maaf kalau kepanjangan, tapi semoga bermanfaat

salam,
Firsty Husbani
-----------------------

 SHAUM DAN BEKAL PERTANGGUNG JAWABAN DI AKHIRAT September 3rd, 2008


Drs. H. Ahmad Hasan Ridwan, M.Ag.

Ramadhan telah menyediakan kesempatan bagi  umat Islam di hadapan Tuhannya
untuk  meniti kehidupan yang lebih baik yaitu melalui puasa (shaum) sebagai
bentuk *riyadah* (latihan spiritual), pendakian ruhani yang lebih agung.
Shaum Ramadhan ibarat tangga spiritual yang telah tersusun anak-anak
tangganya secara baik dan apik. Di antara anak-anak tangga itu adalah
kebersihan dan keikhlasan niat, sikap defensif (*imsak*) terhadap perilaku
dan pembicaraan yang jelek dan dusta, produktif beribadah shalat baik wajib
maupun sunnat, banyak berdo'a, membangun kesadaran sosial (infaq, shadaqah
dan zakat), membaca al-Qur'an dan beri'tikap di mesjid.

Pelaksanaan shaum bertujuan untuk mencapai derajat ketakwaan, yaitu agar
umat Islam belajar melaksanakan apa yang diperintahkan dan menghindari
perbuatan yang dilarang Allah SWT. karena itu, pencapaian derajat ketakwaan
ditentukan oleh kemampuan menjaga diri dan meinternalisasikan sikap menahan
(*al-Imsak*) yang  tidak hanya  menahan diri dari makan minum dan jima,
tetapi menahan secara ekstra psikologis terhadap segala bentuk perbuatan
dosa (*munkar*) dan tidak baik (*fakhsya*).



*"Hai sekalian manusia, bertakwalah hanya kepada Tuhan-Mu yang telah
menciptakan kamu dari diri yang satu."* (Q.S. an-Nisa :1).



 Ketakwaan merupakan alat kontrol yang paling efektif dan paling manjur bagi
perbuatan dosa, karena itu ketakwaan melahirkan tanggung jawab (*mas'uliyah,
responsibility*) seorang muslim baik terhadap dirinya, terhadap manusia dan
terhadap Allah SWT. landasan tanggung jawab sebagaimana tertuang dalam
firman Allah Q.S. At-Tahrim : 6:

"*hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan".*

* *Kemudian hadits Nabi  dari Ibnu Mas'ud bahwa nabi saw. Bersabda: *"akan
ada nanti orang-orang  yang mementingkan diri sendiri dan beberapa perkara
yang kamu inkarinya, lalu para shahabat bertanya : "Ya Rasulullah gerangan
apa yang tuan perintahkan kepada kami ? Nabi menjawab : Tunaikanlah apa yang
menjadi kewajiban dan mintalah kepada Allah akan hakmu itu "*. ( H.R.
Bukhari).

Ketakwaan yang menjadi tujuan utama mengantarkan seorang muslim untuk
mempersiapkan dirinya mencapai kebahagiaan baik kebahagiaan di dunia maupun
kebahagiaan hakiki di akhirat kelak. Bagi muslim yang melaksanakan shaum
akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu : *"kebahagiaan di waktu berbuka
puasa dan kebahagiaan di waktu pertemuannya dengan Allah SWT*".

Kebahagiaan pertemuan dengan Allah merupakan puncak prestasi dari nilai
ketakwaan yang telah diinvestasikan seorang muslim lewat amal sholehnya,
seperti dalam Q.S. al-kahfi : 110 :

"…*Siapa yang berkeinginan untuk mendapatkan pertemuan dengan Allah, maka
hendaklah melakukan perbuatan amal shaleh dan jangan sekali-kali berbuat
syirik kepada Allah sedikit pun".     *

Kebahagiaan di akhirat kelak tentu saja didapatkan setelah seorang muslim
melakukan amal shaleh sebagai sebuah proses untuk mendapat derajat
ketakwaan. Pertemuan dengan Allah di akhirat adalah dimensi teologis yang
harus diimani oleh setiap muslim. Mengimani hari akhirat merupakan rukun
iman yang kelima, dan setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya.
Bagi mukmin yang takwa tidak akan menjadi hambatan dan beban yang berat,
karena peristiwa nanti akan dijalani sebagai sebuah proses perjalanan
spiritual yang pasti akan dialami.  Di dalam hadits-hadits shahih
diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang di dalam kubur
dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di padang *mahsyar*.
Setiap manusia akan menghadapi peristiwa tersebut dan akan diminta
pertanggung jawabannya tentang segala macam yang telah dilakukan selama
hidup di dunia ini.

Pada hari itu yang akan bersaksi adalah tangan dan kaki manusia sedangkan
mulutnya akan ditutup, "*pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan
berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka
terhadap apa yang dahulu mereka ushakan*." (Yasin: 65) kemudian, nanti
manusia akan diminta pertanggungjawaban atas semua amal perbuatannya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda : *"Tidaklah bergeser kedua
kaki seorang hamba ( menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya
tentang empat perkara, yaitu : umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk
apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia habiskan dan
badannya untuk apa ia gunakan"*  (HR. al-Tirmizi dan al-Darimi). hadits ini
menjelaskan tentang pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah untuk
menjawab empat pertanyaan yang diajukan: *pertama*, umur. Umur adalah nikmat
yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Bagi seorang muslim, umur menjadi
sarana penting untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT., dan tidak
dibenarkan umur manusia dipakai untuk maksiat dan berbuat kejahatan yang
melanggar aturan Allah SWT.

Di antara umur kita yang digunakan untuk beribadah adalah silaturrahmi, yang
merupakan ibadah sosial. Secara naluri, manusia sebagai makhluk
bermasyarakat, memerlukan  komunikasi yang mesra dengan sesamanya.
Komunikasi itu merupakan proses awal terjadinya kerja sama. Dalam istilah
agama Islam, komunikasi lebih populer dengan sebutan silaturrahmi. Muhammad
bin Ismail al-Kahlani menjelaskan bahwa silaturrahmi berasal dari bahasa
Arab yang artinya hubungan keluarga yang bertalian darah. Dari arti itu,
lalu beralih ke arti lain, yaitu menghubungkan sesuatu yang memungkinkan
terjadinya kebaikan serta menolak sesuatu yang akan menimbulkan keburukan
dalam batas kemampuan.

Cakupan silaturrahmi itu begitu luas. Ia tidak hanya menyangkut keluarga  yang
bertalian darah, tetapi juga hubungan antara sesama manusia dan hubungan
antara manusia dan alam sekitarnya. Dengan demikian, silaturrahmi itu ada
bermacam-macam: (1), silaturrahmi dengan diri sendiri, (2), silaturrahmi
dengan sesama manusia, (3), silaturrahmi dengan yang seagama, dan (4),
silaturrahmi dengan alam sekitarnya.

 Adapun tingkatan-tingkatan silaturrahmi adalah sebagai berikut : (1),
berjabatan tangan (*mushafahah*). Tingkatan ini membwa manusia kepada sifat
lapang dada (*al-shafh*) yang lahir dari sifat pemaaf (*al-afw*). Oleh
karena itu, kata *al-shafh* dalam al-Qur'an biasanya didahului dengan kata
al-afw seperti terlihat dalam surat *al-Taghabun* 64:14; *al-Nur* 24: 22;
dan surat al-Maidah 5: 3 yang masing-masing berbunyi sebagai berikut :*"Apabila
kamu memaafkan dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah
SWT. Maha Pengampun lagi maha penyayang"  "Hendaklah mereka  memaafkan dan
melapangkan dada ! apakah kamu tidak hendak diampuni oleh Allah
SWT.?."Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada. Sesungguhnya Allah senang
kepada orang-orang yang berbuat kebaikan." (2)*, saling memberi nasihat (*
tausyiah*). Nasihat diarahkan kepada perwujudan kebaikan dan penghilangan
kemaksiatan demi terbinanya kehidupan yang aman dan sejahtera, sebab *"agama
itu adalah nasihat".* Tingkatan ini menimbulkan terciptanya suasana kritik (
*al-naqd*) yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat sehingga mereka tidak *
phobi* dan anti terhadap kritik. Kritikan dijadikan sebagai saran dan
masukan  yang berharga menuju kemaslahatan. (3), saling bekerja sama dan
tolong menolong (*al-mu'awanah *atau* al-musa'adah*). Silaturrahmi tingkat
ini dilaksanakan setelah melalui tahapan-tahapan silaturrahmi sebelumnya. Ia
memungkinkan terjadinya dialog antara sesama manusia dalam rangka pemecahan
berbagai persoalan kehidupan. Proses dialog akan melahirkan sikap
harga–menghargai dan hormat–menghormati yang pada gilirannya akan melahirkan
suasana demokratis. *(4)*, menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat
munkar. Dalam al-Qur'an, Allah SWT. Berfirman: *"Dan hendaklah ada diantara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang
ma'ruf (segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.) dan
mencegah dari yang munkar (segala perbuatan yang menjauhkan diri dari
Allah), merekalah orang-orang yang beuntung "*. (Ali-Imran 3:104).

Adapun manfaat atau kebaikan bersilaturrahmi adalah seperti digambarkan
dalam hadits Rasululah saw. Dari Abu Hurairah dan dikeluarkan oleh al
Bukhari :*"Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan
umurnya, hendaklah menghubungkan tali kekeluargaan " *Pengertian luas rezeki
dalam hadits di atas adalah bahwa rezeki yang diterima itu menimbulkan
berkah, baik bagi diri, keluarganya maupun bagi manusia dan alam sekitarnya.
Panjang umur, menurut sebagian pendapat, mempunyai arti kiasan (*kinayat*)
yang maksudnya adalah bahwa umurnya itu sarat makna dan nilai. Pendapat lain
mengatakan bahwa panjang umur itu mempunyai arti yang sesungguhnya (*
al-haqiqi*), yaitu umurnya ditambah sesuai dengan kehendak dan kemahakuasaan
Allah SWT.

Sebaliknya, keburukan tidak bersilaturrahmi atau memutuskan silaturrahmi
adalah tertutupnya pintu syurga. Dengan kata lain, orang yang memutuskan
tali silaturrahmi tidak akan memasuki surga kebahagiaan di dunia maupun
kebahagiaan di akhirat. Nabi bersabda : *"tidak akan masuk ke dalam syurga
orang yang memutuskan tali persaudaraan"* (Ibnu Hajar al-Asqalani, 330)

*Kedua**,* ilmu, merupakan himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan
melalui suatu proses pengujian dan dapat diterima oleh akal sehat, rasio
atau dapat dinalar. ilmu menjadi penting bagi umat Islam karena akan menjadi
ciri keunggulan  umat Islam dari umat lainnya, "dan sesungguhnya telah kami
pilih mereka atas ilmu pengetahuan di atas bangsa-bangsa seluruh dunia (Q.S.
Ad-Dukhan:  32). Orang Islam yang berilmu berbeda amaliahnya dengan orang
kafir dalam segala hal, dari mulai kebersihan, berpakaian, berumah tangga,
bermu'amalah dan lain-lain. Seorang muslim diperintahkan oleh Allah dan
Rasul-Nya agar menuntut ilmu. Allah SWT berfirman : *" Apakah sama orang
yang tahu (berilmu) dengan yang tidak berilmu "?* (al-Zumar: 9).

Ayat ini mengandung perintah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama Islam
wajib hukumnya atas setiap individu muslim, karena mengerjakan ibadah dan
amalan shaleh tidak berdasarkan ilmunya akan ditolak  (*man amila amalan
laesa alaihi amruna fahua radd*), dan seperti dalam firman Allah SWT: *"Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihtan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungjabannya*" (al-Isra':36).

Muslim yang menguasai Ilmu harus sadar bahwa ia adalah orang yang sedang
mendapat titipan (amanah) dari Allah SWT. karena, sesungguhnya semua ilmu
itu adalah milik-Nya, sehingga muslim berkewajiban untuk mengamalkan ilmu
dalam konteks ibadah untuk kemaslahatan manusia.

*Ketiga*, harta. Harta adalah sesuatu yang manusia cenderung kepadanya dan
mungkin disimpan untuk waktu keperluan. Manusia akan cenderung kepada harta
karena memiliki daya tarik tersendiri, sehingga  perlu untuk disadarkan
bahwa status harta adalah anugrah Allah yang harus disyukuri, *"Tidakkah
kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentingan mu
apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu
nikmat-Nya lahir dan batin*." (Luqman: 20). Harta menjadi amanah Allah yang
harus dipertanggung jawab oleh manusia sekaligus sebagai ujian yang harus
diantisipasi, "*dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah
sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar".* (Q.S.
Al-Anfal: 28)

Harta harus diusahakan dan dimiliki dengan cara yang bersih dan halal. Islam
menghargai orang muslim yang bekerja keras, karena mencari rizki di dunia
secara halal untuk menjauhkan diri dari jiwa pengemis, sebaliknya mencari
harta yang haram akan mendapat kesengsaraan dan siksa,  seperti sabda
Rasulullah saw.: "*Baransiapa yang dagingnya tumbuh dari barang  yang haram,
mka neraka itu lebih patut baginya"* (HR. Hakim). Sayiddina Umar bin
al-Khattab berkata : *" janganlah seseorang dari kamu duduk bermalas-malasan
dari mencari rizki seraya berkata : Ya Allah berikanlah rizki, sedangkan ia
mengetahui bahwa langit tidak akan menghujankan emas dan perak."* Kemudian
harta yang telah diusahakan dan dimiliki perlu dimanfaatkan bagi seluruh
segi kehidupan manusia baik secara pribadi maupun bagi kepentingan
masyarakat.

