--- On Sun, 7/25/10, Bambang Soewito <[email protected]> wrote:
From: Bambang Soewito <[email protected]> Subject: FW: FMH To: "Budi Wong" <[email protected]>, "Aubrey chen" <[email protected]>, "Calvin Tan" <[email protected]>, "danu jauhari" <[email protected]>, "Haliman" <[email protected]>, "Hinanto adiwidya" <[email protected]>, "Joey Minarto" <[email protected]>, "john siem" <[email protected]>, "martha aries" <[email protected]>, "mulia iskandar" <[email protected]>, "Saleh Tjandra" <[email protected]>, "Santo halim" <[email protected]> Received: Sunday, July 25, 2010, 9:17 PM #yiv1168830887 .yiv1168830887ExternalClass DIV {} INVESTASI SORGA Kalau saya perhatikan bagaimana orang dunia yang berhasil berinvestasi, ck ck ck bukan main, mereka berani banget, nggak tanggung-tanggung keluarin duit untuk mendapatkan imbalan balik. Ruangan dibikin sedemikian cantik, barangnya mahal-mahal, dekorasi selera tinggi – mereka kalau beli barang bukan yang murah, atau yang diskon, atau yang bekas; pasti yang terbaik, tanpa nawar, pokoknya yang nilainya tinggi dan 'gila-gilaan'. Sebaliknya, kalau kita mau beli barang udah mikir duluan,…duitnya tinggal berapa ya? Yang murah aja lah, yang kualitasnya lumayanan juga sudah cukup, orang pasti ngerti; atau yang diskonan wae. Lho, semua itu tidak ada salahnya. Tapi kalau kita mau menaikkan standar, kita juga sudah tidak bisa main-main dengan barang yang kita sajikan. Setiap hotel ada kelasnya, setiap toko juga, pelayanan juga! Mari kita berbicara dengan pikiran terbuka dan jangan cepat menghakimi dan mencemooh jika Saudara belum sampai ke level 'sana'. Saya akan ceritain suatu kisah nyata. Temannya teman saya orangnya sangat kaya sekali; rumahnya terdiri dari barang-barang luar semua; bahkan pegangan tangga saja dipesan dari Eropa. Mereka ini orang-orang yang cinta Tuhan abis, mereka juga terjun dalam pelayanan, tapi mereka full bisnismen. Isterinya selalu diberi uang sekitar 200 juta atau 2 M setiap bulan saya tidak ingat sebab nilainya pakai dolar, dan pokoknya harus habis. Jika tidak habis dibelanjakan, suaminya akan marah besar. OK, stop dulu, jangan menghakimi. Suatu hari mereka bisa pergi berlibur sama-sama sekeluarga. Kebetulan hanya ke Singapore saja, karena mereka jadwalnya padat, selalu tidak sempat bersama; satu ke Karachi, satu ke Kazakhstan; besoknya satunya ke Johannesburg satunya di Ho Chi Minh. Tapi karena kali ini bisa sama-sama, demi kebaikan dan menjaga kesehatan suami tercinta, isterinya membujuk suaminya agar melakukan check up total di hospital terkenal di Singapore. Suaminya menolak berkali-kali, tapi akhirnya terbujuk juga. Padahal sang suami hanya pingin ke Singapore karena kebelet beli hape Vertu, itu saja. Jadilah mereka masuk ke hospital, dan setelah mengadakan medical check up, jantung suaminya disuntik apa entah, yang tidak diketahui ternyata cairan dalam suntikan itu tidak cocok dengan darahnya sehingga menyebabkannya jantungnya melembung. Dia jadi koma tidak sadarkan diri, lalu seluruh badannya bengkak seperti balon. Isterinya menangis pagi-malam di sebelah ranjangnya sambil berbahasa roh, minta kesembuhan dari Tuhan. Pada hari ke 3 tiba-tiba sang suami matanya melek, kedip-kedip,...isterinya girang sekali, berhenti doa. Mengamati mulutnya yang terbuka dan bisa langsung tanya isterinya, “Sudah beli Vertu?” Ini tidak mengada-ada, ini betulan terjadi. Memang hape Vertu* mahal, tapi semahal-mahalnya itu masih sangat murah buat suami isteri yang cinta Tuhan dan diberkati luar biasa ini. Tidak ada yang salah dengan pengeluaran hape Vertu, tidak ada yang salah dengan menghabiskan uang yang diberi suami, tidak salah nempelin bata dari tembok Berlin. Tapi saat saya cerita begini, temen saya langsung menghakimi orang yang tidak dikenalnya ini dengan mengatakan bahwa mereka adalah hamba mammon. Hehehe,... inilah dosa balok di depan mata tidak nampak; saya bilang kamu harus bertobat lho karena sudah menghakimi. Saya balik dengan kisah hidupnya yang sampai sekarang ini juga sudah cukup berhasil walaupun belum kepikir beli Vertu, masih verti. Tapi mobil temen saya ini juga sudah bau merci. Kalau orang desa yang masih naik sepeda ontel melihatnya menghambur uang seperti itu, dia pasti juga bisa dihakimi sebagai hamba mammon. Kenapa nggak naik sepeda aja? Khan jauh lebih ngirit, ngga perlu keluar uang bensin, perawatan, uang parkir, sopir, dsb. Nah, hanya karena kita belum mencapai tahap mereka, apakah kita tidak segan-segan langsung menghakimi mereka? Ini namanya sirik terhadap keberhasilan orang yang lebih diberkati, sehingga dengan menghakimi orang kaya kita sendiri akan menutup berkat yang seharusnya disediakan buat kita. Tuhan suka memberkati umat-Nya, Abraham adalah orang yang sangat kaya, Daud, Salomo, banyak orang-orang yang diurapi dan dipakai Tuhan adalah orang-orang yang super duper rich. Saya tidak sedang menekankan mengenai kekayaan dalam topik yang kita bahas, namun saya baru saja meletakkan dasar mengenai pandangan kita terhadap uang, kekayaan, berkat, penggunaan uang dan kenaikan level dalam hal tertentu. Saya sekarang mengarahkan kepada bagaimana kita mulai naik level dan aplikasi penempatan keuangan yang Tuhan percayakan agar kita kelola. Sebagaimana hotel bintang 5 akan dihadiri oleh orang-orang berduit, tetapi hotel kelas emprit hanya dapat menggiurkan orang-orang yang berdompet emprit. Toko kelas rendah akan menarik pelangan rendahan yang tidak banyak duit, tetapi toko mebel mewah akan menarik orang-orang kaya. Itulah prinsip, dan ini bukan soal keduniawian atau kesurgawianto. Toko, warung, gerobak kecil akan bersukacita dengan 23 pelanggan yang datang berkerumun hari itu, dia akan mengolok yang besar karena sepi. Tetapi karena levelnya belum setinggi itu, dia tidak melihat keuntungan yang bisa dikeruk bos besar hanya dengan datangnya 1 kastemer saja dalam sehari. Orang berdasi tidak akan duduk di pinggir jalan makan mie ayam berdebu; sebaliknya tukang ojek tidak akan masuk ke Sushi Tei Restorante. Nah, sekarang Saudara jangan marah kalau saya bilang bahwa orang-orang kaya tidak banyak yang berminat untuk masuk gereja-gereja yang tidak ber-AC dan tidak ada tempat parkirannya yang memadai sebab gerejanya masuk pinggiran jalan gang jemprit. Jangan dibilang bahwa orang-orang kaya ini tidak akan masuk Sorga; siapa tahu justru pendeta kecil itulah yang tidak masuk Sorga. Jangan keliru, saya tidak menghakimi keduanya, tetapi saya bicara mengenai prinsip. Kebanyakan, pendeta kecil yang berpandangan kecil sukanya menghakimi pendeta besar dengan visi besar, itu sebabnya saya bilang jangan-jangan mereka yang malah masuk neraka, walaupun saya tidak mungkin gebuk rata bahwa pendeta kecil semuanya berpikiran seperti itu. Tapi kenapa kecil, kebanyakan karena tidak berjiwa besar, berpikiran besar, bervisi