Barusan saya membaca ini dan terpanggil saya untuk share juga buat rekan2
disiniĀ…

Jutawan Kerupuk

Anda ingin mengetahui seberapa banyak orang Indonesia yang gemar makan kerupuk ?
Hanya dengan kerupuk, Supardi (55) pengusaha kerupuk tradisional yang dengan
kerja kerasnya selama puluhan tahun bisa menghantarkannya menjadi seorang
jutawan.

Tahu itu kerupuk ? Bagi saya itu makanan favorit saya yang akrab di telinga
sebagian besar rakyat kecil di Indonesia. Makanan ringan yang terbuat dari
tepung ini banyak dijumpai di warung kaki lima dan jarang dijumpai di restoran
mewah. Tidak salah kemudian bila kerupuk, oleh sebagian orang Indonesia justru
menjadi anekdot untuk memperolok seseorang yang berbadan kurus dan dipandang
kurang gisi.

"Saat pertama mengawali usaha pembuatan kerupuk saya percaya bahwa suatu saat
nanti kerupuk bisa menjadi makanan yang mahal dan digemari oleh semua orang baik
itu kelas menengah atas maupun bawah, " kata Supardi kepada The Jakarta Post.


################ INFO ################
AGROMANIA menerima penitipan contoh
Komoditi atau produk yang akan Anda pasarkan.
Syaratnya, kemasannya kecil, tahan lama, tidak
berbau, dan bukan makhluk hidup. Brosur dan
foto juga dapat kami terima. Silahkan kirimkan
contoh komoditi Anda ke alamat kami untuk
kami bantu pasarkan ke relasi dan mitra kami.

AGROMANIA (online sejak 1 Agustus 2000)
SMS AGROMANIA: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9
EMAIL: [EMAIL PROTECTED]
ALAMAT: Jl.Jambu No.53, Pejaten Barat 2,
Jakarta Selatan 12510
################ #### ################


Supardi bukanlah ahli ekonomi ataupun bisnis. Ia hanyalah pria yang tidak sampai
tamat Sekolah Dasar. Membaca dan menulis saja ia tidak fasih. Tidak jarang bila
berhadapan dengan kontrak jual beli yang melibatkan kemampuan baca tulis,
Supardi meminta bantuan kepada Mulyandi, putra ketiga dari empat bersaudara yang
saat ini sedang melanjutkan pendidikan pasca sarjana Ekonomi dan bisnis di
perguruan tinggi swasta untuk menterjemahkannya.

Sejak berumur 8 tahun, Supardi yang dilahirkan dari keluarga buruh tani di desa
Gemulung Kabupaten Sregen Jawa Tengah menjadi yatim piatu. Kedua orang tuanya
meninggal karena penyakit. Kondisi ekonomi saat itu membuat penyakitnya tidak
bisa ditangani secara medis karena tidak mampu membayar rumah sakit.

Sepeninggal kedua orang tuanya, Supardi diasuh oleh salah satu saudaranya yang
rumahnya tidak jauh dari kediaman orang tua Supardi. Mengingat kondisi ekonomi
pengasuhnya itu membuat Supardi terpaksa putus sekolah.

Untuk mencukupi kebutuhannya, Supardi pun bekerja sebagai pencari rumput makanan
ternak. Ia tidak diberi upah bulanan, melainkan mendapatkan upah tahunan berupa
seekor kambing. Masa kecilnya pun dihabiskan dengan bekerja pagi hingga sore
hari. Tidak ada waktu baginya untuk bermain dengan teman-temen sebayanya.

"Saat bekerja saya sering melamun menjadi orang kaya. Seringnya melamun justru
membuat tangan saya terluka akibat tersayat alat pencabut rumput," katanya
sambil menunjukkan jemari tangan yang menghitam bekas luka.

Hari demi hari ia lalu dengan bekerja di tengah sengatan terik matahari. Hingga
akhirnya, upah seekor kambing pun ia terima sebagai tanda kerja kerasnya.
Kambing itu pun dijualnya, kemudian uang diserahkan kepada pengasuhnya untuk
digunakan sebagai penopang hidup.

Tahun demi tahun berikutnya ia lalui seperti biasa. Saat berumur 17 tahun,
Supardi berniat untuk merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Dengan modal
minim dan sepotong pakaian, ia meninggalkan desanya menuju Surabaya.

Di kota Pahlawan ini ia berharap bisa bekerja menjadi buruh pabrik. Namun
sialnya, setelah berulangkali melamar pekerjaan, tidak ada satupun yang mau
menerimanya.

"Saat itu saya hampir putus asa karena sudah tidak punya uang di saku. Apalagi
di kota Surabaya, saya tidak punya saudara. Tetapi saya harus optimis bahwa saya
tidak akan menjadi gelandangan karena tidak mempunyai tempat tinggal, " katanya.

Salah satu rekannya seperantauan mengajak Supardi membuat dan kemudian menjual
kerupuk yang saat itu harganya masih Rp 1,-. Untuk modal pertama, rekannya itu
yang membiayainya.

