Empat Mujarab Penakluk si Manis

Sendok dan garpu baru saja lepas dari genggaman tangan Aris Anwari. Direktur 
Kepatuhan Bank DKI itu usai menyantap makan siang. Ironisnya, ia malah lelah 
dan mengantuk. Keesokan harinya, saat bangun tidur, ia bergegas mengambil 
glukometer. Jarum runcing di ujung penlate (alat tusuk berbentuk pulpen, red) 
itu ditusukkan di jari tangan kanan. Beberapa saat darah segar mengucur.

Kedua matanya terbelalak melihat angka yang tertera di alat itu. Kadar gula 
darahnya 480 mg/dl. Itulah kadar gula tertinggi sejak ia mengidap diabetes 
mellitus. Ia hafal betul: mengantuk usai makan, kadar gula darah meningkat. 
Maklum, penyakit itu bersemayam di tubuhnya sejak 1985. Sejak itu pula ia 
terus-menerus mengkonsumsi obat antidiabetes. Frekuensinya 2 kali sehari, 
setelah makan siang dan sebelum tidur masing-masing 1 tablet.

Demi mengontrol gula darahnya, ia rutin memeriksakan diri ke dokter setiap 
bulan. Namun, jika gula darah melonjak, ia mondar-mandir ke dokter setiap 
pekan. Selain memberi obat antidiabetes, dokter pun selalu menyarankan untuk 
mentaati diet dan berolahraga teratur.

Selain mengkonsumsi obat dokter, Aris rajin melakukan treadmill selama 40 menit 
setiap hari. Namun, upayanya hanya sanggup menurunkan kadar gula darah hingga 
300 mg/dl. Setahun silam, koleganya menawarkan virgin coconut oil (VCO) yang 
konon berkhasiat menurunkan kadar gula darah. Karena aman dikonsumsi dengan 
obat dokter, ia pun membeli VCO kapsul. Setiap hari, Aris mengkonsumsi 2 kali 
yaitu saat pagi dan selepas makan malam masing-masing 2 kapsul.

Setahun sudah Aris mengkonsumsi VCO, selama itu pula ia merasakan manfaat 
minyak kelapa murni itu. “Kadar gula darah menurun menjadi 140-200 mg/dl,” kata 
pensiunan Bank Indonesia itu. Memang hasil itu masih di atas kadar normal, 
70-110 mg/dl. “Saya suka makanan manis dan berlemak, jadi dietnya terkadang 
sering dilanggar,” tutur pria kelahiran Kudus itu. Namun, “Badan saya lebih fit 
dan jarang mengantuk lagi,” ujarnya.
Glukosa terbuang

Menurut Prof Dr dr Susilo Wibowo SpAnd, spesialis andrologi dari Universitas 
Diponegoro, diabetes disebabkan kegagalan kelenjar pankreas memproduksi hormon 
insulin. Hormon itu berperan mengatur kadar gula darah. Jika kadar gula darah 
melebihi normal, menyebabkan ginjal ikut mengeluarkan gula bersamaan dengan 
urine. Gula bersifat menarik cairan sehingga volume air kemih berlebihan. 
Akibatnya, penderita kerap berurine. Karena kehilangan banyak cairan, penderita 
pun gampang haus. Di lain pihak, glukosa yang terbuang percuma bersama urine 
menyebabkan tubuh kehilangan energi. Penderita menjadi gampang lelah dan mudah 
lapar.

Untuk pengobatan diabetes, para dokter menganjurkan 3 cara: pengaturan diet, 
penggunaan obat antidiabetes, dan olahraga. Menurut dr M Masjhoer MS Med SpFK, 
ahli farmakologi klinis di Universitas Diponegoro, obat antidiabetes yang biasa 
digunakan: golongan sulfonilurea, yang berperan merangsang produksi insulin; 
biguanida, menurunkan kadar glukosa pada hati; acarbose, menghambat penyerapan 
gula oleh saluran cerna; dan thiazolidinediones (TDZ), meningkatkan 
sensitivitas insulin dan mengurangi output glukosa di hati.

Bagaiman cara kerja VCO menuntaskan diabetes? Ahli andrologi RS Karyadi, 
Semarang itu menyebutkan asam laurat dan kaprilat pada minyak kelapa murni 
merangsang sekresi insulin di sel-sel langerhans pankreas.
Cegah komplikasi

Keampuhan VCO tak hanya sanggup mengontrol gula darah. Minyak perawan itu juga 
mampu mencegah timbulnya penyakit komplikasi diabetes. Tubuh yang mendapat 
asupan lemak jenuh rantai sedang-seperti VCO-mampu mencegah kerusakan hati 
akibat pemakaian alkohol dan stres oksidatif. Efek itu disebabkan kandungan 
asam linoleat VCO yang mencapai 1,3%.

Asam linoleat bekerja dengan cara menurunkan peroksidasi lemak sehingga tidak 
terjadi reactive oxygen species (ROS)-seperti superoksida-yang terlalu tinggi. 
Produksi superoksida berlebih akan bereaksi dengan nitrit oksida (NO) membentuk 
formasi baru yaitu peroksinitritoksidan yang berifat toksik. Jika hal itu 
terjadi, maka muncul penyakit jantung, stroke, dan rusaknya kekebalan tubuh 
pada penderita diabetes.

Selain Aris Anwari, yang juga memilih pengobatan tradisional untuk mengatasi 
diabetes adalah dr Pieter A W Pattinama, MPH. Namun, ia menggunakan jeli 
teripang. Derita luka menganga di kaki akibat diabetes yang diidap sejak 1972, 
perlahan menutup. Kadar gula darah pun menurun drastis. Semula 500 mg/dl, 
menurun hingga 160 mg/dl dalam 2 bulan.

Menurut Dr Ir M Ahkam Subroto, M App Sc, periset Bioteknologi LIPI, kandungan 
protein tinggi pada teripang yang mencapai 82%, baik diberikan kepada penderita 
diabetes. Protein tinggi berperan meregenerasi sel beta pankreas yang 
memproduksi insulin. Hasilnya, produksi insulin meningkat. Menurut dr Oetjoeng 
Handajanto, di Bandung, selain diberikan untuk konsumsi oral, jeli teripang 
juga digunakan untuk mengobati luka gangren pada penderita diabetes. Berkat 
kandungan kolagen yang tinggi, jaringan sel mati pada luka teregenerasi 
sehingga mempercepat penyembuhan.
Buah merah

Herbal lain yang juga berpotensi mengobati diabetes adalah buah merah. Hasil 
riset yang dilakukan Dr Ir M Ahkam Subroto M App Sc, menunjukkan, buah merah 
berpotensi mengontrol gula darah. “Ada 2 strategi pengobatan diabetes, yaitu 
dipacu produksi insulinnya dan dihambat kerja enzim alfaglikosidase-nya,” papar 
Ahkam. Cara kerja buah merah tidak merangsang produksi insulin, tetapi 
menghambat enzim alfa-glikosidase. Enzim itu berperan mendegradasi karbohidrat 
yang masuk ke dalam tubuh menjadi glukosa. Bila enzim itu dihambat, proses 
konversi karbohidrat menjadi glukosa bisa ditekan.

Buah merah juga baik untuk meningkatkan efektivitas kerja insulin mengatur 
kadar gula darah. Ahkam menduga, cara kerja buah merah itu disebabkan asam-asam 
lemak yang terkandung dalam anggota famili Arecaceae itu. Konsumen harus 
memperhatikan dosis konsumsi. Untuk penderita diabetes, Ahkam menganjurkan 
untuk mengkonsumsi 2 kali saat pagi dan sore masing-masing 1 sendok makan.

Jika harus memilih antara buah merah dan VCO, Ahkam menyarankan penderita 
diabetes sebaiknya memilih VCO. Meski hanya bekerja dengan satu cara, yaitu 
merangsang produksi insulin, peran VCO lebih efektif. Sedangkan peran buah 
merah sebagai penghambat enzim alfa-glukosidase, kurang efektif karena enzim 
itu hanya bekerja jika konsumsi karbohidrat berlebih.