besar, beriman besar. Tapi ada juga yang memang sudah setia dalam perkara kecil, Tuhan tetap mempercayakan seperti itu dan ditolak oleh banyak orang, dia masuk Sorga bagian tertinggi. Itu beda ceritanya dan perkecualian. Nah, kembali lagi saya bicara mengenai service; jika kita melayani dan mau melakukan ke arah yang the best, kita akan menarik minat orang-orang yang hatinya terbuka dengan sikap the best. Kalau kita mau melayani dengan modal diskonan dan murahan, maka kita hanya akan menarik minat orang-orang yang bermental seperti itu. (Dalam hal ini saya tidak melarang pembelian barang diskon, tidak sama sekali; justru kalau ada yang berkualitas bagus dengan harga murah, kenapa bayar yang tidak diskon?). Tetapi mentalitas kita harus mulai dibangun dengan hal yang lebih baik, lebih tinggi. Sebab jika kita terus menerus hidup dalam kesamaan, kita tidak akan naik ke atas. Jika kita memberi dengan jumlah yang sama, kita juga tidak akan diberkati dengan berkat yang lebih besar. Ini lagi-lagi prinsip. Saya yakin tidak banyak yang mengerti prinsip kebenaran ini, jadi banyak yang hidup dalam mediocracy – biasa-biasa saja, tidak luar biasa, tidak berani mengadakan dobrakan, melambung. Penyebabnya? Takut. Apa? Uang! Sebenarnya prinsip ini sudah dipegang oleh orang dunia, malah kita-kita orang percaya yang seharusnya beriman gede karena punya Tuhan yang gede untuk mikir perkara gede malah takut keluar duit gede. Orang dunia sudah lama melakukannya, di dunia entertainment mereka ngga takut keluar modal gede banget untuk memperoleh hasil yang lebih guede. Seharusnya kita sama, berani tidak berhemat untuk memperoleh suatu pahala besar di Sorga, walaupun itu tidaklah boleh menjadi motivasi fokus pelayanan kita, tapi hanyalah bonus yang akan kita terima saat kita berhadapan muka dengan Raja kita nanti. International Training Director kami yang saat itu sedang berada di New Jersey untuk pelayanan, mengirimkan laporan kepada kami mengenai pemuridan, dan di samping itu ada sisipan kegiatan rileknya bersama murid-murid di New Jersey untuk melepas lelah. Di bawah ini laporan reporter kami dari salah satu bagian State di Amerika: Hari Jumat malam tanggal 22 January 2010, 4 hari setelah menerima materi dari KCC Pusat, seusai doa malam di Jemaat Beth Eden Pentecostal Church New Jersey, saya diajak oleh beberapa pelayan Tuhan di gereja untuk jalan2, katanya refreshing karena mereka nggak kerja hari Sabtu. Saya sebenarnya malas keluar apalagi sudah jam 11 malam belum lagi cuacanya sangat dingin tapi mereka ( Bro Oral, Bro Anis, sis Lily and sis Meitha ) berkata ayolah dok, kapan lagi kita bisa jalan2 sama dokter, kan 1 minggu lalu di pastori puasa total jadi dokter hanya tahu ke gereja and ke pastori. Akhirnya kami merambah ke starbucks and puji Tuhan masih buka, kami adalah costumers terakhir mereka, itu pun harus take away karena mau tutup dalam 5 menit. Lalu kami berbincang2 mau ke mana nih dingin2? Saya sih nggak tahu tempat, kalian tuan rumah yang punya kota ini dong yang tentukan, yang penting aku tahu bahwa kalian mengajak aku ke tempat yang benar. Caileeee….sok rohani bangat. Lalu mereka mengajukan usul, bagaimana kalau kita ke Atlantic City? Wow…apaan itu? Saya pikir kayak bulan July lalu ke Time Square, atau ke Brooklin bridge pokoknya sejenisnya deh. Ternyata kami masuk di Trump Taj Mahal, pusat Casino terbesar di New Jersey kepunyaan Trump Donald. Begitu