*Eileen Rachman & Sylvina Savitri*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 08 Maret 2014*

Penjualan aplikasi WhatsApp dengan nilai triliunan rupiah, kepada Facebook,
tentu membuat kita geleng-geleng kepala. Pihak-pihak yang pernah menolak
Jan Koum, empunya WhatsApp, tentunya merasa sangat menyesal karena melepas
aset yang demikian berharganya. Facebook sendiri pun perusahaan yang
tadinya tidak kita anggap 'serius', namun kemudian membuktikan betapa
perusahaan dengan *knowledge-intensive*, berbasis servis dan berorientasi
pada modal manusia, bisa memiliki 'nilai' yang jauh lebih tinggi daripada
perusahaan yang 'di atas kertas' kaya dengan berbagai aset berwujud,
seperti peralatan dan bangunan. Inilah contoh nyata betapa kita harus
meyakini bahwa nilai perusahaan sangat berbeda dengan nilai buku yang ada
di catatan akunting. Betapa ketinggalan jaman bila kita masih melulu
berorientasi pada nilai buku, dan kemudian melupakan aspek '*intangible*'
yang tidak ternilai, yaitu 'manusia'-nya.

Sekarang ini kita berada dalam '*knowledge era*'. Semua orang perlu
menyadari betapa informasi adalah aset perusahaan yang maha penting, bahkan
bisa jadi lebih berharga daripada aset berwujud yang dimiliki organisasi.
Kita perlu ingat bahwa prinsip akunting yang kita gunakan saat ini dibangun
pada jaman revolusi industri, dan sangat berbasis industri, sehingga tidak
dapat menggambarkan 'nilai' dan 'kekayaan' perusahaan yang sebenarnya.
Meskipun analisis finansial dan akuntansi tetap penting, namun kita jelas
perlu memahami bahwa aset *intangible *seperti manusia, jelas sangat keliru
bila masih dianggap sebagai biaya atau '*cost*'. Manusia jelas bukan lagi
beban, bukan sekedar nomor, juga tidak bisa diwakili dengan kertas CV-nya,
atau portofolionya. Manusia yang dinamis-lah yang justru  punya pemahaman
terhadap informasi dan bisa mengolahnya menjadi produk atau servis yang
bisa diciptakan dalam model bisnis yang baru. Manajemen manusia saat
sekarang jelas bukan main-main.

Brian Bissaker, seorang CEO perusahaan finansial di australia mengatakan
bahwa 70% kegiatannya difokuskan pada *'people management'.* Ini tentunya
tidak diyakini oleh* shareholder* dengan mudah, karena baik upaya dan
hasilnya sangat tidak teraga. Padahal, hanya perusahaan dengan
manusia-manusia yang dinamis, kompak dan berpikiran majulah yang bisa
berperan sebagai *'thought leader'* dalam dunia bisnisnya. Perusahaan yang
misalnya percaya pada komunikasi intranet, media sosial, dan
mempertimbangkan gaung baik ke luar maupun ke dalam , tentunya mempunyai
dampak yang tidak kecil ke karyawan. Banyak orang luar yang ingin bekerja
di perusahaan yang '*friendly*', baik ke luar maupun ke dalam. Ini saja
sudah mempermudah rekrutmen, bila perusahaan memerlukan telenta
tambahan. *"Word
of mouth*' oleh karyawan, referal karyawan *intern *dalam rekrutmen, bukti
bahwa karyawan sangat mampu dan lancar belajar, adalah harta perusahaan
model baru. Tantangan kita di jaman modern ini jelas-jelas membuat manusia
dalam organisasi mampu mendongkrak 'value' perusahaan.

*Talent Proficiency*
Sebuah bank terkemuka di Indonesia sudah lama lantang mengatakan pentingnya
manusia sebagai aset. Namun, tetap saja terasa bahwa manusianya sendiri
tidak merasa sebagai aset yang berharga. Pekerjaan dianggap sebaagai
keharusan, kreativitas tidak tumbuh subur dan ujungnya, hubungan manusianya
dengan perusahaan adalah hubungan finansial, seperti layaknya yang ada di
laporan keuangan saja. Di sisi lain, ada sebuah grup perusahaan yang
bisnisnya lebih banyak didominasi kegiatan lapangan, sepintas lalu
kelihatan tidak mementingkan manusianya, namun dalam kelas pelatihan
menunjukkan betapa bersemangatnya mereka dalam belajar. Para manager
lapangan membuat '*surprise*' karena menunjukkan sikap kritis, kegiatan
mencatat semua yang dianggap penting, bahkan aktif ber'main' ketika '
*roleplay*'. Dengan mudah kita bisa membayangkan bahwa perusahaan yang
bergengsi , dengan manusia yang statis, tak akan mampu berlari dan menari
menghadapi situasi yang berganti, dibanding dengan perusahaan yang berisi
manusia yang yang gampang di 'isi' dan selalu '*in the ready*' begini.
Betapa ketinggalan jaman jika kita tidak pandai membuat analisis '*human
capital*', dan mengabaikan program untuk mengisi, memperkuat,
meng-*engage *manusia
di organisasi kita. O Donnell seorang ahli manajemen SDM juga mengatakan
juga :
*"it is the human capital analysis of a business that really gets to the
heart of an organisation's ability to execute on its strategy". *
*Kekuatan Talenta, Kekuatan Emosi *
Kata 'cinta' dalam sebuah kegiatan bisnis  bisa kedengaran 'lebai'. Namun,
sebetulnya kita kita bisa mengambil inti dari 'emosi' hubungan
interpersonal ini dalam upaya pengembangan '*people power*'. Kita tahu
cinta akan menumbuhkan emosi yang dapat menghasilkan '*power*'. Dalam
organisasi, bukankah kita juga butuh '*power*', bahkan '*superpower*' untuk
berprestasi, belajar, berkreasi? *Power *ini ada dalam interaksi sosial,
bagaimana relasi kita satu sama lain, bagaimana orang berusaha di dengar
dan mendengar, bagaimana menentukan prioritas bersama, atau mengeroyok
pekerjaan bila diperlukan. Bukankah bisa dikatakan bahwa hal ini seperti
bekerja penuh cinta?  Hubungan kerja yang romantis di mana individu saling
mengerti dan saling 'suka' satu sama lain adalah hubungan  tim produktif
yang ideal sekarang ini.

Keintiman ini hanya bisa dilakukan bila tiap anggota tim perlu berbagi.
Bila terbangun keintiman tingkat tinggi, akan tercapailah '*shared power*'.
Ini bukan jaman di mana '*power*' disamakan dengan pemaksaan dan penekanan.
'*Power*' justru didapat dari kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang
lain, kekuatan untuk merangsang teman sekelompok untuk mengejar sasaran
yang jauh ke depan. Unsur-unsur atensi, respek, jati diri, *fairness *,
pembenahan hubungan dan empati terhadap kesejahteraan bersama menjadi harta
perusahaan yang sakti dan memungkinkan perusahaan menyambut tantangan
sesulit apapun. Sekaranglah waktunya kita betul-betul memanfaatkan akal
budi manusia, disamping sumber daya lain di sekitar kita.






*EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Kemang 89 Building, 3rd
- 4th Floor Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730 Telp. 021-718 0805 Fax.
021-718 3101*





-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke