Wah Pak Ariva Indonesia SUDAH menegenal sistem assistant professor,
associate professor, dan professor kok. Setahu saya kalau cuma
assistant professor tidak disebut panggilannya Professor, tetap masih
menngunakan gelar terakhir dalam undangan resmi.
cheers,
Menda
professor.
Quoting "ariva s. permana" <[email protected]> on 04/26/2009:
Dear All,
Di perguruan tinggi di negeri kita, kita tidak mengenal istilah:
assistant professor, associate professor, professor atau chair
professor. Seperti biasanya, segala sesuatu yang menyangkut perguruan
tinggi di Indonesia, tidak kompatibel dengan di bagian dunia lain.
Akibat salah asuh sistem pendidikan kita.
Di kita (dulu) ketika jaman "normal", ada sarjana muda, ada sarjana,
ada diploma, ada spesialis, yang sangat tidak kompatibel dengan
perguruan tinggi di belahan bumi lain (tidak kompatibel dengan
pengertian, kalau melanjutkan ke luar negeri, bingung kesetaraannya).
Sampai dengan pertengahan tahun 1990an (1995-1996), kita masih
mengenal BA, BE, BSc, Drs, Ir, SH, SE dll. Ini akibat dari pengaruh
belanda yang menurut saya adalah penjajah yang terjelek di dunia
(mungkin kalau di ranking dari yang terbaik sampai yang terburuk:
inggris, perancis, spanyol, portugis, dan yang terjelek: belanda!).
Insinyur (dari ingenieur: dutch, germany, france) di belanda sono
waktu itu (sekarang saya kira sudah tidak dipakai lagi), ekivalen
dengan master yang sedikit lagi dipromosikan ke jenjang doktor, atau
doktorandus (untuk bidang ilmu non-enjinering) yang sejatinya mau
dipromosikan jadi doktor (kandidat doktor). Sistem ini dijiplak oleh
sistem pendidikan indonesia, ada insinyur atau doktorandus (12
semester, kredit ekivalen dengan 210 walaupun tidak pake kredit).
Tapi dua-duanya tidak diakui di amrik misalnya sebagai lulusan
post-graduate (master), mereka dianggap under-graduate. Jadi para
insinyur dan doktorandus atau doktoranda yang sekolah lagi di LN
harus ngambil master, tidak bisa langsung ngambil doktor (tidak
kompatibel).
Pada masa itu juga, ada BA (Bachelor of Arts) atau BE (Bachelor of
Engineering) atau BSc (Bachelor of Science), atau BBA (Bachelor of
Business Administration) (yang teman saya suka ngeledek temen yang
satunya lagi yang punya gelar BBA dari Universitas Mustopo Beragama
dengan maaf babi, bagong anjing). Itu adalah lulusan sarjana muda
yang resmi dan di ijazahnya tertulis gelar-gelar itu. Ini yang rancu,
tapi menghasilkan sebuah blessing in disguise bagi puluhan orang.
Orang PU yang bergelar BE (asli sarjana muda) diterima di Universitas
India (Roorkee misalnya) untuk sekolah master, dan sekitar 75 orang
PU dapat gelar master of engineering (ME) dari Roorkee. Orang Roorkee
kan tidak tahu sejarahnya, yang mereka tahu Bachelor of Engineering
adalah lulusan universitas yang bisa melanjutkan ke master of
engineering dan terus ke doktor. Ini blessing in disguise-nya, dari
pangkat II/b (kopral) setelah dapat ME langsung disesuaikan dengan
pangkat III/a atau III/b (letda atau lettu). Dan hebatnya Depdiknas
(dulu P&K) mengakui ijazah ME Roorkee ini setara dengan S2.