Tumbuhan obat asal Papua lainnya yang akhir-akhir ini populer adalah sarang 
semut. “Sarang semut belum terbukti empiris untuk diabetes,” kata Ahkam. Sarang 
semut tidak bisa mengontrol gula darah, tetapi bisa sebagai pelengkap 
pengobatan diabetes. Kandungan antioksidan pada sarang semut berperan 
meningkatkan kekebalan tubuh dan melancarkan pembuluh darah yang tersumbat 
tumpukan gula.

Dokter Masjhoer berpendapat, penderita diabetes sebaiknya menghindari 
mengkonsumsi sarang semut. Pasalnya, kadar karbohidrat sarang semut cukup 
tinggi yaitu 78,94 g. Namun, Ahkam menandaskan, karbohidrat sarang semut adalah 
karbohidrat kompleks sehingga tak sempat diolah tubuh menjadi glukosa. Jadi, 
tetap aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Uji klinis

Meski VCO, buah merah, dan teripang yang secara empiris berkhasiat meredakan 
gula darah penderita diabetes, tak sertamerta bisa dianggap sebagai obat. 
“Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menurut kaidah farmakologi,” kata dr 
Masjhoer. Khasiat suatu herbal tak bisa disimpulkan hanya dari kandungan gizi 
atau senyawa aktifnya. Apalagi kandungan senyawa atau gizi itu masih bersifat 
global.

Pada sarang semut misalnya, diketahui mengandung karbohidrat, protein, lemak, 
vitamin, dan mineral yang umum terdapat pada tanaman obat lain. Kandungan 
flavonoid dan tanin pun belum diketahui secara spesifi k. Sebab, flavonoid dan 
tanin banyak jenisnya. Jadi, “Saya tidak bisa menjelaskan, senyawa mana yang 
berperan meredakan kadar gula darah dan bagaimana cara kerjanya,” kata Masjhoer.

Begitu pun betakaroten dan tokoferol yang terdapat pada buah merah. Menurut Dr 
Erni H P MSc, farmakolog di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, “Itu 
sejenis vitamin. Keduanya tak menyembuhkan,” katanya. Masjhoer berpendapat, 
untuk mengetahui cara kerja suatu herbal, perlu diuji klinis pada manusia. 
Caranya, membandingkan efek antara pasien yang mengkonsumsi herbal dan pasien 
yang mengkonsumsi obat antidiabetes sintesis kimia yang sudah mapan di pasaran. 
Jika hasil perbandingan itu sejalan, maka cara kerja herbal bisa diasosiasikan 
dengan cara kerja golongan obat sintesis kimia yang diperbandingkan.
Keamanan

Hal senada disampaikan dr H Arijanto Jonosewojo SpPD, ahli penyakit dalam RS Dr 
Soetomo, Surabaya. Meski penelitian VCO teruji klinis di luar negeri, tetap 
harus diujikan pada orang Indonesia. “Jenis penyakit dan pengobatan terkadang 
dipengaruhi faktor genetik,” ujar kepala Poliklinik Obat Tradisional RS Dr 
Soetomo itu. Herbal yang biasa dipakai orang Eropa, belum tentu cocok untuk 
orang Indonesia. “Jadi harus berhati-hati,” katanya.

Namun, usaha itu tampaknya dilakukan oleh beberapa dokter. Dokter Philemon 
Konoralma SpPD, misalnya. Dokter yang berpraktek di RS Mardi Rahayu, Kudus, 
Jawa Tengah, itu, tergerak untuk menguji khasiat VCO bagi kesehatan. Sebelum 
menguji pada para pasien, ia mencoba menguji khasiat VCO untuk dirinya sendiri 
dan ayah mertua yang menderita diabetes sejak lama.

