Sambungan berita Pastur dipaksa keluar dari Gereja.
 
Nih Roy dan teman2 semua, penjelasan detail dari mereka yang berada disana
saat kejadian,dan tolong cukup sampai disini aja,tidak perlu diperpanjang.
Kalau udah murtad ya mau diapakan lagi,biar aja mengembara didunia yang fana
ini,toh nanti paling-paling jadi malaikat.
Semoga aja Tuhan mau mengampuninya dan sadar kalau memang dia keliru dan
sebaliknya Keuskupan juga harus tetap memberikan kesempatan lain agar jangan
dibiarkan begitu saja,kasihan karena penyesalan pasti datang paling dulu
bukan belakangan.

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Caecilia Nita
Sent: 25 Agustus 2010 9:43
To: Keuskupan Denpasar; WKRI DPD Bali - NTB Groups; Kuta FX Groups; Gereja
Katolik Maria Bunda Segala Bangsa Groups
Subject: [kutafx] Singaraja (klarifikasi dari Romo Hans)


  


---------- Forwarded message ----------
From: --- Edwin Greg TR --- <[email protected]>
Date: 2010/8/25
Subject: [Kom-KAS] Fwd: [kampus_servatius] FW: [internos] Fwd: Singaraja
(klarifikasi dari Romo Hans)
To: Komunikasi_KAS <[email protected]>

  

---------- Forwarded message ----------
From: Y. Chris Purba <[email protected]>
Date: 2010/8/24
Subject: [kampus_servatius] FW: [internos] Fwd: Singaraja
To: "Y. Chris Purba" <[email protected]>

  


J Save Our Land P Save Our Trees . cid:[email protected]
<mailto:image001.gif%4001C9A241.20658D70cid> :[email protected]
<mailto:image001.gif%4001C9A241.20658D70> 
Global Warming Is Real.

From: Ignatius Loyola Madya Utama S.J. [mailto:[email protected]
<mailto:joysj%40jesuits.net> ] 
Sent: Tuesday, August 24, 2010 23:29
To: [email protected] <mailto:provindo%40googlegroups.com> 
Subject: [internos] Fwd: Singaraja

Para saudara se-Provindo,

Barangkali penjelasan dari Hans (Handriyanto Widjaya) ini ada manfaatnya.

salam,
madya.
---------- Forwarded message ----------
From: jhans <[email protected] <mailto:jhans54%40gmail.com> >
Date: 2010/8/24
Subject: Singaraja
To: jhans <[email protected] <mailto:jhans54%40gmail.com> >

From: jhans [mailto:[email protected] <mailto:jhans54%40gmail.com> ] 
Sent: Tuesday, August 24, 2010 11:47 PM
Subject: 

