Sorry; si Amang Dicky lagi haur mamutikin tarohan. Sementara, ini sebagai 
gantinya.

GBU Sabarataan.-

Date: Fri, 9 Jul 2010 08:45:45 +0700
From: [email protected]
To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Subject: [Fwd: [Fwd: (e-RH) Juli 09 -- Jangan Larut]]












-------- Original Message --------

  
    
      Subject: 
      [Fwd: (e-RH) Juli 09 -- Jangan Larut]
    
    
      Date: 
      Fri, 09 Jul 2010 07:33:53 +0700
    
    
      From: 
      SPIL Pekanbaru <[email protected]>
    
    
      To: 
      undisclosed-recipients:;
    
  





e-RH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

                           e-Renungan Harian
      Sarana untuk bertumbuh dalam iman & menjadi saksi Kristus
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Jumat, 9 Juli 2010
Bacaan: 2 Samuel 12:15-23
Setahun: Ayub 38-40:19; Kisah Para Rasul 16:1-21
Nats: Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa?
       Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi
       kepadanya,tetapi ia tidak akan kembali kepadaku (2 Samuel 12:23)

Judul:

                            JANGAN LARUT

   Seorang anak kecil menangis keras. "Mengapa kamu menangis?" tanya
   ibunya. "Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang," jawab
   anak itu. "Ya, sudah, Ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya," kata
   sang ibu sambil menyodorkan uang seribu. Anak itu menerima dengan
   gembira, tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. "Lo,
   mengapa kamu malah menangis lagi?" tanya ibunya pula. "Kalau uang
   dari Ayah kemarin tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu."

   Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu
   mencerminkan sikap kita dalam keseharian. Kita kerap lebih berfokus
   pada apa yang hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu
   sedih karena sesuatu yang "diambil" dari kita, sehingga lalu kita
   lalai untuk mensyukuri sesuatu yang "diberikan" kepada kita.
   Perhatian kita hanya tertuju pada yang sudah tidak ada.

   Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya dari Batsyeba
   meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya, memohon
   belas kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah
   arangkah Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata "Selagi anak
   itu hidup, aku berpuasa dan menangis ? Tetapi sekarang ia sudah
   mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya
   lagi?" (ayat 22,23). Daud seolah mau berkata. "Anak itu sudah tiada.
   Aku sangat sedih. Tetapi toh hidup harus tetap berjalan."

   Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada
   salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya
   dalam kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita
   jalani ?-AYA

                     HIDUP TIDAK SURUT KE BELAKANG
                  MAKA JALANI DENGAN MENATAP KE DEPAN

e-RH Situs:  http://renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2010-07-09
e-RH arsip web:        http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2010/07/09/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab:               http://alkitab.sabda.org/?2Samuel+12:15-23

   2 Samuel 12:15-23

   15 Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang
      dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.
   16 Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa
      dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu
      ia berbaring di tanah.
   17 Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk
      makan bersama-sama dengan mereka.
   18 Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai
      Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati.
      Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah
      berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita.
      Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati?
      Jangan-jangan ia mencelakakan diri!"
   19 Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik,
      mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya
      kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab
      mereka:"Sudah."
   20 Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar
      pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah.
      Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya
      dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.
   21 Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal
      yang kau perbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu,
      engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati,
      engkau bangun dan makan!"
   22 Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis,
      karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak
      itu tetap hidup.
   23 Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa?
      Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi
      kepadanya,tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."

Bacaan Alkitab Setahun:
       http://alkitab.sabda.org/?Ayub+38-40:19
       http://alkitab.sabda.org/?Kisah+16:1-21


e-RH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
                 Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
           Diterbitkan dan Hak Cipta (c) oleh Yayasan Gloria



                                          
_________________________________________________________________
New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.
http://windows.microsoft.com/shop

<<attachment: binacargo.vcf>>

Kirim email ke