PEGAWAI HARUS MEMILIKI SIFAT IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DAN BERSIH DARI 
MENERIMA SOGOKAN DAN HADIAH. 

Setiap pegawai wajib menjadi seorang yang menjaga kehormatan dirinya, 
berjiwa mulia dan kaya hati. Jauh dari memakan harta-harta manusia dengan 
batil, dari apa-apa yang diberikan kepadanya berupa suap walau dinamakan 
dengan hadiah. Karena apabila dia mengambil harta manusia dengan tanpa hak 
berarti ia memakannya dengan batil, dan memakan harta dengan cara batil 
merupakan salah satu sebab tidak dikabulkannya do’a.

Muslim meriwayatkan di dalam shahihnya (1015) dari Abu Hurairah, ia 
berkata, “Rasulullah telah bersabda, 

“Sesungguhnya yang pertama busuk dari manusia adalah perutnya, maka 
barangsiapa yang sanggup untuk tidak memakan melainkan yang baik maka 
lakukanlah, dan barangsiapa yang bisa untuk tidak dihalangi antara dia dan 
surga walau dengan segenggam darah yang ditumpahkannya maka lakukanlah”

Dan yang juga diriwayatkannya (2083) dari Abu Hurairah dari Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak 
peduli dengan cara apa dia mengambil harta, apakah dari yang halal atau 
dari yang haram”.

Menurut orang-orang yang mengambil harta tanpa peduli ini ; bahwasanya 
yang halal adalah yang berada di tangan dan yang haram adalah yang tidak 
sampai ke tangan. Adapun yang halal dalam Islam adalah apa yang telah 
dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan yang haram adalah yang telah 
diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Telah datang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
hadits-hadits yang menunjukkan dilarangnya aparat pekerja dan pegawai 
mengambil sesuatu dari harta walaupun dinamakan hadiah, diantaranya hadits 
Abi Sa’id Hamid As-Saidi, ia berkata.

“Artinya : Rasulullah mempekerjakan seseorang dari suku Al-Asad, namanya 
Ibnul Latbiyyah untuk mengumpulkan zakat, maka tatkala ia telah kembali ia 
berkata, ‘Ini untuk engkau dan ini untukku dihadiahkan untukku’. Ia (Abu 
Hamid) berkata, ‘Maka Rasulullah berdiri di atas mimbar, lalu memuja dan 
memuji Allah dan bersabda, ‘Kenapa petugas yang aku utus lalu ia 
mengatakan, ‘Ini adalah untuk kalian dan ini dihadiahkan untukku?! Kenapa 
dia tidak duduk di rumah bapaknya atau rumah ibunya sehingga dia melihat 
apakah dihadiahkan kepadanya atau tidak?! Demi Dzat yang jiwa Muhammad di 
tangan-Nya! Tidaklah seorangpun dari kalian menerima sesuatu darinya 
melainkan ia datang pada hari Kiamat sambil membawanya di atas lehernya 
onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik’, 
kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sampai kami melihat putih kedua 
ketiaknya, kemudian bersabda dua kali, ‘Ya Allah, apakah aku telah 
menyampaikan?” [Diriwayatkan Al-Bukhari 7174 dan Muslim 1832 dan ini 
adalah lafazhnya]

Dan di dalam shahih Bukhari (3073) dan shahih Muslim (1831) –dan dengan 
lafazhnya- dari Abu Hurairah, ia berkata.