Kondisi di atas tentu saja membuat gerah lulusan tukang insinyur
indonesia (orang PU) yang kuliahnya 7-9 tahun. Bayangkan BE
(Indonesia, 3 tahun) + ME (Roorkee, India 18 bulan) = S2 (4 tahun 6
bulan) kurang dari 5 tahun pangkat naik, jabatan dipromosikan, gaji
naik (pangkat terakhir kalau pensiun dan tidak punya jabatan adalah
IV/b). Bandingkan dengan tukang insinyur 7-9 tahun hanya S1 (pangkat
terakhir kalau tidak punya jabatan adalah IV/a). Gerah kan?
Ini satu dari sekian keanehan sistem pendidikan di kita ...
Inkompatibilitas yang lain: Pangkat di perguruan tinggi (untuk tenaga
akademik) yang berlaku saat ini sepengetahuan saya adalah: Asisten
Ahli (III/a-III/b), Lektor (III/c-III/d), Lektor Kepala (IV/a-IV/c),
Guru besar Madya (IV/d), Guru Besar (IV/e). Guru besar madya dan guru
besar disebut juga professor.
Di sinilah tidak kompatibelnya: di perguruan tinggi luar negeri di
bagian belahan bumi lain kan hanya ada assistant professor, associate
professor, dan professor, atau chair professor (di AIT disebut
above-scale professor). Di Indonesia atau orang indonesia pada
umumnya, hanya mengenal professor, profesor ya profesor tidak ada
assistant, associate atau full professorship. Dalam kasus Nelson
Tansu ini, dia adalah ASSISTANT PROFESSOR (bukan full professor)
http://www.ece.lehigh.edu/index.php?page=nelson-tansu. Tentu saja
beda sekali antara Assistant Professor dengan Professor. Jadi,
menurut saya bukan sebuah prestasi yang phenomenal, siapapun kalau
hanya sekedar assistant professor, bisa termasuk kang Didin dan mas
Syamsul. Karena bergitu kita diterima sebagai pengajar universitas di
amrik misalnya, kita sudah dengan sendirinya menyandang gelar
ASSISTANT Professor (tapi bukan professor).
Kalau lulus SMA berumur 15 atau 16 tahun plus universitas 4 tahun
plus master 2 tahun plus doktor 3 tahun dan lancar-lancar saja,
seseorang bisa lulus doktor pada umur 25 tahun dan bisa jadi
assistant professor pada umur 24-25 tahun itu. Di AIT seorang
assistant professor normalnya dipromosikan ke associate professor
setelah 7-8 tahun (tergantung prestasinya: journal, ngajar, paten,
bawa duit ke AIT, riset, nulis buku, dll), dan associate professor
normalnya dipromosikan menjadi full professor setelah 5-7 tahun
(tergantung prestasinya dan kondisi keuangan AIT juga).
Kembali lagi ke indonesia. Ketika menteri P&K sampai dengan Wardiman
Djojonegoro, S1 dan mereka yang tidak pernah ngajar di perguruan
tinggi pun bisa dapat mencapai derajat professor, karena profesor di
kita tergantung kepada 1 orang saja yaitu Menteri Pendidikan (Diknas
atau P&K atau apapun), memang SK-nya sih dari presiden, tapi apakah
presiden akan menolak kalau sudah diusulkan oleh menteri
pendidikannya? Jadi tidak heran banyak Prof. Ir atau Prof. SH, atau
Prof. Drs. tapi yang heran lagi mereka yang profesor tapi pendidikan
formalnya hanya S1 membimbing mahasiswa doktor. Bagaimana S1 (+prof)
pengeahuannya melebihi S2+ atau S3- Tapi seorang dosen saya yang
bergelar Prof Ir beliau ini menjadi promotor mahasiswa doktor, saya
candain gimana caranya bapak memimbing mahasiwa doktoral? beliau
menjawab pilosofis: itu masalah kewenangan dan keterampilan mas!
Maksud beliau, anak umur 15 tahun pinter nyetir mobil tapi dia tidak
berhak punya SIM sebelum umur 17 tahun.