Al-Maraghi menjelaskan bahwa harta yang diperuntukkan kepentingan sosial
masyarakat  adalah berguna untuk  mengatasi problem sosial ekonomi, karena
menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan merupakan  petunjuk  kemasyarakatan
yang terpenting, karena itu diwajibkan bagi muslim untuk menunaikan
kewajiban zakat, infak maupun shadaqah. Dengan cara demikian
kesulitan-kesulitan dan problem sosial akan dapat diatasi. Sasaran utama
yang berhak mendapat bantuan yang bersumber dari zakat adalah 8 asnaf
sebagaimana dalam Q.S. At-Taubah : 60: *"Sesungguhnya zakat-zakat itu,
hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, pengurus  zakat, muallaf yang
dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk
jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan
yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi maha Bijaksana." *

Jika harta dipakai untuk kepentingan kemaslahatan di dunia maupun di akhirat
dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan Allah SWT, maka seorang muslim akan
mampu mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti.

*Keempat**,* badan.  Manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah yang
dilengkapi oleh struktur tubuh yang sempurna ditambah anugrah yang tak
ternilai yaitu hati dan akal fikiran. Kesempurnaan jasmani manusia
semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Kedudukan manusia sebagai "duta"
Allah SWT. akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT., tentang
segala perbuatan yang dilakukan selama menjalani kehidupan di muka bumi ini,
*" Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya yang dahsyat, dan bumi
telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. Kemudian manusia
bertanya: "mengapa bumi jadi begini ?" pada hari itu bumi menceritakan
beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadanya. Pada
hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam,
supaya diperlihatkan kepada mereka, (balasan) pekerjaan mereka. Barang siapa
yang mengerjakan kebaikan seberat atompun , misalnya dia akan melihat
(balasan)-Nya. Dan barangsiapa  yang mengerjakan kejahatan seberat atompun,
niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula*." (al-Zalzalah:1-8).

Oleh karena itu, di padang mahsyar nanti seluruh manusia akan diminta
pertanggungjawabannya atas segala hidupnya di dunia. Jika pertanggungjawaban
manusia ditolak maka ganjarannya adalah neraka, dan sebaliknya jika
pertanggungjawabannya manusia diterima, maka jaminananya adalah syurga. Di
dalam QS. Az-Zumar : 71,73 Allah berfirman : *" orang-orang kafir dibawa ke
neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai di
neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka
penjaga-penjaganya :" apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di
antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan
kepadamu akan pertemuan dengan hari ini ?. mereka menjawab: benar (telah
datang). Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang
kafir." Dan oarang-orang  yang bertakwa kepada Tuhannya di bawa ke dalam
syurga berombog-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu
sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka
penjaga-penbjaganya: "kesejahteraaan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah
kamu! Maka masukilah syuga  ini, sedang kamu kekal di dalmnya." *

Jika manusia menyadari akan kedudukannya sebagai hamba Allah SWT sekaligus
khalifah Allah SWT di muka bumi ini, maka seluruh seluruh aktivitas yang
berkaitan dengan umur, ilmu, harta dan badannya akan diabdikan untuk Allah
SWT semata. Dengan melaksanakan syaum selama sebulan di bulan Ramadhan, kita
sesungguhnya sedang melatih diri untuk mempersiapkan diri menghadapi empat
pertanyaan tadi di alam mahsyar. Saum sebagai ibadah yang menuntut
keseriusan dan perjuangan untuk mencapai tangga ruhani yang telah disediakan
Allah SWT. mudah-mudahan kita berhasil mencapai puncak kesucian (*fitri*)
dan termasuk orang-orang yang diridhai Allah SWT. *Taqabbala Allah minna wa
minkum syiamana wa syiamakum*. *Wassalamu'alaikum wr.wb*.

Kirim email ke