Pada 24 September 2005, ayah mertua-Yosep Dara-mengkonsumsi VCO 3 kali sehari 
masing-masing 1 sendok makan. Sejak mengkonsumsi VCO, konsumsi glibenklamid 
dihentikan. Hasil pemeriksaan gula darah Yosep Dara menunjukkan: pada 24 
September 2005 (137 mg/dl), 25 September 2005 (178 mg/dl), 28 September 2005 
(199 mg/dl), 2 Oktober 2005 (159 mg/dl). Gula darah terkontrol pada angka 97 
mg/dl, 200 mg/dl, 134 mg/dl, 105 mg/dl, 119 mg/dl, dan 135 mg/dl. Gula darah 
terkontrol juga dialami Philemon. Ia berkesimpulan, VCO dapat mengontrol gula 
darah.

Melihat kondisi dirinya dan sang ayah mertua, dr Philemon mulai meresepkan VCO 
kepada para pasien. Salah satunya Komariah yang menderita diabetes sejak 10 
tahun silam. Saat diperiksa darah pada 10 November 2005, gula darah mencapai 
185 mg/dl. Seminggu mengkonsumsi VCO, ia kembali memeriksa kadar gula darah. 
Pada 17 November 2005, kadar gula darah turun menjadi 98 mg/dl, 22 November 
2005 (112 mg/dl), dan 3 Februari 2006 (117 mg/dl). Bahkan, sakit ulu hati dan 
konstipasi yang kerap menyertai juga hilang.

Kalangan medis berharap, uji klinis juga dilakukan pada herbal-herbal lainnya. 
Menurut dr Arijanto, mengkonsumsi herbal yang terpenting tak hanya khasiat, 
tetapi juga keamanan. Oleh sebab itu, sebelum uji klinis, perlu dilakukan uji 
praklinis seperti uji toksisitas untuk mengetahui dosis aman, dosis efektif, 
dan efek terhadap organ tubuh lainnya.

Sayang, rangkaian uji klinis butuh waktu panjang. Meski begitu, dr Arijanto 
berpendapat, tidak keberatan jika masyarakat menggunakan herbal meski baru 
lolos uji praklinis. “Minimal diketahui faktor keamanan dan efek sampingnya,” 
katanya. Dr Willi Japaries MARS, pengobat herbal di Jakarta, menyarankan untuk 
menghentikan pengobatan jika terjadi perubahan pada fisik. (Imam 
Wiguna/Peliput: Destika Cahyana, Evy Syariefa, Rosy Nur Aprianti, & Vina 
Fitriani)

Senin, 14 Agustus 2006 12:15:05
Oleh trubus






REKOMENDASI MILIS:
http://groups.yahoo.com/group/hatihatilah
http://groups.yahoo.com/group/relasimania
http://groups.yahoo.com/group/ebookmaniak
http://groups.yahoo.com/group/agromania
http://groups.yahoo.com/group/katasibijak
http://groups.yahoo.com/group/mobilemaniak
http://groups.yahoo.com/group/indogitar
http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu
http://groups.yahoo.com/group/satuXsatu

TIPS PENCARIAN DI GOOGLE:  daftar alamat pembeli agrobisnis / agribisnis, 
daftar alamat penjual dan pembeli Indonesia dan mancanegara, diskusi dan teori 
agribisnis, cara melakukan ekspor, buah-buahan, sayur-sayuran, ternak, kebun, 
taman, tanaman, tanaman obat (herbal), mesin pengolahan, mesin pertanian, 
makanan, minuman, ikan hias, hutan, pupuk, ikan, ikan laut, benih, biji, 
kacang-kacangan, daging, rempah-rempah, budidaya, hidroponik, hortikultura, 
sapi, ayam, burung, kambing, sawit, minyak sawit, bonsai, walet, anggrek, 
minyak atsiri, udang, kayu, lada, vanili, kopi, coklat, kacang, nilam, markisa, 
durian, lebah madu, pisang, bekicot, salak, ubi kayu, jagung, karet, eksportir 
/ importir, penjual / pembeli, waralabais (pengusaha waralaba), produsen, 
wiraswasta, petani, informasi jasa, iklan produk agribisnis, informasi lowongan 
bidang agrobisnis, forum diskusi, konsultasi, daftar alamat, informasi harga, 
pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, agroindustri, agro 
indonesia. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke