Perikanan Budidaya Tetap Prospektif 
Selain untuk Pasar Domestik, Masih Berpeluang Diekspor

Usaha perikanan budidaya dinilai tetap prospektif di tengah krisis keuangan 
global saat ini. Sektor ini bahkan berpeluang mengurangi dampak krisis karena 
masih berpotensi dikembangkan dan menyerap tenaga kerja baru.

Ketua Himpunan Pengusaha Ikan Air Tawar Toto Marwoto, Rabu (17/12) di Subang, 
mengatakan, usaha budidaya ikan menyumbangkan pendapatan masyarakat dalam 
jumlah besar. Usaha ini juga prospektif dikembangkan karena potensi lahan, air, 
sumber daya manusia, dan jenis ikan melimpah.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Di Kabupaten Subang, usaha budidaya ikan terus berkembang dalam 20 tahun 
terakhir. Kini ada sedikitnya 1.100 pembenih dan ratusan pembudidaya ikan air 
tawar yang aktif berproduksi dan tersebar di sedikitnya delapan kecamatan.

Produksi benih ikan mas, nila, patin, dan lele dari para pembenih Subang 
mencapai 1.800 ton per bulan. Dengan harga bervariasi, Rp 15.000-Rp 17.000 per 
kilogram di tingkat pembenih, nilai produksi benih sedikitnya mencapai Rp 27 
miliar per bulan.

"Jumlah pembenih terus meningkat karena produksi dan permintaan belum seimbang. 
Untuk memenuhi kebutuhan ribuan pembudidaya ikan di Waduk Saguling, Cirata, dan 
Jatiluhur, benih dari Subang saja terkadang tidak cukup," ujarnya.

Konsumen ikan juga terus berkembang beberapa tahun terakhir. Menurut peneliti 
ahli pada Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Air Tawar (LRPTBAT) 
Sukamandi, Sularto, pasar ikan berkembang seiring dengan berubahnya pola 
konsumsi hidup sehat, khususnya di negara maju, yaitu dari produk peternakan 
(red meat) ke produk perikanan (white meat).

Selain itu, luas perairan umum yang mencapai 158.200 hektar serta lahan bekas 
tambak budidaya udang yang kini menganggur sangat potensial untuk dimanfaatkan. 
Ada beragam jenis ikan yang bisa dibudidayakan dan disesuaikan dengan kondisi 
perairan.

Atasi krisis

General Manager Riset Bisnis PT Central Pangan Pertiwi Denny Indradjaja 
menambahkan, selain di pasar domestik, produk perikanan Indonesia tetap 
berpeluang dijual di pasar luar negeri. Saat krisis sekarang ini, permintaan 
memang relatif berkurang, tetapi celah ekspor tetap ada.

Menurut Denny, pasar luar negeri kini cenderung bergeser ke produk yang lebih 
murah. Ikan patin daging putih, misalnya, kini menjadi alternatif baru pasar 
luar negeri karena harganya lebih murah dibandingkan dengan komoditas lain, 
seperti udang dan ikan nila.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi saat panen perdana ikan patin 
pasupati di LRPTBAT Sukamandi, Senin, mengatakan, pengembangan usaha perikanan 
budidaya dapat membantu mengurangi dampak krisis keuangan global seperti 
pemutusan hubungan kerja.

Menurut Freddy, perikanan budidaya menyerap 1-2 juta tenaga kerja baru setiap 
tahun. Tahun 2008, jumlah pekerja di sektor ini mencapai 4 juta orang dan 
ditargetkan lebih dari 8 juta orang pada 2010.

"Kami akan dorong dengan mengupayakan subsidi benih atau pakan. Tahun ini ada 
Rp 33 miliar dana APBN untuk subsidi benih dan mudah-mudahan tahun depan bisa 
ditingkatkan menjadi Rp 60 miliar," ujarnya. (mkn)

SUMBER: Kompas
Kamis, 18 Desember 2008 | 10:37 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke