Wabah flu burung (Aves Influenza, AI), telah mengakibatkan kerugian yang 
luarbiasa di dunia perunggasan, dan juga mengancam keselamatan jiwa manusia. 
Tidak pernah ada bukti ilmiah bahwa flu burung, terutama virus H5N1, disebabkan 
oleh dampak peternakan unggas modern. Namun belajar dari kasus wabah penyakit 
sapi gila di Inggris, diduga ada korelasi antara pola peternakan unggas modern, 
dengan munculnya virus AI tipe baru. Sebab di Inggris, wabah sapi gila itu baru 
muncul, ketika limbah pemotongan domba, terutama tulangnya, digiling dan 
dicampurkan ke pakan sapi.
  
 Tahun 1980an, dunia perunggasan di AS pernah dihebohkan oleh penggunaan hormon 
pertumbuhan pada ayam pedaging, yang dampak negatifnya muncul pada remaja AS. 
Remaja yang sejak kanak-kanak mengkonsumsi daging ayam yang diberi hormon, pada 
usia yang masih sangat belia, telah mengalami kematangan seksual. Sejak itu 
penggunaan hormon pada ayam pedaging dilarang. Di Eropa, pernah muncul gagasan 
untuk membuat sapi perah transgenik, dengan memasukkan gen manusia pada sapi 
perah. Maksudnya, agar kualitas hasil susunya setara dengan ASI. Gagasan ini 
segera mendapat tantangan yang sangat keras.
  
 Secara normatif, memang tidak ada yang salah pada seluruh sistem agribisnis 
perunggasan. Namun antara yang normatif dengan praktek di lapangan sangat jauh 
berbeda. Seluruh sistem perunggasan modern yang normatif, sangat rawan untuk 
dibelokkan, demi mengejar keuntungan sebesar mungkin. Peternakan rakyat yang 
masih menggunakan pola alami, tidak pernah diberi peluang untuk berkembang. 
Salah satu unggas, yang berpeluang cukup baik untuk dikembangkan menjadi 
penghasil daging alternatif adalah entog, itik manila, atau itik serati. Unggas 
ini tidak mungkin dikembangkan sebagai penghasil telur sebagaimana itik biasa. 
Sebab putih telur pada etog, terksturnya liat dan keras.
  
 Yang disebut itik manila (entok, itik serati), sebenarnya merupakan 
domenstifikasi dari dua spesies itik liar. Yang pertama itik liar species 
Cairina moschata, yang lazim disebut Muscovy Duck. Itik jinaknya yang sudah 
dipelihara, disebut Barbary Duck. Itik spesies ini berasal dari benua Amerika. 
Habitat aslinya tersebar mulai dari kawasan Amerika Selatan, Amerika Tengah, 
Kepulauan di Laut Karibia, sampai ke Amerika Serikat. Populasinya diduga 
sekitar 1.000.000 ekor. Domestifikasi Muscovy Duck, menghasilkan dua varian 
Barbary Duck. Pertama, yang masih mengikuti ciri-ciri fisik spesies liarnya, 
dengan ciri berbulu hitam dan bersayap putih. Itik jantannya berpial merah 
cerah. Kedua, yang 100% berbulu putih.
  
 Itik manila Barbary Duck, masuk ke Indonesia karena dibawa oleh bangsa 
Portugis. Yang pertama-tama mengintroduksi Barbary Duck dari benua Amerika 
adalah bangsa Portugis. Mereka membawanya ke Manila (Filipina). Baru kemudian 
Belanda mengintroduksi itik ini ke Indonesia (Hindia Belada), dari Manila. 
Itulah sebabnya Barbary Duck populer dengan sebutan itik manila.  Sekarang 
Barbary Duck mudah kita jumpai di kampung-kampung, dipelihara bersamaan dengan 
ayam dan itik biasa (itik tegal, mojosari, magelang dan alabio), yang lazim 
disebut Indian Runner Duck. Itik manila Barbary Duck, bisa mencapai bobot 4 kg 
(jantan) dan 3 kg (betina). Itik manila Barbary Duck, populer sebagai unggas 
potong di Jawa dan Sumatera.
  
