DAhlan Iskan menulis artikel di bawah, semata-mata hanya 
mengutip isi dari buku "Miracle Of Enzyme" karangan Dr. 
Hiromi Shinyae. Untuk lebih bijak, disarankan membaca 
langsung dari sumbernya.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
PEMINAT MEMBLUDAK, SILAHKAN PROMOSIKAN USAHA ANDA!
Kami membuka kesempatan mempromosikan usaha & bisnis Anda di dengan biaya murah 
& efektif di acara TEMU PENJUAL-PEMBELI AGRO 2009 (6 & 7 Juni 2009, Balai 
Sidang Senayan Jakarta) dengan cara: pasang standing banner, titip brosur atau 
kartu nama, atau pasang iklan di buklet promosi. Info lengkap lihat di: 
http://www.agromall.co.cc
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
BERGABUNG: http://www.milisabc.co.cc

On Sun, 17 May 2009 18:48:49 -0700 (PDT)
  hery winarno <[email protected]> wrote:
> Pak Eka Budhi,
>  
> Benar kata bapak, 
>  
> Kebetulan kami dulu saat kecil dan juga sampai saat ini 
>sering beli dan mengkonsumsi Susu sapi perah juga 
>Kambing yang diantar/dibawa pakai sepedah ditaruh di 
>karung yang ber-kantong2, Alhamdulillah tidak ada 
>masalah, sehat2 dan baik2 saja.
>  
> Sebelum diminum susu yang dari pengider pakai sepedah, 
>kita rebus dan ditambah pemanis dari syrup Marjan sesuai 
>rasa yang kami inginkan.
>  
> Makanya saya heran dengan tulisan tersebut, apa tendensi 
>menulis artikel tersebut.
>  
> Di Indonesia banyak peternak sapi perah yang menjalankan 
>usaha tersebut untuk menghidupi keluarga, saya berharap 
>kita tidak terpancing isu2 yang dengan alasan macam 
>tersebut yang mengatas namakan Prof, Dr, etc.
>  
> Kenapa ada Calustrum yang sangat terkenal dengan 
>kelebihanya / advantages-nya, yang dibuat dari susu sapi 
>dan dijual dengan harga tidak murah dan banyakdikonsumsi 
>masyarakat. Sampai saat ini saya belum pernah dengar yang 
>minum susu sapi dan product olahan dari susu sapi menjadi 
>sakit seperti yang dialami "dahlan iksan" , kemungkinan 
>sakitnya dia karena other things.
>  
> Maaf bapak2 agromaniasekalian, saya bukan peternak sapi 
>perah lho, semoga saja peternak sapi perah kita tidak 
>berkecil hati, dan bisa cari option/pilihan untuk 
>menjual/mengolah hasil susunya supaya tidak rugi dengan 
>harga susu yang jatuh saat ini yng saya dengar dan baca 
>dari koran.  
>  
> Btw, harapan saya kita tidak mudah terpancing isu yang 
>bisa menghancurkan Peternak, Petani  dan Producer anak 
>bangsa / bumi putera.
>  
> Salam,
> HW 
> 
> NDAK IKUT NYESEL!!
> ******************************************
> Acara Temu Penjual-Pembeli Agro 2009
> PELAKSANA: Agromania, Deptan RI & Wahyu Promocitra 
> PENDUKUNG: Kadin, Gapmmi, Ina, Ekonid, dll
> TANGGAL: 6 s/d 7 Juni 2009
> TEMPAT: JCC (Balai Sidang Jakarta)
> BIAYA: Rp 250ribu (disc.10% untuk anggota ABC)
> PENDAFTARAN: http://www.agromall.co.cc
> PESAN-ANTAR TIKET: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
> ******************************************
> BERGABUNG: http://www.milisabc.co.cc
> 
> --- On Sun, 5/17/09, eka budhi sulistyo 
><[email protected]> wrote:
> 
> 
>From: eka budhi sulistyo <[email protected]>
> Subject: Bls: [agromania] Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan 
>Untuk Manusia
> To: [email protected]
> Date: Sunday, May 17, 2009, 10:39 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> harus ada penjelasan lanjutan tentang artikel ini ... 
