Lestari, Mandiri dengan Budidaya Jamur

Setahun terakhir, budidaya jamur menjadi idola bagi sebagian besar kalangan 
petani di Bantul, DI Yogyakarta. Banyak yang tergiur untuk mencobanya. Tak 
hanya soal harga jual yang lumayan, tetapi juga jaminan pasar, terutama sejak 
tren kuliner jamur mewabah di Yogyakarta. Lestari (45), sarjana pertanian 
lulusan Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, termasuk salah satu yang 
mencobanya. Ia memutuskan pindah ke rumahnya di Dusun Klangon, Argosari, 
Sedayu, Bantul, setelah sebelumnya bekerja di perusahaan milik Korea.

"Saya banyak mendengar informasi soal budidaya jamur yang sedang jadi tren. 
Kebetulan di Banjarmasin (Kalimantan Selatan), saya juga bekerja untuk mengolah 
jamur. Saya tergiur untuk kembali ke Bantul menjadi petani mandiri," katanya 
awal Oktober lalu.

Di rumahnya, Lestari lebih banyak fokus pada usaha pembenihan dan pembuatan 
media. Ia menjual kantong-kantong media yang sudah dibubuhi benih sehingga 
jamurnya siap tumbuh. Kantong-kantong itu biasanya sudah diambil oleh para 
pelanggannya secara rutin.

Dalam sehari ia bersama lima orang tenaga kerja mampu membuat 400-500 kantong 
media jamur. Tiap kantong dijual seharga Rp 1.500. Untuk membuat media, 
digunakan serbuk gergaji yang dicampur bekatul dan gamping. Setiap 100 kg 
serbuk gergaji ditambahkan sekitar 15 persen bekatul dan 3 persen gamping.


U  N  D  A  N  G  A  N
========> ********** <========
Temu Pelaku Bisnis Jamur Konsumsi 2010
Cara Pasti dan Sukses Berbisnis Jamur
Minggu, 25 April 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Tempat Terbatas, Daftar Sekarang Juga di:
http://tiny.cc/acaramania
SMS INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 
========> ********** <========
|a|g|r|o|m|a|n|i|a 
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis


Setelah diaduk campuran tersebut ditutup dengan terpal dan dibiarkan selama dua 
malam. Tujuannya supaya terjadi fermentasi. Proses selanjutnya adalah 
pengantongan ke dalam plastik tahan panas, baru kemudian disterilisasi dengan 
metode penguapan di suhu 95-100 derajat celsius agar bakteri-bakteri yang tidak 
berguna mati. Setelah dingin, media diberi bibit jamur.

Tidak semua kantong yang disterilisasi "berhasil". Kantong-kantong yang 
plastiknya kurang rapat biasanya akan rusak dan tidak bisa dibubuhi bibit 
jamur. Namun, tingkat kegagalannya sangat kecil.  Sekitar delapan minggu 
kemudian jamur baru akan tumbuh. Setiap kantong media bisa menghasilkan 0,5 kg 
jamur. Harga jual untuk jamur tiram Rp 8.500/kg, sementara jamur kuping Rp 
8.000/kg.

"Saat ini masih banyak yang membeli media yang sudah siap karena mereka tidak 
mau ribet. Padahal, saya juga menjual bibit seharga Rp 3.500/botol yang bisa 
digunakan untuk 20 kantong. Petani bisa membuat media sendiri, supaya biaya 
produksinya lebih murah," kata Lestari.

Menurut Lestari, pemasaran untuk jamur tiram dan jamur kuping masih sangat 
terbuka. Ia bahkan sering kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Ada delapan 
dusun yang mengandalkan bibit dan media darinya, yakni Dusun Klangon, Jambon, 
Kalijoho, dan Dusun Tonalan.

Untuk jamur tiram, pasarnya lebih banyak ke lokal DIY karena jenis jamur ini 
mudah rusak dan tidak tahan lama. Untuk pasar luar daerah lebih prospektif 
mengembangkan jamur kuping karena sifatnya kebalikan dari jamur tiram.  "Jamur 
kuping banyak saya kirim ke Bandung dan beberapa kota di Jawa Timur," ujarnya.

Dengan produksi 500 kantong per hari seharga Rp 1.500/kg, omzetnya mencapai Rp 
750.000/hari atau Rp 22,5 juta per bulan. Dari budidaya itu ia mengantongi 
keuntungan sekitar Rp 7,5 juta per bulan.

Bila saja alat sterilisasi yang dimilikinya memiliki kapasitas lebih tinggi, 
pasti produksinya bisa ditingkatkan lagi. Kapasitas alat sterilisasi miliknya 
hanya 1.500 kantong. Alat tersebut tidak bisa digunakan setiap hari karena 
harus menunggu sampai dingin kembali. Dalam seminggu paling hanya bisa tiga 
kali sterilisasi.  "Itu sudah mendingan, sebelumnya saya hanya pakai alat 
sederhana berkapasitas 100 kantong. Setelah mendapat bantuan pinjaman senilai 
Rp 20 juta dari pemerintah daerah, saya langsung menggunakannya untuk membeli 
alat sterilisasi yang lebih besar," tuturnya.

Selain memproduksi media yang sudah siap, Lestari juga membudidayakan langsung 
jamur tiram dan kuping. Ia membangun dua buah kubung (rumah untuk jamur) di 
rumahnya masing-masing seluas 4 x 8 meter. 

Jamur-jamur itu diolahnya menjadi keripik. Untuk keripik jamur tiram dijual 
seharga Rp 45.000/kg, sedangkan keripik jamur kuping Rp 50.000/kg.  "Keuntungan 
berjualan keripik lumayan menjanjikan. Apalagi rasa keripiknya sangat khas 
sehingga banyak diminati konsumen meski harganya sedikit mahal dibandingkan 
dengan keripik lain," ujar perempuan yang berhasil menyabet juara III kategori 
tokoh hortikultura dari Sultan Hamengku Buwono X.

Keberhasilan Lestari membudidayakan jamur juga menjadi acuan bagi kalangan 
mahasiswa pertanian. Saat Kompas berkunjung ke rumahnya, beberapa mahasiswa 
pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang melakukan penelitian soal 
jamur dan budidayanya.

Menurut dia, budidaya jamur sangat mudah. Musim hujan menjadi saat yang paling 
tepat untuk mengembangkan jamur. Musim hujan membuat pertumbuhan jamur tiram 
lebih maksimal karena cuacanya cenderung lembab.

Lebih lanjut ia menjelaskan, tren masyarakat yang semakin mengarah pada budaya 
konsumsi sehat juga membuat pemasaran jamur tidak terkendala. Jamur termasuk 
sayuran yang memiliki protein tinggi dan tidak mengandung kolesterol.

Berbagai variasi masakan pun dibuat untuk menggugah selera, yakni sup jamur, 
sate jamur, tongseng jamur, hingga pepes jamur. Jadi, budidaya jamu sangat 
prospektif. KOMPAS/ENY PRIHTIYANI

SUMBER: kompas.com
Senin, 16 November 2009 | 10:16 WIB


Kirim email ke