 Selain Barbary Duck, dikenal pula itik manila White-winged Wood Duck, (Cairina 
scutulata). Ukuran tubuh itik manila ini, lebih kecil dibanding itik manila 
Barbary Duck. Bobot jantannya hanya 3 kg, sementara betinanya 2 kg. Itik manila 
White-winged Wood Duck, merupakan domestifikasi dari itik liar yang hidup di 
rawa-rawa serta sungai di India bagian Selatan, Banglades, dan Asia Tenggara, 
kecuali Filipina. Di Indonesia, White-winged Wood Duck liar masih bisa dijumpai 
di Taman Nasional Way Kambas di pulau Sumatera. Disebut White-winged Wood Duck, 
sebab itik ini berbulu sayap putih, namun ketika bangsa Eropa menjumpainya, 
dianggap mirip dengan itik Wood Duck (Aix sponsa). Wood Duck adalah itik liar 
dari Amerika, yang masih satu genus dengan itik mandarin (Mandarin duck, Aix 
galericulata).
  
 Domestifikasi White-winged Wood Duck, sebagai itik manila, sebenarnya baru 
terjadi pada jaman kolonial. Sebab pada jaman kerajaan Hindu, dan Budha, yang 
dikembangkan sebagai itik penghasil telur adalah Indian Runers, yang masuk 
genus Anas. Genus Anas sendiri terdiri dari atas 40 sd. 50 spesies. Sekarang, 
itik manila White-winged Wood Duck, bisa dijumpai dipelihara dimasyarakat, 
dengan ciri bulu leher dan kepalanya kombinasi hitam dan putih, bulu sayap 
putih, dan bulu lainnya hitam. Karena White-winged Wood Duck kadang-kadang 
dipelihara bersama Barbary Duck, sering terjadi kawin campur. Itik manila yang 
banyak dipelihara di Jawa dan Sumatera, banyak yang merupakan persilangan 
antara Barbary Duck dengan White-winged Wood Duck.
  
 Di Jawa, itik manila mempunyai tiga fungsi ekonomis sekaligus. Pertama sebagai 
unggas penghasil daging. Di banyak desa di Jawa, memotong itik manila pada hari 
raya atau hajatan, dianggap lebih prestisius dibanding dengan memotong ayam. 
Sebab harga itik manila jantan, jauh lebih tinggi dibanding dengan harga ayam 
jago. Itik manila jantan bobot 1 kg. yang bulunya belum tumbuh sempurna, sering 
dipotong dan dimasak opor. Meskipun di kalangan masyarakat tertentu daging itik 
manila sangat disukai, namun sebagian masyarakat kita tidak tidak menyukainya. 
Alasannya, daging itikmanila lebih amis dibanding dengan daging itik biasa.
  
 Bau amis ini sebenarnya mudah sekali dihilangkan dengan merendamnya 10 menit 
dalam larutan jeruk nipis, cuka  dan garam. Sekitar dua dekade belakangan ini, 
populer istilah tiktok. Ini merupakan kependekan dari itik-entok. Tiktok adalah 
silangan antara itik biasa dengan itik manila. Itik jantan maupun itik betina 
hasil silangan antar spesies ini, selalu mandul. Hingga fungsinya hanya untuk 
digemukkan sebagai itik pedaging. Sebenarnya, sudah lama masyarakat di Jawa 
senang menyilangkan itik biasa dengan itik manila, untuk digemukkan sebagai 
itik pedaging. Namun tiktok baru populer sekitar 20 tahun belakangan.
  
 Menurut para penggemar tiktok, rasa daging itik silangan ini lebih enak 
dibanding itik manila maupun itik biasa. Permintaan pasar tiktok, terutama dari 
restoran chinese food, sebanarnya sangat tinggi. Namun pasokannya yang justru 
terbatas. Selain sebagai penghasil daging, itik manila juga dipelihara untuk 
diambil bulu sayapnya, sebagai bahan industri shuttle-cock (bola bulutangkis). 
Meskipun itik manila hanya dipelihara dalam jumlah terbatas, namun populasi 
pemeliharanya sangat besar. Hingga selalu ada pedagang pengumpul, yang 
berkeliling kampung untuk mengumpulkan bulu sayap bahan shuttle-cock ini, 
kemudian disetor ke pabrik.
  
 Yang bisa diambil bulu sayapnya, hanya terbatas pada itik manila jantan. Sebab 
itik manila betina, bulu kualitas bulu sayapnya tidak sebaik itik manila 
jantan. Meskipun itik manila Barbary Duck, maupun White-winged Wood Duck, 
berbulu hitam, namun bulu sayapnya selalu putih. Selain itik manila bahan 
shuttle-cock juga barasal dari itik peking (itik pedaging) yang berbulu putih 
seluruhnya. Fungsi paling penting dari itik manila adalah sebagai pengeram 
(penetas) telur itik. Itik petelur Indian Runers, sama sekali tidak bisa 
mengerami telur mereka. Sebelum mesin tetas berenergi minyak tanah maupun 
listrik digunakan, para peternak biasa menetaskan telur itik biasa dengan cara 
dierami oleh ayam dan itik manila.
  
 Itik manila digunakan sebagai penetas, karena daya tampungnya cukup besar 
dibanding ayam. Di Bali dan Kalimantan Selatan, telur itik ditetaskan dengan 
keranjang berisi sekam. Meskipun mesin tetas listrik kapasitas besar sudah 
banyak dioperasikan, peternak di Bali dan Kalsel masih tetap menggunakan 
keranjang dan sekam untuk menetaskan telur itik. Di pedalaman Jawa, juga masih 
banyak peternak yang menetaskan telur itik biasa dengan dititipkan ke itik 
manila. Meskipun ada perbedaan jangka waktu penetasan antara ayam, itik biasa 
dan itik manila. Ayam mengerami telur selama 21 hari. Itik biasa 28 hari, 
sementara itik manila 35 hari.
  
 Penitipan telur itik biasa ke ayam, akan mengakibatkan pengeraman diperpanjang 
selama tujuh hari. Sementara penitipan itik biasa pada itik manila, 
mengakibatkan pengeraman diperpendek tujuh hari. Kalau ayam hanya mampu 
bertelur dan mengerami antara 8 sd. 10 butir, maka itik manila mampu bertelur 
dan mengerami antara 10 sd. 15 butir. Penitipan telur itik biasa ke ayam, 
selain mengakibatkan energi induk terkuras, juga akan menimbulkan kesulitan 
tersendiri dalam pengasuhan selanjutnya. Ketika anak-anak itik masuk ke 
perairan untuk berenang, maka induk ayam akan berisik karena mencemaskan 
anak-anaknya. Hingga paling ideal adalan menitipkannya ke itik manila.
  
 Selain beberapa kelebihan ekonomis tadi, itik manila juga terkenal bendel 
terhadap penyakit. Kalau itik biasa sudah dikenal bandel terhadap penyakit 
unggas, maka itik manila jauh lebih bendel lagi. Pola peternakan itik manila 
sebagai penghasil daging, bahan shuttle-cock dan penetas telur, merupakan 
sesuatu yang alami. Pakan itik manila juga hanya biji-bijian dan umbi-umbian, 
dengan sesekali diseling serangga dan limbah ikan. Masyarakat pedesaan hanya 
memelihara unggas ini dengan pakan dedak, nasi sisa dan selanjutnya diliarkan 
untuk merumput, mencari serangga dan cacing. Pola peternakan yang alami ini 
merupakan salah atu jawaban atas wabah flu burung yang melanda dunia 
perunggasan. 
  
 SUMBER KLIPPING: Foragri
  
 ******************************************
 (FREE) Silahkan download langsung
 Direktori Penjual - Pembeli Agrobisnis Indonesia
 Pertanian, Peternakan, Perikanan, Perkebunan, dll.
 http://groups.yahoo.com/group/agromania/files/
 SMS info: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9
 ******************************************
 GABUNG DI MILIS: http://bit.ly/bQX5lK
 BURSA JUAL BELI: http://bit.ly/abVYqh

Kirim email ke