>hal ini harus disikapi dengan bijak dan penuh penjelasan
> 
> best regards,
> 
> ekabees
> 
> NDAK IKUT NYESEL!!
> ************ ********* ********* ********* ***
> Acara Temu Penjual-Pembeli Agro 2009
> PELAKSANA: Agromania, Deptan RI & Wahyu Promocitra 
> PENDUKUNG: Kadin, Gapmmi, Ina, Ekonid, dll
> TANGGAL: 6 s/d 7 Juni 2009
> TEMPAT: JCC (Balai Sidang Jakarta)
> BIAYA: Rp 250ribu (disc.10% untuk anggota ABC)
> PENDAFTARAN: http://www.agromall .co.cc
> PESAN-ANTAR TIKET: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
> ************ ********* ********* ********* ***
> BERGABUNG: http://www.milisabc .co.cc
> 
> --- Pada Sab, 16/5/09, ekabudi_setiyawan 
><eka.budisetiyawan@ gmail.com> menulis:
> 
> Dari: ekabudi_setiyawan <eka.budisetiyawan@ gmail.com>
> Topik: [agromania] Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan Untuk 
>Manusia
> Kepada: agroma...@yahoogrou ps.com
> Tanggal: Sabtu, 16 Mei, 2009, 7:57 PM
> 
> Jum'at, 15 Mei 2009 , 08:50:00
> 
> Susu Sapi Bukan untuk Manusia
> 
> catatan dahlan iskan
> 
> Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa 
>masih minum susu –kecuali manusia. Lihatlah sapi, 
>kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak 
>anak-anak lagi ti­dak akan minum susu. Mengapa manusia 
>seper­ti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
> 
> "Itu gara-gara pabrik susu yang terus meng­iklankan 
>produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shi­nya, penulis buku 
>yang sangat laris: The Mira­cle of Enzyme (Keajaiban 
>Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan 
>judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah 
>makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia 
>seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak 
>sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi 
>minum susu manusia, katanya.
> 
> Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, 
>katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: 
>karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut 
>langsung menga­lir ke kerongkongan. Tidak sempat 
>berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. 
> 
> Aki­bat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. 
> 
> Begitu sampai di usus, susu tersebut lang­sung 
>menggumpal dan sulit sekali dicerna. Un­tuk bisa 
>mencernanya, tubuh terpaksa menge­luar­kan cadangan 
>"enzim induk" yang seha­rus­nya lebih baik dihemat. Enzim 
>induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk 
>pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu 
>banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu 
>akan lebih mu­dah terkena osteoporosis.
> 
> Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sen­sasi. Dia 
>ahli usus terkemuka di dunia. Dia­lah dokter pertama di 
>dunia yang melakukan ope­rasi polip dan tumor di usus 
>tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 
>tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani 
>praktik kedokteran. Dia sudah me­me­riksa keadaan usus 
>bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan 
>Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang 
>selama kariernya sebagai dokter terus mondar-mandir di 
>antara dua negara itu.
> 
> Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiro­mi sekalian 
>melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan 
>wujud dalamnya usus de­ngan kebiasaan makan dan minum 
>pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya 
>berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak 
>ber­mu­tu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara 
>lain susu dan daging.
> 
> Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang 
>yang biasa makan makanan/mi­nu­ man yang "jelek": 
>benjol-benjol, luka-luka, bi­sul-bisul, bercak-bercak 
>hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan 
>karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat 
>yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang 
>makanannya sehat/baik, digambarkannya sa­ngat bagus, 
>bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
> 
> Karena tugas usus adalah menyerap maka­nan, tugas itu 
>tidak bisa dia lakukan kalau ma­kanan yang masuk tidak 
>memenuhi syarat si usus. Bu­kan saja ususnya kecapean, 
>juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. 
>Aki­batnya, per­tumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya 
>tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas 
>ber­mun­cu­lan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. 
>Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti da­ging, bisa 
>menyisakan kotoran yang menem­pel di din­ding usus: 
>menjadi tinja stagnan yang kemu­dian membusuk dan 
>me­nimbulkan penyakit lagi.
> 
> Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomen­da­sikan daging 
>sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu 
>cukup 15 per­sen dari seluruh makanan yang masuk ke 
>perut.
> 
> Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di 
>bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa 
>dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita 
>menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang 
>tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 
>persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam 
>hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 
>persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.
> 
> Dia juga menyebut contoh harimau yang ha­nya makan 
>daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk 
>menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh 
>mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda 
>dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya 
>lebih hebat.
> 
> Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan 
>cara makan. Makanan itu, kata­nya, harus dikunyah minimal 
>30 kali. Bahkan, un­tuk makanan yang agak keras harus 
>sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang le­bih 
>penting agar di mulut makanan bisa ber­cam­pur dengan 
>enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum 
>setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, 
>tulisnya, se­baiknya setengah jam sebelum makan. Agar air 
>sudah sempat diserap usus lebih dulu.
> 
> Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, 
>ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 
>kali! Dia juga me­nganjurkan agar setelah makan sebaiknya 
>ja­ngan tidur sebelum empat atau lima jam ke­mu­­dian. 
>Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. 
>Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih 
>sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan 
>gembrot.
> 
> Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh 
>manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama 
>enzim-induk dalam jumlah ter­tentu yang tersimpan di 
>dalam "lumbung en­zim-induk" . Enzim-induk ini setiap 
>hari dike­luarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah 
>men­jadi berbagai macam enzim sesuai keper­luan hari itu. 
>Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, 
>semakin boros menguras lum­bung enzim-induk. Mati, 
>menurut dia, ada­lah habisnya enzim di lumbung 
>masing-masing.
> 
> Maka untuk bisa berumur panjang, awet mu­da, tidak 
>pernah sakit, dan langsing haruslah meng­hemat 
>enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara 
>selalu makan ma­ka­nan segar. Ada yang menarik dalam hal 
>makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang 
>sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan 
>mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau 
>lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan 
>makanan pun demikian.
> 
> Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. 
>Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak 
>itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan 
>yang digo­reng saja sudah kurang baik, akan lebih parah 
>kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. 
>Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. 
>Maksudnya, me­ngolah makanan seperti itu memerlukan enzim 
>yang banyak.
> 
> Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, 
>biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu ba­nyak makan 
>makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan 
>tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus 
>dibuang. Mem­buangnya pun memerlukan kekuatan yang 
>ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa 
>makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus 
>menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus 
>menguras lumbung enzim.
> 
> Prof Hiromi sendiri secara konsekuen men­jalani prinsip 
>hidup seperti itu dengan sung­guh-sungguh. Hasilnya, 
>umurnya sudah 70 ta­hun, tapi belum pernah sakit. 
>Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali 
>dia juga makan makanan yang di luar itu. Se­bab, sesekali 
>saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi 
>karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara 
>terus-menerus atau terlalu sering.
> 
> Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga mene­rapkan 
>"pengobatan" seperti itu. Pasien-pa­sien penyakit usus, 
>termasuk kanker usus, ba­nyak dia selesaikan dengan 
>"pengobatan" ala­miah tersebut. Pasiennya yang sudah 
>gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu 
>dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak 
>melihat pasien hanya dari sa­tu sisi di bidang sakitnya 
>itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem 
>tubuh se­cara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke 
>jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di 
>usus. Demikian juga dokter-dok­ter spesialis lain. 
>Pendidikan dokter spe­sia­lis­lah yang menghancurkan ilmu 
>kedok­te­ran yang sesungguhnya.
> 
> Saya mencoba mengikuti saran buku ini se­bulan terakhir 
>ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu 
>akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.
> 
> Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: 
>orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan 
>enak, hatinya se­nang. Kalau hatinya sudah senang dan 
>pi­kirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh 
>yang bisa membuat enzim-induk ber­tambah. Nah... gan pei!
> 
> =======
> 
>>> Saya gak tau alasan Dahlan memuat tulisan ini di 
>>>korannya...apakah dia nggak ngerti bahwa di balik 
>>>industri persusuan itu ada banyak petenak rakyat yg 
>>>menggantungkan hidupnya dari hsl jual susu ternaknya, 
>>>kalau setelah membaca berita tersebut semua orang di 
>>>Indonesia takut minum susu...habislah riwayat peternakan 
>>>sapi perah di Indonesia...
> 
> Salam,
> 
> Eka Budi

Kirim email ke