“Artinya : Rasulullah berbicara kepada kami pada suatu hari, maka beliau 
menyebutkan Ghulul [1] dan beliau menganggapnya perkara yang besar, 
kemudian ia berkata, ‘Aku akan temui salah seorang kalian yang datang pada 
hari Kiamat di atas lehernya ada onta yang bersuara, ia berkata, ‘Hai 
Rasulullah, tolonglah aku’, maka aku (Rasulullah) mengatakan, ‘Aku tidak 
mampu berbuat apa-apa untukmu sedikitpun, sungguh aku telah menyampaikan 
kepadamu’, Aku tidak temui salah seorang dari kalian datang pada hari 
Kiamat dengan kuda di atas pundaknya yang memiliki hamhamah (suara), 
lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Bantulah aku’, maka aku berkata, ‘Aku 
tidak bisa membantu sedikitpun, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, 
Aku tidak dapatkan salah seorang darimu datang pada hari Kiamat dengan 
kambing yang mengembik diatas pundaknya seraya berkata, ‘Hai Rasulullah! 
Tolonglah aku’, Maka aku menjawab, ‘Aku tidak mampu berbuat apa-apa 
untukmu, aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan dapatkan salah seorang 
dari kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa jiwa yang menjerit, 
lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, Maka aku berkata, ‘Aku 
tidak memiliki apa-apa untukmu, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, 
Aku akan mendapatkan salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat 
dengan pakaian diatas pundaknya ada shamit (emas dan perak), lalu ia 
berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, maka aku akan menjawab, ‘Aku 
tidak memiliki apa-apa untukmu, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu”.

Riqa di dalam hadits ini maksudnya adalah pakaian dan shamit adalah emas 
dan perak.

Diantaranya hadits Abu Hamid As-Sa’di, bahwasanya Rasulullah bersabda.

“Artinya : hadiah-hadiah para pekerja adalah ghulul (khianat)”.

Diriwyatkan oleh Ahmad (23601) dan lainnya, dan lihat takhrijnya di kitab 
Irwa Al-Ghalil oleh Al-Albani (2622), dan ini semakna dengan hadits yang 
telah lalu dalam kisah Ibnu Al-Latbiyyah.

Diantaranya hadits Adi bin Umairah, ia berkata, “Aku mendengar bahwa 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang kami pekerjakan atas suatu 
pekerjaan, lalu ia menyembunyikan dari kami satu jarum atau yang lebih 
kecil, maka dia adalah ghulul dan ia akan datang dengannya pada hari 
Kiamat” [Dikeluarkan oleh Muslim]

Diantaranya hadits Buraidah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau 
bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu 
kami memberinya bagian, maka apa yang diambilnya setelah itu adalah 
perbuatan khianat” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad shahih, dan 
dishahihkan oleh Al-Albani]

Dan dalam biografi Iyadh bin Ghanam dari kitab Shifatush Shafwah oleh 
Ibnul Jauzi (1/277), ketika itu ia sebagai gubernur Himsh dalam 
pemerintahan Umar, bahwasanya ia berkata kepada sebagian kerabatnya dalam 
sebuah kisah yang panjang, ‘Demi Allah! Jika aku digergaji lebih aku sukai 
daripada aku berkhianat seperak uang atau aku melampaui batas!”.

Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar membimbing setiap pegawai dan 
pekerja dari kaum muslimin untuk menunaikan pekerjaannya sesuai dengan 
yang diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan ia mendapatkan pahala serta 
akhir yang terpuji di dunia dan akhirat.

Dan semoga Allah bershalawat dan salam serta memberikati hamba-Nyadan 
rasul-Nya, nabi kita Muhammad dan atas keluarga serta 
shahabat-shahabatnya.

[Disalin dari kitab Kaifa Yuaddi Al-Muwazhzhaf Al-Amanah, Penulis Syaikh 
Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad, Penerjemah Agustimar Putra, Penerbit Darul 
Falah, Jakarta 2006]
__________
Foot Note
[1]. Al-Ghulul maksudnya perbuatan curang dan yang dimaksud hadits ini 
adalah mengmbil ghanimah (rampasan perang) dengan sembunyi-sembunyi 
sebelum dibagikan (pen). 
================================
                      A. Hendarjat
             Distribution Department 
  Regional Distribution Centre - Jakarta
       Mail to : [EMAIL PROTECTED]
              [EMAIL PROTECTED]
================================

Kirim email ke