Setiap hari, ia harus menjual kerupuk dengan berjalan kaki sejauh lebih dari 40
kilometer dengan membawa bakul jinjingan. Satu per satu ia mendapatkan
pelanggan. Hingga akhirnya, ia mampu membayar hutang kepada rekannya yang
memberikan pinjaman modal.

Keuntungan pun ia dapatkan dan sebagian penghasilan itu dibelanjakan untuk
membeli sepeda pancal. Dengan mengayuh sepeda barunya itu, Supardi menjangkau
area yang lebih luas lagi. Jumlah pelanggannya pun bertambah.

Beberapa tahun kemudian, ia membeli sepeda motor. Hingga akhirnya, saat ini
Supardi menjadi pengusaha kerupuk terbesar di Surabaya yang mempunyai 80 orang
pekerja. Penghasilannya lebih dari Rp 10 juta per hari.

Dengan penghasilan tersebut, Supardi memiliki dua mobil mewah seharga diatas Rp
200 juta, tanah sawah seluas lebih dari 60 hektar, dan 3 rumah yang
masing-masing berukuran diatas 600 meter persegi. Itupun belum termasuk uang
dalam bentuk tabungan dan aset tak bergerak lainnya.

Anda bisa menghitung berapa jumlah penggemar kerupuk di Indonesia bukan setelah
melihat berapa aset Supardi ?

Prospek Bisnis Kedepan

Bagaimana seorang yang tidak lulus SD bisa mengelola bisnis ? Apalagi sejak
kecil ia bukanlah dilahirkan dari keluarga pedagang seperti orang China di
Indonesia yang mayoritas sejak lahir akrab dengan dunia dagang ?


Ketika 60 pengusaha kerupuk di Surabaya gelisah dengan kenaikan harga minyak
goreng dari Rp 9000,- per liternya menjadi Rp 14.000,- per liternya, Supardi pun
mengalami nasib yang sama. Saat itu, ia terpaksa menaikkan harga kerupuk dari Rp
200,- menjadi Rp 250,- per buahnya.

Namun, kerupuk yang telah dinaikkan harganya itu ternyata tidak laku di pasaran
pasalnya semua pedagang menolak harga tersebut dengan alasan konsumen enggan
membelinya. Sehingga kerupuk yang seharusnya terjual, kini tertimbun di
gudangnya. Hari itu kerugiannya mencapai Rp 5 juta.

"Ini merupakan pilihan sulit bagi saya, tetapi saya bertekad terus memproduksi
kerupuk hanyalah demi melayani konsumen saya. Tetapi konsumen ternyata menolak
dengan harga itu, " katanya.

Setelah menderita kerugian, tanpa berpikir panjang dalam menyusun strategi
penjualan, Supardi memutuskan tetap berproduksi dengan harga Rp 200,- namun
ukuran kerupuk diperkecil dari ukuran biasanya.

Tidak takut rugi lagi ? "Sejak dahulu saya selalu tidak pernah berpikir panjang
dalam menjual. Bagi saya yang penting konsumen tidak kehilangan makanan kerupuk.
Lebih baik rugi lagi ketimbang membuat konsumen kecewa, " katanya.

Beruntunglah strategi tanpa berpikir panjang Supardi bisa diterima oleh pasar.
Konsumen menerima kerupuk dengan ukuran lebih kecil ketimbang harga kerupuk
dinaikkan.


Industri kerupuk, kata Supardi, telah terbiasa dengan pahit getirnya sebuah
usaha. Kerupuk yang di era tahun 80-an pernah seharga Rp 1,- terus naik hingga
harga saat ini. Kenaikan harga kerupuk lebih banyak terpengaruh oleh kenaikan
harga bahan baku, misalnya tepung terigu, minyak tanah dan minyak goreng.


Sejak harga minyak tanah naik secara berlahan mulai tahun 2004 lalu, Supardi
menggantikannya dengan kayu bakar. Sehingga ketika minyak tanah yang langka di
Surabaya akibat program konversi minyak tanah ke elpiji, Supardi tidak bingung.

"Kalau harga minyak goreng naik itu yang paling membingungkan sebab tidak
mungkin ada bahan pengganti selain minyak goreng, " katanya.



Supardi telah berusaha menggantikan minyak goreng dengan pasir. Namun cara itu
gagal karena hasil gorengannya tidak maksimal dan rasa dari kerupuk jauh
berbeda.



Meskipun dilanda dilema pasca kenaikan minyak goreng, namun Supardi optimis
bisnis kerupuk akan semakin cerah di tahun mendatang. Sebab, rasa kerupuk yang
tidak bisa tergantikan dengan rasa makanan ringan lainnya.



Ya, kini kalau sudah sedikit mahal, kerupuk bukan saja menjadi makanan ringan
kaum miskin, tetapi juga kaum menengah keatas. Buktinya, Supardi yang berencana
memiliki rumah lagi berhasil "makan" hanya dengan berjualan kerupuk.(INDRA
HARSAPUTRA)

Senin, 2008 Maret 24 | Diposting oleh David Indra Harsaputra di 01:41

Kirim email ke