pagi ini menemukan tulisan dari seorang teman.. menarik untuk disimak.. FH ---------- Forwarded message ---------- From: Isham Sudardjat Date: Sep 12, 2008 1:58 AM Subject: Takut Kecele To: "Maklumat, Gedung Kayu lt.3"
Bismillahirahmaanirrahim Rasanya semua orang pernah mengalami yang namanya kecele. Misalnya kecele pada saat ujian: materi yang diujikan berbeda dengan yang udah dibaca. Kecewa? udah pasti...tapi kecele model begini masih bisa diperbaiki dengan persiapan yang lebih baik di ujian berikutnya, atau paling buruk, mengulang lagi tahun depan. Contoh kecele lain yang lebih berat misalnya kecele dengan pasangan hidup. Dulu sewaktu pacaran atau ta'aruf atau apalah namanya, orangnya kok sepertinya baik sekali. Tapi setelah menikah, loh... kok begini? Kecele seperti ini cukup berat. Kecewanya juga pasti lebih lama. Tapi tetep, masih ada pilihannya yang bisa diambil: terima apa adanya, atau berusaha mengubahnya, atau meninggalkannya. Nah, beberapa hari terakhir ini saya kok khawatir sama mbahnya kecele: kecele di akhirat. Kecele model begini fatal sekali, soalnya nggak bisa diubah lagi dan tidak ada pilihan sama sekali. Saya mulai khawatir, jangan2 selama ini saya merasa amal saya udah banyak, udah pantes masuk surga. Padahal, jangan2 amal2 itu nggak diterima Allah gara2 tidak ikhlas. Saya juga selama ini merasa 'santai' karena menganggap Allah itu Maha Pengasih, tapi apa saya pernah benar2 tobat mengakui dengan jujur dosa2 dan kesalahan saya? Bagaimana mungkin Allah mengampuni sesuatu yang tidak saya sesali? Kekhawatiran yang lain misalnya, taruhlah amal saya banyak dan ikhlas. Tapi eits... jangan2 banyak orang yang saya sakiti, sehingga amal2 tersebut habis untuk membayar ke orang2 yang udah saya sakiti. Masih ada kekhawatiran yang lain: jangan2 masih banyak kesombongan di dalam hati, padahal sebesar biji zarah kesombongan bakal menghalangi masuk surga. Belon lagi kalau2 ada tetangga yang kelaparan, terlewat oleh saya?? Duhh banyak bener ya kekhawatirannya. Tapi masih ada satu lagi. Saya sedang nyari2 'amal extraordinary' yang pernah saya lakukan, amal pamungkas yang bisa membantu menyelamatkan, seperti di cerita 3 orang manusia yang terjebak di gua, yang kemudian bertawasul dengan amal2 extra ordinarynya, akhirnya pintu gua pun terbuka. Eh ternyata rasanya saya nggak punya tuh amal extraordinary yang bisa disejajarkan dengan cerita 3 orang tsb.. hiks......... Jadi inget, Nabi s.a.w yang udah dijamin surga saja masih istighfar mnimal 70 kali sehari. Saya? halah.. seingatnya aja. Saya juga baru tau, kalo ternyata Nabi menjamak sholat kalau melihat awan gelap, khawair kalau2 azab Allah akan segera turun. Sebegitu khawatirnya Nabi terhadap azab Allah, manusia yang sudah begitu sangat dekat dengan Allah. Sementara orang kayak saya, kok rasanya santaaaiii banget.. duh Gusti... -Isham-