Saudara-Saudari, terimakasih atas pertanyaan dan dukungan. Saya dengar RCTI
dan yang saya lihat, MetroTV, memberi berita yang cenderung negatip. Saya
lampirkan juga berita dari KOMPAS.com.
Pelurusan berita:
1. Memang terjadi pengambil alihan Gereja. Karena Rm. Yan, sudah 15 tahun
tidak taat dan menolak untuk dipindah dari Singaraja. dia dulu anggota
Konggregasi SVD; yang akhirnya dipecat juga dari sana oleh Jenderal SVD,
karena keras kepala dan ketidak taatan.
2. Selama 14 tahun, sudah 3 Uskup mencoba menawari dia berbagai kemungkinan
dari studi di luar negeri, boleh pilih paroki mana yang diinginkan. Waktu
dia dikeluarkan oleh Kongregasi SVD, para uskup ini menawarkan Rm. Yan untuk
menjadi romo projo. 2 uskup terdahulu, menawari dia jadi romo Projo DI LUAR
keuskupan Denpasar. Uskup yang sekarang, Mgr. Silvester San, menawari dia
menjadi projo Keuskupan Denpasar. Tapi Rm.Yan menolak dan menyatakan ingin
tetap jadi romo SVD. bahkan dia masih memakai gelar SVD pada namanya.
3. Setelah semua usaha pendekatan personal dan pastoral tidak berhasil, Mgr.
San menghadap Bupati Singaraja untuk menengahi. Bupati menugaskan Kementrian
Agama (dulu Dept. Agama) Singaraja untuk jadi penengah. Mgr. San dengan team
dari Denpasar datang; tetapi Rm. Yan yang rumahnya hanya 50 meter dari
Kantor Agama, menolak datang. harap diketahui, Singaraja itu ada di ujung
utara P. Bali, memakan waktu 2 setengah jam dari Denpasar.
4. lalu Mgr. San membuat surat pernyataan yang menjelaskan kronologis
ketidak taatan Rm. Yan yang disebarkan kepada semua Uskup di Indonesia dan
paroki-paroki yang terkait. Mgr. San datang ke Singaraja untuk menjelaskan
surat ini langsung kepada umat yang setia kepada uskup. Ada umat dari pihak
Rm. Yan yang datang, lalu minta Uskup menjelaskan hal ini di Gereja Kartini
(istilah yang kita gunakan untk gereja yang diduduki Rm. Yan). setelah
mendapat kepastian bahwa Mgr. San memang ditunggu di Gereja Kartini, maka
rombongan kesana. Tetapi penjelasan Mgr. San tidak diterima baik, malah
dicaci maki dan dilecehkan.
5. Pihak keluarga Rm. Yan, yang berasal dari paroki Tuka di dekat Denparar
mencoba mendatangi Rm. Yan. tetapi ditolak oleh para pendukung Rm. Yan dan
dia sendiri hanya diam saja.
6. Setelah semua upaya damai gagal, Mgr. San membuat pengaduan ke polisi,
tentang pendudukan tanah dan gedung gereja secara tidak sah. sayang polisi
menyatakan: belum ditemukan indikasi tindak pidana; dinyatakan bahwa ini
adalah masalah internal Gereja Katolik.
7. Karena semua usaha mencari penyelesaian tanpa kekerasan tidak berhasil;
Mgr. San memutuskan untuk menyelesaikan hal ini secara internal Gereja. Mgr.
San mengumpulkan tokoh-toloh etnis NTT (sebagian besar pendukung Rm. Yan itu
orang NTT dan Timor Leste); pihak keluarga Rm Yan untuk masuk ke Gereja
Kartini; dengan tekanan setiap kelompok etnis menangani orang-orangnya
sendiri, Rm. Yan ditangani oleh keluarganya. sasaran tindakan ini adalah
mengeluarkan Rm. Yan dan Annis Ola (koster yang sangat berpengaruh pada Rm.
Yan) yang menjadi sumber keonaran di paroki Singaraja selama lebih dari 15
tahun dari pastoran dan rumah koster.
8. Hari Minggu, tua-tua adat suku Annis Olla datang menemui dia untuk
mengajaknya keluar. tetapi hal ini ditolak dan menjadi titik awal persiapan
mereka untuk mempertahankan diri. bahkan mereka memanggil preman dari desa
di Singaraja dan melaporkan ke Polres bahwa Gereja kartini akan diserang
oleh premannya uskup.
9. pada pagi hari sebelum kami masuk, Polres Singaraja mengadakan sweeping
dan mengeluarkan 14 orang yang memang dikenal sebagai preman dan meminta
semua orang yang bukan Katolik untuk keluar dari Gereja Kartini.
10. Pada saat kami akan masuk, kamu berbaris di depan gereja untuk berdoa.
tetapi kami sudah dimaki-maki oleh seseorang dari Gereja Kartini dan disebut
preman Uskup dan mengusir. anak-anak muda mulai terpancing emosinya, tetapi
masih dapat dicegah. tetapi saat doa mulai, provokasi lain, pintu gerbang
gereja dibuka-tutup. ketika beberapa orang mendekat, pintu ditutup dan
digembok kembali. emosi anak-anak muda tidak dapat dikontrol; mereka
mendobrak pintu gerbang dan menyerbu masuk. tetapi waktu itu para tua-tua
adat masih dapat menguasai anak buahnya. mereka meminta kelompok sukunya
yang membela Rm. Yan untuk keluar meinggalkan Gereja. tetapi ada 1 anak
muda, Theo, menolak untuk keluar. akibatnya, ketika ia ditemukan, tanpa
memakai pita putih yang menjadi tanda kami, maka dia diserbu. tetapi
akhirnya Etnis Manggarai berhasil mengeluarkan dia dari gereja.
11. Kami mencari dimana Rm. Yan dan Annis Ola bersembunyi. Annis ditemukan
bersembunyi di sakristi Gereja. Kelompok etnisnya mengeluarkan dia dari
gedung gereja dan melindungi dia dari massa yang panas. dia langsung
dimasukkan ke mobil dan dibawa ke Denpasar. lalu istri Annis, diminta
mengeluarkan harta bendanya dari rumah koster dan membawanya pergi. Saya
tidak ada disana, tetapi sesudah semua selesai, saya tidak melihat ada
jendela dan pintu yang rusak di rumah koster. bahkan kelompok etnisnya
membantu membawa keluar inventaris keluarga itu. dan dari berita yang ada,
tidak ada kabar bahwa anak Annis terluka oleh pecahan kaca. karena tidak ada
kaca yang pecah.
12. tindakan yang kedua adalah mencari dimana Rm. Yan bersembunyi. dihadapan
polisi, tiap etnis dibagi dalam beberapa kelompok untuk mencari di semua
ruangan yang ada. karena semua terkunci, maka pintu-pintu dijebol; juga
lemari-lemari yang mungkin menjadi tempat persembunyian Rm. Yan. Dan Rm Yan
ditemukan. dia tidak melawan, tetapi menolak untuk keluar. sehingga oleh
keluarganya sendiri, tetpaksa diseret dan dimasukkan ke mobil untuk dibawa
pulang ke rumah keluarganya di Paroki Tuka.
13. Setelah selesai, kami merayakan Misa di gereja bersama rombongan
Denpasar dan umat Singaraja yang setia kepada uskup. kemudian kami
mengumpulkan milik pribadi Rm. Yan dan siap akan diantar besok ke rumah
keluarga.
KOMPAS tidak salah memberi kabar, karena hanya melihat apa yang terjadi;
tetapi nampaknya tidak ikut hadir pada saat pertemuan dengan press untuk
menjelaskan latar belakangnya. Begitu juga dengan RCTI atau Metro TV.
Demikian penjelasan saya. semoga menjadi pemahaman bagi semua.









difoward-kan hanya untuk kalangan Keuskupan Denpasar oleh :
Caecilia Nita Togatorop
Nusa Dua, Bali
[email protected]
[email protected]
[email protected]
http://combie2606.multiply.com/



Kirim email ke