Dan masih jaman Wardiman juga, dia yang tidak pernah ngajar bisa jadi
profesor karena dia sendiri yang mengeluarkan SK, menjadi Prof Dr-Ing
Wardiman Djojonegoro, konconya Haryanto Dhanuthirto juga dianugerahi
pangkat profesor menjadi Prof Dr Haryanto Danuthirto, padahal gak
pernah ngajar. Ginanjar Kartasasmita, sami mawon dengan Prof Drs Ir
Ginanjar Kartasasmita, yang kemudian menjadi Prof Dr Ginanjar
Kartasasmita dapat Dr HC juga entah dari mana. Begitulah, indonesia
ini masih menjadi negara aneh.Saking anehnya bangsa ini, profesor
dianggap gelar, profesor bukan gelar! tapi PANGKAT.Akibatnya, Rhoma
Irama dapat gelar professor dari universitas yang namanya Global
University, gelar dan di wisuda di Singapura! sangat menggelikan dan
menyedihkan dengan intelektualitas bangsa ini.Yang aneh lagi sekarang
researcher pun diberi gelar (gelar sekali lagi) dengan Prof (R) ada R
kurung yang artinya profesor riset. Dan, lagi-lagi, ada tabib pakai
prof segala!.
Menurut saya, pangkal dari gelar2 yang aneh dan pangkat pun bisa
dijadikan gelar, karena ada hukum supply dan demand. Bangsa kita ini
masih memuja gelar, karena dengan gelar hidup bisa berbeda. Akibat
high demand gelar ini, gelar dan ijazah aspal bermunculan, karena ada
demand, maka ada supply, universitas ruko bermunculan menawarkan
gelar, ijazah palsu dan aspal bermunculan SMA 2 juta rp, S1 15 juta
saja! Termasuk global university yang di sana tertulis nama bule
dengan Prof Dr (bule yang mau dicocok idung), tidak perlu kuliah,
asal (istilah mereka) membayar biaya wisuda di hotel singapura 30
juta, bisa dapat gelar MSc atau PhD. Mantan Wapres kita, Pak Hamzah,
adalah "peraih" gelar doktor dari universitas ini, padahal pendidikan
formal beliah adalah akademi akuntansi di Kalimantan Selatan.
Bandingkan dengan mahasiswa yang susah payah belajar di AIT, Pak Wong
contohnya, membuat evolusi bioritmik, dengan mengubah siang jadi
malam dan malam jadi siang.
Walaupun menurut saya kasus Nelson Tansu ini kasus biasa dan tidak
ada apa2nya, tetapi dia sudah menunjukkan kelebihannya dengan
diterima sebagai tenaga pengajar (Assistant professor, bukan
professor, mungkin menuju professor nanti) di salah satu universitas
di amerika. Sepengetahuan saya, ada beberapa orang indonesia yang
sudah menjadi professor atau associate professor di universitas
amerika. Tapi jangan bergembira dulu, dalam hal jumlah masih kalah
sama bangladesh atau pakistan.
Saya mengharapkan suatu saat nanti ada tenaga pengajar (professor
bener) orang indonesia di MIT, Stanford atau Caltech. atau sekolah
kedokteran John Hopkins dan usianya masih 33 tahun. Karena menurut
sebagian orang, menjadi pengajar di perguruan2 tinggi tersebut adalah
salah satu ticket menuju nobel laureate.
Ngomong2 soal gelar, selamat bagi mereka yang baru saja meraih gelar
master, dan juga yang akan meraih gelar master (pasti bisa, karena
master di AIT sudah didisain, cuman bentuknya saja yang berbeda-beda,
lonjong atau bulat tergantung masing2). Jangan self-complacency,
apalagi terkena penyakit NPD, karena gelar master atau doktor baru
kulitnya saja, isinya tergantung pada kita, karena belajar tidak
berhenti ketika kita meraih gelar.
Maaf kepanjangan.
ariva
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo