Suharsono, Berkubang di Kolam Gurami
 
Dari pemikiran sederhana mengubah kubangan air menjadi kolam ikan, Suharsono 
berhasil menyakinkan warga Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah 
Istimewa Yogyakarta, untuk menggeluti bisnis perikanan sejak beberapa tahun 
terakhir. Ide kolamisasi kubangannya itu juga mendapat perhatian pemerintah 
setempat. Bapak empat anak ini mendapat penghargaan Kalpataru kategori 
penyelamat lingkungan.

Dalam benak saya waktu itu, kubangan sudah sangat mirip kolam. Kami tidak perlu 
menggali lagi, tinggal dibenahi sedikit dengan menambah pagar. Maka, jadilah 
kolam ikan," tutur Suharsono.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Desa Jambidan dikenal sebagai produsen batu bata. Sebagian besar warganya 
menggantungkan hidup dari usaha ini. Untuk bahan baku, warga memanfaatkan tanah 
liat di areal persawahan produktif. Akibatnya, banyak kubangan yang 
ditinggalkan. Apabila musim hujan tiba, kubangan itu hanya menjadi sarang 
nyamuk.

Sebagai warga asli Desa Jambidan, kondisi tersebut membuat Suharsono resah. 
Meski saat itu masih menjadi Duty Manager di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, 
Suharsono menyisihkan sebagian waktu untuk membudidayakan ikan. "Awalnya saya 
melakukannya sendiri. Setelah cukup yakin dengan analisa ekonomi usaha 
perikanan, saya baru mengajak warga lain," ceritanya.

Pada tahap awal Suharsono berharap warga mau memanfaatkan kubangan-kubangan 
yang ditelantarkan itu menjadi kolam ikan. Namun, untuk jangka panjang, ia 
ingin mengajak warga meninggalkan aktivitasnya sebagai perajin batu bata karena 
kesejahteraan sudah bisa mereka peroleh dari bisnis perikanan.

Berdasarkan data Kantor Desa Jambidan, 70 persen lahan sawah atau seluas 
sekitar 5 hektar sudah digali untuk membuat batu bata. Jika kondisi ini terus 
dibiarkan, luas lahan pertanian produktif akan semakin berkurang. "Sudah 
berkali-kali warga diajak kembali ke pertanian, tetapi selalu menolak karena 
tidak menguntungkan," katanya.

Aktivitas pembuatan batu bata berawal sekitar 15 tahun lalu. Ketika itu harga 
sawah di Desa Jambidan hanya Rp 25.000 per meter persegi. Rendahnya harga 
tersebut membuat masyarakat setempat memilih menggali tanah dan memanfaatkannya 
menjadi bahan batu bata. Akibatnya, kubangan pun bertebaran di mana-mana.

Industri batu bata memang menggiurkan. Untuk lahan sawah seluas 1 meter persegi 
dihasilkan 1.500 batu bata atau senilai Rp 150.000. "Jadi, meski dibiarkan, 
petani tidak akan rugi. Mereka bahkan menganggap lahannya sudah tidak ada atau 
telah terjual karena hasil yang diperoleh jauh di atas harga lahan. Kalaupun 
mau ditanami padi, hasilnya tidak seberapa. Setiap meter persegi paling banter 
dapat 4 kilogram beras atau setara Rp 16.000," katanya.

Ide awal

Awalnya, ide Suharsono itu mendapat tentangan dari warga. Ia dianggap aneh. 
Usahanya mengembangkan budidaya ikan gurami hanya dipandang sebelah mata. 
Mereka tidak percaya usaha Suharsono akan sukses. "Pada tahap awal saya sengaja 
tidak langsung mengajak mereka. Saya ingin membuktikan dulu kalau budidaya 
gurami itu lebih menguntungkan dibandingkan membuat batu bata," katanya.

Pasar batu bata sangat tergantung pada musim. Misalnya, saat banyak kegiatan 
pembangunan fisik, kebutuhan batu bata pun melonjak. Sebaliknya, kalau proyek 
fisik sepi, penjualan batu bata akan menurun. Hal itu berbeda dengan ikan 
gurami yang pasarnya selalu ada dan tidak perlu mencari-cari karena pembeli 
datang dengan sendirinya. "Kebutuhan ikan gurami untuk wilayah DIY sangat 
tinggi dan belum bisa dicukupi oleh petani ikan lokal. Sebagian pengusaha 
restoran masih mendatangkan (gurami) dari luar daerah. Kalau peluang itu bisa 
dibaca petani ikan, semangat mereka pasti tergugah," katanya.

Prediksi Suharsono tidak meleset. Setelah usahanya sukses, warga dengan 
sendirinya mengikuti jejaknya. Suharsono pun lebih antusias mengembangkan usaha 
budidaya ikan di desanya. Begitu memasuki masa pensiun dari Hotel Inna Garuda 
Yogyakarta, dia membentuk kelompok petani ikan bernama Minoraharjo.

Pengalaman Suharsono sebagai pegawai hotel pun tidak disia-siakan. Ia bersama 
dengan kelompok Minoraharjo membentuk usaha pemancingan dan restoran. Selain 
untuk fungsi komersial, pondok pemancingan itu sekaligus menjadi sekretariat 
kelompok.

Berdiskusi

Kecintaan Suharsono pada dunia perikanan berawal dari kebiasaannya berdiskusi 
dengan kawan-kawan. Sejak awal ia menyukai bisnis karena sifatnya lebih 
menantang dibandingkan dengan kerja kantoran yang relatif monoton. "Dari 
perbincangan dengan teman-teman, saya menyadari usaha perikanan sangat 
menguntungkan bila dilihat dari analisa ekonomi. Risikonya memang besar, tetapi 
untungnya juga besar," katanya.

Jasa Suharsono dalam menyulap kubangan menjadi kolam gurami, membuat 
pemandangan di Desa Jambidan berubah. Belakangan, nyaris tak ada lagi kubangan 
yang dibiarkan terbengkalai. Semuanya dimanfaatkan untuk pembibitan dan 
budidaya gurami. Untuk pembibitan dibutuhkan kedalaman kurang dari 1 meter dan 
guna budidaya minimal 1 meter. Kesejahteraan warga desa juga meningkat sehingga 
pekerjaan menggali tanah liat untuk batu bata mulai ditinggalkan.

Pascagempa, para petani ikan sempat tergiur untuk memproduksi batu bata 
kembali. Pasalnya, kebutuhan batu bata waktu itu sangat tinggi. Sejumlah warga 
kembali menekuni "profesi" lama. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengurus 
kelompok. "Kami sempat kesulitan meyakinkan mereka untuk kembali ke perikanan. 
Namun, berkat usaha keras, mereka percaya dengan argumentasi kami," tuturnya.

Keseriusan para petani dalam mengembangkan pembibitan dan budidaya ikan juga 
mendapat dukungan pemerintah desa setempat, dengan memberikan lahan kas desa 
seluas 2,5 hektar untuk dikelola menjadi kolam. Lahan itu bisa dibuat menjadi 
150 buah kolam, tetapi sampai sekarang belum ada investor yang tertarik. "Saya 
berharap ada investor yang tertarik menanamkan investasi untuk budidaya gurami 
di sini. Selama ini kami masih kewalahan memenuhi permintaan pasar karena 
keterbatasan modal," kata Suharsono. (Eny Prihtiyani)

SUMBER: Kompas
Sabtu, 30 Agustus 2008 | 15:56 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke