Begini, kalau 1 US $ = Rp. 1 akibatnya adalah gaji yang berlaku saat ini misal 10.000.000/bulan akan sama dengan 10.000.000 US $/perbulan. Tentu saja ini tidak masuk akal dan akan membuat orang segan bekerja atau bekerja seadanya kemudian menikmati barang import sajua yang harganya sangat murah :-)
Devaluasi mata uang yang dilakukan pemerintah selalu diikuti dengan kesetimbangan baru dalam hal barang dan jasa. Masalah biasanya terjadi pada periode pencapaian kesetimbangan dan korbannya adalah mereka yang bergaji tetap seperti PNS. Kestabilan rupiah dan inflasi yang terkontrol memperlihatkan kesetimbangan sudah terjadi artinya tidak ada yang merasa dirugikan saat transaksi barang/jasa dilakukan. Memotong secara proposional atau redenominasi tidak akan menggangu kesetimbangan ini jika tidak diusik oleh politisasi masalah yang ada. Dan Politisasi ini bisa muncul dari banyak pihak baik yang tidak paham, ataupun yang paham tapi punya kepentingan misalnya mereka yang menyimpan uangnya di bawah kasur, Dengan redenominalisasi akan sangat terpaksa menukarkan uangnya di Bank dan kemungkinan besar terpantau PPATK....Cilaka :-) Salam RM --- In AhliKeuangan-Indonesia@yahoogroups.com, "davidbela...@..." <davidbela...@...> wrote: > > Ngomong2 soal redenominasi Rp, mungkin gak sih klo Rp dikuatkan hingga Rp > 1/$1? > > Rp dibuat jd spt th 98 ke bwh aja dah keren, trus pelan2 dikuatin lg ke > Rp1/$1. Kan klo di redenominasi banyak takutnya, nah klo di kuatin bagaimana? > Kan otomatis ekonomi harus dikuatin, inflasi harus dijaga ketat, dan > masyarakat lebih tenang ngadapin perubahannya. > > Tp mgkn klo penguatan Rp hg Rp1/$1 gak bs dalam jangka waktu 10th, tp lebih > pasti, bukan? > > Apapun itu, mo redenominasi mo nguatin Rp, seru2 aj seh, bis dah lama gak > ngliat uang 10 perak, dulu punya banyak, masih pd inget gak bli es mambo cman > 25 perak? :D > > Lebih seru lg klo ampe ngliat uang gobang, itu lho...uang yg bolong > ditengahnya, :)) > > > thx. >