masuk tempat parkir sekitar pukul 1 pagi, saya bagi-bagi garam kepada teman2 dan menjelaskan kepada mereka bahwa kita ada di medan pertempuran dan sekaligus praktek apa yang barusan mereka dengar di khotbah tadi tentang “garam” (ini merupakan salah satu misi nasional dan internasional KCC). Mulailah peperangan dan penggaraman. Betapa merintihnya hati saya melihat orang-orang begitu banyak di sana, ada yang sudah duduk di kursi roda, seorang oma lagi dikursi roda dengan slang infusnya ditemani sang opa begitu setia, sama2 main and sepakat datang ke situ, ada yang datang 1 keluarga sepertinya orang Asia yg matanya cipit, mereka masih dengan tas troly kesannya mereka baru dari airport dan kedua bocah mereka sekitar 8 tahun dan 10 tahunan begitu senang menyerbu tempat game judi itu. Wow….dari bangsa-bangsa datang berduyun2. Kami kelilingin ruangan2 yang lebih besar dari Mall Of Indonesia itu, menabur garam sambil berdoa minta belas kasihan Tuhan atas setiap jiwa yang datang ke situ mencari kesenangan sesaat dan menimbulkan bencana berkepanjangan dalam hidup mereka. Sekitar 1 jam kami menyebar, akhirnya kami duduk2 share di lobby hotel Tajmahal, dan mulai mendiskusikan betapa canggihnya (bukan mau membesarkan iblis) cara iblis bekerja. Dia bisa memakai orang2 kaya untuk investasi besar2an. Malahan Brur Oral sempat menghitung 1 lampu Kristal yang gedenya seukuran kamar tidurnya, dia berkata untuk 1 lampu ini aja sudah bisa bikin 1 gedung gereja. Belum nilai 1 pilarnya. Maka ditariklah kesimpulan sementara (semoga nggak kesan menghakimi) bahwa salah satu penyebab kekristenan tidak berkembang sepesat perjudian Tajmahal (hanya sebagai sampel) adalah karena kita orang Kristen kalah berani berinvestasi dengan orang dunia. Mereka buat yg terbaik dan termewah buat pelanggan mereka, biar orang yang datang bisa betah nggak pulang2 karena di tempat itu lengkap dengan hotel dan segala fasilitas yang membuat orang lupa pulang ke rumah. Malahan ada bonus2 hotel yang kalo nginap nggak usah bayar. Menimba dari apa yang orang dunia lakukan untuk menambah dosa, seharusnya kita berani berinvestasi besar-besaran pula untuk menyabet jiwa-jiwa bagi Kerajaan Sorga. Sungguh kami berusaha melakukannya; semua uang diinvestasikan untuk gedung baru yang lebih luas, barang-barang baru, peralatan untuk para trainee yang akan datang dari penjuru pulau dan dunia. Tak terpikirkan oleh kami sebelumnya bahwa kami akan dipercaya dengan kapasitas internasional – dan ya, itu kami sadari karena kami dapat dipercaya dengan perkara kecil, uang kecil, tenaga kecil, tapi kami setia, dan imbalannya sekarang kami bergerak ke bangsa-bangsa. Kami sedang mencoba ke arah sana; mengisi kantor Kingdom dengan perkakas yang mahal (belum yang lux super mahal selangit sih), kami memilih yang baik dan indah, dan cenderung yang tidak terlalu murah. Kami tetap tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang dipercayakan kepada kami; tapi intinya kami menyadari ini milik murid-murid, milik Participants – jadi mereka layak menikmatinya. Waktu mereka melihat kantor saya yang imut banget, beberapa teriak protes; saya pikir wajar sajalah, asal bisa untuk saya duduk dan nulis kayak gini udah cukup banget – tapi intinya kami memikirkan murid-murid saja, karena kami hadir untuk mereka. Semua didisain untuk kepentingan mereka, kami hanya ambil ruangan sedikit dan seperlunya saja untuk kerja. Setiap kali saya bicara mengenai VISI di hadapan para pendeta-pendeta, saya selalu mengutip Yesaya 54:3-1. Visinya besar, yaitu mengembang ke kanan dan ke kiri, mendiami kota-kota sunyi, memperoleh tempat bangsa-bangsa. Kiatnya? Harus melapangkan bangunan, memasang dan memperlebar kantor dan ruang, harus memasang patok kuat-kuat (untuk persiapan bangunan tinggi patoknya harus kuat), memanjangkan kabel-kabelnya (supaya bisa berhubungan dengan luar negeri)…lalu apa yang PENTING yang dikatakan di sana? JANGANLAH MENGHEMATNYA! Waktu saya bicara dengan salah satu murid yang bantuin konstruksi kantor kami mengenai ‘jangan berhemat’, dia kaget. Dan memang bahkan banyak pendeta pun baru dibukakan mengenai hal ini; kalau mau liat visi tambah besar, jangan berhemat, harus keluar uang. Yesaya 54:3-1 VISI: Yes 54:3 Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi. MISI: Yes 54:2 Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! JANJI KEPADA: Yes 54:1 Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN. Ah, dan percayalah, untuk tidak berhemat itu tidak mudah; walaupun kalau dipikir ini bukan uang kami sendiri, tetapi bukan itu poinnya, kami dipercaya Saudara untuk mengelola harta Sorga; kami langsung bertanggungjawab kepada Tuhan. Kami tidak menghambur-hamburkan, dan kami tidak dengan mudah keluar uang. Kami memperhitungkannya, tetapi kami tetap harus tidak berhemat. Kami tidak menyimpan uang untuk kepentingan kami, kami mengeluarkannya sebagai suatu investasi di jiwa-jiwa. Itu adalah pekerjaan kami bagi Saudara yang bersama menabur benih jiwa dalam pelayanan The Kingdom. Beda dengan orang yang suka menghambur, boros berbelanja, pakai kartu kredit sampai off limit – saya tidak sedang berbicara hal itu, tapi mengenai orang yang sungguh-sungguh tahu bertanggung jawab atas uangnya Tuhan lalu mulai switching ke arah jangan berhemat, it's not easy. But we try our best. Keuangan kami merosot, tapi kami bersukacita dan tetap percaya karena kami sedang melapangkan kemah, sedang mempersiapkan tempat bangsa-bangsa. Watchman Nee berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan uang jika kita tidak membutuhkannya atau tidak menggunakannya. Misalnya kita masih punya uang 500 juta, tapi kita minta 5 miliar; untuk apa? Tuhan mau agar kita memakai dulu yang ada, sebab ngapain Tuhan deposit uang mandeg, sedangkan Dia masih bisa memutarkannya untuk keperluan proyek-Nya yang lain di belahan dunia? Ya masuk akal juga khan? Saya belajar dari Pendeta saya, beliau nggak suka kalau ada uang misi mandeg, itu harus dikeluarkan, harus dikelola. Dan benar, waktu dikelola, uang ngucur lagi. Tapi ya itu, percayalah, bagi kita-kita yang terbiasa hidup ngirit untuk mulai tidak berhemat itu agak harus memacu diri. Tapi kapan lagi kalau nggak mulai sekarang? Kapan lagi kita menguji iman kita sendiri? Kalau nanti di Sorga udah terlambat, sebab di sana nggak perlu iman, yang dibutuhkan yaitu di sini. Luk 18:8 “... Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Saudara yang selama ini hidup dalam mediocracy/keterbiasaan/kebiasa-biasa sajaan, belajarlah untuk berubah, bertambah, beranilah dalam memberi, beranilah menantang Tuhan dengan iman. Jangan mematok, naikkan levelmu, lakukan loncatan, gebrakan, – engkau akan melihat hidupmu diberkati. source: www.maqdalene.net * handphone bertatahkan berlian. Turn down-time into play-time with Messenger games Play Now!

