suka bangun pagi ikut gw ke kantor, skrg milih tidur, dirumah aja jawabnya Dah gitu setiap sore maunya main, dan walaupun bener2 keliatan "energi"nya dah habis, karena biasanya main maunya lama, skrg Cuma bentar aj dah minta stop... Dulu yg namanya main yg bayar 1 jam (dalamnya ada perosotan, bola2, dll) pasti kurang, minta nambah... skrg beda, kadang2 belum cukup 1 jam dah minta keluar, cape... padahal jenis permainan sama aj... Dan gw bandingin dengan anak gw yg ke 2, yg masih playgroup dan sekolahnya lebih banyak dan berorientasi main, bertolak belakang dengan cicinya, main susah berhenti, tidur bisa malam, krn "energi"nya masih banyak... Gw share ini karena gw "tergelitik" dengan hal ini... rasanya gw ngak habis pikir, apa yang salah, sekolah, kita ortu yg bekerja atau tuntutan jaman yg sudah berubah??? Oh iya, satu lagi... gw ngak mau sebut nama tempatnya dan gw denger publikasinya melalui radio tadi malam...akhir minggu ini katanya ada pesta halloween untuk anak2 sampe umur 19 tahun... temanya "scary and fun"... bikin tema yg artinya menyeramkan dan menyenangkan... hhaaalllooo, ini dunia anak2, apa ngak ada tema lain yang mendidik?... coba dong dibikin tema sendiri yang lebih mendidik... ajak anak2 bermain dengan cara yang benar... Coba gimana dengan agaers yg lain, yang sudah berkeluarga dan punya anak...atau yang masih singel... tuker pikiran yukkk... Salam, seorang.ayah.com. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of aga madjid Sent: Monday, October 22, 2012 10:41 PM To: daffa Subject: ~ aga ~ Sekilas Info Balita Diajarkan Calistung, Saat SD Potensi Terkena 'Mental Hectic' REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tdk buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa anak akan terkena 'Mental Hectic'. ''Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jgn bangga bagi Anda atau siapa saja yg memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,'' ujar Sudjarwo, Direktur PAUD Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7). Oleh krn itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada 'fitrah'-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dgn memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung. Saat ini banyak ortu yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, & mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ''Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,'' jelas Sudjarwo. Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pd anak untuk bermain, tanpa membebaninya dgn beban akademik, termasuk calistung. Dampak memberikan pelajaran calistung pd anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ''Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,'' cetusnya. Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ''Jadi tidak main-main itu, ada namanya 'mental hectic', anak bisa menjadi pemberontak,'' tegas dia. Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Utk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sdg gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group. -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
