dulu saya beli di daerah kayuputih rawamangun , lupa alamat lengkap nya..
sebelum dan sesudah TAC ibu saya minum ini , alhamdulillah efek dari TAC
berkurang.

TAC itu seperti kemotrapi tapi langsung di pusat kanker .

semoga rekan 2 , keluarga rekan 2 semua nya sembuh , dah dpt berkumpul di
tengah2 keluarga.Amin

Salam,
Denny

Pada 14 Juni 2010 10:07, Rumi Lanvar <[email protected]> menulis:

>
>
> saya di jakarta
> insya Allah bisa dibantu dengan Keladi Tikus ini
>
> terima kasih
>
========> ********** <========
AGROMANIA FACEBOOK
Pusat Info Lengkap Agrobisnis:
http://www.facebook.com/agromaniainfo
========> ********** <========
MILIS: http://tiny.cc/milis
>
> ________________________________
> From: "[email protected] <kadek.wiraguna%40yahoo.co.id>" <
> [email protected] <kadek.wiraguna%40yahoo.co.id>>
> To: [email protected] <agromania%40yahoogroups.com>
> Sent: Thu, June 10, 2010 8:25:48 AM
> Subject: Re: [agromania] Manfaat Keladi Tikus dalam Pengobatan Kanker dan
> Tumor
>
>
>
> Dear all,
>
> Boleh tahu alamat dan no tlpnya? Minta tlg dibantu ya..ada ibunya teman
> memiliki penyakit kanker otak (nasofaring).
>
> Terima kasih sebelumnya.
>
> Rgds
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>>
> -----Original Message-----
> From: Rumi Lanvar <[email protected] <rumilanvar%40yahoo.com>>
> Sender: [email protected] <agromania%40yahoogroups.com>
> Date: Fri, 28 May 2010 10:32:35
> To: undisclosed recipients: ;<Invalid address>
> Reply-To: [email protected] <agromania%40yahoogroups.com>
> Subject: [agromania] Manfaat Keladi Tikus dalam Pengobatan Kanker dan Tumor
>
> sharing artikel..... .
>
> Kanker
> kini tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
> memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman
> 'KELADI TIKUS” (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman
> obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan
> berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi
> maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena
> sinar matahari langsung. “Tanaman ini sangat banyak ditemukan di
> Pulau Jawa,” kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan
> tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun
> 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M),
> MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care
> Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995
> itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris,
> Australia, Selandia Baru,
> Singapura, dan berbagai
> negara di dunia.
>
> Di
> Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan,
> Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara
> stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas
> tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani
> kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel) untuk menghentikan
> penyebaran sel-sel kanker tersebut. “Sebelum menjalani
> kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu)
> karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain
> kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,”jelas Patoppoi.
>
> Selama
> mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha
> mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi
> mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker.
> “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh
> tersebut,” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada
> di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan
> membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul “Cancer, Yet They
> Live” karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. “Setelah saya baca
> sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku
> itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke
> Indonesia ,” kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi
> membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. Berdasarkan
> pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen
> Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari
> tanaman
> tersebut.
> Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya
> di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka
> menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut
> dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia
> untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.
>
> Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan
> menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. “Dr Teo
> mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,”
> lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do’a untuk
> kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan
> langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian
> Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk
> ikut mencarikan tanaman tersebut. “Setelah melihat ciri-ciri tanaman
> tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan
> langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir
> sungai,” kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.
>
> Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi
> mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya.
> Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang.
> “Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,” lanjut Boni.Setelah
> tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani
> pemeriksaan kankernya. “Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh
> mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ,” kata Patoppoi. Para
> dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan
> pada isterinya. “Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah
> memberikan dosis kemoterapi kepada kami,” lanjut Patoppoi. Setelah
> diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun
> mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya.
> Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping
> kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya
> tiga bulan
> sekali
> diundur menjadi enam bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal, para
> dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan
> tanaman sebagai pengobatan alternatif,” sambung Boni sambil tertawa.
>
> Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan
> peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian
> menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman
> tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan
> penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr Teo langsung membalas
> fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat,
> karena jarak yang jauh,” sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi
> mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesiadan
> disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah
> pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu
> penderita kanker di Indonesia.
>
> Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas
> mengenai meninggalnya Wing Wir yanto, salah satu wartawan handal Jawa
> Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala,
> penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan
> salah satu pengalamanpengobata n penderita kanker usus yang dijelaskan
> di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil
> menyembuhkan pasien tersebut. “Lalu saya langsung menulis di kolom
> Pembaca Menulis di Jawa Pos,” ujar Boni. Dan tanggapan yang
> diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30
> telepon yang masuk. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang
> datang ke sini,” lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani,
> Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah penderita
> Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan
> harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil
> menunggu rumahnya
> laku
> dijual
> untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah
> diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien
> tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi,
> karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
>
> Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi,
> Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan
> Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan,
> Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang, Malaysia. Di kantor
> Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih
> lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama
> Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku “Cancer, Yet They Live”
> edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku
> tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan
> kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi
> mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara
> resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga
> sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin
> bulanan Cancer Care.
>
> Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan
> tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak keladi
> tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan
> berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. “Dosis yang
> diperlukan tergantung penyakit yang diderita,”kata Boni.Untuk
> mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang
> menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax
> ke Dr. Teo. “Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami
> fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep
> sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar
> 40-60 Ringgit Malaysia ,” lanjut Boni. “Jadi pasien hanya membayar
> biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang
> kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran.”
> tambahnya.
>
> Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh
> salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap
> kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah
> menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya
> ini. Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi
> pengobatan dengan keladi tikus karena telah ditangani oleh rekan-rekan
> dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan
> radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak
> dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap
> kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan
> pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.Pada
> pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita
> pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini
> menolak untuk diekspos karen menurutnya, pengobatan ini belum
> resmi
> diteliti
> di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia
> memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai
> “ter-kun” atau dokter-dukun. “Disinilah gap yang terbuka antara
> pengobatan konvensional dan modern,” kata dokter tersebut.
>
> Banyak
> hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan
> kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu
> di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker
> paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien
> tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup
> mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun
> narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan
> pada narkoba tersebut. “Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir
> racun dengan keladi tikus dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena
> pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi
> berkubang lagi,” sambung Boni sambil tertawa.Juga ada pengalaman pasien
> yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang
> menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan
> lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa
> saat
> kemudian
> pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan. Menurut data
> Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah
> berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru,
> usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan,
> tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.
>
> Catatan:
> Wanita hamil dilarang menggunakan herbal ini
> Setelah
> operasi tidak boleh langsung minum keladi tikus, harus menunggu sekitar
> 2 minggu
> Dua hari pertama setelah minum mungkin akan mual, sedikit
> diare, kotoran hitam, dan lesu
>
> Cara Pesan:
> · Harga belum termasuk ongkos kirim , jabotabek : 5000 per kg via tiki-jne
> · Harga Keladi Tikus @ 30.000 per botol isi 80 kapsul
> · JAPRI ya
> · Pembayaran dilakukan dengan cara transfer ke BCA/ Mandiri
> · Semua Produk mempunyai Sertifikat halal MUI dan Registrasi POM
> · Tidak ada minimal Pembelian


------------------------------------

GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milisYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke