Tersesat di surga
----------------

Seorang pemuda (disngkat P), ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi
(disingkat S). Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah
melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur'an, berkorban untuk orang
lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan
amalnya. Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini
dalam buku hariannya, dari hari ke hari.

P : "Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…"
S : "Apa yang sudah anda lakukan?"
P : "Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…"
S : "Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?"
P : "Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan
larangan Allah?"

S : "Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?"
P : "Saya sendiri…hmmm…."
S: "Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?"
P : "Jelas dong tuan…"
S: "Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah
akan tersesat disana…"

Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara
marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.

P : "Mana mungkin  di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut
aliran sesat…"
S : "Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya…."
P : "Toloong diperjelas…"
S : "Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah
bagaimana?"
P "Lho kenapa?"
S : "Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?"
P : "Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih
saya ingat semua…"
S : "Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat
amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal
ibadah anda? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan
amal anda sekarang ini?"

Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang
membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima,
soal ikhlas dan tidak ikhlas. Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi
menepuk pundaknya.

S : "Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar
saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu
tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan
sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan
rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?"

P : "Saya harus bagaimana tuan…"

S : "Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan
diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam
beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk
ke dalamnya…"

Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.

S : "Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin
neraka bersama Allah?"

Pemuda itu tetap saja bengong.

Kirim email ke